Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Membawa Panji ke Rumah Sakit


__ADS_3

Yoga Adrian POV


Sebenarnya penasaran juga apa yang terjadi pada Panji, sampai Rasti tampak begitu khawatir dalam pesan yang dia kirimkan padaku. Aku juga mencemaskan Panji itu, karena dia juga adalah siswa didik ku.


Setelah merapikan meja ku dan memastikan tidak ada benda penting yang tertinggal, aku berdiri dan menenteng tas kerja ku. Kebetulan hari ini memang aku hanya ada dua jadwal mengajar. Pelajaran pertama di kelas Rasti, dan pelajaran terakhir di kelas dua belas. Tapi kelas dua belas sedang libur jadi aku memutuskan untuk membantu Panji saja.


Saat keluar dari ruang guru Bu Tari menegur ku.


"Selamat siang pak Yoga, mau kemana?" tanya nya penasaran.


"Mau ke UKS, ada siswa yang sepertinya cidera serius saat olahraga tadi pagi!" jawab ku mengatakan yang sebenarnya.


Bu Tari mengangguk paham.


"Pak Yoga ini baik sekali sih! mau di bawa ke klinik, siapa pak kalau boleh tahu?" tanya nya lagi.


"Panji, anak IPA itu! saya duluan! selamat siang Bu Tari!" sapa ku dan tak ingin menunda waktu lagi.


Setelah Bu Tari menganggukkan kepalanya lagi, aku mulai berjalan menjauh darinya dan juga dari ruang guru. Aku berjalan sedikit cepat karena ingin segera mengetahui keadaan Panji.


Selang beberapa saat kemudian, aku tiba di sebuah ruangan yang letaknya memang sedikit jauh dari ruang kelas lain. Tujuannya adalah agar tidak saling mengganggu aktivitas di ruangan masing-masing.


Yang berada di UKS bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan dari keributan di kelas atau di lapangan. Dan sebaliknya, jika ada sesuatu yang terjadi dan tidak di harapkan, siswa-siswi yang belajar di dalam kelas juga tidak akan terganggu dengan suara yang di timbulkan dari dalam ruang UKS.


Aku mengetuk pintu ruang UKS.


Tok tok tok


Dan nampak lah seorang perawat yang memang biasa berjaga di ruangan.


"Iya pak Yoga, ada yang bisa saya bantu?" tanya nya ramah sambil tersenyum.


Perawat yang kira-kira usianya masih jauh di bawah ku itu terlihat salah tingkah, dan wajahnya terutama bagian pipi terlihat memerah.


"Apa ada Panji di dalam, maksud ku seorang siswa yang cidera saat olahraga tadi pagi?" tanya ku langsung pada intinya.


Dan perawat yang kurasa sedang tersipu itu kembali tersenyum aneh dan bicara sambil menundukkan wajahnya.


"Iya pak, sedang di periksa oleh dokter Ika!" jelasnya lagi masih dengan wajah yang tertunduk.

__ADS_1


Aku lalu masuk ke dalam ruangan dan melihat wajah Panji yang sepertinya memang sangatlah pucat.


"Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya ku pada dokter Ika. Dokter yang bertugas di UKS ini pada jam-jam tertentu saja.


"Benturannya sangat keras, meskipun hanya bola basket tapi sepertinya berefek tidak baik. Sejak tadi dia mengeluh pusing, mungkin harus di periksa lebih rinci. Kurasa di harus di bawa ke rumah sakit!" jelas dokter Ika.


Aku memperhatikan Panji yang memang terlihat sangat kesakitan.


'Pantas saja, Rasti begitu cemas. Ternyata kondisi nya memang parah!' batin ku.


Aku mendekati Panji dan mencoba bicara padanya.


"Panji, ini pak Yoga. Jam pelajaran bapak sudah selesai, bapak antar ke rumah sakit ya?" tanya ku menawarkan bantuan pada Panji.


Meski sebenarnya aku membantunya atas permintaan Rasti, kalau Rasti tidak memberitahu ku. Aku juga tak akan tahu kalau Panji terluka dan berada di UKS.


