One Night Stand With Dosen

One Night Stand With Dosen
Part 62


__ADS_3

Sky dan Disya sarapan dalam diam. Mereka merampungkan sarapan dengan cepat, setelahnya langsung berangkat menuju kampus bersama.


"Sya, masih ingat kan pesan aku?" interupsi suaminya mengingatkan.


"Hmm..." Disya hanya menjawab dengan gumaman. Setelahnya gadis itu mengangguk patuh lalu langsung keluar dari mobil setelah meraih tangan Sky untuk meminta pamit.


Disya berjalan cepat menuju halaman kampus utama yang sudah di kerubuti banyak mahasiswa yang tengah menanti sambutan dari Rektor untuk melepas keberangkatan peserta.


"Sorry gue telat dikit," sesal Disya nyengir.


"Belum mulai juga, santuy, persiapan udah oke."


"Pak komandan emang keren!" Disya mengacungkan dua jempolnya.


Semua nampak riuh rendah, tak sabar menunggu keberangkatan acara KBS ini. Setelahnya Pak Ghani nampak memasuki area lokasi yang seketika menjadi atensi mereka semua yang ada di halaman tengah berkumpul.


Dalam upaya membangun insan akademis yang berwawasan. Memiliki intelektual serta mampu bersosialisasi dengan lingkungan dan masyarakat. Fakultas Ekonomi menggelar Kemah Bakti Mahasiswa (***) selama 4 hari di sebuah desa yang terletak di kota hujan sebelah selatan kota DKI Jakarta.


Kegiatan kali ini dengan tema 'Meningkatkan kebersamaan antar mahasiswa serta membentuk rasa peduli terhadap masyarakat dan lingkungan.'


Pelepasan keberangkatan mahasiswa langsung di lakukan oleh Rektor Universitas Bapak Ghani Rianggana SE, MM di halaman gedung Universitas. Beliau menghimbau agar semua mahasiswa dapat mengikuti *** dengan sebaik-baiknya.


'Melalui kegiatan ini kita berharap lebih agar mahasiswa tidak hanya memiliki intelektual, tapi juga memiliki mental yang dewasa dan spiritual yang baik, serta bisa menjadi teladan sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat.' Pesan beliau sebelum para mahasiswa mulai membubarkan diri memasuki bus yang akan membawa mereka.


Disya dan peserta lainya sedang bergantian memasuki bus mereka. Sesaat sudut mata Disya menangkap bayangan Pak Sky yang memperhatikan dirinya. Disya terdiam dan memilih untuk masuk ke dalam bus di akhir agar tidak berdesakan walaupun sebenarnya ia ingin memilih jok sesuai keinginan siapa cepat dia dapat. Tetapi itu tentu saja tidak mungkin sebab takut saling serebot dan membahayakan untuk dirinya.


"Sya, ayo Sya! Nanti nggak kebagian tempat duduk yang nyaman," ujar Hanum antusias.


"Lo duluan aja, gue nanti sisanya."


"Gue tag in jok deket gue deh, semoga nggak saling serobot," ujar Bila sebelum masuk ke dalam badan bus.

__ADS_1


"Thanks beb, santuy."


Sambil menunggu antrian masuk ke bus, gadis itu lebih memilih diam berdiri di sekitaran seraya memainkan ponselnya. Hingga tanpa sadar dirinya harus masuk di urutan terakhir.


Disya ke bagian duduk di bagian paling depan tempat yang diisi Dosen, sebelahan tempat Dosen, sebenarnya ini adalah tempat yang paling di hindari dari semua mahasiswa tetapi karena ia paling akhir ya sudah terima manut saja.


Disya sudah duduk anteng agak berjarak ketika seseorang masuk ke dalam bus dan seketika membuat bus mendadak gaduh pekikan mahasiswi yang sudah berada di tempat duduk masing-masing.


Disya membulatkan matanya tak percaya seseorang yang tengah tersenyum manis ke arahnya itu kini adalah Sky.


Yah... gagal sudah deh gue terbebas dari makhluk satu ini.


Disya sudah sangat senang selama empat hari nanti terbebas dari hidup bersama pluto, tapi baru sesaat napas ketenangan itu, kini ia malah merasa was-was karena merasa pria itu terus mengawasi.


