
Aku buru-buru mencabut ponsel ku dari kabel charger nya. Aku duduk di tepi tempat tidur lalu menghubungi pak Yoga.
"Wah sebanyak itu dia memanggil, ada apa ya?" tanya ku pada diriku sendiri setelah meletakkan ponsel ku di depan telinga ku.
Tut Tut
Tersambung, tapi cukup lama tidak di angkat.
"Apa dia marah ya, dan gantian tidak mau mengangkat telepon dariku!" gumam ku lagi bertanya-tanya.
"Halo!" suara di ujung sana yang tampaknya sedang BeTe.
"Em, halo kak. Maaf ya! tadi saat kamu menelpon aku sedang di bawah mengerjakan tugas proposal ku, kamu marah ya?" tanya ku berhati-hati dan menjelaskan alasan kenapa aku tadi tidak menjawab telepon darinya.
"Benarkah? selama itu?" tanya nya lagi.
"Iya, dari jam delapan tadi sampai sekarang ini, aku beru selesai dan aku baru masuk ke kamar, em... kamu tidak marah kan?" tanya ku lagi memastikan kalau pak Yoga tidak marah padaku.
"Aku tidak marah, aku hanya mencemaskan mu. Apa yang terjadi sampai kamu tidak menjawab telepon ku!" jelasnya.
"Oh ya ada apa? kenapa kamu menelpon?" tanya ku kemudian.
"Apa aku harus punya alasan untuk menelpon kekasih ku?" tanya nya.
Dan jujur saja pertanyaan nya itu membuat ku merasa sangat malu. Disebut kekasih oleh pak Yoga itu terasa bagaimana, ya... seperti melihat acara televisi ketika seseorang sedang berjalan di jembatan kaca dan dia melihat ke bagian bawah. Melihat ke arah bawah dari ketinggian beribu ribu kaki. Rasanya seperti itu, dan aku jadi merinding di buatnya.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja misscall darimu itu puluhan, aku pikir pasti ada sesuatu yang penting. Kalau tidak...!"
"Apa kalau aku bilang aku kangen sama kamu itu termasuk sesuatu yang penting?" tanya nya lagi dengan suara sedikit lebih serak dari yang tadi.
Dan kali ini rasanya bukan hanya seperti melihat orang yang melihat ketinggian, tapi jadi seperti aku yang merasakan kalau aku berada di ketinggian itu.
"Kamu...!"
"Aku merindukan mu Rasti, katakan kamu juga merindukan aku?" ucapnya lagi. Ini disebut pernyataan atau pertanyaan ya?
__ADS_1
Aku sebenarnya juga ingin mengatakan kalimat seperti itu padanya, tapi rasanya susah sekali terucap. Apa karena aku baru pertama kali ini pacaran ya, kalau di film-film yang aku tonton itu mengatakan cinta dan rindu itu memang hal yang wajar di lakukan. Tapi mulut ku susah sekali untuk mengatakan nya.
"Rasti, apa kamu mendengar ku?" tanya nya karena cukup lama aku diam.
Aku diam karena aku sedang berusaha mengatakan kalimat yang dia ingin dengar.
"Jadi kamu tidak merindukan aku ya?" tanya nya lagi.
Aku langsung terkesiap.
"Bu..bukan begitu, kenapa kamu berfikir begitu?" tanya ku.
"Lalu?" tanya nya singkat.
"Em... aku hanya hanya... bagaimana kalau aku katakan saat kita bertemu besok?" tanya ku padanya karena memang suaraku tidak bisa keluar ketika akan mengucapkan kalimat itu padanya.
"Baiklah Rasti, selamat istirahat. Tidur yang nyenyak ya, dan jangan mimpikan pria lain!" seru nya.
Jangan mimpikan pria lain? maksudnya aku hanya boleh memimpikan dia. Astaga, pagi melihat dia, siang lihat dia, dan malam juga harus melihat nya. Ayolah aku masih tujuh belas tahun, masih butuh banyak referensi wajah tampan.
