One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 58


__ADS_3

Petualangan selanjutnya ia mulai memainkan lidahnya di dada istrinya. Membuat perempuan itu semakin pasrah menerima serangan selanjutnya. Pria itu dengan semangat membuat tanda merah di sana, meninggalkan jejak kepemilikan nya di area sensitif istrinya.


Pagi itu Disya benar-benar pasrah, hatinya berusaha menyangkal tapi bahkan tubuhnya tak mampu menolak. Perempuan itu terbuai menikmati sentuhan-sentuhan nakal suaminya yang membuat wanita itu menggelinjang nikmat, membiarkan suaminya menguasai atas dirinya. Ia merasakan dejavu.


Sky tengah memainkan sesuatu yang kenyal di sana dengan lidahnya, ketika tiba-tiba terasa sesuatu yang basah menimpa dirinya di bawah sana.


Dingin, becek dan semakin terasa nyata. Dalam seperkian detik Sky masih abai dan tetap menikmati petualangan paginya yang begitu berselera hingga menimbulkan gelenjar nikmat memacu pada tubuhnya. Hingga tanpa sadar, membuyarkan konsentrasi mereka.


Ke duanya terkesiap saling memisahkan diri, dan....


"BANJIR...!!!"


"Hah! Kok bisa sih?" Dengan cepat Disya langsung merapihkan bathrobe nya. Menali kembali hingga menutupi tubuhnya yang sudah setengah polos.


Sementara Sky langsung melesat ke kamar mandi dan menutup keran air itu. Awalnya ia menyalakan keran hanya ingin mengelabuhi istrinya. Dirinya bahkan lupa kalau menyalakan kran dan membiarkan air itu mengalir begitu saja, sialnya lubang pembuangan tertutup ember berisi air sehingga menyebabkan mampet dan mengalir begitu saja sampai meluap ke luar kamar, pintu kamar mandi tidak di tutup rapat sehingga air itu merembes melalui celah pintu yang terbuka. Alhasil kamar mereka sekarang banjir, di penuhi dengan genangan air. Tidak banyak tetapi membuat ke dua sejoli itu cukup repot membersihkannya.


Sky langsung sigap mengambil peralatan kebersihan untuk mengambil atau menggiring air di dalam kamar agar ke luar, sementara Disya ikut membantu, mengepel. Mereka bekerja sama begitu kompak hingga tanpa terasa waktu sudah menunjuk di angka sembilan pagi.


Ambyar...!!!


Dalam seperkian detik antara Disya dan Sky hanya saling tatap lalu kemudian mereka tanpa sadar terkekeh bersama, benar-benar di luar dugaan. Mereka terjebak banjir di dalam kamar mereka akibat kecerobohan mereka sendiri. Terutama suaminya pastinya.


Ini adalah senyum tawa pertama mereka, setelah dua minggu hidup seatap. Baik Disya maupun Sky merasakan hari ini begitu terasa berbeda, keduanya merasa konyol sekaligus menggelikan.


Setelah aksi tertawa bersama Sky langsung mandi, ia sedikit lebih pening karena acara mantap-mantapnya gagal total, tapi hatinya cukup bahagia sebab Disya sama sekali tidak menolaknya atau lebih kepada pasrah. Hehehe


Mungkin ia akan mencoba nanti setelah situasi mendukung dan pastinya aman dari bencana dan gangguan alam. Sungguh realita di luar ekspektasi. Sky yang tadinya sudah menggebu pun terpaksa harus menghentikan kegiatannya dengan terpaksa karena sesuatu fakta yang tak terduga.


Banjir gaessss!!!


***


Disya lebih memilih diam dan membuang muka kearah jendela kaca mobil. Aura kecanggungan begitu terasa di antara ke duanya. Sementara Sky gelisah dan nampak tak tenang dalam duduknya. Pria itu diam-diam menahan kesal karena hasratnya gagal di salurkan.


"Sya!" panggil Sky. Pria itu tetap fokus mengemudi, namun sesekali memperhatikan ke arah samping di mana gadis itu duduk.


