Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kebersamaan Rasti dan Yoga


__ADS_3

Author POV


Seperti nya suasana hati kedua orang yang sedang berada di dalam sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang ke arah sebuah perumahan sangat lah cerah secerah hari ini. Langit juga nampak bersahabat, cuacanya tidak terlalu panas dan juga tidak mendung.


Kalau kata umi Elvie Sukaesih sih, suasana semacam ini disebut nya syahdu. Dan dalam kesyahduan itu seorang pria bernama Yoga Adrian terlihat tak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.


Sedari tadi senyuman tak berganti di wajah nya membuatnya yang sudah tampan dari lahir bertahan tampan saja.


Sementara di sebelahnya terlihat seorang gadis berseragam SMA yang sedari tadi juga terlihat tersipu malu ketika Yoga memandangnya secara langsung atau mencuri-curi pandang dari kaca spion depan mobilnya.


Tak lama kemudian mereka sampai di depan rumah Yoga. Pria berusia 30 tahun itu keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu mobil untuk Rasti. Setelah itu dia mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah. Seperti biasanya juga, Yoga membuka lebar pintu rumahnya saat Rasti berada di dalam rumahnya hanya berdua dengannya.


"Silahkan masuk!" ucap Yoga ketika melihat Rasti seperti nya ragu untuk masuk lebih dalam dan hanya berdiri di ambang pintu.


Rasti terlihat berfikir sejenak dan memilih langsung duduk di sofa yang ada di belakangnya. Yoga meletakkan makanan yang tadi sudah dia beli di atas meja.


"Mau makan disini atau di meja makan?" tanya Yoga lagi pada Rasti yang masih terlihat gelisah.


Rasti tidak menjawab, dia bahkan tidak menatap Yoga saat pria itu sedang bicara padanya.


"Rasti, ada apa?" tanya Yoga yang lalu duduk di sofa yang letaknya tak jauh dari Rasti.


'Aduh, gimana caranya gue minta maaf sama pak Yoga ya? apa gak usah aja! kelihatan nya dia juga gak marah dan sudah melupakan semua masalah kami!' batin Rasti.


Ternyata Rasti memang tidak menyimak apa yang di sampaikan oleh Yoga, karena dia masih sibuk dengan pemikiran nya sendiri, dia masih bingung bagaimana mengawali kalimat yang tepat untuk minta maaf atas kesalahpahaman nya selama ini pada Yoga.


Rasti merasa kalau kata-kata dia kemarin-kemarin itu sangat kasar. Dan untuk alasan yang sebenarnya tidak benar, itu sangat keterlaluan. Rasti masih berfikir, ketika Yoga makin menggeser duduknya makin dekat dengan Rasti, dan ketika Yoga menggenggam tangan Rasti yang sedang dia pandangi sambil berfikir, Rasti terkesiap.


"Pak Yoga!" pekik nya dan langsung menepis tangan Yoga.


Rasti menggeser duduk nya sedikit menjauh, dan memegangi dadanya karena jantungnya yang berdegup kencang karena kaget.


"Bapak tuh ngagetin saya tahu gak? tahu-tahu ada di depan mata aja!" protes Rasti sambil menetralkan perasaan nya yang tidak karuan.


Yoga malah terkekeh melihat reaksi Rasti seperti itu.


"Kamu tuh kenapa sih? dari tadi saya bicara kamu tidak merespon, kamu lagi mikirin apa sebenarnya?" tanya Yoga penasaran juga.


Rasti terdiam dan menghirup udara dalam-dalam setelah itu dia menghembuskannya perlahan.


"Saya minta maaf ya pak!" ucap Rasti dengan cepat.


Dan mendengar apa yang dikatakan Rasti, yoga terdiam cukup lama. Nada bicara Rasti bukan seperti orang yang sedang minta maaf, tapi seperti orang yang kesal atau protes.


Dan karena reaksi Yoga tak seperti yang diharapkan oleh Rasti, gadis itu malah terlihat makin gelisah.


