One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 152


__ADS_3

"Asyik banget ngobrolnya, sampai lupa waktu," sindir Sky. Mereka tengah perjalanan ke rumah sakit.


"Biasa aja Mas, aku kan udah lama juga nggak rempong bareng."


"Sya, judul kamu ganti ya, itu terlalu biasa. Seputar ekonomi global kurang menantang."


"Ganti lagi? Ish ... nanti aku kirim via email."


"Kamu udah makan?" tanyanya perhatian.


"Udah, dikit doang masih lapar," jawabnya datar.


"Mau makan dulu, emang tadi di kantin nggak makan?"


"Makan soto sih, tapi aku laper lagi," keluhnya jujur.


"Aku cepet banget melarnya, perasaan kemarin masih langsing, pantesan aja kamu jarang lirik aku," ucap Disya sekenanya.


Sky melirik istrinya yang kalau ngomong suka ngeselin. Emangnya selama ini kalau bukan nglirik istrinya ngelirik siapa lagi. Karena gemas pria itu sampai menepikan mobilnya dan berhenti.


"Iya, aku jarang ngelirik kamu, karena langsung melihat tepat sasaran," ujar pria itu menatap begitu lekat.


"Ish ... apaan sih, udah jalan nanti kita kena tilang berhenti sembarangan."


"Nggak mau jalan kalau kamu mikirnya gitu terus."


"Ampun ... ini orang, nanti telat ketemu sama dokternya, Mas, kamu nggak pingin cepet lihat anak kita?"


"Kamu semenjak hamil jadi aneh, untung aku cinta dan sayang, coba kalau nggak mungkin sabarku sudah habis di buatmu kesal setiap hari."


"Bukan aku yang aneh, mana pernah aku aneh-aneh, yang ada tuh ya kamu yang selalu tidak mengerti kemauanku," ngeyel Disya. Sky nampak melirik lalu membuang napas kasar.


Tujuh belas menit berlalu sampai di rumah sakit, mereka langsung turun dan menuju pemeriksaan. Sebelumnya Disya sudah membuat janji. Antrian tidak cukup panjang, perempuan itu baru singgah sebentar dan langsung mendapatkan giliran.


"Selamat siang Ibu Disya?" sapa Dokter ramah.


"Siang dok," jawab perempuan itu sopan.


"Ketemu lagi ya Bu, mari silahkan melakukan pemeriksaan. Buku kehamilannya di bawa 'kan?"


"Iya Dok, ada."


"Mas, buku KIAnya mana?" tanya Disya menengadahkan tangannya pada suaminya.


"Kamu nggak nitip ke aku?" jawab Sky bingung.

__ADS_1


"Ambilin Mas, di tas aku."


"Ya ampun sayang, kan ketinggalan di mobil."


"Sebentar Dok, biar suami saya yang ambil, perasaan tadi udah aku masukin ke tas."


"Silahkan di ambil dulu Pak, untuk Ibu Disya periksa dulu ya?"


Sky setengah berlari mengambil buku yang dimaksud, pria itu kembali dengan cepat.


Perawat yang membantu Dokter segera membimbing Disya untuk mengukur tekanan darah dan menimbang berat badan.


"Mari Ibu Disya, timbang dulu?" ujar perawat yang membantu Dokter.


"Naik banyak saya, Sus." Suster tersenyum.


"Bagus Ibu, masa kehamilan berat badan naik itu sangat wajar," jelasnya kalem.


"120/80 Dok," ucap perawat. Dokter segera membubuhkan catatan ke buku kesehatan.


"Selamat datang di usia kehamilan 14 minggu, saat ini Ibu Disya sudah masuk trisemester ke dua ya Bu?"


"Tensi normal, berat badan naik banyak ya Bu Disya. 54 kg, kehamilan 14 minggu," gumam Dokter meneliti.


"Maaf Ibu Disya, Dokter buka ya?" Disya mengangguk patuh.


Mengukur tinggi fudus pada perut Disya


"Hmmm, ini lebih lebar dari kehamilan usianya."


Sky menjadi pengamat yang setia, diam tapi memperhatikan semua ucapan Dokter dengan seksama.


"Untuk lebih jelasnya kita USG aja ya Bu Disya."


Dokter membubuhkan cairan gel yang terasa dingin ke perut Disya, lalu mengarahkan alat penghubung dengan monitor. Disya dan Sky mengamati dengan diam, tangan mereka saling bertautan, ini adalah saat paling mendebarkan dan momen yang paling di tunggu, mengintip anak mereka yang tumbuh di rahim sana.


"Coba kita lihat ya, si kecil sudah sebesar apa di sana?" selorohnya dengan menggerakkan alat pemeriksaan ke perut Disya.


"Hhmm ... say hallo dulu sayang ... ini dijengukin Mommy sama Deddy nih," sapa Dokter dengan celotehannya.


