Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Mengerjakan Tugas


__ADS_3

Aku mengetuk kamar Tirta, ini orang juga aneh banget. Katanya tadi mau ngawasin Marco sama aku yang mau kerja kelompok. Tapi malah masuk kamar dan gak keluar-keluar.


"Geran.. eh Tirta! lu di dalem gak?" tanya ku basa-basi padahal aku tahu dia ada di dalam. Karena tadi aku melihatnya masuk ke dalam kamarnya dari lantai bawah.


Ceklek


Tirta membuka pintu, dengan laptop dan beberapa buku di tangannya.


"Kenapa kangen?" tanya nya.


'Huekk, yang bener aja. Dia ngomong apa? gue kangen? sampai lebaran monyet juga gue kagak bakalan tuh kangen sama gerandong nyebelin macam dia!' batin ku.


"Itu lagi Dewa 19, kasih soal yang susah dikit dong! gitu doang?" tanya ku menjadikan apa yang dia katakan tadi sebagai candaan.


Aku mau berbasa-basi padanya karena memang aku sedang ada perlu dengan nya. Lalu tidak sih maaf maaf saja.


"Gak lucu lu, ayo gue udah siapin tugas gue juga. Biar gue kerjain di bawah sambil ngawasin lu berdua!" ucap nya.


"Lu punya printer kan?" tanya ku pada Tirta ketika dia hampir melewati ku.


"Ada kenapa?" tanya nya setelah menghentikan langkahnya.


"Gue pinjem, itu si Marco bilang butuh printer buat ngeprint tugas!" jelas ku pada Tirta.


Untung nya hubungan ku dengannya sudah membaik, setidaknya lebih baik dari sebelumnya. Kalau tidak mana mau aku pinjam printer padanya, lebih baik aku naik ojol ke fotocopy nya ko Acong di gang sebelah. Di sana ada kak Haris, tukang fotokopi yang gantengnya kayak Aliando Syarif. Lebih baik aku ngeprint tugas ku disana. Tapi karena aku dan Tirta seperti nya sudah bukan lagi Silvester dan Tweety. Aku rasa aku tidak perlu kesana kan, lagipula ku dengar di sana tutup jam tujuh malam, sekarang kalau aku kesana pasti pulang dengan tangan kosong dan kaki pegal.


"Ada, nih pegang. Gue ambilin!" ucapnya sambil menyerahkan laptop dan bukunya padaku.


Beberapa saat kemudian dia membawa printer nya keluar.


"Padahal bisa pake bluetooth loh!" ucapnya sambil memegang printer dengan kedua tangannya.


Aku yang mendengar apa yang baru saja Tirta katakan hanya bisa mengangkat tinggi alis ku.

__ADS_1


"Ya kalo bisa pake bluetooth ngapain juga lu cabut kabel nya terus lu gotong begitu itu printer?" tanya ku heran.


Aku tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Tirta, kalau aku ya, jujur saja aku memang tidak terpikirkan hal itu. Kalau printer nya bisa mencetak tugas dari laptop Marco hanya dengan sambungan bluetooth ke printer milik Tirta.


Tapi kalau Tirta sudah tahu hal itu, kenapa juga dia masih mencabut kabelnya dan membawanya keluar dari kamar nya.


"Ya udah deh, udah terlanjur. Ayo turun!" ucap nya berjalan mendahului aku.


'Aduh, ini kenapa jadi pada eror begini sih. Oh iya gue lupa ini kan malem jum-at!' batin ku lalu mengikuti langkah Tirta turun ke lantai satu.


Kami meletakkan semua peralatan di meja ruang tamu, tapi sepertinya terlalu penuh jika Tirta juga mengerjakan tugasnya di meja ini.


"Bisa sikut-sikutan kita kalau ngerjain tugas nya di satu bangku begini!" keluh Marco yang mengetik di laptopnya sambil makan keripik singkong buatan bibi.