"Iya, selamat malam kak Yoga!" ucapku mengakhiri panggilan telepon ku.
"Hah, apa sih yang ada di pikiran gue? tentu saja ayah akan marah kalau ibu di antarkan oleh pria lain! mana ada lelaki yang terima istrinya dekat dengan pria lain" gumam ku.
Aku jadi memikirkan semua yang telah terjadi, dan semua ingatan yang aku ingat saat aku kecil.
"Kenapa dari dulu gue gak pernah mencoba untuk memikirkan semua itu!" gumam ku lagi.
Aku berusaha untuk memperjelas ingatan-ingatan yang melintas itu, aku ingat saat itu aku baru pulang dari rumah nenek Irma, dan di depan mobil nenek Irma aku melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah, aku melihat seorang pria membukakan pintu, dan yang keluar dari pintu yang dibuka oleh pria itu adalah ibu ku.
"Apakah saat itu sebenarnya ibu yang membuat ayah marah?" tanya ku kemudian setelah mengingat semua ingatan di masa kecilku bahkan ketika aku belum masuk SD kala itu.
Nenek Irma menahan ku untuk tidak masuk dulu, aku tidak tahu kenapa nenek melakukan itu, tapi setelah ada suara gaduh dan barang-barang yang di banting. Nenek Irma ikut turun dari mobil bersama ku dan masuk ke dalam rumah.
"Agkhh!" pekik ku dan aku langsung terjatuh dari ranjang ku.
__ADS_1
Aku terduduk lemas di lantai sambil menutupi kedua telinga ku dengan kedua tangan ku.
"Hiks... hiks... gue gak mau mengingat itu, tidak mau! gue gak mau!" lirih ku sambil terisak.
Mengingat pertengkaran antara ayah dan ibu membuat hati dan kepala ku terasa sangat sakit. Seluruh tubuh ku ikut sakit. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini, tapi rasanya nafas ku sesak saat mengingat semua itu.
Tok tok tok
"Rasti! Rasti lu kenapa?" aku mendengar suara Tirta dari arah luar pintu.
Aku makin menutup erat telinga ku. Aku tidak mau mendengarkan suara apapun. Aku tidak mau mendengar siapa pun. Karena mendengar suara orang berteriak selalu membuat seluruh tubuh ku sakit, sangat sakit. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak mau mendengarnya.
"Rasti, buka pintunya... Rasti!" Tirta terus berteriak.
Dan teriakannya membuat ku merasa ketakutan dan sedih dalam waktu yang bersamaan.
"Diam, jangan berteriak... diam hiks... hiks...!" aku terus menutupi telinga ku dengan tangan dan menggeleng kan kepala.
Brakk
Tiba-tiba saja pintu kamar ku di dobrak, aku melihat Tirta masuk dan berlari menghampiri ku. Dia memelukku, Tirta memelukku.
"Rasti tenang, ya... tenang... Bibi!" teriak nya memanggil bibi.
Bibi juga ikut masuk ke dalam dan memberikan aku segelas air dan beberapa butir obat pada Tirta.
"Rasti minum ini ya! ayo minum!" ucap Tirta lalu memasukkan obat itu langsung ke dalam mulut ku. Sedikit memaksakan agar obat itu bisa ku telan, dan dia memberikan aku air agar obatnya lebih mudah tertelan." Aku menelannya. Aku merasa sedikit tenang.
Setelah itu aku merasa pandangan ku kabur, dan aku mendengar Tirta bicara pada bibi tapi aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena mendadak semua jadi gelap.
Keesokan harinya, aku terbangun perlahan, aku membuka mataku perlahan. Dan aku sudah berada di atas tempat tidur ku, seingat ku semalam aku merasa sakit tapi aku tidak mengerti kenapa aku merasakan semua itu.
Aku bangkit perlahan, aku duduk menyandarkan punggung ku di sandaran tempat tidur.
"Sebenarnya gue kenapa sih?" tanya ku sendiri.
__ADS_1
***
Bersambung...