Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Tujuan Kedatangan Yoseph


__ADS_3

Aku merasa tangan ku sangat kaku dan sulit bergerak, setelah membuka mata. Ternyata kepala ku sendiri yang menahan tangan ku hingga tak bisa bergerak. Aku mengerjap cepat.


"Hah, gue kan lagi belajar! bisa-bisa nya gue malah ketiduran!" gumam ku cepat sambil mengedarkan pandangan ku ke sekeliling ruangan ini.


Aku sudah tidak menemukan pak Yoga juga dengan tas nya. Dan lampu ruang keluarga ini sudah menyala.


"Jam berapa ini? berapa lama gue tidur disini?" gumam ku lagi.


Aku berusaha untuk bangun, tapi kaki ku keram dan aku tidak bisa berdiri lama. Pinggang dan punggung ku juga sakit. Aku lantas kembali menjatuhkan diriku di sofa.


"Hah, haus banget. Tapi gak bisa jalan ini!" gumam ku lagi.


Baru saja aku akan menoleh ke arah dapur dan memanggil bibi. Tapi aku melihat ada gelas minuman yang tadi aku sajikan untuk pak Yoga. Dan isi dalam gelas itu masih banyak, atau bahkan malah pak Yoga sama sekali tidak meminumnya.


Aku lupa, mungkin memang benar pak Yoga tidak meminumnya. Mungkin dia mengira aku akan meracuni nya.


Daripada berteriak memanggil bibi dan membuat kerongkongan ku semakin haus dan kering. Aku meraih gelas itu dan meminum minuman itu. Rasanya tidak buruk, aku berbakat juga meracik sirup seperti ini ternyata.


Aku melirik tumpukan buku yang ada di atas meja.


"Pasti bibi yang merapikan nya kan? tidak mungkin pak Yoga!" gumam ku lagi.


"Non sudah bangun?" tanya bibi yang datang dari arah belakang.


"Iya bi!" jawab ku singkat.


"Itu tadi kata guru les non Rasti, non Rasti ketiduran. Dan dia pamit pulang, bibi mau bangunkan non Rasti tapi katanya tidak usah!" jelas bibi.


Dan aku hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala ku padanya, aku meletakkan gelas minuman di atas meja.


"Bi, tolong taruh gelasnya ya. Dan makasih bibi dah beresin buku-buku Rasti!" ujar ku pada bibi yang malah menampakkan ekspresi bingung.


"Bukan bibi non, bibi baru beres bikin makan malam di dapur!" seru bibi

__ADS_1


Dan jawaban bibi itu membuatku mengernyitkan dahi. Ternyata yang membereskan buku-buku ku pak Yoga bukan dirinya.


Aku berdiri karena kaki ku sudah lumayan tidak kebas. Aku meraih buku ku dan naik ke lantai atas melalui anak tangga secara perlahan. Aku ingin mandi dan setelah itu makan malam. Perut ku sudah sangat lapar.


Tapi saat aku mau membuka pintu kamar, aku mendengar seseorang memanggilku dari lantai bawah.


"Rasti!" panggil nya dengan suara yang lumayan keras.


Aku menoleh dengan malas karena aku sudah tahu siapa yang memanggil ku itu.


"Eh, lu pikir ini di hutan! teriak-teriak gak jelas!" omel ku sambil terus melakukan apa yang ingin aku lakukan.


"Eh bentar, jangan masuk kamar dulu!" teriak Tirta lagi sambil berlari dengan cepat naik anak tangga hendak menghampiri ku dan aku menarik tangan ku dari gagang pintu.


Aku berbalik menghadap ke arahnya.


"Apaan? gak penting awas lu ya!" gertak ku pada Tirta.


"Gak usah galak-galak, jones baru tahu rasa lu!" balas nya padaku. Aku masih tak bergeming.


Aku melihat ke arah tangan Tirta yang memegang uang itu.


"Apaan nih?" tanya ku curiga. Tumben-tumbenan ni gerandong nyebelin ngasih aku uang.


"Mau gak? gak mau gue kantongin lagi nih!" serunya.


Dan tanpa harus menunggu lagi, syuut.. dengan cepat tangan ku menyambar uang itu dari tangan Tirta.


"Itu dari ayah Rudi, karena lu mau les di rumah! udah ya! gue mau mandi. Nanti makan malam bareng ya!" ujarnya dan langsung berlari ke arah kamarnya tanpa mendengarkan jawaban ku mau atau tidak makan malam bersama dengan nya.


Aku mengernyitkan dahi ku, aku heran kenapa dia jadi seperti itu? apa memang dia seperti itu tapi aku tidak sadar. Aku menggedikkan bahu ku dan masuk ke dalam kamar.


Aku mengunci pintu kamar ku seperti biasanya.

__ADS_1


"Wah lumayan juga, tiap les dapet duit jajan tambahan. Bisa kaya mendadak gue!" gumam ku senang lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara itu di tempat lain...


Yoga Adrian POV


Aku sungguh malas berlama-lama dengan pasangan yang kurang dari dua minggu lagi ini akan menikah. Aku tidak cemburu, sama sekali tidak. Rasa cintaku sudah mati dan tak tersisa lagi untuk perempuan yang bermuka dua di hadapan ku ini.


Tapi aku malas melihat sikap sok perhatian nya padaku dan juga pada kakak ku. Aku sudah bilang pada kakak, untuk tidak terlalu mempercayai wanita ini. Tapi kakak sudah di buatkan oleh cintanya sama seperti aku beberapa bulan yang lalu.


Sofie memaksa untuk makan malam bersama. Aku menolak, tapi kakak ku malah memohon padaku. Katanya akan sangat sulit bisa makan malam bertiga seperti ini. Dan aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi lagi.


"Makan yang banyak sayang!" seru kakak ku pada Sofie.


Dan dengan sikap manja dan lembutnya Sofie menyuapi kakak ku.


"Yoga, kamu juga makan yang banyak. Ini makanan favorit Sofie di restoran favorit keluarga kita!" seru kakak ku lagi.


Dan ketika mendengar hal itu. Selera makan ku mendadak hilang. Semua makanan ini memang makanan favorit keluarga ku saat di rumah. Tapi setelah menjadi makanan favorit dari wanita itu, rasanya aku tak sudi lagi memakannya.


"Sejak tadi kakak belum mengatakan, ada apa kakak kemari? kakak hanya mengajak ku bermain catur lalu makan malam, sebemarnya ada apa?" tanya ku yang sudah mulai jengah.


Yoseph tidak langsung menjawab, dia malah melihat ke arah Sofie. Dan begitu wanita itu mengangguk, dia baru mengatakan apa yang dia ingin katakan. Itu seolah menunjukkan bahwa perlu ijin dari wanita itu untuk kak Yoseph bicara. Dan terus terang saja, itu makin membuat ku muak.


Aku begitu kesal bukan karena aku iri atau semacamnya, yang di lakukan kak Yoseph itu sama persis seperti aku yang dulu. Dan aku takut kak Yoseph terluka sama seperti aku.


"Jadi begini Yoga, sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah menceritakan tentang kekasih mu itu pada ibu, dan ibu malah menceritakan nya pada ayah, Sofie dan semua yang ada di rumah!" ucap Kak Yoseph dengan raut merasa bersalah.


Aku hanya bisa menghela nafas ku panjang.


"Sudah ku duga! lalu?" tanya ku memaklumi.


"Dan ibu, ingin kamu mengajak kekasih mu itu saat pernikahan ku nanti!" ucap kak Yoseph dan membuat ku terkesiap.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2