Ada rasa bahagia dan juga khawatir, rasa haru yang tidak bisa terdefinisikan saat Dokter mulai menjelaskan dan ternyata mempunyai dua kantung satu sama lain, alias Disya dinyatakan mengandung bayi kembar. Pria itu tersenyum lebar.


"Ibu Disya bisa merasakan ya, detak jantungnya ada dua, dan sudah mulai terbentuk."


"Jenis kelaminnya belum begitu jelas ya, atau ini posisinya jadi tidak terlihat."

__ADS_1


"Selamat ya Ibu Disya, Anda akan mempunyai dua bayi sekaligus. Pastikan selalu jaga kesehatan, dan banyak mengkonsumsi makanan yang sehat. Porsi kecil tapi sering lebih bagus." Semua wejangan Dokter ia serap dengan senang dan semangat.


Sky dan Disya terus melebarkan senyumnya, bahagia sekali rasanya dititipkan dua malaikat kecil di rahim istrinya. Mereka pulang dengan hati yang begitu bahagia. Berkali-kali pria itu menciumi pipi Disya dengan sayang. Pria itu begitu menjaganya, mengingat Disya pernah mempunyai riwayat keguguran, sudah pasti kehamilan kali ini lebih posesif, apalagi mengetahui bayi dalam perut istrinya ada dua, laki-laki itu benar-benar menjaga dengan ekstra.


"Mas, kamu senyum terus dari tadi?" Mereka tengah di mobil sedang perjalanan pulang.


"Aku bahagia sayang." Pria itu fokus menyetir namun tangan kirinya tidak melepaskan genggaman pada tangan Disya.


"Mau mampir dulu nggak, ada beli sesuatu yang kamu pingin, biar sampai rumah nggak harus bolak balik."


"Mas, katanya mau nganter Bintang ke Bandara, nggak jadi?"


"Jadi lah, ini habis ini langsung ke rumah Bunda ya? Kamu mau ikut atau di rumah aja?" tawarnya mengerling.


"Tunggu di rumah aja, nanti di jemput lagi, sekalian mau kasih tahu Bunda, kalau anak aku ada dua, pasti seneng deh Mas."


"Iya, Ayah sama Bunda pasti seneng banget denger ini sayang," ucapnya yakin.


Sesampainya di rumah Bunda, Bintang sudah bersiap dan tinggal menunggu Sky datang. Sebenarnya bisa saja adik kesayangannya itu di antar supir, namun Bunda menyuruh agar Sky saja yang mengantar, mengingat Bintang lebih dekat dengan Sky, supaya momen mereka begitu terasa akrab saat mereka harus terpisah.


"Udah siap dek?" tanyanya.


"Udah kak, langsung berangkat saja," ujar Bintang.


Gadis belia itu berpamitan dengan seluruh orang rumah. Bunda dan juga Ayah Asher tidak mengantar karena harus menjaga kakek yang kurang sehat, Bintang hanya diantar Sky dan akhirnya Disya ikut juga walaupun suaminya sudah mewanti-wanti, takut kalau istrinya itu kecapean karena wira-wiri.


Disya tentu saja tidak mau ketinggalan, ekspektasinya nunggu di rumah Bunda, nyatanya perempuan itu tak mau di tinggal.


"Duh ... Ibu hamil, manja banget sih, sampai nggak mau pisah walau sejengkal," seloroh Bintang dengan guyonan.


Disya hanya nyengir tanpa dosa, merasa aneh tapi memang pada kenyataannya selalu berada di dekat Sky adalah hal yang membuat ia nyaman saat ini.


Sesampainya di Bandara, Sky dan Disya masih menunggu beberapa saat. Sky terlihat sibuk berbincang di telfon dengan seseorang yang entah itu siapa. Sementara Disya masih mengobrol dengan Bintang. Waktu keberangkatan masih kurang dari satu jam, Bintang memanfaatkan dengan mengobrol akrab dengan kakak iparnya.


"Bin, kakak pulang ya, hati-hati di jalan?" ucap Pria berstatus kakaknya itu, memeluk dengan sayang adik kesayangannya itu. Melepasnya sungguh berat, namun sudah menjadi keputusan Bintang yang bulat.


"Kamu terlihat sedih, apa kamu mau berubah pikiran?" tawar pria itu setelah melepas pelukannya.


Bintang menggeleng, lalu mengangguk.


"Aku baik-baik saja, nantikan aku pulang ya?" ucapnya sendu.


"Aku pamit, dada bumil, sehat-sehat selalu, tante berangkat dulu, ya?" Setelah saling berpelukan mereka saling melambaikan tangan.


"Bintang!!" seru seseorang setengah berlari di antara ramai orang.

__ADS_1


__ADS_2