
Panji bahkan tidak ragu-ragu untuk menerima tawaran makan siang dari Ibu Rita.
Saat ini dia bahkan sedang duduk di meja makan sambil menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh bibi dan Ibu Rita yang sebenarnya adalah untuk makan siang kami.
Tapi ketika aku baru menuruni anak tangga aku teringat kalau aku belum menghubungi Tirta dan mengatakan padanya kalau aku sudah pulang dan sudah berada di rumah. Aku kembali lagi ke dalam kamarku dan meraih ponsel yang berada di dalam tasku. Lalu aku segera menghubungi nomor Tirta.
Tut Tut..
Suara dering ponsel yang menunjukkan kalau nomor yang aku tuju sudah tersambung.
"Halo Rasti, kami dimana? kakak di depan gerbang ini. Udah sepi banget, lu masih ada di dalam?" tanya Tirta panjang lebar dengan nada suara panik.
"Tadi tuh kakak ada rapat BEM sebentar, lu nunggu dimana?" tanya Tirta lagi masih dengan suara yang menyiratkan kalau dirinya tengah mengkhawatirkan keadaanku.
"Kakak maaf, Rasti udah di rumah tadi Resti pulang sama Panji. Alasannya kenapa ya nanti Resti ceritain kalau ke Tirta udah sampai rumah ya!" jawab ku pada kak Tirta.
Aku tidak bisa jelaskan apa yang terjadi tadi melalui telepon dan aku rasa Tirta sebaiknya memang harus cepat pulang.
"Oh gitu, syukurlah kalo lu udah sampai rumah gua takut lu nungguin gua di dalam sekolahan sendirian!" ucapnya lagi.
"Ya udah, gue balik sekarang!" lanjutnya sebelum terdengar suara dering yang menunjukkan kalau sebuah panggilan sudah terputus.
Aku juga langsung menyimpan kembali ponsel ku ke atas meja. Aku langsung keluar dari dalam kamarku dan melangkah menuruni anak tangga menuju ke lantai 1. Aku langsung ke ruang makan, saat aku tiba di sana Panji bahkan tengah menyantap buah potong yang sudah disiapkan oleh bibi dan ibu.
"Wah, anak Bu RT enak bener ya!" seru ku sambil menarik kursi ku lalu duduk.
Ibu Rita hanya terkekeh mendengar kau bicara seperti itu. Tapi Panji malah berlagak seperti tidak mendengar apapun yang keluar dari mulutku.
__ADS_1
"Iri bilang bos!" celetuknya.
"Ih, siapa juga yang iri!" balas ku.
"Tadi Panji bilang sama ibu kalau kamu ikut dia gara-gara ada beberapa orang yang badannya gede ngeliatin kamu terus ya di depan gerbang sekolah?" tanya ibu Rita.
Dan aku juga langsung menganggukan kepalaku, karena apa yang dikatakan oleh Panji itu memang benar.
"Iya Bu, awalnya sih nggak ngeh juga Rasti, tapi pasti naik motornya si Panji, itu orang tiba-tiba mendadak lari gitu nyebrang jalan. Dan kayak mau ngejar Rasti sama Panji gitu!" jelaskan dengan ekspresi wajah yang kurasa sangat mendukung.
"Lu abis bikin masalah sama siapa di sekolah tadi?" tanya Panji blak-blakkan.
Aku langsung terdiam, aku kembali mengingat kalau tadi di sekolahan aku sempat mengadukan tingkah laku Friska dan teman-temannya yang mencontek saat ujian. Dan tindakan tegas dari kak Yoga mengeluarkan mereka dari dalam kelas mungkin telah membuat mereka dendam padaku. Kalau semua yang aku pikir itu benar, artinya Friska dan teman-temannya memang tidak bisa dianggap enteng.
"Tadi tuh pas ujian bahasa Inggris, gue kasih tahu guru pengawas kalau Friska dan teman-temannya itu nyontek! terus mereka disuruh keluar sama guru pengawas! apa mungkin karena itu ya?" tanya aku melihat ke arah Panji.