"Kamu marah sama aku?"


"Nggak," jawab Disya tanpa menoleh ke arah Sky.


Disya tidak marah, tapi ia hanya malu bersikap setelah tadi Sky hampir menyentuh sepenuhnya. Rasanya begitu malu dan terkesan membingungkan. Gadis itu hanya bingung cara menyikapi suaminya itu.


Ckiittt


Sky tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di tengah jalan. Membuat gadis itu terjungkal ke depan walaupun tidak sampai membentur dashboard.


"Astaghfirullah... Bapak ini apa-apaan sih, main berhenti mendadak?" protes Disya kesal


"Ada kucing yang lewat," ujar pria itu berkilah, detik berikutnya kembali melajukan mobilnya kembali hingga sampai kampus.


"Saya turun dulu Pak?" pamit Disya seraya mengulurkan tangannya.


Sky langsung meraih tangan Disya dan membalas dengan kecupan sayang di puncak kepalanya.


Ah romantis sekali, sayangnya hati Disya sama sekali tidak bergetar. Mungkin karena belum ada rasa kali ya, dan hanya menganggap sebagai formalitas saja.


"Tumben pake syal?"


Sky menyeringai licik, pria itu menarik syal yang di pakai Disya.


"Eh! Jangan...!" pekik Disya menahan syal tersebut, sayangnya pria itu lebih cekatan.


"Kenapa? Kamu sakit?" tanya pria itu. Hatinya mengulum senyum demi melihat banyaknya tanda merah di leher Disya.


Ini ngledek apa gimana sih? Udah jelas-jelas ulah kamu Pluto, ulah KAMU!!


"Leher saya yang sakit," jawab Disya pasrah.


"Coba aku lihat, mana?" ujar Sky mendekat.


"Ya ini gara-gara Bapak? Awas, jangan terlalu dekat!" ucap Disya mrengut. Gadis itu mendorong dada suaminya, namun sama sekali tidak bergeser.


"Nggak begitu kentara juga, nanti aku buat di tempat yang tertutup deh," ujar pria itu tersenyum.


What! Nanti?! No no no


"Sya, muka kamu kenapa tegang gitu?"


"Nggak pa-pa."


"Nanti pulangnya bareng?" ucap Sky sebelum Disya ke luar dari mobil.


"Bapak duluan saja, soalnya saya ada kumpul sama temen-temen untuk acara besok. Sekalian saya minta izin mungkin hari ini bakalan pulang terlambat lagi."


Sky nampak menghela napas panjang, sebelum akhirnya mengiyakan kegiatan gadis itu.


"Jangan terlalu capek, atau di forsir tenaga kamu, ingat kamu sedang hamil Sya?" Pria itu memperingatkan.


"Iya, saya tahu. Makasih Mas," ucap Disya terasa menggelikan.


Sky tersenyum mendengar panggilan itu. Ia memang tidak boleh terlalu kolot mengatasi istri labilnya. Ia tidak bisa memaksa Disya untuk mau menjadi sesuai keinginan dirinya. Gadis itu bahkan akan menurut dengan sendirinya ketika merasa nyaman. Sudah pasti stok sabar Sky harus banyak di tambahkan.


Disya turun dengan menelisik di sekitaran, takut-takut ada yang memergoki dirinya satu mobil dengan Dosen yang konon katanya banyak digilai kaum hawa di kampusnya. Bagi Disya menikah dengan Sky sama sekali bukan hal yang patut di banggakan, lebih kepada sial dan tragis pada dirinya sebab gadis itu tidak menyimpan perasaan sedikit pun dengan pria itu untuk sekarang, kalau lusa atau kedepannya sama sekali belum terpikir atau berniat mengubah perasaannya.


Pada kenyataannya cinta memang tidak bisa di paksakan, ia tumbuh begitu saja tanpa di rencana, mengalir natural tanpa di rancang, semua terasa indah, mengalir apabila sudah menduduki hati dengan perasaan istimewa. Cinta tidak mengekang, tidak pula terlalu memberi kebebasan. Karena ia akan senantiasa menjaga hatinya agar tetap dalam jangkauannya dan memberi rasa nyaman.

