
Author POV
Saat ini Marco juga sedang mengendarai sepeda motornya ke arah rumah sakit, dia juga sudah membawakan satu buket bunga untuk di bawa ke rumah sakit, dia ingin menjenguk Rasti. Sebelumnya dia sekolah tadi siang, Marco juga sangat khawatir pada kondisi Rasti, tapi dia harus menunggu sampai malam ini baru bisa menjenguk Rasti karena memang keluarganya sedang sibuk dengan urusan yayasan dan juga Jamaat nya.
Beberapa waktu lalu salah satu daerah yang adalah wilayah paling banyak Jamaat ayah Marco berasal terkena musibah banjir. Hingga ayah Marco dan keluarga benar-benar sangat sibuk beberapa hari ini.
Dengan kecepatan sedang, Marco mengendarai motornya membelah jalan yang tidak begitu ramai. Setelah tiba di rumah sakit, Marco segera memarkir kan kendaraan nya di area parkir sepeda motor. Dia turun dari motornya lalu melepas helm yang dia pakai, meraih buket bunga yang dia letakkan di box bagasi belakang motornya.
Dengan langkah mantap Marco ingin menjenguk Rasti, dia ingin menunjukkan betapa dia sangat perhatian dan perduli pada Rasti. Marco memang sudah menyukai Rasti sejak mereka masih sama-sama duduk di bangku kelas sepuluh, hanya saja saat itu Marco merasa kalau Rasti terlalu dekat dengan pemuda lain yang bernama Panji itu, dia jadi ragu untuk mengungkapkan perasaan nya. Lagi pula saat itu mereka belum terlalu dekat.
Berbeda dengan sekarang, Marco merasa dia sudah cukup dekat dengan Rasti dan dia juga tahu kalau Panji itu hanya teman nya Rasti saja, yang bahkan punya pacar yang sangat banyak. Marco yakin Rasti tidak akan menyukai pria seperti itu.
Marco sudah berada di depan meja informasi. Dia tersenyum dan mengusap rambutnya ke belakang.
"Permisi mbak, mau tanya dong. Kamar pasien atas nama Rasti Azzura dimana ya?" tanya Marco setelah seorang penjaga pusat informasi memperhatikan nya.
"Sebentar ya!" ucap wanita muda yang memakai seragam berbeda dengan suster.
Setelah beberapa saat mengecek di komputer nya, wanita itu segera menghadap ke arah Marco.
"Di kamar VIP nomer enam!" jawabnya singkat padat dan jelas.
Marco mengangguk paham dengan segera,
"Ok, terimakasih mbak!" sahutnya pada wanita yang telah memberikannya informasi dimana kamar rawat Rasti berada.
Marco segera mencari kamar yang disebutkan oleh petugas bagian informasi di rumah sakit ini. Cukup lama juga dia berkeliling karena dia memang baru pertama kali ke rumah sakit ini.
Beberapa saat kemudian dia menemukan ruangan yang di maksud. Tanpa menunggu lagi, Marco mengeruk pintu kamar rawat Rasti.
Tok tok tok
__ADS_1
Marco tidak bicara, dia hanya mengetuk saka. Dia berharap ada yang membukakan pintu untuknya dari dalam. Tapi setelah dia berfikir lagi,
'Bagaimana kalau tidak ada yang menemani Rasti, tidak mungkin kan kalau Rasti akan bangun dan membuka pintu. Ah, gue buka sendiri deh pintunya!' gumam nya dalam hati.
Tapi baru saja akan menarik gagang pintu, Marco terkejut karena pintunya perlahan terbuka dan seperti ada yang membukakan nya dari dalam.
"Marco!" panggil suara dari dalam itu.
Marco tidak terlalu terkejut, karena yang membukanya pintu untuknya adalah Tirta. Menurut Marco sangat wajar kalau Tirta berada di rumah rawat Rasti, karena Tirta adalah kakaknya.
Marco menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia masih menyembunyikan buket bunga ukuran sedang yang dia bawa di belakang punggungnya.
