Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Di Jemput Tirta.


__ADS_3

Bel pulang sekolah sudah berbunyi, pelajaran terakhir hari ini adalah Ekonomi. Jangan di tanya, itu di luar jangkauan ku. Aku benar-benar tidak pandai masalah hitung-hitungan, karena aku ini orang nya memang tidak perhitungan.


Bu Mulyani, sudah keluar dari dalam kelas setelah memberikan begitu banyak tugas pada kami siswa 11 IPS II. Aku menghela nafas berat sambil memasukkan buku paket yang sudah ku tandai dengan cara melipat halaman itu, dan karena tugasnya ada tiga halaman, jadi aku melipat semuanya.


"Emang gak bisa gitu ya Ras, lu tulis aja di buku PR ekonomi lu, tugas halaman berapa tanggal berapa gitu?" tanya Nina yang memperhatikan aku melipat halaman buku paket tadi.


Aku hanya tersenyum kikuk.


"Eh iya juga ya, lupa gue!" sahut ku sambil menggaruk kepala ku yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.


Tapi aku sudah terlanjur melipatnya, dan memasukkan semua buku ku ke dalam tas. Malas sekali rasanya harus mengeluarkan nya lagi. Yusita yang berada di belakang ku segera berdiri.


"Yuk pulang, ada yang mau ngerjain PR bareng gak di rumah gue?" tanya Yusita.


Aku langsung berdiri, karena aku sangat tertarik dengan tawaran Yusita itu.


"Mau banget gue, emang lu langsung pulang ke rumah? biasanya lu ke toko bokap lu dulu?" tanya ku pada Yusita.


Yusita ini anak dari seorang penjual beras di pasar, tokonya sangat besar. Biasanya ketika dia sudah pulang sekolah. Yusita selalu membantu ayahnya di toko, karena toko Yusita tidak hanya satu saja, tapi ada dua. Yang satu ayah nya yang menjaga dan yang satu lagi ibunya. Dia biasanya akan menunggu ibunya selesai dari pasar, baru pulang ke rumah. Karena daerah tempatnya tinggal itu lumayan sepi, meskipun ada penjaga keamanan tapi Yusita ini memang sangat penakut. Jadi meskipun di siang hari, dia tidak berani berada di rumah sendirian. Karena kebetulan gadis cantik yang selalu meraih peringkat tiga besar bergantian dengan Marco dan Dodo ini meskipun dia pintar tapi dia sangat penakut.


"Nyokap gak ke toko, lagi bikin kue. Ada saudara yang mau hajatan. Yuk lah, gue juga di jemput kok sama supir!" serunya lagi membuat aku, Nina dan juga Dewi sangat bersemangat.


"Let's go!" seru Dewi yang sangat senang.


Aku tahu dia senang karena tidak harus berfikir panjang lebar untuk mengerjakan tugas dari Bu Mulyani. Dewi itu paling ahli mencopy jawaban Yusita, itu adalah keahlian alaminya. Aku sih lebih suka mengerjakan nya dulu, tapi kalau sudah mentok dan otakku tak lagi sanggup berperang dengan kata-kata maka jalan terakhir yang aku ambil adalah, hal yang sama dengan Dewi.


Kami berjalan bersama meninggalkan kelas menuju ke pintu gerbang. Tapi aku harus menghentikan langkah ku, ketika melihat seseorang yang sudah duduk di atas motornya dan menungguku tepat di depan gerbang.


"Kenapa Ras?" tanya Yusita karena aku berhenti mendadak. Padahal tadinya aku berjalan paling depan karena sangat bersemangat.

__ADS_1


"Itu!" tunjuk ku ke arah pintu gerbang.


"Oh, babang tampan?" tanya Nina.


Aku langsung menyenggol bahu Nina, karena tak suka dengan apa yang dia katakan.


"Ih, Nina! lu pinjem aja kacamata Yusita tuh, mata lu kayaknya udah minus deh. Tampan darimana nya coba, tampang gerandong nyebelin itu tuh angker tahu gak!" keluh ku pada Nina yang malah senyum-senyum sendiri saat melihat ke arah Tirta.


