One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 78


__ADS_3

Suara ketukan pintu menyadarkan Sky dari lamunan sesaat yang hampir membuat ia lupa. Istrinya itu benar-benar membuat dirinya baper total. Laki-laki itu tidak percaya Disya melakukannya lebih dulu, walaupun usahanya untuk sekedar merayu ataupun maksud, tetap saja itu membuat Sky melayang di atas awan. Pria itu bahkan tersenyum bak orang gila sepanjang perjalanan menuju ruang rapat.


"Aish... istriku nakal sekali, awas saja nanti aku balas," gumam Sky pelan.


"Pak, Bapak kenapa? Sepertinya tengah berbahagia?" tanya Bu Mega. Ia tadi sempat menghampiri ruangan Sky, sebelum akhirnya mereka berbarengan menuju ruang rapat.


"Eh, nggak ada Buk, hanya habis mendapatkan serangan dadakan," jawabnya ambigu.


"Serangan dadakan apa? Bapak terlihat tidak seperti biasanya."


"Benarkah? Mungkin saya terlalu senang dan bersemangat, ya sudahlah lupakan saja," ujarnya cuek.


Rapat koordinasi pelaksanaan UTS semester genap ini di adakan cukup mendadak sebab baru di agendakan tadi pagi, dan sayangnya Sky bahkan lupa memberi tahu Disya karena saking di buat kejutnya. Ia berusaha mengikuti rapat dengan tenang walaupun dalam pembahasannya terus melirik jam. Disya bilang ia telah membuat janji pukul dua itu artinya laki-laki itu harus meninggalkan apapun sebelum jam dua. Sky benar-benar tidak ingin kehilangan momen langka mengantar istrinya seperti yang ayah Asher katakan.


Sementara Disya dan tiga sekawan tengah duduk bersantai di sebuah kafe kekinian dengan nuansa frolar bergaya modern. Interiornya di tata apik bergaya nautical yang dipadupadankan dengan sentuhan tropikal, mampu membuat pengunjung betah berlama-lama hanya untuk nongkrong dan ngopi cantik.


Ke empat perempuan itu tengah menikmati pesanan mereka masing-masing, di selingi dengan canda tawa dan foto bersama.


"Eh lo tahu nggak? Gue kemarin udah di lamar," kata Sinta berbinar.


"Oh ya? Pantesan lo happy banget, jadi bela-belain deh nggak ikut kemah karena ada hal yang lebih menarik."


"Omo... sugar dady seriusin lo?" Bila mengacungkan dua jempolnya.


"Juragan Batu Bara keren juga, gue kira lo bakalan di depak setelah dapat manisnya, Hahaha... canda." Hanum mengangkat jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.


"Ih... jahat! Do'ain gue putus ya?" ucapnya mrengut.


"Ya elah... becanda beb, becanda. Gue dukung kok seratus persen gerakan nikah muda sama orang yang sudah mapan dari pada hamil di luar nikah."


Uhuks


Disya yang tengah minum pun tersedak seketika mendengar ocehan Hanum.


"Sya, lo nggak pa-pa?" Bila dengan sigap membantu mengusap-usap punggung Disya.


"Iya, gue nggak pa-pa? Ayo makan, ini chicken curry puff pastrinya enak banget," ujarnya.

__ADS_1


Disya sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka dengan mengajaknya makan. Biar bagaimana pun Disya tidak ingin teman-temannya tahu kalau dia hamil di luar nikah, dan parahnya terjadi hubungan satu malam dengan Dosennya sebelum akhirnya menikah. Hari ini dia pertama kalinya bersyukur untuk pernikahan nya yang bisa menutupi kehamilan atas dirinya. Ia baru menyadari akan terjadi bagaimana jika ia tidak segera menikah.


"Sya, sekarang lo musti jelasin ke gue deh, kata Hanum dan Bila elo udah nikah?" tanya Sinta kepo tingkat akut.


Disya mengangguk, membenarkan pernyataan duo racun, racun pergosipan di dalam kelas.


"Gue udah nikah sama Pak Sky," jawab Disya lugas dan jelas.


"What!!" Ekspresi yang hampir sama dengan Hanum dan Bila saat baru pertama mengetahuinya, Sinta juga cukup syok dengan pernyataan Disya.


"Kok Bisa? Wah ... lo selingkuh ya dari Rayyan?" sarkasnya ngegas.


"Tidak, tapi bisa juga sedikit iya, parahnya berakibat fatal dan membuat gue hampir gila karena terus-terusan dalam tekanan, gue dijodohin," jelas Disya samar.


"Ya ampun ... lo beruntung banget dikelilingi dogan, yang satu dosen ganteng yang satu dokter ganteng, coba gue belum punya cowo, gue pungut tuh si Rayyan," ujarnya ceplas-ceplos tanpa dosa.


"Ish ... baru bilang habis di lamar, eh ... udah mau bertingkah," tukas Bila sewot.


"Sayang banget, ganteng-ganteng di tinggal nikah, sakit banget tuh pasti kak Ray." Sinta tampak menerawang.


"Bangun woi ... nggak usah mikirin laki orang," Hanum menginterupsi.


