
"Kamu bilang apa? kamu jadi istrinya David?" tanya Kak Yoga lagi memastikan apakah yang dia dengar itu benar.
Aku menganggukkan kepalaku menandakan kalau apa yang dia dengar itu memang benar dan tidak salah sama sekali.
"Iya, jadi nyonya Maria ibu tirinya Juliet, terus si David jadi Nicholas ayahnya Juliet!" jelasku pada Kak Yoga.
Tetapi semakin aku menjelaskan sepertinya Kak Yoga semakin kesal saja.
"Apa tidak ada orang lain? kenapa David? dia itu kan pemuda yang sangat konyol. Dia bisa saja berimprovisasi hal-hal yang tidak benar nantinya, bagaimana kalau dia mengambil kesempatan dalam kesempitan?" adakah yoga yang raut wajahnya mulai menyiratkan kecemasan yang ku rasa itu cukup berlebihan.
Apa yang dikatakan oleh kak Yoga sontak saja membuat aku terkekeh.
"Ha ha ha, kenapa kak Yoga berpikir seperti itu?" tanya ku masih sambil terkekeh.
Tapi kemudian aku terdiam sendiri aku menghentikan kekehan ku juga karena aku mengingat kejadian tadi pagi. David benar-benar membuatku pusing dan merasa tidak nyaman karena dia selalu memanggil istriku padaku.
Melihat aku terdiam sepertinya Kak Yoga menyadari sesuatu yang sedang aku pikirkan.
"Kenapa?" tanya Kak Yoga singkat tapi jelas tersirat dalam raut wajahnya jika dia mencemaskan aku.
Aku langsung menoleh ke arah Kak Yoga dan melihatnya dengan serius.
"Tadi siang tuh ya kak, pas jam istirahat, kan habis ujian tuh aku keluar dari kelas. Nah, si David tuh ngikutin aku terus dia manggil aku istriku...!"
"Apa?" Kak Yoga Memekik lagi dan kali ini aku menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku karena suaranya begitu nyaring.
"Kak Yoga, kenapa malah teriak kayak gitu sih ngagetin tahu!" protes ku pada kak Yoga.
"Kan, aku tuh udah mikir tahu kalau pemuda konyol seperti David itu lebih berbahaya daripada pemuda bucin seperti Marco!" jelaskan yoga yang meletakkan tangannya di bawah dagunya seperti seorang yang sedang menganalisa sesuatu.
Aku juga mulai berpikir dengan serius. Karena David benar-benar sudah tidak tertolong sepertinya, tingkah konyolnya itu benar-benar meresahkan.
__ADS_1
"Jadi aku harus gimana? mana besok pulang sekolah tuh udah latihan lagi?" tanyaku pada Kak Yoga.
Karena pada awalnya aku merasa bahwa pementasan ini ya cuman sandiwara saja drama musikal kan, tapi sikap yang ditunjukkan oleh David itu memang benar-benar membuat orang menjadi tidak nyaman.
"Aku akan bicara pada David besok!" tegas Kak Yoga yang memancarkan raut keseriusan di wajahnya.
Aku sepertinya juga setuju dengan apa yang akan dia lakukan. David itu memang butuh pencerahan.
Tapi ngomong-ngomong masalah pementasan untuk perpisahan kelas 12 di sekolah kami, aku jadi semakin penasaran apa yang membuat Kak Yoga bersedia untuk tampil duet bersama dengan Bu Tari.
"Nah, sekarang gantian aku tanya sama kak Yoga. Kenapa kak Yoga mau duet sama Bu Tari nanti di acara perpisahan?" tanya aku dengar suara yang ketus dan raut wajah yang cemberut.
Tapi bukannya langsung menjawab pertanyaanku, Kak Yoga malah tersenyum geli sendiri.
"Tuh kan, bukannya dijawab malah senyam-senyum sendiri, aneh!" ucapku sungguh sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh kak Yoga di depanku.
"Habisnya kamu lucu kalau sedang cemburu!" jelaskan Yoga mengatakan apa yang ada dipikirannya mungkin.
