One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 37


__ADS_3

Disya nampak memelankan langkahnya begitu sampai di depan garasi rumahnya. Gadis itu masuk melewati pintu samping yang terhubung langsung ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum...!" salam Disya begitu memasuki ruangan keluarga.


"Waalaikum salam..." jawab Papa Amar dan Mama Amy sumringah, anak bungsunya sudah sampai di rumah setelah sekitar empat jam yang lalu Eyang mengabari kepulangan Disya hari ini.


Pak Amar dan Bu Amy sudah di wanti-wanti Eyangnya agar tidak terlalu banyak bertanya perihal kepulangan Disya atau kepergian anak itu.


"Sayang... Mama kangen...!" ujar Mama Amy memeluk Disya.


"Lebay! Ingat pulang juga lo?" sindir Flora yang tengah duduk di samping Mama Amy.


"Ra!" Amar nampak memperingatkan putri sulungnya.


"Disya ke kamar dulu Mah, Pah," ujar gadis itu lalu melangkah begitu saja tanpa mempedulikan sindiran sinis kakaknya.


Disya tahu Flora masih marah perihal tentang pria itu. Tapi Disya tidak mau ambil pusing, dirinya tidak mencintai calon suami kakaknya walaupun dia sedang mengandung anaknya. Disya tetap tidak berharap menikah dengan Sky.


Tiga hari meninggalkan rumah membuat gadis itu begitu kangen dengan kamarnya. Ia pun langsung melempar tubuhnya di atas kasur begitu masuk kamar. Merebahkan sejenak setelah meletakkan tas punggungnya yang terasa berat.


Tiba-tiba terasa sedikit kaku dan nyeri pada perutnya. Mungkin karena efek lelah membuat gadis itu merasakan ketidaknyamanan yang berarti.


Disya segera bangkit dari ranjang dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Rasa lelah sehabis perjalanan membuat ia ingin memanjakan sejenak di bathtub untuk merilekskan tubuhnya.


Gadis itu ingin menikmati sejenak ketenangan di tengah badai yang melanda. Ia tahu jalan menukik nan terjal sedang menanti di depannya, ia akan menemui Rayyan besok setelah dirinya tidak merasa lelah.


Tok tok tok


"Sya! Mama boleh masuk?" panggil Mama Amy dari luar kamar.


"Masuk aja Ma," seru Disya menyahut.


Mama Amy membuka pintu kamar Disya dengan perlahan. Gadis itu terlihat lebih segar dengan rambut yang basah, duduk di depan cermin meja rias.


"Ada apa Ma?" tanya Disya siap menjawab apa saja yang di lontarkan Mama Amy.

__ADS_1


"Kamu pasti masih capek, maafin Mama Sya atas sikap Mama dan Papa kemarin," ujar Mama Amy membuka obrolan.


Disya tersenyum simpul menutupi semua luka yang ada. Berusaha bersikap tetap tenang walau sebenarnya hatinya tidak baik-baik saja.


"Mama nggak salah, jangan minta maaf. Disya minta maaf Ma, belum bisa membuat Mama bahagia tapi malah membuat suasana rumah semakin kacau," ujarnya sendu. Garis kesedihan jelas tersimpan di matanya.


"Mama tahu ini berat, Mama dan Papa sudah tahu apa yang telah terjadi antara kamu dan Sky, Mama hanya berharap kamu bisa menerima perjodohan ini dengan ikhlas."


Disya menatap Mama Amy dengan dahi berkerut, ia belum bercerita apapun perihal dirinya dan kondisinya saat ini, apalagi tentang kehamilannya. Disya sungguh takut menjelaskan semuanya.


"Mama ngomong apa sih, Disya nggak ngerti?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Sky udah jelasin semuanya sama Papa, Mama tahu ini tidak mudah bagi kamu tapi sepertinya memang kalian harus segera menikah," jelas Mama Amy.


Sialan jadi si Pluto beneran buka aib kita di depan keluarga. Benar-benar tak tahu malu.


"Sayang... demi kebaikan mu juga."