__ADS_1


Disya berjalan gontai menuju kelasnya. Gadis itu sengaja menggerai rambutnya yang sebahu untuk menyamarkan tanda merah ulah suaminya. Walaupun sudah tertutup syal tetapi ia lebih nyaman menggerai rambutnya. Semua temannya bahkan belum tahu kalau dirinya sudah menikah, bisa repot urusannya kalau teman-temannya menangkap tanda merah di leher Disya.


"Siang gaesss!" sapa Disya riang. Seperti biasa gadis itu akan begitu ceria bila sudah berkumpul dengan teman-temannya.


"Siang beb, tumben lo mepet waktu," tegur Bila.


Disya tersenyum santai. Ya jelas santai wong dosen yang mau ngajar berangkatnya barengan, jadi nggak mungkin terlambat. Disya duduk di sebelah Bila. Gadis itu nampak meneliti penampilan Disya yang tidak seperti biasanya. Disya menggerai rambutnya begitu saja.


"Tumben lo pakai syal, lo sakit?" selidik Bila menyibak rambut Disya.


"Njir! Lo? Ya ampun... banyak banget...?" Bila melotot tak percaya.


Disya langsung menutup mulut Bila yang tengah melongo dengan tangannya. Kegiatan tersebut menjadi pusat perhatian anak yang sudah masuk ke kelas sedang menunggu dosen.


"Apaan sih, berisik banget!" protes Amel yang duduk tak jauh dari bangku mereka.


Sementara Hanum dan Sinta langsung menghampiri mereka berdua. Posisi duduk Hanum dan Sinta agak berjarak dengan Disya. Disya mengambil duduk di bagian paling depan pojok kanan dekat pintu keluar. Tempat paling fleksibel kalau keluar.


Bila tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi tralisnya.


"Runtuh juga pertahanan lo, berapa ronde beb?" tanya Bila mengerling. Sontak Disya mendelik.


"Oemji, Disya? Apanya yang berapa ronde? Gue kalah set!" ujar Sinta geleng-geleng kepala.


Plak!!


"Pikiran lo pada kotor semua." Disya menabok jidat Sinta.


"Eh, Markonah sakiiittt bego!!"


"Kak Rayyan menang banyak," ucap Hanum girang. Hampir berbarengan dengan suara sepatu memasuki ruangan kelas mereka.


Mampus gue!! Hanum sebut-sebut nama Rayyan lagi. Tuh kan... mukanya serem banget, pasti dia denger deh.


Salah paham pasti nih orang.


Sinta, Hanum, dan Bila langsung kembali duduk di bangku mereka masing-masing begitu dosennya masuk.


.


Bersambung


Ayo dukung author dengan tap love cerita ini. Jangan lupa


LIKE


Comment


Vote


Love you all


Materi sedang berlangsung namun Disya merasa melilit, dan lemas. Ia baru sadar pagi tadi belum sempat sarapan, hanya minum segelas air putih. Bisa di bayangkan, saat ini Disya benar-benar lapar. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang.


Sementara Sky menatap Disya dengan pandangan aneh, perempuan itu terlihat tidak fokus mengikuti pelajarannya. Ia pun mengirim pesan melalui ponselnya.


Drt drt


Handphone Disya bergetar, gadis itu melirik ke arah dosen sekilas. Sky tersenyum mengangguk seakan mengkode untuk menilik ponselnya.


Pluto


Kamu kenapa?


^^^Disya^^^


^^^Lapar, tadi belum sempat sarapan?^^^


Pluto


Ceroboh! Kantin sekarang.


^^^Disya^^^


^^^Beneran? Boleh?^^^


Pluto


Iya, habis sarapan langsung ke ruangan saya.


