Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Bermain Game Bersama


__ADS_3

Karena terlalu asik menyantap masakan dari Bu RT, aku malah lupa kalau tadinya aku akan pergi ke rumah pak Yoga. Setelah ingat aku langsung meletakkan mangkuk tekwan yang panas, gurih asem, pedas dan pokoknya enak banget ke atas meja.


"Panjul, gue pergi dulu ya. Bilangin sama Bu RT makasih buat tekwan nya, sumpah ini enak banget!" ucap ku pada Panji.


Aku segera berdiri, tapi Panji menarik tangan ku sampai aku duduk kembali.


"Mau kemana?" tanya nya.


"Gue anter ya?" tanya nya lagi menawarkan untuk mengantar ku.


"Lu aja masih puyeng Panjul, udah lu istirahat aja. Gue mau ada perlu bentar, gue tadi udah di kasih ongkos taksi sama Tirta!" jelas ku agar Panji tidak bertanya lagi dan langsung membiarkan aku pergi.


Tapi ternyata tidak juga, dia masih tidak melepaskan tangan ku.


"Lu tega ninggalin gue, kepala gue masih cenat cenut ini!" keluhnya.


Aku terdiam, mungkin karena Panji pusing makanya Bu RT membuatkan makanan seperti itu untuk meredakan sedikit pusingnya. Aku jadi bingung, rasanya juga tidak tega pada Panji. Tapi aku benar-benar khawatir pada pak Yoga.


"Panjul, sorry ya gue harus pergi dulu. Tapi ntar malem gue bakalan kesini jengukin lu lagi. Gue bawa buah tangan deh!" ucapku mencoba membujuk Panji agar dia mau melepaskan tangan ku.


"Bener ya, janji?" tanya nya memastikan.


Aku langsung mengangguk kan kepalaku dengan cepat.


"Janji gue!" ucap ku dan akhirnya Panji melepaskan tangan ku.


"Bilang makasih ya sama Bu RT, enak banget tuh masakannya!" ucap ku sebelum keluar dari rumah Panji.


Aku sungguh sangat lega setelah bisa keluar dari rumah Panji. Segera aku berjalan dengan cepat menuju ke depan komplek untuk mencari taksi.


Setelah mendapatkan taksi, aku menaikinya dan menyebutkan alamat pak Yoga pada supir taksi.


Aku masih berusaha untuk tenang selama perjalanan. Tapi beberapa waktu kemudian, aku dan taksi yang aku tumpangi berada di dekat rumah pak Yoga. Aku melihat ada tiga buah mobil berjejer di depan gerbang rumah pak Yoga. Salah satunya adalah mobil milik pak Yoga, tapi yang dua lagi aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

__ADS_1


Setelah membayar aku turun dari dalam taksi. Langkah ku sedikit ragu, tapi aku tetap berjalan masuk ke dalam gerbang.


Saat berada di dekat pintu yang terbuka lebar, aku mendengar seperti ada yang sedang bertengkar di dalam sana. Tapi saat aku perhatikan, ada dua suara, seorang wanita dan juga seorang pria. Tapi aku yakin suara pria itu bukan suara pak Yoga. Tapi aku mengenal suara wanita itu, seperti nya aku pernah mendengarnya.


Baru saja aku akan mendengarkan lebih dekat tapi seseorang menarik tangan ku dan membuat ku terkejut, aku hampir saja berteriak, kalau saja dia tidak langsung membekap mulut ku dengan tangannya.


Mataku terbelalak lebar, karena orang yang membekap mulut ku dan menarik tangan ku ternyata adalah pak Yoga.


Dia melepaskan tangan ku dan menaruh jari telunjuk nya di depan bibirnya sendiri. Seperti sebuah isyarat agar aku tidak bersuara. Aku langsung mengangguk pelan. Dia melepaskan bekapan nya dari mulut ku dan menggandeng ku ke arah garasi mobilnya yang pintunya hanya terbuka sedikit.


