
Sakit itu... ketika kita masih sangat mencintai tapi terpaksa harus pergi dan mengiklaskan untuk tidak memiliki.
Buliran bening itu terus menetes di pipi Disya yang ayu. Sesekali jari tangannya ia gunakan untuk mengusap agar tak sampai jatuh dan jatuh lagi, tapi seakan tangis itu pecah dan bagai air sungai yang deras membanjiri pipi. Bukan hanya menangis tapi sesenggukan.
Ia yang mengakhiri semuanya tapi kenapa begitu sakit yang Disya rasakan. Duduk di atas ranjang menatap laptop yang menampilkan foto- foto indah kebersamaan selama hampir tiga tahun ini terasa nyeri melingkup di hati.
Terlalu indah kenangan manis mereka berdua yang tak mungkin sanggup di lupakan begitu saja. Mata Disya memindai dari gambar ke gambar mereka berdua beralih menatap cincin yang masih melingkar setia di jari manis Disya. Cincin pemberian dari Rayyan saat gadis itu berulang tahun.
Ia mengangkat tangan kirinya, kemudian menatap dengan sendu. Lagi-lagi tak mampu menahan tangis yang begitu kentara. Dadanya begitu sesak, hingga ngilu itu begitu terasa.
Kalau boleh aku meminta, aku ingin terus bersama walau kini keadaanku tak sama.
Terlalu takut dan sebegitukah pengececutnya Disya? Iya. Disya terlalu takut menghadapi kenyataan bahwa Rayyan akan menolaknya. Dia sangat kecewa terhadap dirinya, tapi apa yang terjadi Disya benar-benar sukses membuat seseorang di sana hancur berkeping tak tersisa.
"Maaf kan aku kak Ray... cinta kita terpaksa harus ku akhiri, walaupun sebenarnya aku masih ingin tetap singgah," batin Disya menangis. Entah sampe jam berapa gadis itu menangis hingga terlelap tidur dengan hati yang begitu luka.
Disya terbangun, ia tengah duduk membatu di pagi buta yang entah terjaga jam berapa. Disya tak bisa lagi memejamkan matanya. Pikiran dan rasa bersalah terus menghantui dirinya. Disya seperti berhutang penjelasan yang wajib ia jelaskan pada Rayyan. Entah jadinya seperti apa, Disya akan menemuinya setelah pulang dari Bandung.
Gadis itu merasa haus, dan berniat turun dari ranjang lalu melangkah ke luar. Di lirik nya jam dinding yang terpasang di ruang tengah, ternyata masih pukul tiga pagi. Langkah Disya terhenti sebelum sampe ke dapur. Gadis itu menilik bilik di sebelah utara dapur ternyata Eyang tengah melaksanakan sholat malam di mushola kecil yang tersedia di rumahnya.
Gadis itu mendekat, lalu berujar menuju keran untuk mengambil wudhu. Ia seperti terpanggil untuk melaksanakan sholat malam. Dua rakaat telah ia tunaikan. Duduk bersimpuh dengan khusuk memanjat doa kebaikan untuk dirinya dan keluarganya serta jalan hidupnya.
Setelah mengadu pada-Nya, ternyata hati begitu tenang dan terasa beban itu berkurang.
"Kamu ada masalah?" tanya Eyang memecah keheningan di sepertiga malam yang sunyi.
Disya mengangguk, dengan mata berkaca-kaca.
"Eyang siap jadi pendengar yang baik, kalau Disya ingin bercerita," ujar Eyang lembut.
"Disya sebenarnya kabur dari rumah, Disya lari dari masalah Disya Eyang," jawab gadis itu lirih.
"Kalau boleh Eyang tahu, masalah apa yang telah Disya lewati hingga membuat kamu sekacau ini?"
__ADS_1
Disya menatap Eyang ragu, mulutnya serasa kelu untuk mengeluarkan suara kejujuran. Jari-jari tangannya saling memilin.
"Disya... Disya telah mela...kukan sesuatu yang salah," jawab gadis itu takut.
"Disya mengecawakan Mama dan Papa, dan telah membuat kak Flora marah, Disya juga sudah... menyakiti orang yang Disya sayang, Disya..." gadis itu tidak berani mengungkapkan satu fakta baru yang membuatnya dalam kubangan dosa.
