
Disya memutuskan untuk pulang ke rumah Bila. Kedatangan Sinta dan Hanum pun tak luput dari misi mereka. Keempat sahabat itu sudah lama tidak menghabiskan malam hari bersama, dan ini kesempatan yang langka untuk mereka.
"Hadeh ... baru juga ya bokong gue duduk, kalian main ngabarin aja, buru-buru nih gue, belum sempet sisiran rambut, eh... Sinta datang," keluh Hanum rempong. Mereka baru saja sampai di kediaman Bila langsung heboh sendiri.
"Disya mana?" tanya Hanum clingukan.
"Tuh, lagi bongkar baju gue buat sabotase," tunjuk Bila menuju Disya yang tengah memilih piyama barunya Bila.
"Terus kita mau ngapain? Ini edisi happy ya jangan ada embel-embel belajar gue sumpek," cerocos Sinta.
"Pajama party ... oke pertama, mari kita singkirkan yang namanya ponsel dari dunia nyata. Jangan ada yang mainan handphone ya, terkecuali ambil gambar sama vidio."
"Terus ... kita bakalan unboxing make up, kemudian kita tiru beauty blogger gitu untuk inspirasi kita biar tambah kece."
Mereka berempat tengah membongkar make up Bila yang baru dibeli dan belum sempet dipakai. Sambil beraksi, curcol rempong sepanjang detik, menit, jam, mungkin bisa sampai larut malam.
"Sya, tapi lo tumben, emang dogan ngizinin lo nginep? Entar urusannya berabe kalau marah, kita ikut kena imbasnya. Tadi aja di kelas nyeremin pisan ngajarnya, killer binggo. Si Grace kena semprot karena nggak bisa jawab."
"Iya kah?" jawab Disya datar.
"Nggak percaya, tanya tuh Bila," tunjuk Hanum dengan dagunya.
"Ya kan emang karakter dogan gitu kalee, itu sih Grace aja yang geblek, tinggal dijawab sesuai pengetahuannya malah nyari jawaban di google, cari mati dia mah. Apes ...!" curhatnya sok dramatis.
"Tara ... cantik nggak? Pas kan sama tutorialnya, coba deh perhatikan." Bila berpuas diri dengan hasil make up nya.
Tak peduli kamar yang tak ubah kaya kapal pecah, mereka gojek bersama. Nyemil bareng, tik tok kan, dan pastinya foto untuk up date di sosmed mereka.
Hanum memposting foto mereka berempat yang baru aja selesai make up di tengah kamar aja, dengan caption 'Piyama party jilid 2'. Sontak unggahan mereka yang baru berkisar enam puluh tujuh menit itu mendapat serbuan di kolom komentar. Tak lupa Hanum juga men tag akun Disya, Bila, dan Sinta.
"Boleh gabung nggak?" ~ komentar Alan
"😍😍😍 emoticon mata love!" ~ Bisma
334.765 likes dan lebih dari 400 komentar. Sukses membuat heboh kolom komentar.
__ADS_1
"Gila ... banyak juga yang komen," kata Hanum berbinar.
"Lihat gengs ... kita kaya artis, kayaknya besok bakalan heboh deh di kelas."
"Gue nggak ikutan ah, mau nyumpel di kantong Doraemon," tanggap Disya datar. Kembali bersibuk ria meracik masker.
Setelah sesi make up rampung mereka harus membersihkan wajahnya, supaya aman saat tidur. Keseruan masih berlanjut, Disya benar-benar lupa dengan masalah yang tengah dihadapinya, berkumpul dengan sahabatnya memang ampuh mengembalikan mood yang amburadul sejak kemarin.
***
Lain Disya lain Sky. Keluarga Asher tengah makan malam bersama dengan Sky yang terlihat murung, sama sekali tidak berselera. Yuki yang melihat pun menjadi kepo sendiri dengan tingkah putranya.
"Disya belum pulang?" tanyanya hati-hati.
"Lagi nugas kelompok di rumah temen Bun, mungkin sebentar lagi pulang," jawab Sky berbohong.
"Kamu nggak jemput? Ini sudah malam, kamu ada masalah?" tanya Bunda Yuki, seperti menangkap gelagat putra sulungnya yang tak biasa.
"Sedikit, hanya kurang komunikasi dan terbuka aja sih."
"Maksudnya?" Sky kali ini benar-benar perlu berguru dan meminta nasihat sang Bunda, dirinya bahkan tidak mempunyai jurus jitu menaklukkan wanita secara khusus.
"Ya kamu tanya dong baik-baik, kenapa, bagaimana, mengapa sampai terjadi?" jelasnya memberikan tanda kutip.
"Aku kesel aja Bun, kemarin Disya ada ketemu sama mantannya, duduk satu meja, siapa yang nggak kesel coba? Ya nggak berdua doang sih, ada temen yang lainnya, tapi nggak tahu kenapa aku tuh kesel banget, aku marah Bun sama Disya, salah ya?"