"Kenapa kemari?" tanya nya setengah berbisik.


Rasanya aku ingin tertawa, ini kan rumahnya. Kenapa malah mau bicara saja malah harus bersembunyi dan berbisik-bisik seperti ini.


"Aku khawatir, kamu tidak mengangkat panggilan ku!" jawab ku apa adanya.


Pak Yoga mengajakku untuk duduk, di lantai garasinya. Meskipun garasi tempat ini juga sangat bersih dan rapi. Pak Yoga memang sangat menyukai kebersihan dan kerapian.


Kami duduk dan bersandar di dinding garasi.


Aku tersenyum dan menoleh ke arahnya.


"Aku bahkan sudah sampai di sini, aku sudah sangat baik!" jawab ku membuatnya terkekeh pelan.


Tapi sejak saat pertama kali aku menghubungi nya, itu bahkan sudah hampir satu jam yang lalu. Apa dia orang di dalam itu sudah bertengkar selama itu. Aku jadi penasaran.


"Kak, mereka itu...!"


"Kak Yoseph dan Sofie, mereka seperti itu sejak tadi!" jawab pak Yoga bahkan menyela pertanyaan ku yang belum selesai aku katakan.


Pak Yoga menghela nafas nya.


"Aku kasihan pada kak Yoseph, dia menginap di sini karena hanya ingin menenangkan diri, tapi istrinya menyusulnya dan mengajaknya bertengkar. Aku memilih diam di sini...!"

__ADS_1


"Sejak tadi?" tanya ku menyela ucapan pak Yoga.


Aku jadi kasihan pada pak Yoga, aku tidak bisa membayangkan satu jam berada sendirian di dalam garasi.


"Kakak sudah makan siang?" tanya ku pada pak Yoga.


Dan pak Yoga mengangguk pelan.


"Sudah, dia datang saat kami, aku dan kak Yoseph sedang makan siang!" jelas pak Yoga sama sekali tidak bersemangat.


Aku jadi merasa sedih melihatnya seperti itu.


"Kenapa kak Yoga tidak pergi saja?" tanya ku.


"Kunci mobil ku di dalam dan dompet ku juga di dalam kamar, ck... aku tidak mau muncul di depan wanita itu, aku bisa saja terbawa emosi padanya!" jelasnya padaku.


Aku tahu pak Yoga masih sangat kesal dengan perbuatan kakak iparnya itu, belum juga luka akibat pengkhianatan yang dia lakukan hilang dari hati oak Yoga. Sekarang dia malah membuat masalah dengan mengatakan hal yang tidak benar pada Tante Asti. Yang membuat Tante Asti menentang hubungan ku dengan pak Yoga.


Aku rasa pak Yoga benar, sebaiknya wanita seperti itu lebih baik dihindari saja.


Tapi kemudian aku memikirkan sebuah cara agar aku dan pak Yoga tidak bosan selama di dalam garasi ini. Aku mengeluarkan ponsel ku dan mengajak oak Yoga bermain, sebuah permainan tile dimana ada bola yang meloncat di atasnya sesuai alunan lagu.


Aku juga mengambil handset dari dalam tas ku dan memakaikan nya satu pada telinga kanan pak Yoga dan satu pada telinga kanan ku.


"Untuk apa?" tanya nya.


"Siapa kita tidak bosan berdua disini!" jawab ku.


"Meskipun tidak melakukan apa-apa, asal berdua dengan mu aku tidak akan pernah merasa bosan!" ucap pak Yoga membuat hatiku berdebar tak karuan.


Aku yakin aku tersipu saat ini, tapi dengan cepat aku mengalihkan pandanganku ke arah layar ponsel. Aku menunjukkan cara bermain dan pak Yoga juga terlihat antusias. Kami mulai bermain bergantian, aku sengaja tidak menunjukkan keahlian ku karena tidak ingin pak Yoga bosan menunggu gilirannya, karena baru 20 persen saja pak Yoga pasti akan game over.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2