"Tapi Disya nggak cinta Ma, itu juga bakalan nyakitin kak Flora, Disya nggak mau kak Flora benci dengan Disya. Disya tidak mau menikah dengan Sky," sanggahnya yakin.


"Kamu mencintai Rayyan? Apa dia bisa menerima kamu dengan ikhlas perihal sesuatu yang telah terjadi antara kamu dan Sky?"


"Disya nggak tahu, Disya udah mutusin Rayyan Mah. Disya nggak tahu ini benar atau salah tapi yang jelas Disya masih sangat mencintainya?"


"Oke Mama paham, tidak harus di pikirkan saat ini, sekarang ayo kita turun makan malam," ajak Mama Amy. Disya mengangguk.


Suasana di meja makan nampak senyap. Tak ada satupun orang yang berniat membuka suaranya, semuanya diam hanya ada suara dentingan piring dan sendok. Setelah makan malam selesai Disya langsung beranjak dari sana dan pamit ke kamarnya.


***


Keesokan paginya Disya merasa mual saat tengah menyantap sarapan bersama keluarganya di meja makan. Gadis itu pun segera berlari menuju wastafel untuk memuntahkan isi perutnya.


Hoek- hoek


Semua orang menatap Disya penuh selidik. Flora dan Mama Amy langsung menyusul Disya ke dapur.

__ADS_1


"Sya? Kamu sakit nak?"


"Disya sepertinya meriang Mah, capek perjalanan dan masuk angin juga," jawabnya setenang mungkin.


"Sayang... kalau sakit ke dokter saja tidak usah ke kampus," ujar Mama Amy menyarankan.


"Kayaknya bener deh Mah, Disya meriang nanti biar Flora yang antar ke dokter kalau begitu," ujarnya tersenyum sangat manis.


Disya terdiam sesaat, merasakan ketidak nyamanan dengan tawaran Flora. Gadis itu pun hanya tersenyum simpul dan berniat langsung pergi ke kampus saja dari pada harus menjawab serentetan pertanyaan yang mungkin akan menyulitkan dirinya.


"Disya nggak pa-pa kok Mah, jangan khawatir nanti Disya periksa sendiri kalau merasa perlu, Disya berangkat dulu," pamit Disya meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya pada ke dua wanita tersebut.


"Semoga cuma masuk angin biasa," gumam Mama Amy pelan. Ibu dari dua anak itu menatap curiga tapi tidak ingin menduga perihal tersebut.


Pak Amar berangkat ke kantor, Mama Amy sibuk dengan kegiatannya sedang Flora menuju kamar Disya. Flora cukup menangkap gelagat aneh perihal sikap Disya. Gadis itu mencoba mencari tahu dengan apa yang sedang di sembunyikan oleh adiknya itu.


Disya sebenarnya sangat malas untuk melangkahkan kakinya ke kampus, belum lagi bertemu dengan Sky membuat gadis itu semakin tidak bersemangat saja. Namun semua harus di jalani sesuai rencana, berusaha bersikap biasa saja.


Disya baru akan menemui Rayyan nanti siang setelah dirinya pulang dari kampus. Sebelumnya Disya sudah mengirim pesan tentang tempat di mana dirinya harus bertemu.


"Disya? Kangen...!!!" Bila, Hanum dan Sinta langsung mengerubuti sahabatnya yang sudah tiga hari tak bertemu.


"Lo kemana aja Sya?"


"Iya lo kemana? Project kita bahkan mampet tanpa lo?" ujar Bila criwis.


"Semedi," seloroh Disya santai.


"Selamat pagi semuanya...!" seru dosen memasuki kelas.


"Pagi.....!" jawab seluruh kelas kompak terkecuali Disya.


Sky cukup terkesiap dengan masuknya Disya pagi ini. Gadis itu baru menghilang dan cukup membuatnya uring-uringan selama tiga hari ini. Sekarang tengah duduk anteng mengikuti kuliah dirinya tanpa ada rasa berdosa.


Cukup menarik

__ADS_1


Sky tersenyum smirk, menatap tajam gadis di belakang sana dengan beribu pertanyaan di benaknya.


__ADS_2