Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Ketahuan Yoga


__ADS_3

Author POV


Dan seperti dugaan Rasti, ternyata pilihan film yang di tonton oleh Andika memang film dewasa. Dan karena bahasa yang digunakan adalah bahasa asing, bukannya sibuk menonton film, Rasti justru sibuk membaca terjemahan dari dialog dalam film, di tambah dia terus nyemil popcorn.


Dan karena sibuk membaca, akhirnya dia mengantuk dan tertidur. Beberapa menit Andika masih memperhatikan film yang menurut nya sangat seru, karena selain ada adegan romantis. Juga ada adegan actionnya. Tapi dia malah terkejut ketika kepala Rasti menyandar di lengan kirinya.


Ketika dia menoleh ternyata gadis itu sudah tidur. Popcorn yang ada di pangkuan nya nyaris saja jatuh kalau tidak langsung di raih oleh dokter Andika dan di letakkan di tempat yang seharusnya.


Dokter Andika membelai lembut kepala Rasti, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa begitu menyukai gadis biasa di sampingnya itu. Tapi rasa sukanya berawal dari rasa kasihan dan simpati pada Rasti ketika mendengar cerita Tirta tentang apa yang sudah di alami oleh adik tirinya itu.


Sejak itu dia terus memikirkan Rasti, dia bahkan bertekad dalam hatinya untuk memberikan kebahagiaan yang telah terlewat oleh Rasti. Dia membangun Azzura dream land untuk Rasti karena dia ingin memberikan sesuatu yang akan membuat Rasti tidak pernah menyesali kehidupan nya sampai sekarang.


Andika terus mengelus kepala Rasti membuat gadis itu makin nyenyak tidur. Bahkan sampai selesai film di putar. Rasti belum bangun. Ketika petugas menghampiri mereka, Andika hanya meraih sebuah kartu berwarna hitam keemasan dari dalam saku jaketnya dan memberikan nya pada petugas.


"Anggap saja aku beli semua tiket untuk dua kali pemutaran di studio ini!" ucap Andika dengan nada suara yang lumayan rendah.


Karena dia tidak ingin membangunkan Rasti yang tertidur sangat pulas meskipun dalam posisi duduk. Tapi karena kursi nya juga nyaman untuk tidur maka Rasti seperti nya juga lumayan nyaman tidur dengan posisi seperti itu.


Satu jam hampir berlalu sejak petugas meninggalkan mereka berdua, dan memutar film selanjutnya. Tapi di studio itu hanya ada Rasti dan dokter Andika.


Beberapa menit sebelum film kedua berakhir Rasti membuka matanya, dan menyadari kalau dia telah menyandar di lengan Andika.


Dengan cepat dia mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah depan.


'Loh, tadi yang main kayaknya Vin diesel, ini kenapa genti jadi Dwyne Johnson ya?' tanya Rasti dalam hati.


Rasti kemudian menoleh ke arah belakang dan samping kiri dan kanan.


"Loh kok sepi dokter, yang lain pada kemana?" tanya Rasti kebingungan masih sambil celingak-celinguk bahkan berdiri dari kursinya.


"Mereka baru saja pergi. Kamu masih mau nonton atau mau keluar saja dari sini?" tanya dokter Andika pada Rasti.

__ADS_1


"Pulang aja yuk dok, udah jam berapa ini?" tanya Rasti.


Dokter Andika lalu melihat arlogi yang ada di pergelangan tangan kirinya.


"Jam 5 sore, baiklah. Ayo aku antar kamu pulang!" seru dokter Andika lalu menggandeng tangan Rasti.


Rasti refleks menarik tangannya, membuat dokter Andika hanya menggenggam udara. Karena itu dokter Andika langsung melihat ke arah Rasti.


"Maaf dok, tapi aku rasa kita... itu!" Rasti bingung bagaimana mengatakan penolakan nya tapi tidak menyinggung perasaan dokter Andika.


"Aku mengerti, ayo!" ajak dokter Andika lalu berjalan di depan Rasti.