Yuki tersenyum lembut, "Kamu boleh menegur, kamu boleh bertanya langsung kenapa bisa kebetulan bareng, jangan berasumsi dulu sebelum mendengarkan penjelasanya, jadilah pendengar yang baik untuk istrimu, karena pada akhirnya istri itu akan merasa dihargai apabila uneg-unegnya mau didengarkan."
"Dianya aja diem, apa nggak nambah buat aku stress," sanggahnya melakukan pembelaan.
"Kalau lawan kamu diem, kamu yang pro aktif dong sayang, ngertiin dikit, karena didiemin itu nggak enak banget Nak, Bunda aja pasti ngambek kalau ayah kamu diemin. Itu sudah naluri alamiah seorang wanita yang sifatnya ingin dimengerti, dan di MENGERTI, selamat berjuang, damai, jemput sana, kalau ngambekan terus kapan bunda punya cucunya."
Setelah mendapat kuliah dari sang bunda, Sky langsung melesat ke kamar, menimbang-nimbang perkataan dan tindakan apa yang harus dilakukan. Apakah membiarkan saja malam ini menginap, atau menjemputnya pulang. Hingga hampir pukul sepuluh malam, Sky masih belum bisa tidur. Pria itu membolak-balikan badannya gelisah.
"Akh... sial! Kenapa nggak bisa ngantuk juga sih," gerutunya kesal, kembali terduduk dan mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Sky benar-benar tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun, terbiasa tidur dengan Disya mendadak ranjangnya sangat longgar dan dingin. Ia merutuki hati dan pikirannya yang sama sekali tidak bisa tenang karena memikirkan istrinya itu.
Ia pun menghubungi ponselnya, namun tidak ada jawaban. Ingin sekali pria itu membanting dan membuang saja ponsel yang tidak menanggapi telpon darinya. Kesal!
Dengan gerakan cepat, pria itu turun dari ranjang, menyambar jaket dan kontak mobil, langsung melesat keluar kamar. Sky baru sadar bahwa teman istrinya ada banyak, dan ia sama sekali tidak tahu tempat tinggalnya. Akhirnya dengan berat hati, pria itu terpaksa meminta bantuan Flora dengan menelpon kakak iparnya untuk meminta alamat teman-teman Disya. Sky tidak peduli sekalipun harus mendatangi satu persatu rumah teman istrinya. Malam ini juga dia harus bisa membawa Disya pulang.
Berkat petunjuk dari Flora, Sky berhasil menemukan rumah sahabat istrinya. Sky juga mengecek sosial media istrinya, benar saja Disya melewati malam bersama teman-teman kampusnya di rumah Bila.
Tepat pukul setengah sebelas, pintu kamar Bila diketuk dari luar.
"Bila ...!" Itu suara bundanya Bila.
Bila yang masih belum tidur mendengar ketukan pintu dan seruan Bunda, langsung bangkit dan membukakan pintu kamarnya. Mereka berempat belum ada yang tidur. Mereka masih asyik, saling berisik bermain ular tangga, padahal malam sudah menyapa.
"Ada apa, Bun?" tanya gadis itu. Bila pikir bundanya hendak menegur dirinya yang mungkin terlalu berisik dan mengusik istirahat penghuni rumah lainya.
"Ada tamu, mau jemput Disya."
Merasa namanya disebut, Disya pun langsung ikut menengok ke arah pintu.
"Hah, siapa? Jangan-jangan dogan, Sya, mam pus deh lo Sya!"
"Coba cek Bil, gue nggak mau pulang, males banget kalau beneran dia," keluhnya mendadak bete.
"Maaf Bu, malam-malam ganggu waktunya." Itu suara Sky yang tengah berbincang dengan ibunya Bila.
"Nggak papa, anaknya juga belum pada tidur, nggak usah khawatir Mas, sebenernya biasa Disya dan teman-temannya itu nginep, tapi memang sekarang jarang, tante sih malah seneng asal kegiatannya positif," ujar Bunda Bila maklum.
Disya keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Benar saja menemukan suami posesifnya tengah berbincang dengan bundanya Bila.
Tak ingin membuat perdebatan yang panjang, Disya pun langsung pamit, setelah tadi sempat pamit dengan ketiga temannya yang ikut mengantar sampai depan.
"Mari Buk," pamit Sky sopan. Disya pamit pulang salim dulu dengan bundanya Bila, baru melambai dengan ketiga sahabatnya. Benar-benar drama penjemputan.
Sesampainya di dalam mobil, Disya masih mrengut dan kesal. Bisa-bisanya Sky menjemputnya larut malam. Tak peduli tatapan Disya yang tak ramah, pria itu langsung mencium kening Disya dengan lembut.
__ADS_1