Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Guru Pengawas


__ADS_3

David dan aku sudah tiba di kantin, tapi kali ini kantin tidak seperti biasanya. Ini ramai sekali, mungkin karena hari ujian, jadi mereka semua sama seperti ku takut terlambat sampai belum sarapan di pagi hari, dan pada akhirnya memilih untuk makan di kantin di jam istirahat. Tapi ini ramai sekali, aku bahkan tidak bisa menemukan dimana Dewi dan yang lainnya.


"Buset, seumur-umur gue belum pernah lihat kantin seramai ini, ada bagi-bagi es Boba gratis apa gimana sih ini?" tanya David yang kelihatan sangat keheranan.


"Iya nih, rame banget. Mana si Dewi sama yang lain ya?" tanya ku gantian.


"Telpon aja Ras! gak bakalan nemu kalau kita cuma celingak-celinguk begini!" sahut David.


Aku kembali meraih ponsel dari dalam tas ku dan kemudian menghubungi Dewi. Tak berselang lama Dewi aku melihat Dewi yang berdiri sambil melambaikan tangan nya ke arah ku.


"Rasti!" teriak Dewi dari seberang sana.


Aku mematikan ponsel dan memasukkan nya kembali ke dalam tas.


"Tuh, mereka di sana!" ucap ku sambil mengajak David menghampiri Dewi dan yang lainnya.


Tapi saat aku sampai di meja Dewi, tempat kosong yang tersisa hanya muat untuk satu orang.


"Ck... gue gak di kasih duduk nih, astaga Nina kempesin dikit balon udara lu, biar gue bisa duduk!" keluh David.


Yusita lalu bangkit berdiri dan memberikan tempatnya pada David.


"Duduk sini vid, gue dah kelar makannya! gue mau ke perpustakaan!" serunya.


David terlihat begitu senang dan segera duduk di bangku yang tadinya di duduki oleh Yusita.


"Gue ke perpus dulu ya!" seru Yusita dan kaki semua mengangguk.


"Pesenin gue mie ayam dong vid!" pintaku pada David.


"Okelah, tapi jagain ni bangku gue ya. Jangan ada yang dudukin!" sahut David.


"Beres!" ujar ku cepat.


David pun pergi ke gerai ke gerai bagian mie ayam.


"Eh, lu sekelas sama David?" tanya Dewi padaku karena dia menghadap ke arah ku.


Aku mengangguk cepat.


"Iya, gue berdua doang sama David. Coba tuh parah gak? berasa terdampar tahu gak gue mana gue di kelasnya Friska lagi, lu berdua tahu gak si David noh tadi pagi udah hampir berantem aja sama Dino!" cerita ku pada Nina dan Dewi.

__ADS_1


"Bwahahahaha !" tawa Nina dan Dewi pecah.


"Ya ampun, rugi banget gue gak lihat kejadian itu, pasti seru banget tuh secara Dino kan kalau berantem tuh jambak-jambakan dah kayak emak-emak komplek!" sahut Dewi sambil masih terkekeh.


"Ajaib banget tahu tuh orang!" sambung ku lagi.


"Lu bertiga dimana?" tanya ku pada Dewi dan Nina.


"Gue bareng sama Yusita, si Nina tuh tetep di kelas kita, hoki banget dia!" jawab Dewi.


"Bukan hoki, tapi kalau dia di rolling ke kelas lain takutnya bangkunya gak kuat!" celetuk David yang baru datang dengan dua mangkuk mie ayam di tangan nya.


"Minumnya mana?" tanya ku pada David.


"Ntar di anterin, gue persen es kelapa muda soalnya, biar awet muda gue!" serunya lagi.


Kami pun menyantap makanan kami, rasanya sungguh bebas seperti bisa melepaskan semua beban yang ada di dalam hati dan pikiran setelah ujian yang begitu berat.


"Nanti pelajaran bahasa Inggris lagi, mana gue dongdong banget sama tuh pelajaran, kenapa sih gak pelajaran bahasa Padang aja?" omel Nina yang memang berasal dari daerah itu.