"Eh, bilangin aja gue dah balik ya! gue mau kabur!" seru ku pada ketiga teman ku yang masih saling pandang karena bingung.


Tapi baru saja aku berbalik, bahkan belum sempat melangkah. Tirta malah berteriak memanggilku.


"Rasti!!" panggil Tirta sangat kencang.


'Duh, ngapain sih? baru juga gue mau kabur. Gimana nih? pura-pura gak kenal aja kali ya? atau gue pura-pura ada yang ketinggalan aja di kelas?' batin ku.


Tapi Dewi malah menahan tangan ku dan membuat ku menoleh ke arahnya.


"Mau kemana? noh orang nya dah lari kesini!" seru Dewi.


Aku berbalik dan benar saja, ternyata Tirta sudah ada di depan kami sekarang.


"Hai, Rasti ayo pulang!" sapa nya pada ketiga teman ku dan mengajak ku pulang.


"Hai babang tampan!" sapa Nina yang sepertinya begitu menyukai Tirta. Dia terlihat tersipu sambil bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku jadi terkekeh karena ulah Nina, dia ini benar-benar mirip dengan boneka Mampang saat dia bergerak ke kanan dan ke kiri karena salah tingkah begitu.


"Hai!" jawab Tirta ramah.


Yusita bahkan tertegun ketika berhadapan dengan Tirta, hanya Dewi yang sepertinya masih bersikap normal dan biasa saja.

__ADS_1


'Apa sih yang mereka lihat dari gerandong nyebelin ini?' tanya ku dalam hati.


"Gue mau ke rumah Yusita, mau belajar bareng!" seru ku langsung menyatakan alasan agar tak harus pulang bersama dengan Tirta.


Tirta malah tersenyum pada ketiga teman ku, tapi dia langsung mendekati ku dan menarik pergelangan tangan ku.


"Maaf ya, belajar bersama nya besok saja. Aku harus bawa Rasti pulang. Tidak apa-apa kan?" tanya nya menatap Nina dan Yusita bergantian.


Dan bak terhipnotis atas ucapan Tirta, kedua teman ku malah tersenyum dan mengangguk kan kepala mereka.


Aku pun mengikuti langkah Tirta, karena aku tidak ingin aku terkesan di seret olehnya. Setalah sampai di depan gerbang, baru aku menghentakkan tangan ku dengan kencang.


"Ih, lu apa-apaan sih? orang gue mau ngerjain tugas sama temen-temen gue. Mana tugasnya banyak banget lagi!" keluh ku pada Tirta yang masih memasang wajah tak bersalahnya.


"Gak usah ngomel, hari ini hari pertama guru les lu bakalan ngajar les di rumah. Gak usah banyak protes. Buruan naik, soalnya gue mau berangkat kuliah setengah jam lagi!" seru Tirta yang langsung memberikan helm padaku.


'Ih, gambarnya volkadot!' batin ku ketika melihat helm yang Tirta berikan padaku.


Seperti nya dia benar-benar membeli helm, setelah aku mengatakan tidak ingin memakai helm horor miliknya itu. Aku langsung memakai helm yang dia berikan. Dan naik ke boncengan motornya.


Kami menuju ke rumah, dan seperti nya dia memang terburu-buru. Dia melajukan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Aku sampai harus memegang jaketnya dengan sangat erat. Tapi kurasa kalau aku protes maka hasilnya akan sama saja.


Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk kami tiba di depan pintu gerbang rumah ayah.


"Buruan turun, bawa aja helm nya masuk! dan langsung ganti baju, pakai baju yang sopan. Jam tiga guru les lu dateng!!" serunya lalu segera meninggalkan aku ketika aku sudah turun dari boncengan motor nya.


Aku memandang ke arah nya berlalu dan ke arah helm yang sudah aku lepas dari kepala ku secara bergantian.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2