"Ih lucu darimana, emang aku apaan boneka beruang, boneka panda atau boneka Mampang?" tanya ku ketus.
Aku semakin dibuat kesal saja kenapa ya dia tidak langsung menjawab pertanyaanku dan malah mengubah topik kesana kemari.
"Kemarin, para pengurus OSIS juga dan ketua OSIS dan wakilnya mendatangi ruang guru. Meraka meminta kami ikut andil dalam acara pementasan untuk perpisahan kelas 12. Sebagai suatu wujud atau sebuah apresiasi kami kepada mereka, yang sudah selama 3 tahun belajar di sekolah dan menimba ilmu dan akhirnya mereka bisa lulus dengan nilai yang baik!" ucap kak Yoga panjang lebar.
Tapi sepanjang dia mengatakan kalimat itu aku tidak menemukan inti dari masalah yang aku tanyakan, aku hanya menanyakan kenapa harus dia dan juga Bu Tari.
"Intinya kak, aku bertanya intinya tidak usah panjang lebar!" keluh ku.
Apa dia tidak bisa mengingat kalau otakku ini sangat mungil. Menerima informasi juga terbatas. Kalau dia bicara panjang lebar seperti itu bisa-bisa aku lupa yang apa yang tadi aku tanyakan.
"Oke oke, jadi intinya itu kami semua mengadakan voting siapa yang akan ikut pementasan. Dan ketua yayasan juga kepala sekolah memutuskan ada 4 orang guru pria dan 4 orang guru wanita yang akan menerima voting!" jelasnya lagi.
__ADS_1
Tapi lagi-lagi aku belum mendapat inti dari apa yang aku tanyakan.
"Terus?" tanyaku lagi supaya Kak Yoga mempercepat cerita yang panjang nya sudah seperti dongeng itu.
Aku sampai menguap karena penjelasan yang terlalu panjang dan lebar.
"Setelah voting dilaksanakan ternyata suara terbanyak untuk guru pria jatuh padaku, dan suara terbanyak untuk guru wanita jatuh kepada Bu Tari. Kami bahkan tidak bisa menentukan lagu yang akan kami nyanyikan. Itu adalah saran dari para pengurus OSIS dan disetujui oleh kepala sekolah dan ketua yayasan!" jelasnya lagi.
"Kak Yoga dan Bu Tari akan menyanyikan lagu apa nanti, jangan katakan kalian akan menyanyikan lagu romantis ya?" tanya ku dengan sedikit memicingkan mataku ke arah Kak Yoga.
"Ha ha ha, tidak sayang. Bukan lagu yang romantis. Lagu Kemesraan!" jawabnya.
Aku langsung mengerutkan keningku mendengar perkataan dari Kak Yoga.
"Kemesraan kok bukan lagu romantis sih!" keluh ku padanya.
"Iya judulnya kemesraan bukan romantis judulnya!" dia sepertinya sengaja berkelakar.
Tapi aku menjadi sangat kesal bahkan lebih besar dari sebelumnya. Aku langsung berdiri tapi kak Yoga juga ikut berdiri dan memelukku dari belakang.
"Tuh kan, ini pasti lagi belajar nih. Iya kan?" tanya ku kesal pada kak Yoga.
"Belajar apa?" tanya kak Yoga yang meletakkan dagunya di pundak kanan ku.
"Belajar buat pementasan, Kak Yoga lagi belajar kan gerakan apa atuh yang bisa bikin suasana romantis antara Kak Yoga dengan Bu Tari. Udah ah, mau pulang aja aku!" kesal ku dan berusaha menepis tangan Kak Yoga dari pinggangku.
"Sayang, jangan marah! benar-benar tidak akan ada adegan romantis!" jelas kak Yoga lagi.
"Masak iya?" tanda aku penuh selidik karena aku memang masih belum percaya kalau lagu itu tidak akan dibawakan dengan adegan romantis.
"Iya benar, kami akan menyanyi dengan konsep saling berjauhan aku di sebelah kanan panggung dan Utari di sebelah kiri panggung dengan standing mic yang berbeda!" jelasnya membuat ku menghela nafasku lega.
__ADS_1
***
Bersambung...