
Yoga Adrian POV
Aku masih berada di dalam kelas, mengajar murid-murid di kelas 12 IPS V. Aku tetap berusaha untuk fokus dan berkonsentrasi meskipun sebenarnya perasaan ku sedang tidak tenang saat ini.
"Baiklah, sekarang kalian semua keluarkan buku paket nya, buka BAB 4 Dinamika Persatuan dan Kesatuan bangsa dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia." ujar ku pada semua siswa yang ada di dalam ruangan ini.
Mereka melakukan apa yang aku katakan, sebagian sudah dapat menemukan dimana letak materi yang aku sebutkan tadi, sebagian masih membolak-balikkan balikan buku paket mereka, dan ada sebagian yang malah sibuk mengganggu teman mereka yang sudah menemukan bab tersebut bahkan membalik halamannya lagi, membuat siswa itu kesal dan memunggungi siswa yang usil itu.
Aku terkekeh pelan melihat kelakuan mereka, aku jadi ingat pada Rasti. Dia juga pasti akan bertingkah konyol seperti itu, dia itu tidak bodoh sebenarnya, hanya saja kurang bisa fokus. Aku yakin jika dia rajin dan mulai belajar untuk fokus dia akan berhasil dalam ujiannya.
"Sudah kalian temukan?" tanya ku memastikan.
"Sudah pak!" jawab mereka serempak.
"Bagus, dan sebelum membahas lebih lanjut yang pertama harus kita ketahui mengenai dinamika persatuan dan kesatuan bangsa ini adalah kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu hakikat negara kesatuan Republik Indonesia, siapa yang tahu?" tanya ku sambil melihat ke arah mereka satu persatu.
Aku menunggu cukup lama, mereka hanya saling pandang satu sama lain dan saling sikut.
"Lu tahu gak?" tanya salah seorang siswa.
"Mana gue tahu!" jawab nya memasang raut datar.
"Ih lu mah tahunya harga colok mang Tulus doang!" keluh nya kemudian.
"Elah, emang lu tahu?" balasnya kemudian.
"Kagak!" jawab siswa yang tadi meremehkannya.
Aku kembali tersenyum simpul, seperti inilah murid-murid ku. Dengan kepolosan mereka dan tingkat kepercayaan diri mereka yang tinggi, namun ada juga sebagian murid yang cenderung diam, nilai mereka bagus meskipun saat tatap muka seperti ini, mereka bahkan tidak mengeluarkan suara bahkan satu kalimat pun.
"Tidak ada yang tahu?" tanya ku lagi.
__ADS_1
Sebenarnya aku berharap ada siswa yang berinisiatif membaca bab yang belum di pelajari. Itu akan menjadi motivasi bagi siswa yang lain. Tapi sepertinya aku belum menemukan nya di kelas ini.
"Hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kebangsaan modern, dimana pembentukan nya di dasarkan pada semangat kebangsaan dan nasionalisme, yaitu pada suatu tekad masyarakat untuk membangun masa depan bersama di bawah satu negara yang sama!" jelas ku pada mereka.
Dan seperti tadi, ada yang serius mendengarkan, ada pula yang mencatat nya di dalam buku catatan mereka. Bahkan ada pula yang terlihat bingung.
Ketika aku akan melanjutkan apa yang akan aku katakan, suara pintu kelas yang di ketuk, membuat ku dan murid-murid di kelas ini menoleh ke arah pintu yang terbuka.
Tok tok tok
"Maaf pak Yoga, anda di panggil ke ruang kepala sekolah. Ada wali murid yang ingin bertemu dengan anda!" seru Pak Tatang, Office Boy di sekolah ini.
Aku sedikit terkesiap namun tidak lama.
"Iya pak Tatang, terimakasih!" sahut ku pada pak Tatang yang menundukkan sedikit badannya sebagai bentuk menghargai dan mengerti lalu berlalu.
Aku kembali pada murid-murid ku di kelas ini.
