One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 122


__ADS_3

Disya dan teman-temannya sedang di Anomali kafe. Mereka tengah mengerjakan tugas kelompoknya yang mulai berjalan. Gadis itu baru menghubungi suaminya untuk menjemput setelah pertemuan dinyatakan usai. Belum terlalu sore, waktu menunjukan pukul empat lewat sedikit ketika Sky tiba menjemput istrinya.


"Gimana tugasnya, lancar?" tanya Sky perhatian.


"Ya, sudah mulai berjalan. Mas kalau mau beli boba di aku ya, pesen yang banyak buat bagiin ke orang rumah," selorohnya mempraktikkan ilmu marketing.


"Ha, otak kamu langsung jalan, suami sendiri di palak," jawabnya tersenyum.


"Ye ... strategi marketing Mas, bukan malak tapi promosi."


"Berarti nggak wajib beli dong, kebetulan nggak suka boba lebih suka susu," ujar pria itu mengerling.


"Sejak kapan Mas suka susu?" tanyanya setengah nggak percaya. Setahu Disya suaminya itu tidak menggemari minuman itu.


"Sejak ngerasain punya kamu lah," jawab pria itu spontan.


"Nggak jelas banget!" gerutunya kesal, menatap suaminya yang tersenyum dengan nakal. Kontras pria itu mendapat hadiah satu cubitan.


"Awww .... sayang, jangan rese' dong lagi nyetir nih," keluh pria itu meringis menahan pedas dan geli.


"Mesum! Benar-benar nggak jelas!"


"Jelas, jelas malahan. Lebih enak, bikin aku awet muda," selorohnya melirik istrinya, baru kemudian kembali menatap fokus jalanan.


"Viktor, nggak suka," kilah Disya memicingkan matanya.


"Kamu mah negatifan mulu, jangan salah, sensasi sayang ... bikin hubungan rumah tangga harmonis, siapapun cowok pasti nagih lah hal kaya gitu."


"Ih ... bahas apa sih Mas, ganti topik," protes Disya mulai nggak nyaman. Suaminya suka terlalu jujur, ini resiko kalau nikah sama orang yang usianya sudah matang, nggak jauh dari yang berbau ranjang.


"Butuh dana, kamu kok nggak minta?"


"Kemarin kan lagi ngambek, gengsi dong. Tapi kalau sekarang dikasih sih aku mau," ngarep uang suami.


"Nanti aku transfer ya?"


"Hmm," Disya mengangguk cepat. Urusan uang mah gercep, hahaha.


"Mau berapa?"


"Semua juga boleh, banyak digit ya?"


"Waduh ... baru tahu ternyata nyonya Ausky matre juga," celetuknya becanda.


"Kan ditawarin, ya sekalian aja nglunjak, uang suami uang istri," kilahnya melakukan pembelaan.


"Tubuh istri milik suami juga," balas Sky sengit.


"Apa hubungannya? Nggak nyambung bang?"


"Ada lah, biar kamu paham dan nggak nolak."

__ADS_1


"Ya, semua atas diriku milikmu Mas, PUAS!"


"Aseek ... hak paten, aku bebas pakai dong, tapi kok masih suka nolak, kapan nih kira-kira bilang, ayo sayang gitu, ngajak duluan?"


"Mas, kalau nyetir tuh fokus ke jalanan, pikirannya jangan berkelana ke negeri nirwana."


"Gara-gara kamu, salah siapa bikin aku candu?"


"Hadeh ... ambyar, tauk ah!" Disya lebih memilih diam, suaminya itu memang suka sekali jail kalau lagi berdua. Makanya kadang ia heran dengan karakternya yang super dingin dan cuek kalau lagi di kampus.


Sky terlihat begitu care bila di rumah, dan itu Disya akui, ia senang karena suaminya lembut untuk dirinya, tapi dingin untuk orang lain.


"Jangan langsung pulang Mas, aku mau ke supermarket dulu. Ada yang mau aku beli."


"Mau beli keperluan rumah tangga," sambungnya.


Sky mengiyakan, mengikuti istrinya berbelanja. Mereka tengah memilih barang apa saja yang masuk dalam daftar listnya. Disya mengambil barang cukup banyak, mulai dari kebutuhan pribadinya, dan juga suami, sampai untuk keperluan dapur.


"Sya, kita belanja kaya Bunda saja, mau pindahan?" ledeknya penasaran.


"Di taruh di apartemen Mas, jadi aku bisa pakai dapur kalau ada bahan," ujar gadis itu mulai memikirkan perkataan Alan di kantin.


Disya mulai membayangkan melakukan banyak hal di rumahnya, seperti menyiapkan makanan untuk suami dan aktifitas lain sebagai istri pada umumnya.


"Kita mau tinggal di sana aja?" tanyanya hati-hati.


"Boleh kan?" jawab Disya merasa lebih baik.


"Boleh lah, asal kamu nyaman saja. Aku ngikut."