Eyang mengelus puncak kepala Disya yang masih berbalut mukena itu dengan sayang.
"Tidak ada satu pun manusia yang bersih dari dosa, ataupun tidak di uji dengan masalah hidupnya di dunia ini Sya, semua pasti mengalami nya, entah itu berat ataupun ringan. Yang jelas Allah tidak akan memberikan ujian manusia di atas kemampuannya, dan harus ingat satu hal, di balik ujian itu pasti ada hikmah yang terpendam?" nasihat Eyang gamblang.
"Dosa Disya banyak Eyang?"
"Allah kan maha pengampun, Disya bisa memulai dengan memperbaiki diri, lalu minta maaf sama orang yang telah Disya sakiti," ujar Eyang sabar. Gadis itu mengangguk ngerti.
***
"Sya...!!"
Tok tok tok
Suara ketukan pintu di barengi panggilan dirinya membuat gadis itu segera bangkit dari atas ranjang nya yang terasa nyaman.
"Bentar Eyang!" saut Disya mengencangkan suaranya.
klek
"Sarapan dulu, habis ini Eyang mau ke pabrik, Disya mau ikut?" ajak Eyang dengan senyuman simpul di wajahnya.
"Boleh Eyang, Disya mau," jawab gadis itu semangat.
Setelah menghabiskan sarapan yang terasa nikmat. Disya begitu lapar karena kemarin dia mogok dan malas makan, pagi ini akhirnya Disya bisa memulihkan staminanya kembali yang habis ia pake untuk menangis dalam jangka yang panjang.
"Eyang, nanti Disya nusul aja ke pabriknya, Disya mau jalan-jalan pagi dulu di sekitaran," ujar Disya antusias.
__ADS_1
Gadis berkulit bundar itu kini tengah berjalan santai di sekitaran kebun teh seorang diri. Setelah semalam suntuk menangisi nasibnya yang teramat kacau, hari ini ia berjanji untuk lebih tegar dan setidaknya masih punya semangat untuk melanjutkan hidup yang di rasa akan lebih berat.
Dihirupnya udara pagi yang begitu segar dan fresh. Hamparan hijau yang membentang mampu sejenak membuat suasana hatinya begitu tenang. Indahnya suasana kampung halaman Eyang yang masih asri. Sejenak masalah Disya bisa teralihkan di sini.
"Pagi Buk, Teh?" sapa Disya kepada segerombolan manusia yang hendak bekerja memetik daun teh.
"Pagi Neng...? Liburan ya?" tanya salah satu ibu-ibu di sana.
"Cucunya Eyang Minto?" jawab gadis yang berambut kepang, terlihat umuranya tidak jauh berbeda dengan Disya.
"Iya, mari saya duluan ibu-ibu," pamit Disya dan berlalu dari sana.
Disya berlanjut menyusuri jalan setapak di kebun teh. Tea walking ini begitu sangat memanjakan mata Disya juga, bagaimana tidak sepanjang perjalanan dengan background hamparan hijau teh yang terbentang hektaran itu begitu menyejukan matanya.
Setelah puas berjalan dan cukup membuat tubuhnya berkeringat, gadis itu mengunjungi pabrik teh milik Eyangnya yang tak jauh dari sana.
"Gimana Sya, kamu tertarik dengan keindahan alam di sini?" Disya dan Eyang tengah duduk di ruangan Eyang di kantor.
"Pingin ke curug sebenarnya tapi sepertinya harus di tunda dulu untuk hari ini, Disya berniat kembali ke Jakarta sore ini Eyang," ujar gadis itu merasa lebih baik.
"Eyang seneng cucu Eyang akhirnya mau pulang," kekehnya senang.
"Eyang ngusir? Kok seneng Disya mau pulang?" ujar Disya merengut.
"Eyang senang karena kamu larinya ke sini, Eyang tunggu kabar baiknya."
"Kabar baik?"
"Iya, Disya sudah punya pilihan kan?"
"Pilihan?" gadis itu membeo.
"Jawaban yang tepat dari segala doa yang kamu panjatkan, jangan bolos kuliah lagi, kalau mau kesini syukur-syukur dengan status yang baru."
__ADS_1
Ketahuan mak bohongnya...