^^^Disya^^^


^^^Iya, thanks my hubby^^^


Sky tersenyum melihat balasan pesan dari Disya, entah itu dari hati atau tidak yang jelas pria itu baper. Padahal ia masih ada di ruang kelas, pelajaran sedang berlangsung. Dosen itu baru menerangkan materi dan sekarang tengah memberi tugas untuk mahasiswanya.


Disya pamit ke luar kelas dengan alasan ke toilet. Ia langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya yang terasa begitu lapar. Sampai pelajaran habis Disya belum juga kembali.


Gadis itu merasa kenyang setelah menghabiskan lontong sayur satu porsi. Ia benar-benar kelaparan, tadi pagi bahkan tidak sempat sarapan karena terlalu sibuk membersihkan banjir, di tambah sibuk menata hatinya. Alhasil ambyar semuanya.


Setelah kenyang perempuan itu pun lantas berfikir suaminya apakah sudah makan juga? Secara mereka tadi pagi melakukan hal yang sama. Disya pun langsung memesan satu porsi lontong sayur untuk di bungkus. Perempuan itu lantas menuju ruangan suaminya dan menaruh makanan tersebut di atas meja kerjanya.


Disya tidak mengerti mengapa ia menjadi peduli dengan pria itu. Rasanya benar-benar aneh. Dirinya masih bingung dengan kondisi hatinya saat ini. Setelah dari ruangan Dosen, Disya kembali ke kelas, dan tanpa sengaja di koridor melihat Sky yang hendak melewati jalan yang sama. Disya langsung berbelok, rasanya benar-benar canggung berhadapan dengan pria itu saat ini.


Sky yang melihat hal itu pun mengeryit bingung. Istrinya terlihat lucu dan menggemaskan dalam mode malu-malu. Tapi ini membuat Sky merasa harus berbicara lebih banyak lagi sebab Disya kini terkesan menghindarinya.

__ADS_1


Ponsel di tangan Disya bergetar.


Pluto calling


Disya menatap layar ponselnya yang berkerlip. Gadis itu bingung sendiri antara mau menjawab panggilan itu atau membiarkan saja tetap bergetar. Akhirnya perempuan itu tetap memilih membiarkan saja dan menuju kelas.


"Sya, lama amat ke toilet. Lo di suruh ke ruangan Pak Sky." Bila menyampaikan amanat yang di sampaikan dosennya.


"Lo habis ini ada kelas lain apa mau pulang?"


"Rapat buat baksos besok, lo pada mau ikut?"


"Kita terima beres, asik kayaknya tuh. Buat berapa hari?"


"Empat, nanti kita bikin perkemahan di Desa tujuan. Bakalan seru pokoknya."


"Siapkan amunisi, gue nyusul paling depan."


"Ikut rombongan aja, ada bus pengantarnya nanti berangkat bareng. Ada dosen pendampingnya juga."


"Gue suka, bakalan seru nih kegiatannya."


"Pastinya, panitia udah bikin schedule dengan timing yang tepat."


Bisma menghampiri kita-kita yang tengah berbincang-bincang.


"Nanti pukul dua kumpulnya Sya, karena anak yang lain masih ada kelas," ujar pria itu menginterupsi.


"Kantin dulu ah, hayuk laper."


"Gue udah kenyang baru makan," cletuk Disya refleks.


"Pantes lama, bilangnya ke toilet ternyata ngendon di kantin. Mahasiswi teladan. Lo berani banget di jamnya Pak Sky lagi."


"Gue udah kadung lapar dari pada pingsan di kelas nanti ngrepotin orang. Tadi pagi belum sempat sarapan makanya gue kelaparan."


"Ya udah gih sana pada kantin, gue ketemu dosen dulu," sambungnya datar.


Bila, Hanum dan Sinta menuju kantin, sementara Disya masih mengemas buku di meja untuk di masukkan ke tas.


"Sya! Lo beneran putus? Rayyan kacau banget saat ini." Alan menghampiri Disya yang tengah membereskan buku. pria itu sengaja mengklarifikasi fakta yang mampir ke telingannya.


