
Setelah menutup telepon nya dengan Rasti. Yoga ternyata tidak tinggal diam saja. Dia ingin memastikan apakah memang benar bahwa anak SMA seperti Friska dan kawan-kawan nya bisa melakukan perbuatan nekat seperti itu.
Yoga menghubungi seorang temannya yang juga malang melintang di dunia yang sama dengan ayah Friska. Yoga minta agar bisa bertemu dengan teman lamanya itu. Setelah temannya setuju, Yoga Iin segera meluncur dengan mobilnya ke lokasi yang sudah dikirim oleh temannya itu.
Membelah jalanan ibukota pada petang hari memanglah sangat sunyi, suara azan berkumandang di kanan dan kiri jalan yang terdapat bangunan masjid besar maupun bangunan masjid kecil.
Yoga tetap fokus pada tujuannya, dia tidak menyangka kalau sampai saat ini masih saja ada orang-orang berpikiran sempit, yang karena hanya masalah kecil, jangan padahal itu sangat berguna baginya di masa depan mereka bahkan menyimpan dendam.
Contoh nyatanya adalah Friska, apa yang dilakukan Friska jelas salah. Dia mencontek dan itu sama sekali tidak bisa dibenarkan, siapapun dia dan apapun jabatan ayahnya. Dan gadis itu akan terjebak lebih jauh lagi ke dalam kesalahan jika benar-benar dialah yang meminta para preman itu mengganggu Rasti.
Yoga tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan kepada Rasti, tapi yang jelas itu pasti bukan hal yang baik. Yoga bukan hanya mencemaskan keselamatan Rasti. Tapi dia juga memikirkan jika masalah ini tidak diselesaikan dan Friska jika benar memang dia yang melakukannya tidak mendapatkan pelajaran yang cukup dan baik. Maka di masa yang akan datang, di masa depan mungkin akan ada Friska lain, dan mungkin juga akan ada Rasti lain yang bisa saja tidak seberuntung Rasti yang sekarang.
Dan jika itu sampai terjadi maka tidak akan ada lagi yang mendukung kebenaran, mereka akan lebih memilih untuk tutup mulut dan menutup mata mereka seolah tak melihat apapun, demi keselamatan mereka sendiri.
Yoga tidak mau sampai itu terjadi, di dunia yang sudah rapuh ini. Setidaknya dia ingin masih ada sedikit orang yang berani untuk membela sesuatu yang benar, dan seperti Rasti melaporkan sesuatu yang salah di depan matanya.
Berkali-kali Yoga menghela nafasnya panjang, dia pun masih memperhitungkan bahwa ini masih dalam masa ujian kenaikan kelas. Dia tidak ingin masalah ini bisa mengganggu jalannya kegiatan itu di sekolah, juga bagi siswa-siswi yang terlibat di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, kurang lebih sekitar setengah jam lebih. Yoga sampai di sebuah bar kecil di salah satu sudut kota ini.
Yoga menghentikan mobilnya cukup jauh dari tempat yang dituju. Karena jalanan yang hanya sebatas lorong hanya bisa digunakan oleh pejalan kaki, bahkan sepeda motor pun tidak akan bisa jalan 2 arah di tempat ini.
Banyak mata yang melihat kearah Yoga, tempat ini bukan tempat yang bisa didatangi oleh pemuda yang berpenampilan rapi seperti Yoga. Disini kebanyakan mereka semua memakai jaket kulit yang sudah dimodifikasi, bahkan entah itu perempuan ataupun laki-laki anting di telinga mereka pasti jumlahnya lebih dari 3 buah.
Yoga melihat ke arah layar ponselnya memastikan bahwa tujuannya memang tempat ini. Setelah yakin bahwa dia berada di tempat yang benar Yoga segera menghubungi temannya itu.
Prok prok prok...
"Selamat datang, selamat datang!" suara tepuk tangan mengiringi suara seorang pria yang berusia mungkin sekitar 30-an tahun juga seperti Yoga keluar dari kegelapan menuju cahaya remang-remang di hadapan Yoga.
__ADS_1
Pria itu tersenyum tapi dalam artian senyuman yang tidak dapat diartikan, senyuman yang mungkin bagi seorang gadis polos mereka akan ketakutan melihatnya.
"Wah, tempat ini akan beruntung karena kedatangan si pembawa keberuntungan Yoga Adrian, ha ha ha!" oceh pria itu seperti sedang menyambut kedatangan Yoga padahal sepertinya dia lebih terdengar mengejek atau menyindir Yoga.
