
Aku hanya menggeleng kan kepala saat Dewi bertanya padaku. Dewi memang lebih sensitif dari ketiga teman ku yang lain. Entah dia memang sensitif pada sekeliling nya atau kepo, entahlah.
Tidak terasa pelajaran demi pelajaran berlalu, aku terlalu senang karena mengira nilai ku akan bagus. Jadi aku sangat bersemangat melewati jam demi jam hingga akhirnya tiba saatnya bel pulang sekolah berbunyi.
Aku membereskan kotak pensil dan buku-buku ku, memasukkan nya ke dalam ransel sekolah ku.
"Yuk balik, ada yang mau beli asinan kedondong dulu gak?" tanya Nina yang sudah berdiri dengan ransel sekolah di punggungnya.
Aku segera menggelengkan kepalaku.
"Gak, gue mau hemat. Gak tahu kan kapan bokap gue balik dari luar kota!" jawab ku.
Nina malah kembali duduk di kursi yang ada di depan meja ku.
"Bokap lu ke luar kota? ngapain? terus lu di tinggal gitu berdua sama kakak tiri lu yang katanya kayak gerandong itu?" tanya Nina bertubi-tubi. Dia terlihat mencemaskan aku.
"Neneknya si gerandong nyebelin itu sakit, masuk rumah sakit..."
"Nenek lu?" sela Dewi bertanya.
"Nenek nya si gerandong! bukan nenek gue lah! gak ada hubungan apa-apa sama gue!" sahut ku ketus.
"Duh, jangan sewot gitu dong. Yang namanya ibu mertua bokap lu, artinya dia nenek lu juga tahu Ras!" sambung Yusita menunjukkan silsila atau semacamnya dengan bahasa yang menurut ku terdengar pintar.
"Augh ah!" sahut ku kesal.
"Gue juga gak tinggal berdua doang sama dia, kan ada bibi. Ya udah balik yuk!" ajak ku pada yang lain.
Dan sesampainya aku di pintu kelas, aku lagi-lagi harus menepuk jidat ku.
'Ini pasti gara-gara ngomongin gerandong Afrika nih, gue sampai lupa di suruh pak Yoga nunggu di kelas!' batin ku ketika menyadari apa yang aku lupakan.
"Eh, pada duluan aja. Gue ada yang ketinggalan!" ucap ku pada Yusita, Dewi dan Nina.
"Emang kebiasaan lu, tuh hidung kalau gak nempel di muka lu, pasti lu lupa juga!" seru Nina yang sudah tahu kalau aku ini memang pelupa.
Dan mereka bertiga pun langsung berlalu. Saat melihat Nina dari jauh. Aku baru ingat, kalau hari ini dia juga belum memberikan dua bungkus roti coklat padaku.
__ADS_1
"Huh, dasar penyakit. Lupa gue ini kapan berakhirnya?" gumam ku.
Dan aku tersentak ketika sebuah tangan menepuk bahu ku.
"Gak pulang lu?" tanya seseorang yang ku kenali suaranya adalah Marco.
Aku menoleh dan memukul lengan nya dengan kuat.
Plak!
"Bisa gak kalau gak usah pakai ngagetin?" tanya ku kesal padanya.
Dan dia malah terkekeh menanggapi Omelan ku sambil mengusap lengannya yang tadi ku pukul.
"Panas Ras, parah lu. Jangan bar-bar terus kenapa? bisa-bisa sampai lulus nanti gak ada cowok yang mau sama lu? jones lu nanti, alias jomblo ngenes!" ejek nya lagi.
Aku memasang wajah geli padanya.
"Iyuh, emang yang lagi ngomong depan gue ini punya pacar?" balas ku tak kalah mengejeknya.
"Duluan aja, masih ada yang ketinggalan!" jawab ku.
"Buruan ambil terus balik bareng gue ke depan gerbang, lu tahu gak kata pak Anteng, penjaga sekolah kita ini. Kalau udah gak ada lagi orang, ada suara-suara aneh keluar dari laboratorium laboratorium anak IPA!" ucap nya dengan nada suara yang aneh. Kurasa dia sedang menakut-nakuti aku.