"Elu yang minggir sono, inikah rumah gue!" ucap Tirta dan membuat ku kembali terkekeh.


Benar-benar ya, kali ini aku setuju dengan apa yang di katakan oleh Tirta pada Marco.


"Gak bisa gitu dong kak, kan saya duluan yang disini. Dan saya ini tamu, dimana-mana tamu itu harus di utamakan, di hargai!" ucap nya dengan penuh penekanan.


"Elah, elu tuh tamu gak di undang tahu!" ucap nya kesal lalu meraih lagi semua barang-barangnya dan pindah ke meja lain yang lebih kecil dan letak nya tidak jauh dari meja utama.


"Biar gak di undang juga namanya tetap tamu kan kak!" balas Marco lagi tak mau kalah.


Sebenarnya aku sedikit kecewa, karena Tirta mengalah begitu saja. Rasanya aku terhibur melihat Marco dan Tirta berdebat seperti itu sejak tadi.


"Udah buruan duduk terus bacain itu, biar gue yang ngetik!" perintah Marco.


Aku duduk, melihat tulisan Marco yang membuat mataku sakit.


"Ini resep dokter atau apa sih? gak jelas banget!" keluh ku yang memang harus melihat lebih dekat dan teliti baru bisa membaca tulisan Marco itu.


"Elah, tinggal baca doang. Gue udah baik ya mau bawa tugas ini kesini, supaya pas baca lu juga tahu isi proposal kita tuh apaan!" jelasnya.

__ADS_1


Dan kali ini aku tidak memprotes apa yang dia katakan, karena aku rasa dia memang benar. Aku benar-benar harus berusaha untuk membacanya, tapi tumben dia baik sekali padaku. Aku jadi penasaran kenapa dia sampai repot-repot malam-malam kerumah dan mengerjakan tugas ini bersama dengan ku.


"Eh, tapi ini gak ada udang di balik batu kan?" bisik ku pada Marco.


Karena terakhir kali kami jadi satu kelompok, dia bahkan membuatku harus piket menggantikan nya selama tujuh hari. Aku sama sekali tidak bisa percaya begitu saja pada kompeni ini.


"Gak ada, buruan baca. Lu tahu gak sebenarnya benar juga pepatah yang bilang, malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau kebanyakan nanya kayak lu gini lu tahu gak tandanya apa?" tanya nya.


Dan karena aku juga sedang memperhatikan tulisan nya yang lumayan susah di baca ini aku hanya menjawab.


"Tandanya apa?" tanya ku.


"Tandanya lu bodoh nya udah kebangetan, tingkat maksimal dan gak bisa di selametin lagi!" jawab nya membuat ku mendengus kesal.


"Udah buruan baca!" serunya lagi dengan cepat sebelum aku bisa membuka mulut ku dan membalas perkataan nya.


"Sistematika proposal bisnis terdiri dari Cover dan halaman judul, lalu daftar isi, di teruskan dengan pendahuluan lalu aspek perencanaan usaha...!"


"Pelan-pelan dong Rasti, nih jari tangan gue cuma sepuluh bukan dua belas!" protes Marco merasa aku terlalu cepat membaca tulisan yang harus dia ketik.


"Ya pake aja dua belas, tambahin pake jempol kaki!" sahut ku asal.


"Kalian tuh mau berantem apa mau ngerjain tugas sih, kalau kayak gitu terus sampai subuh gak bakalan selesai!" sahut Tirta yang sepertinya terganggu dengan perdebatan ku dan juga Marco.


"Sampai subuh, begadang dong kita!" celetuk Marco lagi tanpa dosa.


Apa dia tidak sadar kalau Tirta itu sedang marah, dia malah menanggapinya dengan candaan.


"Ogah gue begadang, buruan kerjain. Selesai gak selesai jam setengah sepuluh gue usir lu dari sini!!" tegas Tirta.


"Buruan baca lagi Ras!" seru Marco panik.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2