
Disya baru saja terbangun dan langsung mandi, tubuhnya terasa begitu lelah dan pegal. Semalam dan pagi tadi, suaminya benar-benar membuat perempuan itu susah berjalan. Netranya melirik sprey yang tak ubah seperti kapal pecah, semalam telah terjadi pergulatan sengit di atas ranjang. Pantas saja laki-laki bernama Ausky itu begitu berseri pagi ini. Ia baru saja selesai memakai setelan kemeja yang telah disiapkan sang istri.
"Malas banget mau berangkat, capek..." keluh gadis itu mrengut seraya membantu mengancingkan kemeja pada suaminya.
"Tapi enak kan, buktinya minta nambah di pagi hari," godanya fitnah.
"Eh, kok jadi aku? Kamu tuh yang minta, kan masih terasa pegel. Nggak berperasaan deh..." gerutu Disya demi merasakan tubuhnya masih terlalu ngilu untuk berjalan. Padahal pagi ini ada kuliah yang diampu suaminya.
"Jangan manyun gitu, masih kurang? Mau main lagi?" Suaminya itu masih saja terus menggoda istrinya yang terlihat kesal.
"Ayo kebawah, kita sarapan. Nanti setelah usai makul jangan langsung nongkrong. Kita di suruh ke butik Bunda untuk cobain baju buat acara resepsi pernikahan kita."
"Hmmm," jawab Disya hanya dengan gumaman.
Sky pun menjadi gemes sendiri melihat istrinya yang sepertinya masih terasa nyeri, terlihat dengan jelas ia sangat berhati-hati dalam melangkahkan kakinya.
"Jalan kamu lucu yank," ledeknya. "Aku gendong aja lah turun ke bawahnya." Sky bersiap menggendong istrinya namun gadis itu menolak.
"Mas, jangan lebay deh, nggak mau! Aku bisa jalan sendiri, malu tahu... ada Bunda sama Ayah," protesnya mrengut.
"Nggak pa-pa mereka juga pernah muda, pasti ngerti lah hal kaya gini," jawab Sky santai.
"Ish... Mas ini dikasih tahu juga, makanya ini salah satu alasan kenapa aku paling tidak suka nglakuin hal begituan di pagi hari, repot, capek, pegel udah gitu masih harus ngampus. Kamu mah mending, strong nggak ngerasain ngilu."
"Iya maaf deh, besok nggak lagi kalau pagi, tapi siang, sore, malam boleh ya?" pintanya mengerling.
"Maruk amad, kaya jadwal makan aja. Demi apa coba?"
"Demi nikmat dan sehat, plus pahala, jadi nggak boleh nolak apalagi mrengut kaya gini. Makasih ya kamu luar biasa, makanya aku nagih, pengen lagi, dan mau lagi. Habis resepsi langsung honeymoon ya pokoknya harus mau."
"Terserah Mas aja lah," jawab gadis itu datar.
"Sya, sayang... kamu maunya kemana? Ada tempat yang mau kamu kunjungi?"
"Aku pengen... ke mana ya? Pikir nanti aja Mas, otakku loading."
__ADS_1
Mereka berdua menuruni anak tangga secara bersamaan, langsung bergabung di meja makan untuk sarapan.
"Bintang, kamu berangkatnya bareng sama kaka, terus nanti pulang sekolah biar di jemput sama orang suruan kakak," ujar Sky di sela mengunyah makanan.
Gadis itu hanya mengangguk saja tanpa bersuara. Tak ada bahan yang menarik untuk di perbincangkan, atau hanya sekedar menanggapi obrolan di meja makan. Sekolah Bintang tidak searah, tapi kakaknya berniat mengantarnya, bukankah itu teramat niat memperhatikan dirinya, tapi kenapa Bintang malah merasakan bagai terpenjara, ini itu nggak boleh, semua dilarang.
Disya paham, perempuan itu memperhatikan mimik wajah adik iparnya itu dengan tatapan prihatin. Semenjak kejadian kemarin kakaknya menjadi sangat protektif. Disya pun merasakan, terkadang suaminya agak berlebihan.
"Biar nanti bareng sama Ayah dan Bunda aja, kantor Ayah kan sejalan, sekalian Ayah harus berangkat pagi karena ada meeting pagi ini," usul Pak Asher.
"Betul Ky, kamu langsung ke kampus saja bareng istri kamu, nanti jangan lupa pulangnya mampir ke Butik Bunda," ujar Bunda Yuki bijak.
***
Rayyan uring-uringan di kamarnya, semenjak dua hari yang lalu Bintang tidak pernah membalas chat nya atau sekedar mengangkat panggilan telphon darinya. Ia sebenarnya ingin sekali mengunjungi rumahnya, tapi tentu saja rivalnya itu tidak mengizinkan pria itu berkunjung.
Entah mengapa Rayyan begitu kesepian, biasanya ponselnya itu akan sangat berisik menerima pesan dari remaja itu, tapi semenjak kejadian di apartemen kemarin membuat los contact hampir dua hari ini. Pria itu pun menyusulnya ke sekolahan tapi hasilnya nihil, gadis itu tak kunjung di temukan, karena berjam-jam laki-laki itu menunggu di depan pintu gerbang, sosoknya yang di nantikan tidak pernah muncul di hadapannya.