"Itu pasti suara dari siswa-siswi yang ikut ekskul!" sahut ku lempeng saja.
"Bukan, kata pak Anteng. Hari itu gak ada yang ekskul, dia udah nengok dari kaca, gak ada orang. Tapi pas dia balik badan dan memunggungi ruangan itu, suara nya ada lagi!" jelasnya lagi.
"Ih, lu tahu gue gak bakalan percaya sama yang begituan, lu kalau mau ngomongin beginian sama si Lutfi aja sono. Dia kan terkenal indigo! dah buruan sana pulang!" aku mendorong Marco menjauh dariku dan aku segera masuk kembali ke dalam kelas.
"Ras, awas di belakang lu!" teriak nya sebelum berlari.
Kenapa juga dia berlari, apa dia berharap aku takut lalu mengejarnya, itu tidak akan terjadi. Biar begini, aku ini rajin sekali mengaji sejak kecil sampai SMP. Dan aku tahu bagaimana cara mengatasi ketakutan pada hal-hal seperti itu.
Yoga Adrian POV
Aku sedang memeriksa lembar jawaban dari ujian harian hari ini. Aku harus menghela nafas yang panjang dan bersandar di sandaran kursi ku karena lembar jawaban Rasti benar-benar tak sesuai dengan ekspektasi ku.
__ADS_1
Padahal kemarin aku sudah mengatakan padanya bahwa soalnya tak akan jauh berbeda dengan materi yang ku jelaskan kemarin. Tapi masih saja dia menjawab dengan bolak-balik.
Dia menjawab jawaban nya saling tertukar. Dan aku tidak bisa membenarkan hal ini. Hasil akhir adalah 5,5. Aku rasa dia memang butuh bimbingan lagi.
Aku lihat guru-guru yang lain sudah membereskan meja mereka karena bel pulang sudah berbunyi. Aku juga segera membereskan meja ku karena aku sudah mengirim pesan pada Rasti agar menungguku di kelasnya.
"Pak Yoga, mari pulang!" sapa Bu Tari guru Bahasa Indonesia.
"Silahkan Bu, saya sebentar lagi!" jawab ku sopan.
"Baiklah, saya duluan!" ucap nya dan berlalu setelah sebelumnya tersenyum ramah pada ku.
Aku meraih tas ku, namun tak memasukkan lembar jawaban Rasti yang sudah ku periksa dan ku beri nilai.
Ruang guru sudah hampir kosong, hanya ada dua orang yang masih memeriksa hasil ujian siswa nya juga.
"Pak Roby, Pak Haris, saya duluan!" ucap ku ramah pada mereka dan mereka menganggukkan kepalanya, tersenyum dan mempersilahkan aku untuk pulang duluan.
Aku melangkah keluar dari ruang guru, berjalan dengan cepat ke kelas Rasti. Kulihat sekeliling sudah sangat sepi. Kelas sudah banyak yang kosong. Namun ketika aku tiba di dekat kelas Rasti, lagi-lagi aku melihat dia sedang berbincang akrab dengan Marco.
'Kenapa mereka akrab sekali, apa mereka punya hubungan lebih dari sekedar teman?' tanya ku dalam hati.
Aku memperhatikan mereka, aku melihat Marco sedikit berbisik dan mendekat ke arah Rasti. Dan jujur saja aku tidak suka melihat itu. Cukup lama mereka bicara, sampai Rasti masuk ke dalam kelas. Marco berteriak padanya sebelum berlari.
"Ras, awas di belakang lu!" itulah yang di teriakan Marco sebelum pergi dan aku tak tahu apa maksud nya.
Aku segera melangkah memasuki kelas, melihat Rasti yang tengah menghapus tulisan di papan tulis.
"Pak Yoga!" sapa nya terlihat senang.
Aku langsung meletakkan lembar jawaban ujiannya di atas meja guru. Dia mendekat dan melihatnya lalu secepat kilat aku melihat raut wajah nya berubah.
Yoga Adrian POV end
***
Bersambung...
__ADS_1