"Ye... kalau mau gue sih bahasa Sunda atuh!" sambung David.


Aku hanya terkekeh, aku tidak mengerti semua bahasa itu. Bahasa Indonesia saja nilai ku paling bagus 6. Lalu bagaimana aku bisa tahu semua bahasa itu.


"Ke kelas yuk!" ajak David.


Aku mengangguk setelah sebelumnya menyedot habis air es kelapa muda yang tersisa di gelas ku.


"Gaess gue duluan ya!" ucap ku lalu berlalu meninggalkan Dewi dan juga Nina dan masuk ke kelas ujian bersama David.


Baru saja kami berdua masuk, ke dalam jelas ketika bel masuk istirahat berbunyi.


"Nah bel nya udah bunyi. Gue kebelet pipis nih!" ujar David yang terlihat panik.


Aku mengernyitkan dahi ku.


"Emang bisa gitu?" tanya ku heran.


"Bisa gitu gimana?" tanya nya sambil melihat ke kanan dan ke kiri.


"Bisa tiba-tiba langsung sampai ujung gitu!" ucap ku yang saat mendengarkan nya sendiri pun aku ingin terkekeh.

__ADS_1


"Lu ngomong apaan sih Ras? gue ke toilet dulu, bilang ma guru pengawas ya!" ujarnya langsung berlari menuju ke arah toilet.


Kalau dari kelas kami dulu, toilet hanya berjarak dua ruang kelas. Tapi kalau dari kelas ini, toiletnya cukup jauh berjarak sekitar lima kelas atau kalau mau memutar malah harus naik turun tangga taman.


Aku segera masuk ke dalam kelas. Materi pelajaran untuk ujian selanjutnya adalah bahasa Inggris. Kalau tadi materinya matematika dan guru uang mengawas adalah fisika, maka saat materi pelajaran nya bahasa Inggris aku mengira kalau gurunya adalah guru seni tari, mungkin Bu Magdalena.


Aku meletakkan tas ku di depan kelas setelah mengambil kotak pensil yang berisi dua buah pensil 2B, satu penggaris, satu penghapus, dan juga satu peruncing.


Aku kembali duduk di bangku ku.


"Ekhem!" aku membelalakkan mataku ketika mendengar seseorang berdehem di sebelah ku.


Aku tak percaya saja kalau Lutfi bisa bersuara.


"Lu barusan ngomong?" tanya ku takjub


"Gue cuma berdehem kali, bentar lagi lu juga tahu kenapa!" ujarnya dingin bahkan tanpa melihat ke arah ku.


Aku mendecakkan lidah ku karena kesal. Lutfi ini hobinya memang membuat orang penasaran saja.


"Ck... elah ntar kalau nilai gue jelek gara-gara gak konsen karena penasaran, pokoknya lu harus tanggung jawab ya!" gertak ku pada Lutfi.


Tapi saat aku menoleh ke arah Lutfi dia malah terlihat tersenyum aneh saat aku selesai bicara padanya. Aku sampai merinding di buatnya.


"Selamat siang anak-anak!" ujar sebuah suara yang sangat familiar bagiku.


Aku langsung menoleh ke arah depan kelas.


"Pak Yoga!" gumam ku tak percaya.


Aku langsung menoleh ke arah Lutfi dan dia kembali dengan senyuman anehnya yang membuat ku merinding lagi.


Aku tidak menyangka kalau ternyata keistimewaan pada diri Lutfi juga membuatnya mengetahui hal semacam ini.


"Lu hebat banget Lutfi, darimana lu tahu kalau guru pengawas nya pak Yoga?" tanya ku takjub.


"Rahasia!" jawab nya singkat dan langsung mengalihkan pandangannya dariku.


Aku mengernyitkan dahi ku lagi, dan tiba-tiba saja bulu kuduk ku rasanya berdiri semua dan aku mencium aroma bunga melati yang sangat menusuk hidung. Aku memutuskan untuk tidak bertanya lagi, dan mengalihkan pandangan mataku ke depan saja.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2