Rasti mengikuti langkah dokter Andika dan keluar dari dalam studio. Mereka lalu keluar dari mall dan pergi ke area parkir. Dokter Andika membukakan pintu mobil untuk Rasti.


"Makasih dokter!" ucap Rasti.


Lalu dokter Andika berjalan memutari mobil dari arah depan dan membuka pintu mobil bagian pengemudi, setelah duduk dan memasang sabuk pengaman dokter Andika lalu menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya meninggalkan mall itu.


'Bagaimana ini, ponsel tertinggal. Kalau kak Yoga marah gimana ini?' tanya Rasti dalam hati.


Rasti benar-benar cemas. Mereka terakhir kali bicara kemarin sore. Dan setelah itu karena Rasti harus makan malam dengan keluarganya. Lalu hari ini dia harus pergi dengan dokter Andika.


"Sedang memikirkan apa Rasti?" tanya dokter Andika membuat Rasti langsung menoleh ke arah dokter Andika.


Rasti langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak ada dokter, ini masih lama yan dokter?" tanya Rasti yang merasa kalau perjalanan ini terlalu lama.


Rasti sudah tidak sabar untuk pulang lalu meraih ponsel nya dan segera menghubungi Yoga.


"Lumayan Rasti, masih sekitar 30 menit lebih. Kalau kamu mau tidur, tidur saja. Nanti kalau sudah sampai aku akan membangunkan mu!" kata Dokter Andika.

__ADS_1


"Oh, bukan begitu dokter. Hanya saja aku merasa lama sekali ya perjalanan nya. Lalu bagaimana dengan dokter sendiri, kalau dari rumah ku saja selama ini, lalu bagaimana dari rumah dokter?" tanya Rasti mencoba mengalihkan perhatian karena dokter Andika sudah terlihat menatapnya curiga.


"Tidak jauh malah, rumah ku tinggal lima menit lagi ke arah jalan Merdeka!" jawab dokter Andika.


"Hah, itu artinya rumah ku malah lebih jauh dari rumah dokter dong. Jadi dokter setelah mengantarkan aku malah akan balik lagi dong?" tanya Rasti yang merasa tidak enak hati.


Dokter Andika terkekeh pelan.


"Tidak apa-apa Rasti, bahkan aku berfikir juga akan mengantar dan menjemput mu ke sekolah!" kata dokter Andika sambil sesekali menoleh ke arah Rasti sambil fokus juga mengemudi.


"Apa?" pekik Rasti terkejut.


"Tidak usah dokter, tidak usah. Ada kak Tirta kok, sekolah kami satu arah. Lagipula dokter pasti kan banyak sekali pekerjaan nya. Jadi tidak perlu dokter. Tidak usah!" ucap Rasti.


"Kamu takut ayahmu tidak mengijinkan, aku akan meminta ijin pada ayah mu!" sahut dokter Andika.


'Aduh, bagaimana ini. Kalau dokter Andika meminta ijin pada ayah, tidak mungkin ayah tidak mengijinkan nya! lalu bagaimana dengan kak Yoga?' tanya Rasti dalam hati.


Keadaan mulai hening, Rasti tidak bisa lagi menjawab dokter Andika. Karena ayahnya pasti mengijinkan. Rasti ingin sekali bicara terus terang pada dokter Andika, tentang dirinya dan Yoga. Tapi Rasti takut dokter Andika tersinggung, lalu memutuskan kerjasama dengan ayahnya. Rasti sungguh dalam dilema.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan gang rumah Rasti. Dan tidak jauh dari rumah Rasti, dia melihat mobil yang dia kenali sedang terparkir di dekat rumah.


Saat mobil dokter Andika berhenti di depan rumah Rasti, dan dokter Andika membukakan pintu mobil untuk Rasti. Rasti pun keluar.


"Rasti!" panggil sebuah suara yang sangat Rasti kenali.


Rasti dan dokter Andika lalu melihat ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya Rasti ketika melihat Yoga berjalan menghampiri nya.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2