"Ih bapak denger gak sih, saya tuh minta maaf sama bapak!" seru Rasti lagi.


Yoga menghela nafas nya panjang.

__ADS_1


"Rasti, bukan seperti itu cara bicara kalau kamu mau minta maaf pada seseorang!" jelas Yoga membuat Rasti merasa bersalah.


Rasti kembali menundukkan wajahnya, dan lagi-lagi melihat kedua tangannya yang saling terpaut di pangkuannya. Rasa gugup membuat Rasti jadi salah tingkah, dia sebenarnya juga tidak ingin bicara dengan nada cuek semacam itu, dia tadinya juga ingin bicara dengan lembut tapi tidak tahu kenapa malah nada seperti itu yang keluar dari mulutnya.


Yoga kembali bergeser dan mendekati Rasti, dia kembali memegang tangan Rasti dan perlahan membawa tangan kanan Rasti ke arahnya. Rasti juga mengikuti arah tangannya.


Cup


Rasti menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangan kirinya, karena Yoga mengecup punggung Rasti dengan sangat lembut.


"Seperti ini!" ucap Yoga dengan suara sangat lembut.


Pandangan Rasti langsung tertuju pada mata Yoga yang juga sedang menatap nya dengan dalam.


"Lalu katakan, maafkan aku sayang!" lanjut Yoga.


Deg deg deg


Rasti benar-benar di buat tak bisa berkata-kata lagi, jantungnya yang baru saja netral kini berdegup kencang lagi.


'Aduh, jantung gue, gak bener nih. Tuh kan, adegan 17 tahun ke atas terus ini mah!' batin Rasti yang gelisah dan juga gugup di saat yang bersamaan.


Namun tiba-tiba Yoga, melepaskan tangan Rasti dan mengganti ekspresi wajah nya dengan ekspresi serius.


"Sekarang giliran mu! coba katakan dan lakukan seperti yang tadi saya contohkan!" seru pak Yoga.


Dan Rasti langsung membelalakkan matanya tak percaya.


'Ih, apaan sih. Mana bisa gue sok romantis kayak gitu!' keluh Rasti dalam hati.


***


Sementara itu di dalam kelas 11 IPS II, teman-teman Rasti yang tak lain adalah Dewi, Yusita dan juga Nina sedang mencemaskan keberadaan Rasti yang tak kunjung kembali ke dalam kelas.


Saat mereka kembali dari kantin tadi, mereka tidak melihat keberadaan Rasti di kelas. Saat jam masuk istirahat pertama sudah tinggal lima menit, Dewi sempat menyusul Rasti ke taman belakang sekolah, tempat dimana Rasti bilang akan kesana.


Tapi saat tiba di tempat itu, Dewi hanya menemukan kotak bekal makanan Rasti yang sudah kosong. Ketiganya jadi cemas, apalagi ponsel Rasti ada di dalam tas nya dan tidak dia bawa.


"Hampir istirahat kedua ini, si Rasti kira-kira kemana ya?" tanya Yusita cemas.


Nina yang pindah duduk di bangku Rasti ikut cemas juga.


"Mungkin gak sih dia kecebur di kolam ikannya pak Anteng terus kelelep, lu udah coba cek ke kolam ikannya pak Anteng belom Wi?" tanya Nina.


Dewi malah menepuk jidatnya sendiri dan reaksi Dewi itu makin membuat Nina bingung.


"Kenapa Wi?" tanya Nina lagi.


"Perasaan ya, rekor peringkat paling akhir di kelas ini tuh gue, tapi kayaknya gak deh!" ucap Dewi sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Lagian lu kalau ngomong yang bener dong Nina, perkataan itu adalah doa, gak boleh ngomong yang gak baik katak gitu, kalau kejadian beneran gimana?" tanya Yusita dengan raut wajah serius.


