Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Yoga Sengaja Membuat Salah Paham


__ADS_3

Yoga Adrian POV


Setelah makan malam selesai, aku mengatakan kepada kakak ku jika aku besok harus berangkat sangat pagi untuk memeriksa hasil ujian anak murid ku di sekolah. Sebenarnya aku mengatakan hal itu karena sepertinya mereka tidak berniat untuk cepat pulang dan pergi dari sini.


Sementara jam di dinding sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Dan jujur saja aku malas melihat sikap calon istri kakak ku yang sedari tadi hanya sibuk mengomentari barang-barang yang ada di rumah ini. Dan kenapa malah memilih rumah kecil dan begitu sederhana seperti ini ketimbang kediaman Adrian.


"Kamu tidak mengatakan itu untuk mengusir kami kan?" tanya Kak Yoseph.


Sebenarnya apa yang dia katakan benar, tapi aku tidak ingin dia benar-benar merasa begitu. Aku mengibaskan tangan ku sekilas.


"Tidak lah, kenapa kakak berfikir begitu. Sungguh banyak sekali tugas yang harus aku periksa besok. Kurang dari seminggu lagi, adalah ujian kenaikan kelas. Jadi banyak sekali pekerjaan seorang guru di saat-saat seperti ini!" jelas ku panjang lebar dan hanya melihat ke arah kakak ku.


Kak Yoseph mengangguk paham, tapi kemudian aku mendengar suara yang sama sekali tidak ingin ku dengar.


"Lagipula kenapa malah memilih jadi guru sih, gajinya juga tidak seberapa. Belum lagi kalau di sekolah berhadapan dengan anak-anak nakal yang susah di atur, mencari sulit sendiri kan itu namanya!" ucap Sofie yang sejak dulu memang tidak suka dengan pekerjaan yang aku pilih dan aku tekuni.


Aku memilih untuk diam, aku sama sekali tidak berniat untuk melihat ke arahnya atau membalas apa yang dia katakan. Tapi aku melihat kak Yoseph menyenggol lengannya dengan lengan kak Yoseph.


"Semua pekerjaan itu baik, jika tidak ada yang menjadi guru? lalu siapa yang membuat generasi muda kita pintar, kami berdua, bahkan kamu juga pernah di ajar seorang guru kan. Itu yang membuat kita menjadi pintar!" seru kak Yoseph.


Aku tersenyum pada kak Yoseph saat dia melirik sekilas ke arah ku. Seperti itulah kakak ku, dia selalu mendukung apapun keputusan ku. Sejak aku kecil dia sangat menyayangi ku dan rela mengorbankan banyak hal untuk ku. Itulah kenapa aku diam dan tidak mengatakan kebusukan wanita yang ada di sampingnya itu kepadanya, karena kak Yoseph mengatakan dia lebih baik tiada jika Sofie sampai meninggalkan nya.


"Tapi dua hari lagi, kamu bisa kan datang ke butik yang kemarin. Ibu sudah memesankan pakaian pesta juga untuk kekasih kecil mu itu.."


Aku mengernyitkan dahi ku karena kak Yoseph mengatakan kekasih kecil.


"Kekasih kecil?" tanya ku tak mengerti.


Kak Yoseph malah terkekeh


"Oh, maafkan aku. Tapi aku melihatnya tenggelam saat memakai pakaian mu...!"

__ADS_1


"Apa? memakai pakaian Yoga??" pekik Sofie saat kak Yoseph mengatakan kalimat barusan.


'Apa dia tidak menceritakan semuanya? dan hanya mengatakan aku sudah punya kekasih?' tanya ku dalam hati melihat ekspresi wanita munafik di sebelah kak Yoseph.


Kak Yoseph malah kaget mendengar Sofie memekik, karena di berada di samping kak Yoseph. Tentu suara cempreng nya itu bisa jelas terdengar di telinga kakak ku itu. Kasihan sekali dia.


"Sayang, kenapa berteriak?" tanya kak Yoseph sambil memegang telinganya dan mengalihkan perhatian nya dariku pada Sofie.