"Mengerti pak!" jawab mereka bersama-sama.
Aku menutup buku pakek ku lalu, keluar dari dalam kelas. Jam pelajaran ku masih satu jam lagi, dan tidak mungkin kan urusan si ruang kepala sekolah akan selama itu. Jadi aku meninggalkan tas dan buku ku di kelas ini.
Aku melangkah menuju ke ruang kepala sekolah, aku bahkan tak sadar kalau aku melewati kelas Rasti. Tapi aku juga tidak menoleh sama sekali ke arah kelas itu, meski aku tahu mereka semua yang di dalam kelas bisa melihat ku dari kaca jendela.
Aku akan memenuhi permintaan Rasti, untuk menjauhinya dan tidak mengganggunya lagi. Aku terus melangkah dan benar-benar tanpa menoleh ke arah kelasnya meskipun hatiku ingin melakukan nya. Aku bahkan harus mengepalkan tangan ku untuk menguatkan niat ku. Dia memang pantas marah padaku, karena aku memang tidak sopan padanya. Di usia ku hal itu mungkin adalah hal biasa bagi seseorang untuk mengutarakan perasaannya yang begitu dalam, tapi di usia Rasti dan dirinya yang memang belum pernah punya kekasih itu adalah hal yang mungkin membuatnya sangat tidak nyaman.
Beberapa saat kemudian aku tiba di depan ruang kepala sekolah, aku mengetuk pintu sebelum membuka nya.
Tok tok tok
"Masuk!" seru bapak Syarifuddin dari dalam.
__ADS_1
Aku membuka pintu dan masuk ke dalam, di salah satu kursi di depan meja kepala sekolah aku melihat seorang pemuda sedang duduk dan ketika bapak Syarifuddin berdiri, pemuda itu ikut berdiri.
"Ada apa pak? pak Tatang bilang anda memanggil saya?" tanya ku pada kepala sekolah setelah berada cukup dekat dengan beliau.
"Pak Yoga, silahkan duduk!" seru bapak kepala sekolah.
Aku duduk di kursi satunya lagi, berdampingan dengan pemuda itu.
"Pak Yoga, ini adalah Tirta. Dia adalah wali murid dari siswi yang bernama Rasti!" jelas pak kepala sekolah.
Aku terkesiap
'Apakah Rasti mengatakan tentang perbuatan ku pada keluarganya, dan keluarga nya datang untuk menuntut ku?' tanya ku dalam hati.
Tapi kalau itu benar, aku pun akan mengakui kesalahan ku dan meminta maaf. Dan apapun hukuman atas hal itu, aku akan menerimanya. Aku kembali melihat ke arah bapak kepala sekolah setelah melihat sekilas pemuda yang bernama Tirta ini.
"Rasti mengatakan kalau selama ini dia ikut les tambahan dengan pak Yoga, dan kedatangan Tirta yang selaku kakak nya kemari ingin meminta pak Yoga untuk mengajar les privat saja untuk Rasti di rumah nya, karena Tirta cemas akan nilai Rasti. Dan saya mengatakan semua keputusan tentu ada pada pak Yoga. Jadi bagaimana pak yoga apa anda bersedia, untuk mengajar les privat di rumah Rasti?" tanya kepala sekolah setelah penjelasan nya yang panjang lebar itu.
Aku lagi-lagi terkesiap, jika Rasti ingin menjauh kenapa sekarang kakak nya malah memintaku mengajarinya di rumah nya? apakah ini takdir. Meskipun dia ingin aku menjauhinya, justru ada jalan dimana kami akan menjadi dekat lagi.
"Saya bersedia pak!" jawab ku yakin.
Tirta terlihat senang, dia bahkan mengulurkan tangannya dan aku pun menjabat tangannya.
"Terimakasih pak, saya senang bapak mau mengajari adik saya!" serunya.
Yoga Adrian POV end
***
Bersambung...
__ADS_1