Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Masih Perhatian Tirta


__ADS_3

Aku melihat ke arah pintu kamar yang sudah tidak terkunci. Aku ingat semalam Tirta terus mengetuk pintu, tapi mendengar dia mengetuk pintu semakin kuat membuat seluruh tubuh ku kesakitan dan nafas ku sesak.


Aku tidak tahu apa lagi yang terjadi setelah itu. Hanya saja aku merasa mengalami mimpi buruk yang melelahkan.


Kriett


Aku menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata itu adalah suara pintu kamar ku yang terbuka. Suaranya sekarang malah terdengar horor. Semua itu karena satu buah engselnya sudah terlepas dari daun pintu itu sendiri.


"Selamat pagi!" ucap Tirta sambil tersenyum.


Aku mengangkat tinggi kedua alisku.


'Hih mimpi apa dia, pagi-pagi masuk ke dalam senyum-senyum. Salah minum obat kali nih orang ya?' tanya ku dalam hati.


Dan yang lebih mengejutkan aku lagi adalah ketika dia langsung duduk di sampingku, di tepi ranjang sebelah kanan. Dan mengusap pelan kepala ku.


"Ih, gue bukan kucing. Ngapain lu uyel-uyel begitu!' protes ku sambil menepis tangannya dari kepalaku karena aku mang tak suka, rambut ku acak-acakan.


Entah kenapa, tapi aku sangat tidak suka rambut ku di sentuh oleh orang lain.


"Jangan pegang-pegang rambut gue ya!" seru ku pada Tirta.


Tapi bukan menunjukkan ekspresi marah atau tersinggung, gerandong nyebelin itu malah tersenyum. Dia terlihat sangat senang.


"Salah minum obat lu?" tanya ku heran.


Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat.


"Bukan, gue seneng lu balik lagi kayak gini. Marah, ngomel sama gue!" ucap nya dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku sampai tak habis pikir, ada apa dengan manusia bernama Tirta Mahesa ini. Oh iya aku belum menceritakan ya, yang membuatku kesal juga adalah kenapa ayah memberikan nama belakangnya pada Tirta, ayah ku Rudi Mahesa dan dia memberikan nama belakangnya untuk Tirta, sedangkan aku tidak. Aku jadi itu padanya, akibat merasa begitu iri, aku jadi sangat kesal pada gerandong nyebelin ini.


Tapi dari ucapannya, apa memang ada sesuatu yang mereka tutupi dari aku ya. Aku juga ingat Bu Yani pernah bilang, waktu TK sampai SD aku cukup pintar, bahkan aku lihat Piala ku di ruang kerja ayah, tapi kenapa saat kelas dua nilai ku jeblok semua.


Aku diam dan berfikir.

__ADS_1


'Apa memang ada yang mereka semua tutupi dariku ya? tapi apa itu?' tanya ku dalam hati.


Tirta lalu berdiri,


"Udah sana buruan mandi, gue dah siapin... maksud gue bibi dah siapin lu sarapan. Habis sarapan gue anter lu ke sekolah!" ucapnya lalu tanpa menunggu jawaban dari ku dia pergi keluar dari kamar ku.


Kenapa aku merasa dia hanya memastikan keadaan ku baik-baik saja. Setelah itu dia pergi.


"Ah, gue mikir apa? ya kalo dia perduli sama gue. Gerandong nyebelin perduli sama gue, it's impossible! ha ha ha bener kagak ya bahasa Inggris gue!" kelakar ku sendiri sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, setelah aku selesai mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku turun dari lantai dua dengan menuruni anak tangga yang meskipun sudah aku lalui belasan tahun, tapi aku tak pernah tahu pasti berapa jumlahnya. Karena aku belum pernah menghitungnya, dan kenapa juga aku harus menghitung jumlah anak tangga, seperti tidak ada kerjaan lain saja kan.


Aku melangkah menuju ke ruang makan, disana Tirta sudah duduk di kursi kebesaran nya, bukan karena kursinya kebesaran untuk Tirta. Tapi dia memang sejak pertama ku tiba di rumah ini selalu duduk di kursi yang itu.


"Selamat pagi!" sapa nya ketika aku duduk dan menarik kursi ku.


Aku melirik sekilas kearahnya.


"Pagi! kenapa lu. Perasaan gue dari tadi seneng banget, abis dapet door prize ya lu?" tanya ku asal.


Karena aku heran, apa yang sudah membuat gerandong nyebelin itu begitu senang.


"Gak ada, buruan sarapan. Udah jam 7 lewat ini!" serunya.


Aku pun segera memakan sandwich alias roti lapis yang sudah di panggang, di dalamnya ada sosis dan telurnya.


'Wah, tumben bibi kepikiran bikin roti lapis yang bentuk nya begini?' tanya ku dalam hati.


Tirta terlihat terus memperhatikan aku, apa aku yang kegeeran atau memang seperti itu ya.


"Eh, geran... eh Tirta, ngapain dari tadi lu lihatin gue kayak gitu?" tanya ku memprotes apa yang dia lakukan.


"Siapa yang lihatin lu, pede bener! buruan ya sarapan nya, gue manasin motor dulu!" ucap nya menjawab pertanyaan ku sembari berlalu karena dia sudah menyelesaikan sarapannya.


Ketika aku keluar dari rumah, aku melihat Tirta sudah berada di atas motornya.

__ADS_1


"Pakai helm nya, ayo berangkat!" katanya.


Aku segera memakai helm volkadot itu dan naik ke jok belakang, di boncengan motor Tirta. Dan kami pun berangkat menuju ke sekolah ku.


Seperti biasanya, tak ada perbincangan antara kami. Selama perjalanan kami lewati dengan hening, aku tak berniat bicara pada gerandong di depan ku ini. Dan dia seperti nya sangat fokus mengemudikan motornya. Dia bahkan tidak menoleh ke arah kanan, atau kiri. Hanya fokus saja ke depan.


Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di sekolah ku, di depan pintu gerbang yang sudah terbuka, dan aku melihat pak Anteng tersenyum menyapa seperti biasanya.


Aku turun dari motor, Tirta, membuka helm dan memberikan nya pada Tirta.


"Pulang sekolah, tunggu gue sebentar ya di pos satpam, jangan kemana-mana!" ujarnya.


"Kenapa, kalau lu gak bisa jemput gue bisa kok pulang sendiri!" jawab ku.


"Gue mau ada pertemuan sama anak-anak BEM, bentar doang. Pokoknya tunggu gue, nanti kita sekalian ke mini market buat beli kacang telur, buat tugas lu yang kemaren!" ucap nya.


Dan apa yang dia katakan barusan membuatku terbengong. Aku tidak menyangka, Tirta masih mengingat itu dan begitu ingin membantu ku. Aku rasa tidak buruk juga menuruti apa yang dia katakan.


Aku mengangguk.


"Iya, gue tunggu di pos satpam nanti!" jawab ku.


Dia tersenyum lalu memakai helm nya lagi.


"Ya udah sana masuk, gue pergi dulu ya!" ucapnya lalu berlalu dari hadapan ku.


Aku masih terdiam mematung melihat ke arah motor Tirta dan dirinya yang semakin menjauh.


"Kakak nya perhatian bener ya neng Rasti!" seru pak Anteng yang jujur saja telah menyadarkan aku akan sesuatu hal.


Orang lain saja bisa melihat kalau Tirta itu baik, kenapa aku yang tinggal bersama dengannya bertahun-tahun malah tidak menyadari.


Aku tersenyum pada pak Anteng.


"Iya pak, dia memang baik!" ucap ku lalu berjalan masuk melewati gerbang sekolah menuju kelas ku.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2