Dengan cepat wanita itu malah merangkul kak Yoseph dan memeluknya, dia bersikap sok manja.


"Maaf, sayang. Apa aku menyakiti mu?" tanya Sofie pada kak Yoseph dengan nada manja.


Dan kakak ku langsung menggenggam erat tangan wanita itu.


"Tidak sayang, kamu tidak pernah menyakiti ku. Aku hanya terkejut, apa ada yang salah dengan perkataan ku?" tanya Kak Yoseph lagi.


Aku benar-benar seperti sedang menyaksikan sebuah drama kisah cinta black swan.


Sejak dulu memang begitu, wanita mampu mengendalikan ekspresi wajah nya dengan baik. Sampai aku tidak sadar, jika dia sudah mengkhianati aku, bahkan dengan kakak ku sendiri. Dia dan keluarganya itu sungguh para aktor yang luar biasa, ayah dan juga ibunya bahkan juga bisa berakting tidak mengenalku sama sekali. Padahal aku sudah tiga tahun sering ke rumah nya, tapi aku sudah tak ingin mengingat itu lagi. Benar-benar tidak ingin.


"Memangnya kenapa? mereka saling mencintai. Kita juga sama kan, emmpt!" ucapan kak Yoseph terhenti ketika tangan kanan Sofie membungkam mulutnya.


Dari ucapan kak Yoseph aku tahu kalau mereka sudah melakukan hal itu.


Kak Yoseph segera menyingkir kan tangan Sofie dan terkekeh.


"Tidak usah bersikap seperti itu sayang, Yoga ini pria dewasa dan dia harus belajar dari kita!" ucap kak Yoseph sambil terkekeh.


Sofie seperti nya sangat canggung, seperti nya dia tidak ingin aku mendengar lebih jauh.


"Jadi apa kalian sudah melakukannya?" tanya Kak Yoseph lagi.

__ADS_1


"Kamu tidak akan mengatakan nya pada ibu kan?" tanya ku pada kak Yoseph.


"Ha ha ha, tentu saja tidak. Jika aku mengatakan nya pada ibu. Dia pasti akan segera melamar gadis itu, dan aku tidak ingin berbagi pelaminan ku dengan mu ya!" kekeh kak Yoseph.


"Seperti apa sih gadis itu?" tanya Sofie membuat kak Yoseph mengalihkan perhatian nya padanya lagi.


"Gadis itu cantik, dan saat dia tertidur di kamar Yoga...!"


"Dia bahkan tidur di kamar Yoga, gadis macam apa itu?" protes Sofie lagi.


"Hei, kenapa bicara begitu. Kamu juga sering tidur di apartemen ku kan!" balas Kak Yoseph dan seperti nya perkataan kak Yoseph barusan itu membuat Sofie kehabisan kesabaran.


Dia segera beranjak dan meraih tasnya.


"Sudah malam, ayo kita pulang!" ajaknya sambil menarik tangan kak Yoseph hingga membuat kak Yoseph harus berdiri.


"Baik, baik! jangan tarik tangan ku begitu. Nanti jadi panjang kak repot!" kelakar kak Yoseph.


Aku hanya terkekeh mendengar apa yang di katakan kakak ku itu.


"Baiklah, Yoga! kami pamit pulang dulu. Ingat dua hari lagi bawa gadis mu itu ke butik. Ibu akan menunggu disana! ya!" seru kak Yoseph sebelum berlalu bersama wanita yang lebih dulu keluar dari rumah.


Aku tidak mengatakan iya, karena aku juga tidak bisa memastikan bisa mengajak Rasti ke sana atau tidak. Karena sepertinya Rasti memang sedang dalam mode menjauhi ku. Entah hanya karena kelakuan ku saat itu atau karena alasan lain.


Tapi aku sudah terlanjur mengakui dirinya adalah kekasih ku. Dan aku akan mencoba bicara padanya besok. Karena sungguh, dari dasar hatiku. Aku ingin kebohongan ku pada kak Yoseph itu menjadi kenyataan.


Yoga Adrian POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2