"Bisa jadi tuh, kan bapaknya si Friska kepala preman pasar. Bisa aja kan preman-preman tadi itu disuruh sama bapaknya Friska buat gebukin lu!" ucap Panji membuat ku tersedak.
"Uhukk uhukk!"
Ibu Rita langsung mendorong segelas air putih ke depanku dan menepuk-nepuk pelan punggungku.
"Pelan-pelan nak!" ucap nya lembut.
Aku langsung meminum air yang ada di dalam gelas, dan mengatur nafasku perlahan.
"Lu kalau ngomong suka ngagetin, masa iya gara-gara gua ngasih tahu dia nyontek doang dia mau gebukin gue!" ucap ku tak percaya.
__ADS_1
"Bisa aja kan, namanya orang kesel. Belum lagi kemungkinan dia nggak bakal naik kelas kan kalau nilai bahasa Inggrisnya nol dia udah ikut ujian tapi nilainya jelek. Coba lu pikir!" ucap Panji lagi padaku.
Aku langsung syok mendengarkan penjelasan dari Panji barusan. Apa yang dia katakan itu ada benarnya juga, lalu bagaimana aku nanti pulang pergi ke sekolahan kalau begini caranya.
"Gak usah khawatir Rasti, yang kamu lakukan itu sudah benar. Kalau kamu membiarkan dia mencontek dan kamu diam saja, itu justru yang salah. Kalau kita membiarkan sesuatu yang buruk terjadi di depan mata kita maka kita ikut bertanggung jawab atas akibat yang terjadi selanjutnya!" jelas Ibu Rita panjang lebar membuat aku dan Panji tertegun mendengarnya.
"Tapi karena hal itu keselamatannya si Rasti kan terancam Tante?" tanya Panji.
Aku hanya melihat ke arah panci dan kearah Ibu Rita secara bergantian ketika mereka sedang berbicara.
"Benar, tapi negara kita ini adalah negara hukum. Tidak ada satu orang pun yang bisa bebas melukai dan mencelakai seseorang tanpa mendapatkan balasan hukuman!" jelas ini Rita.
"Lagi pula, mereka tidak akan melakukan tindakan gegabah seperti itu, buktinya mereka menunggu suasana di gerbang sepikan baru mereka menghampiri Rasti, itu artinya mereka juga takut pada hukum!" jelas ibu Rita lagi.
"Jadi Rasti harus gimana dong Bu?" tanya aku yang sudah merasa sedikit panik bukan sedikit lagi sebenarnya aku sudah sangat sangat sangat panik.
Ibu Rita lantas menggenggam tanganku dengan erat.
"Kan ada Kak Tirta, ada Panji juga kan. Rasti tenang saja, nggak usah terlalu dipikirkan nggak usah terlalu cemas. Yang terpenting adalah Rasti untuk beberapa waktu ini tidak usah pergi kemana-mana kalau tidak diantar!" jelas ibu Rita yang membuat ku sebenarnya semakin panik.
Karena dari apa yang dikatakan oleh Ibu Rita aku bisa menangkap kalau sepertinya aku memang sedang berada dalam bahaya saat ini. Aku bahkan tidak menyangka kalau hanya melaporkan seseorang yang mencontek saja urusannya bisa panjang seperti ini.
"Tapi Rasti jangan merasa, kalau apa yang kamu lakukan itu salah dan kamu menyesalinya. Apa yang kamu lakukan dengan melaporkan teman kamu itu sudah benar, suatu saat bahkan mungkin dia akan berterima kasih kepada kamu karena kamu sudah mengingatkan saat dia sudah salah jalan!" jelas ibu Rita lagi.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, padahal aku sebenarnya merasa sedikit menyesal. Seandainya aku diam saja dan tidak melaporkan tindakan Friska dan teman-temannya itu mungkin para preman itu tidak akan mengikuti ku entah apa yang akan mereka lakukan kalau sampai menangkap ku.
***
__ADS_1
Bersambung...