Panji berusaha untuk bangun dari posisi nya semula yang tengah berbaring. Aku membantunya.


"Boleh banget pak, puyeng banget ini!" ucapnya sambil sesekali memejamkan matanya sepertinya menahan sakit yang lumayan.


Aku langsung membantunya turun dari ranjang, tapi kulihat ada kursi roda di pojok ruangan.


"Bagaimana kalau kamu naik kursi roda saja?" tanya ku pada Panji.


"Jangan dong pak, bisa illfeel ntar cewek-cewek di sekolah ini lihat saya naik kursi roda!" ucapnya berkelakar.


Dokter Ika sampai harus menggelengkan kepalanya berkali-kali tak percaya dengan apa yang di katakan Panji.


"Repotnya playboy kabel nih gini nih pak!" keluhnya.


Aku tidak tahu kenapa dokter Ika terlihat tidak suka pada apa yang dikatakan Panji. Tapi hal itu juga bukan hal yang terpenting saat ini.


Karena hal yang lebih penting adalah, segera membawa Panji ke rumah sakit.


"Baiklah, saya bantu papah kamu!" ucap ku dan aku segera memapahnya keluar dari ruangan UKS.


"Hati-hati pak Yoga!" ucap perawat yang ada di depan pintu menunjukkan perhatian nya padaku.


Aku hanya mengangguk, karena Panji ini ternyata memang terlihat dalam keadaan yang tidak baik. Jalannya sampai sempoyongan meski telah aku bantu untuk memapahnya.

__ADS_1


"Kayaknya perawat di ruang UKS itu naksir deh sama bapak!" celetuknya dengan kondisinya yang tidak stabil.


Aku sampai harus mengernyitkan dahi ku karena tak percaya dengan apa yang dilakukan Panji. Bisa-bisa nya dia masih bercanda seperti itu di kondisi nya yang seperti ini.


"Kenapa masih memperhatikan hal yang seperti itu, kamu diam dan simpan tenaga mu untuk berjalan sampai ke mobil ku!" ucap ku mencoba untuk menasehati nya.


"Ha ha ha, iya pak! Maaf, habisnya kelihatan banget dari sebelum bapak dateng tuh perawat udah ada di depan pintu, ngakak saya!" ucap nya lagi.


Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku perlahan.


"Lalu kenapa dokter Ika bicara seperti tadi pada kamu?" tanya ku mencoba mengalihkan topik pembicaraan kami.


"Oh, itu karena adiknya. Si Aulia, kelas sepuluh anak baru itu tuh... nembak saya tapi saya tolak!" jelasnya.


Aku malah jadi penasaran pada apa yang dia bicarakan.


"Kenapa kamu menolak nya?" tanya ku lagi.


Panji tidak langsung menjawab, dia malah terkekeh lagi. Tapi saat dia melakukan itu, dia memegang kepalanya lagi.


"Aduh puyeng amat sih, padahal udah sering juga kena bola!" keluhnya.


"Kamu sudah sering kena bola?" tanya ku mengulang apa yang dia ucapkan barusan.


"Iya pak, namanya juga main bola, ya wajar lah kalau kena bola. Kalau main bola kenanya pilek baru gak wajar!" ucapnya yang sepertinya sedang mengeluarkan joke.


Tapi karena aku tidak tertawa, kemudian dia bicara lagi.


"Garing ya pak?" tanya nya.


"Simpan tenaga mu Panji, kamu terlihat sangat pucat!" jelas ku.


"Oh, mungkin karena saya belum sarapan pak. Ibu saya sibuk banget dua hari ini rapat RW. Makan nasi serbu terus bosen, nanti kalau di rumah sakit, tolong beliin saya burger ya pak?" tanya nya meminta padaku.


Mendengar kata burger aku jadi teringat pada Rasti. Aku akan belikan untuknya sekalian.


"Baiklah, tapi jangan banyak bicara lagi!" seru ku pada Panji.


Yoga Adrian POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2