"Kosong kan? Duduk sebelah sini boleh dong?" celetuk pria itu santai. Sementara Disya masih tidak percaya makhluk di depannya benar-benar mengikuti kegiatan dirinya.


"Eh, iya Pak. Silahkan," jawab Disya terbata.


"Sini aja Pak, sebelah saya masih kosong ini," tawar bu Mega antusias.


"Sini saja Bu, terimakasih," jawab Sky kalem.


Disya duduk paling pojok kiri satu jok dengan Sky, sementara di jok sebelahnya pas belakang supir Bu Mega.


Disya lebih memilih diam dan membuang muka ke arah jendela mobil, sementara Sky nampak mengobrol asyik bersama Bu Mega. Keduanya bersebelahan tetapi tidak satu jok.


"Seneng banget deh, akhirnya kamu ikut." Itu suara Bu Mega yang samar-samar tertangkap rungu Disya sebab perempuan itu lebih memilih menyumpal telingannya dengan earphones sepanjang perjalanan.


Raga Sky berbincang indah dengan Bu Mega tapi lihatlah, bahkan tangan pria itu menggenggam erat tangan Disya semenjak dari pria itu duduk di sebelahnya. Pria itu sesekali meremas jari jemari Disya seakan merespon atas hatinya saat ini.


Disya berulang kali mengendurkan jemarinya tetapi Dosen tersebut malah semakin erat menggenggam. Sesekali pria itu melirik dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan mahasiswa lainya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang melihat film pada ponselnya, mendengarkan lagu seperti Disya dan ada yang bernyanyi-nyanyi dengan nada-nada random. Apalagi cowok-cowok yang duduk paling belakang super niat sampai membawa gitar. Uh... riuh dan happy sekali.


"Sya, haus nggak? Mau minum?" tawar pria di sampingnya yang tak lain adalah suaminya.


"Nggak," jawab Disya lirih sambil menggelengkan kepalanya.


"Bapak kenapa ikut nggak bilang-bilang?" tanya Disya setengah berbisik.


"Pengen, dan emang harus ikut," jawab pria itu cuek.


Ya ampun... datar banget, jawaban apa itu. Kalau tahu bapak ikut juga mending gue nggak ikut, baru mau tenang tiga hari aja gagal.


"Duduk sana pindah, sebelah Bu Mega," ketus Disya sebal. Sedari tadi Dosen nya itu terlihat obrolan akrab bersama hingga membuat Disya jengah.


"Emang boleh? Aku duduk di sana? Beneran kamu nggak jealous? Bu Mega masih seumuran sama aku lho, dia juga kemarin terang-terangan mengatakan rasa simpatik nya padaku. Yakin kamu nggak cemburu?"


What! pertanyaan macam apa itu? Cemburu?


Disya menatap kesal laki-laki yang tengah mengulum senyum padanya itu.


"Pak Sky? Haus nggak? Tolong dong bukain seal botol saya," ucap Bu Mega manja.


"Oh, iya Bu, sebentar." Sky melepas genggaman tangannya dan membuka seal botol air mineral dengan cepat.


"Ini Bu, silahkan." Pria itu menyodorkan botol tersebut sebagai tanda sungkan, tentu saja menolak tidak enak. Apalagi dirinya terkenal sangat ramah dan baik hati di kalangan Dosen, walaupun terkesan dingin dan cuek.


"Thank you, so sweet sekali." Bu Mega menerima dari tangan Sky dengan senyum terkembang.


Disya sontak memutar mata malas, lalu segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Sky tersenyum dalam hatinya namun ketika pria itu mau meraih tangan Disya, Disya sengaja menghindari dan lebih memilih menautkan jari-jarinya pada tangannya sendiri.


Pria bernama Ausky itu tidak pernah kehabisan akal, ia kini duduk menyender di jok dengan santai sambil memejamkan matanya, sementara tangan kirinya sibuk menelusup meraih pinggang Disya bahkan sampai masuk ke dalam menembus kulit. Seketika Disya mendelik kaget, begitu tangan pria itu bergerak halus di punggungan, meraba halus sampai ke bagian pinggang dekat perut.

__ADS_1


Disya melirik tajam ke arah suaminya, sementara pria itu tersenyum tanpa dosa.


__ADS_2