Dan melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Yoga sudah pasti pria itu bukanlah teman yang dia cari tadi.
"Dimana Keanu?" tanya Yoga pada pria itu dia terkesan acuh tak acuh dan dingin saat bertanya.
Pria berpenampilan urakan itu maju dan mendekati Yoga. Saat dia dan Yoga berada dalam satu pencahayaan lampu dan begitu dekat jelas terlihat kalau perbedaan mereka benar-benar seperti langit dan bumi, seperti hitam dan putih, juga seperti bahasa kasarnya yang terawat dan tidak terawat.
"Heh, pemuda metropolitan berani datang ke sini, siapa yang sudah menyinggungmu?" terdengar suara seorang pria suara ini lebih berat dari pria yang dari tadi bicara dengan Yoga.
Yoga dan pria urakan itu menoleh ke tempat yang sama yaitu ke sumber suara. Seorang lelaki seusia juga dengan Yoga mungkin sekitar 30 tahunan keluar dari gang sempit. Dengan kaos ketat yang melekat di tubuhnya tali pinggang yang begitu menyilaukan mata dan celana compang-camping. Tapi Meskipun begitu dia masih terlihat lebih tampan dan lebih bersih daripada pria yang ada di depan Yoga saat ini.
"Ck... kenapa tidak membiarkan aku bermain dulu di sini, tidak menyenangkan sama sekali!" keluh pria urakan yang ada di depan Yoga.
Pria itu memilih pergi setelah pria yang diyakini bernama Keanu itu datang. Yoga langsung menghampiri Keanu.
Tatapannya jelas lebih bersahabat kepada pemuda ini daripada pada pria yang terlihat lebih urakan tadi.
"Baiklah, tapi sebutkan dulu harganya?" tanya Keanu terus terang.
"Berapapun yang kamu mau!" jawab Yoga singkat padat dan jelas.
Keanu tersenyum remeh.
"Oho, adakah yang sudah menyinggung tuan muda ini?" tanya Keanu yang sepertinya sudah mengerti maksud dari Yoga.
Tidak mau bicara lebih panjang lebar di tempat ini, Yoga mengajak Keanu bersamanya. Yoga bahkan tidak mau berbasa-basi. Dia langsung mengajak Keanu ke pasar tradisional yang katanya adalah wilayah kekuasaan dari ayah Friska, yaitu Baroto.
__ADS_1
Yoga menghentikan mobilnya tak jauh dari pasar tersebut.
"Baroto, apa dia bagian organisasi mu?" tanya Yoga langsung pada poin utama nya.
Keanu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, dia bahkan tidak pernah berurusan dengan ku. Bisnis orang ini benar-benar hanya menagih pajak dari para pedagang di dalam pasar, dan pedagang yang berada di area pasar ini. Bisnis itu juga cukup menguntungkan!" jelas Keanu.
"Ada apa?" tanya Keanu.
"Aku mengajar di sekolah di mana anak dari Baroto juga bersekolah di sana. Dan kemarin dia sudah melakukan perbuatan salah, dia mencontek saat ujian dan aku memberikan hukuman, tapi kurasa dia tidak terima...!"
"Ha ha ha, apa yang sudah terjadi sampai seorang Yoga Adrian takut menghadapi anak SMA dan preman kacangan seperti mereka?" tanya Keanu menyela sambil terbahak-bahak.
"Mereka membuat gadis ku cemas!" potong Yoga membuat Keanu menghentikan tawanya dan menatap penuh heran pada Yoga.
"Gadis mu?" tanya Keanu penasaran.
Yoga mengangguk kan kepalanya,
"Gadis ku uang melaporkan perbuatan tidak benar dari anak Baroto itu, tapi saat dia pulang sekolah anak buah Baroto berjumlah empat orang mengawasi dan hampir menangkapnya, aku yakin mereka tidak akan berhenti sebelum mereka berhasil." jelas Yoga.
"Jadi, apa yang kamu ingin aku lakukan?" tanya Keanu dengan wajah serius.
"Jangan sampai mereka menyentuh gadis ku!" tegas Yoga.
Sebenarnya Yoga bisa melakukan yang lebih dari itu, namun karena situasi mereka sedang ujian kenaikan kelas. Yoga hanya tidak ingin membuat masalah menjadi lebih besar, yang kemungkinan akan tidak baik untuk dirinya nama baik sekolah dan juga Rasti sendiri.
Author POV end
__ADS_1
***
Bersambung...