"Bintang, kemana sih... demi apa coba, aku rela nungguin gadis kecil itu di sini sampe berjam-jam gini?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Lelah termangu tanpa kejelasan yang pasti, pria itu pun tak langsung pulang. Ia sengaja mengajak pertemuan dengan ke dua sahabatnya, Bara dan Gerald.
"Lagi cuti, banyak waktu buat keluar," jawabnya santai.
"Giliran lo bisa gabung, sekarang tinggal si Sky yang susah banget di ajak keluar. Eh besok tgl 20 ada reuni alumni kamu mau datang?"
"Pengennya sih datang, lihat nanti saja," jawab pria itu datar.
"Datang haruse, apa langsung mau nyebar undangan?"
"Pengennya sih gitu?"
"Ray... itu bukannya cewe lo ya?" tunjuk Gerald tiba-tiba. Sudut matanya menangkap bayangan Bintang dan juga Disya yang baru saja memasuki kafe.
Arah pandang Rayyan mengikuti arah pandang Gerald, benar saja, gadis yang membuat dua hari ini uring-uringan tengah ngobrol asyik bersama mantan terindahnya.
__ADS_1
"Bukan, udah putus," jawab Rayyan enteng.
"Sumpah lo, demi apa lo mutusin Disya? Bukannya lo bucin parah, sampai dikekepin mulu dan nggak ada waktu buat hang out," sindirnya gamblang.
"Gue nggak sebucin itulah, lebih tepatnya sibuk kerja. Tapi gue emang cinta banget sih sama dia, tapi mungkin jalan kita berbeda," jawab pria itu mendadak sendu.
Ingin rasanya berkeluh kesah terhadap ke dua sahabatnya itu, tetapi tentu saja pria itu tak sampai hati membicarakan perempuan itu. Bahkan sekarang Disya terlihat begitu bahagia, Rayyan pun ikut tersenyum menatap ke dua gadis cantik itu tertawa renyah.
Disya dan Bintang menyempatkan keluar hanya untuk menghilangkan sumpek. Mereka sebelumnya sudah meminta izin pada Sky, kakak dan suami dari perempuan itu yang super posesif. Bintang pun senang, ia sangat berantusias keluar, sebab ia juga merasa stress di rumah yang banyak aturan dari kakaknya itu. Sementara Sky sendiri masih sibuk di kampusnya, mungkin bisa sampai sore hari. Pria itu berjanji untuk menjemputnya nanti setelah pulang dari kampus.
"Mbak, betah jadi istrinya kak Sky? Suka kepikiran nggak sih, buat protes atau menentang kemauannya?" tanya gadis itu kepo.
Bintang tidak tahu aja, walaupun Sky posesif, tapi Disya yang lebih sering bersifat menyebalkan dan membuat kakaknya itu harus bersikap ekstra sabar.
"Bet ---"
"Hai, boleh gabung?" Suara bass seorang laki-laki hampir membuat ke dua gadis itu terlonjak, mereka berdua langsung menoleh pada pria tersebut.
Awalnya bingung, namun detik berikutnya langsung 'ngeh' bahwa pria itu datang bersama Rayyan yang tak ubah sahabat mereka.
Bintang menoleh Rayyan, pria itu juga memperhatikannya. Ada banyak pertanyaan yang tersirat di benaknya. Belum sempat menjawab persetujuan dari ke dua cewe cantik tersebut. Ke tiga pria itu langsung duduk di antara ke duanya.
Posisi Rayyan yang berdekatan dengan Disya, langsung berhadapan dengan Bintang, dan ke dua temannya yang duduk di sebelah Bintang.
"Hai Bin, kenalin, ini sahabat kakak," ucap Rayyan membuka obrolan yang tiba-tiba di selimuti kecanggungan yang teramat kentara.
"Hallo cantik, aku Gerald." Mereka saling berjabat tangan, Bara dan Gerald sibuk memperkenalkan diri.
Bintang sedikit heran, melihat kecanggungan Rayyan dan juga Disya, serta ke dua temannya yang ternyata mereka sudah saling mengenal satu sama lain.
"Kalian berdua kenapa sih, seperti orang asing yang tak saling menyapa?" celetuk Bara.
Sumpah demi apapun, Disya bingung cara menyikapi situasi ini semua. Ia mulai merasa cemas, takut suaminya mengetahui pertemuan mereka yang tak di rencanakan.
Rayyan sendiri kalau di hadapkan dengan dua gadis cantik di depannya, merasa galau sendiri. Disya mantan terindah, dan Bintang calon istri yang masih belum jelas. Hanya ke dua orang tua mereka yang menyepakati, hatinya masih bimbang tapi ia akui, Bintang mulai menjadi pusat perhatiannya akhir-akhir ini. Jangan tanyakan perasaannya Rayyan untuk Disya, masih sama terlalu dalam, namun mungkin lebih ingin mengikhlaskannya, merasa senang melihat Disya bahagia, walaupun tidak berjodoh dengan dirinya.
__ADS_1
Suara ketukan sepatu fantofel terasa begitu menggema mengisi rungu mereka, bergerak semakin mendekat.
"Kalian ngapain di sini?!"