"Tante Wira bolak balik telfon gue nyuruh temenin bang Rayyan, dia sangat terpukul atas kejadian ini," jelas Alan memberi tahu.


"Sorry Al, gue nggak mau bahas ini. Gue harap lo ngerti," jawab Disya sendu.


Disya sedang berusaha untuk melupakan pria itu, walaupun ia sendiri tidak yakin akan bisa melupakan. Disya hanya ingin mencoba memahami keadaan, lebih ke belajar ikhlas walaupun sulit. Jadi, sudah barang tentu tidak ingin mengingat lagi walaupun namanya sekalipun.


"Lo kenapa? Bukannya kalian itu masih saling sayang? Lo temuin dia ya? Balikan aja lagi."


"Sorry Al, tolong jangan membuatku sedih lagi. Hubungan gue dan Rayyan sudah berakhir."


"Tapi kenapa? Setahuku Bang Rayyan sangat mencintaimu?"


"Ada suatu hal yang nggak bisa gue jelasin ke elo, yang jelas gue dan Rayyan tidak bisa bersama lagi."


"Gue nggak ngerti sama kalian berdua, masih saling cinta tapi memilih mengakhiri. Aneh!"


"Mungkin kami tidak berjodoh," jawab Disya. "Titip kak Rayyan ya, jagain dia agar tetap menjadi cowok manis kesukaan Disya. Gue harap kak Rayyan cepet move on," ucap Disya bijak. Padahal dirinya juga sama seperti Rayyan, hancur tak tersisa, sakit sampai ke relung hati terdalam. Namun kehidupan takdir yang sudah tidak bisa mengizinkan mereka mempunyai hubungan.


"Oke Al, gue cabut dulu. Lo nggak usah sendu gitu dong. Lo pasti seneng kan kalau gue putus sama Rayyan, lo kan jadi ada kesempatan buat deketin gue," seloroh Disya mengerling. Mukanya cengengesan tapi sesungguhnya hatinya kacau, hancur berantakan.


Alan terkekeh. "Bisa ae lo, gue bisa di bunuh bang Ray kalau gue ngincer lo setelah putus sekalipun. Hehehe..."


Mereka sama-sama tertawa sebelum akhirnya saling pisah dengan kegiatan mereka masing-masing. Alan pergi entah kemana, sementara Disya terpaksa menuju ruangan Sky karena pria itu terus menghubunginya.


Disya menuju lift, menuju lantai empat ruangan khusus untuk Sky. Pria itu bahkan sudah menunggu sedari tadi. Disya mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan itu. Sebagian Dosen yang kebetulan melihat Disya menuju ruangan khusus itu nampak tersenyum mengarah Disya. Mereka sudah banyak yang tahu kalau pemilik kampus ini dan Disya sudah menikah.


"Bapak panggil saya?" ucapnya canggung.


"Kok manggilnya Bapak lagi sih Sya, kita kan cuma berdua. Jangan terlalu formal, aneh tahu kedengarannya."


"Masih di lingkungan kampus Pak, ada apa?"


"Kamu yang naroh makanan?" tanya pria itu tersenyum.


"Nggak ada," jawabnya bohong.


"Owh... jadi bukan kamu ya, aku kira itu istriku yang beliin. Perhatian sekali ya dia?"


Disya bergeming, ia masih merasa canggung mengakuinya.


"Makasih ya, tadi aku sampe cek CCTV buat mastiinya." Pria itu tersenyum.


Oh ya ampun... gue bahkan lupa kalau setiap kawasan gedung kampus banyak di pasang CCTV di mana-mana.


"Jangan salah paham, saya cuma kasihan takut Bapak belum makan juga?" ucap Disya dengan muka memerah.


Sky mendekat, sontak gadis itu mundur teratur. "Mau ngapain?" tanya gadis itu takut-takut.


Pria itu bergeming, tetap tersenyum namun terus mengikis jarak.


"Mau lanjutin yang tadi pagi?"


"HAH!?"

__ADS_1


__ADS_2