"Belum, lagi usaha buat nerima kenyataan terhadap apa yang Tuhan takdirkan," jawabnya bijak.


"Duh ... melow gue, nggak kebayang di posisi lo saat ini, pasti nggak enak banget harus ngejalanin sesuatu yang nggak sreg di hati," ucap Sinta sendu. Mereka berempat berhambur saling memeluk, memberi semangat kekuatan untuk Disya.


"Udah ah yuk melownya, gue mau kasih sekarang nih oleh-olehnya." Sinta mengeluarkan barang dari paper bag besar yang ia bawa dan dibiarkan teronggok begitu saja di samping ia duduk.


"Apaan beb, sampe lupa mau di kasih oleh-oleh saking asyik sesi curhatnya," ujar Hanum berbinar.


"Tara ..." Sinta mengeluarkan beberapa kaus cantik yang bermotif sama dengan warna yang kontras hampir senada. "Kaus couple kekinian, ini gue pesen lo buat genk kita," ujarnya semangat.


"Ih ... manis banget, gue suka," ujar Bila senang.


"Thanks beb, keren...!" Hanum mengacungkan jempolnya.


"Kok lo kepikiran sih, suka banget..." Disya berbinar senang.

__ADS_1


"Gimana kalau besok kita pakai buat gowes bersama, sabtu pagi kan kita nggak masuk pokoknya harus bisa, udah jauh hari ini di rencanain?" ujarnya semangat merangkai agenda.


"Boleh, ide bagus tuh, kita bertemu di pusat taman kota."


"Oke deh, bisa banget insyaallah gue usahain."


Tiba-tiba Disya mendadak gugup melirik jam di ponselnya sudah hampir jam dua siang, hari ini ada jadwal cek up kandungan. Sayangnya orang yang di gadang-gadang akan menjemputnya tak kunjung datang.


"Gaes... sorry nih, gue harus cabut sekarang. Gue ada urusan mendadak jam dua siang ini," kata Disya tak enak.


"Urusan apa Sya? Lagi asyik ini ... nggak seru ah, masa' pamit duluan, laki lo juga belum jemput?" sergah Bila menyayangkan.


"Pak Sky kayaknya lupa deh, nanti gue hubungi aja sambil jalan," ujarnya tenang.


Disya terpaksa meninggalkan teman-temannya yang sesungguhnya ia pun masih ingin singgah, tapi karena mempunyai jadwal penting terpaksa harus memangkas kesenangannya bersama teman-temannya.


Disya mulai kesal ketika menunggu Sky tak kunjung datang, bahkan pria itu mengabaikan telfon dan pesannya. Akhirnya gadis itu memutuskan menuju rumah sakit sendirian.


Disya sudah membuat janji dengan dokter yang akan menanganinya. Perempuan itu terlihat mengantri di ruang tunggu seorang diri, dari beberapa ibu hamil di sana terlihat di temani oleh suaminya masing-masing, membuat Disya bertambah kesal dengan Sky.


Sementara Sky baru saja selesai rapat dan langsung bergegas ke luar dari ruangan. Pria itu membuka ponselnya dan benar saja, Disya beberapa menit yang lalu telah menghubunginya, gadis itu juga meninggalkan pesan yang menyatakan dirinya sudah pergi ke rumah sakit lebih dulu.


Sky mengemudi mobilnya dengan kecepatan lebih, pria itu tidak ingin tertinggal dan membuat Disya kecewa. Sky bahkan hampir lupa dengan mengabaikan keselamatan dirinya, laki-laki itu mengemudi dengan perasaan gusar, terlebih tempat rumah sakit yang di tuju itu rumah sakit Keluarga Rayyan, Sky jelas takut mereka akan kembali bertemu.


Disya mengalihkan kejenuhannya dengan memainkan ponselnya ketika seseorang tiba-tiba duduk dengan anteng di samping Disya.


"Suami kamu mana? Kenapa di saat seperti ini dia tidak menemanimu?" tanya pria itu yang hampir membuat Disya tak mampu mengendalikan ekspresi wajahnya.


"Kak, Ray? Tumben di poli kandungan?" tanya Disya mencoba tenang, menormalkan degup jantung yang masih mendebarkan rasa yang entah.


"Aku lihat kamu sendirian dan langsung kesini?" ujarnya tenang.


Rayyan awalnya ragu untuk mendekat, ia hanya tidak ingin terjadi perdebatan lagi yang pelik, dirinya berusaha tengah menata hatinya untuk mencoba ikhlas menerima kenyataan takdir atas hidupnya. Semakin ia dekat dengan Disya dan bertemu kembali, semakin sakit dan susah untuk dirinya bangkit, tapi rasa ingin tahunya begitu besar begitu mendapati Disya duduk seorang diri di bangku tunggu.


"Ibu Disya Anggita!" suster menyeru panggilan untuk Disya.


Disya nampak gugup, ia sontak berdiri, pandangannya liar menyapu ke seluruh penjuru ruangan, hatinya kesal sekaligus khawatir.

__ADS_1


"Biar aku antar masuk ke dalam ya Sya?"


__ADS_2