"Eh Yusita, gue kira lu ngerti maksud gue! ternyata gak juga!" kesal Dewi.


Kali ini Yusita ikut menampakkan ekspresi wajah bingung juga seperti Nina.


"Maksudnya gimana?" tanya Yusita penasaran.


"Kalian berdua itu pernah mikir gak sih, Segede apa kolam ikannya pak Anteng. Si belang tuh, kucing yang sering nongkrong di kantin kalo kecebur situ juga gak bakalan kelelep. Ini Rasti, si tiang bendera itu, ya mana mungkin dia bakalan kelelep!" jelas Dewi panjang lebar dan membuat Yusita terkekeh pelan dan Nina memanyunkan bibirnya.


Bel istirahat kedua telah berbunyi. Ketiga teman Rasti itu memutuskan untuk mencari Rasti di halaman belakang sekolah lagi.


Mereka menyusuri taman, bahkan Dewi sempat memanjat pagar untuk memastikan apakah mungkin Rasti kabur dan memanjat pagar.


"Eh lu ngapain Wi? lagi cari jalan tikus buat bolos?" tanya Nina yang merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Dewi.


"Bukan Roti bantal, gue lagi mastiin mungkin gak Rasti kabur terus bolos lewat sini!" jawab Dewi dengan wajah serius sambil mengamati sekitar luar tembok saat dia sudah berada di atas tembok pembatas itu.


Yusita yang terkejut melihat Dewi sudah berada di atas tembok berteriak agar Dewi cepat turun dari sana.


"Dewi, turun! ih lu ntar jatoh gimana? ayo buruan turun!" teriak Yusita panik sambil terus melambaikan tangannya menyuruh Dewi turun.


"Sssttt!" desis Dewi sambil sambil meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir nya sendiri.


"Yusita jangan teriak-teriak! ntar anak lain pada kesini. Jangan sampai mereka tahu kalau jalan ini bisa kita pakai buat bolos dan gak ketahuan sama guru juga satpam. Ini kayaknya langsing ke gang depan tukang batagor itu deh!" jelas Dewi panjang lebar.


"Ih, Dewi. Buruan turun gak! kita tuh lagi nyari Rasti kan, bukan mau nyari jalan tikus buat bolos sekolah!" protes Nina dan mendapatkan anggukan kepala dari Yusita.


"Iya, bener kata Nina. Buruan turun! ngeri banget gue lihat lu duduk di tembok yang lebarnya cuma beberapa centimeter kayak gitu!" seru Yusita.


Dewi yang masih memperhatikan sekeliling, akhir nya turun karena kedua temannya sangat cerewet. Bukan hanya karena itu, dia juga tidak mau kedua teman nya itu menjadi cemas.


Mereka melanjutkan mencari Rasti, sampai di belakang laboratorium Biologi. Karena taman belakang tembus ke tempat itu. Suasana istirahat membuat laboratorium Biologi menjadi kosong, Nina yang memang paling penakut di antara yang berjalan sambil terus memeluk lengan Dewi.


"Lepasin napa? ntar ada yang lihat ngira gue yang aneh-aneh lagi, sorry ya gue gak suka tuh jeruk makan jeruk!" tegas Dewi sambil mencoba melepaskan tangan Nina dari lengannya.


Yusita sampai terkikik geli mendengar apa yang di katakan oleh Dewi.


"Ih, apaan sih. Gue takut, kenapa juga harus lewat sini?" tanya Nina yang wajahnya sudah mulai pucat. Sepertinya dia benar-benar ketakutan.


"Emang kenapa sih?" tanya Yusita.


"Emang pada gak pernah denger apa? kata Marco di sini tuh horor!" jawab Nina.


"Yuk, buruan kita pergi aja dari sini. Gue gak mau Yan sampai kencing di celana disini!" pinta Nina mendesak kedua temannya.


"Ih lu ada-ada aja, gak mungkin lah lu kencing di celana. Kan lu pake rok dudul!" seru Dewi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2