"Kak Tirta, mau jenguk Rasti kak!" ucapnya dengan tingkahnya yang sedikit konyol menurut Tirta.
"Oh, masuk!" sahut Tirta lalu membuka pintu kamar rawat Rasti lebih lebar.
Marco masuk ke dalam, dan setelah masuk dia baru terkejut karena melihat ada Yoga yang sedang duduk di sofa dekat meja televisi. Dan di atas meja juga sudah ada papan catur.
"Bapak ada disini?" tanya Marco.
Wajah Yoga biasa saja, tapi Rasti yang malah terlihat panik. Dia takut kalau Marco tahu hubungannya dengan pak Yoga maka Marco pasti akan memberitahu kan pada teman-teman yang lain. Dan Rasti tidak mau hal itu sampai terjadi.
Yoga tidak melihat ke arah Rasti jadi dia dengan tenang menjawab.
"Tentu saja...!"
"Kan Pak Yoga guru les nya Rasti, jadi karena senin udah mau ujian kenaikan kelas, pak Yoga kesini buat ngajar les Rasti!" jelas Tirta yang menyela perkataan pak Yoga.
Rasti menghela nafas lega, tapi kelihatannya Yoga tidak suka dengan jawaban Tirta. Yoga memang sejak awal sudah merasa kalau Marco itu menyukai Rasti. Jadi tadi dia ingin sekali mengatakan kalau dirinya adalah pacar Rasti. Supaya Marco tidak lagi berharap ataupun mendekati Rasti.
Tapi Tirta juga mengatakan hal itu bukan karena dia sengaja, tadi sewaktu Marco mengajukan pertanyaan kenapa Yoga bisa berada di ruang rawat Rasti, Tirta melihat ekspresi Rasti yang terlihat cemas. Karena itulah, Tirta yakin kalau sebenarnya Rasti tidak ingin hubungan nya dengan Yoga di ketahui oleh Marco, jadi Tirta mengatakan semua itu tadi.
__ADS_1
Marco yang mendengar jawaban Tirta pun mengangguk paham. Dia lalu mendekati Rasti dan mulai mengeluarkan buket bunga yang sejak masuk tadi dia simpan di belakang punggungnya.
"Malam Rasti, gimana keadaan lu. Nih gue bawain bunga supaya lu ceper sembuh!" ujar Marco.
Dan baru saja Marco mendekatkan buket bunga mawar itu di depan Rasti, reaksi yang tidak diharapkan Marco pun di tunjukkan oleh Rasti.
"Hatchi... hatchi... !" Rasti terus bersin ketika menghirup aroma serbuk sari bunga pemberian Marco.
Melihat hal itu Marco bingung, Yoga dan Tirta yang awalnya duduk di sofa segera bangun dan menghampiri Rasti. Tirta segera meraih buket bunga yang belum sempat di terima Rasti dari tangan Marco.
"Lu bawain adek gue bunga apa?" tanya Tirta kesal.
Tirta melihat ke arah buket itu, dan semakin kesal. Dia menghela nafas panjang lalu memikul kepala Marco dengan buket yang ada di tangannya.
Plak
"Aduh kak Tirta, kok malah di pukul sih?" tanya Marco tak terima dengan apa yang di lakukan Marco padanya.
"Ngapain lu kasih Rasti bunga mawar, dia alergi tahu!" seru Tirta kesal.
"Hatchi... hatchi..!" Rasti masih terus bersin-bersin.
Tirta melemparkan buket bunga ke dada Marco, dan Marco dengan sigap menangkapnya. Sementara Yoga mengambilkan Rasti beberapa lembar tissue yang ada di atas meja dan memberikannya pada Rasti.
"Buang tuh kembang ya jauh-jauh. Belum jauh lu belum boleh balik ke sini!" perintah Tirta pada Marco.
Marco jadi merasa bersalah melihat hidung Rasti yang memerah dan terus saja bersin. Niatnya ingin memberi sesuatu yang bisa menunjukkan perasaan nya malah jadi gagal total dan membuat Tirta kesal padanya.
***
Bersambung...
__ADS_1