"Kamu kangen sama Mama, untuk malam ini boleh bobok di rumah Mama, nanti kita pulang dulu bawa belanjaan, baru malamnya kita ke sana," ngalah pria itu.


Disya senang, walaupun cuma sekali, tapi di rumah orang tua sendiri begitu terasa nyaman, bukan berarti ikut suami tidak nyaman, tapi di rumah orang tua sendiri lebih bebas.


"Iya, tapi kalau ke sananya malam, nggak puas dong main di sananya. Aku pingin seharian full di sana, siang juga."


"Ya sudah, besok saja pulang dari kampus kita ke sananya."


Disya mengiyakan, mereka langsung pulang setelah puas berbelanja. Namun, sebelum sampai rumah lebih dulu mampir ke kedai bakso untuk mengisi perutnya yang terasa lapar, suaminya belum makan siang, malah Disya ajak muter-muter swalayan, penyiksaan.


Begitu sampai apartemennya Disya langsung mengemas barang belanjaan yang seabrek itu ke tempatnya.


"Alhamdulillah ... selesai juga ngemas belanjaan." Gadis itu berdiri sambil meregangkan tangannya, mengendurkan otot yang terasa kaku.


Selesai dengan pekerjaan kemas mengemas, Disya menuju kamar, menemukan suaminya yang sudah bersih dengan muka segar, rambutnya masih sedikit basah dan sudah bersiap dengan sarung dan baju koko nya.


"Cepet mandi Sya, aku tungguin, jamaah ya?"


Disya mandi dengan cepat, mengguyur tubuhnya yang terasa penat seharian. Setelah selesai memakai baju langsung menghampiri suaminya yang sudah bersiap, mereka menunaikan tiga rakaat bersama.


***

__ADS_1


Suasana rumah cukup sunyi, di tambah cuaca di luar hujan membuat ruangan semakin syahdu. Sky masih sibuk dengan laptopnya, Disya juga sama, mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


Pria itu sepertinya selesai lebih dulu, tak ingin mengganggu keseriusan istrinya, Sky pun memilih ke luar kamar dan menonton TV saja, ia masih belum ngantuk, waktu baru menunjuk di angka setengah sepuluh malam.


"Wih ... seksi bat, kok ganti? Nggak pakai bawahan ya?" Sky membelalak menyorot istrinya yang memakai piyama pendek dan cukup menggoda iman.


"Enak aja, pakai lah. Entar keasyikan kamu kalau aku nggak pakai."


"Polos aja nggak pa-pa, kalau di rumah cuma berdua gini," seloroh Sky tersenyum.


"Nggak usah berpikir mesum, mandi sana biar otaknya bersihan dikit."


"Mandinya nanti dong, ngelakuin aja belum."


Sky sendiri tengah bersantai di depan TV sambil menyender di sofa.


"Mas, laper nggak?" tanya Disya menghampiri suaminya, ikut duduk tepat di samping pria itu.


"Laper banget, haus juga pingin nyusu," jawab pria itu meneliti tubuh istrinya.


"Ihk ... serius dong, bikin cemilan yuk?"


"Emang bisa, makan aja yang ada, perasaan tadi beli banyak buat isi kulkas."


"Enggak, kan ada mbah google, bisa dong lihat tutorial memasak."


"Nggak capek apa? Bobok aja yuk, udah malam juga," ajak pria itu semangat.


"Capek lah, tapi masih belum ngantuk."


Disya malah menuju dapur, lalu membuat dua porsi minuman, satu cangkir kopi untuk Sky, dan secangkir teh, perempuan itu membawa sekaligus cemilan ke ruangan itu.


"Minumnya Mas," tawarnya seraya menyimpan kopi dan cemilan ke atas meja.


"Makasih Disky ... begadang nih ceritanya, kamu suka nonton film apa? Sya, sini ... " Sky menepuk-nepuk pahanya sendiri.


"Romantis komedi," jawabnya sambil memposisikan dirinya di pangkuan suaminya.


"Cuaca di luar dingin-dingin gimana gitu, cocok nih," selorohnya sambil tersenyum devil.


"Aku capek Mas," rengeknya manja, masih setia duduk di pangkuan Sky seraya bergelayut di pundaknya. Suasana santai yang teramat intim.


"Disky ..., tumben manja banget, jangan-jangan tanda-tanda nih," selorohnya 'ngarep.'


"Tanda-tanda ada baby di sini sayang." Pria itu mengelus perut Disya yang rata.


"Belumlah, aku belum ngerasain tanda-tanda apapun, emang kalau aku manja gini aneh ya?"


Disya menyender di bahu pria itu, nggak tahu kenapa ia ingin aja mendadak ingin menempel.


"Enggak. Aku pijetin sayang," tawarnya antusias. Tangannya terulur mengelus-elus rambutnya yang hitam legam.

__ADS_1


"Gini aja Mas," jawab Disya perlahan.


Sky merasa senang, ia lebih menyukai istrinya yang manja kaya gini dari pada jutek sepanjang hari. Mungkin terlalu nyaman atau apa, Disya terlelap begitu saja.


__ADS_2