Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Siasat Sofie


__ADS_3

Di tempat yang berbeda, di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari butik. Asti sedang menunggu kedatangan seseorang yang sebelumnya sudah dia hubungi, orang itu adalah calon menantunya yaitu Sofie. Calon istri dari anak sulungnya Yoseph Adrian, dan saat sedang menunggu kedatangan Asti. Suaminya, Yanuar yang juga adalah ayah dari Samuel menghubungi nya.


"Halo yah!" Sapa Asti pada suaminya.


"Halo Bu, bagaimana? sudah bertemu dengan calon nya Yoga?" tanya Yanuar yang terdengar begitu antusias di seberang sana.


"Hah, jangan bicara seolah Yoga akan menikah sebentar lagi yah, ayah tahu tidak kalau ternyata pacar Yoga itu benar-benar masih anak-anak, masih kelas sebelas yah. Coba bayangkan, bagaimana bisa anak kecil begitu menjadi kekasih bahkan calon istri Yoga. Haduh yah...!" jawab Asti yang terdengar benar-benar tidak menyukai pilihan putranya Yoga.


"Bu, jangan di lihat dari dia anak kelas sebelas, lihat bagaimana sikap dan sopan santunnya!" sela Yanuar sambil mencoba menasehati istrinya.


Asti terdiam, kalau dilihat dari aspek sopan santun dan sikap. Seperti nya Rasti tidak terlalu buruk. Tapi kemudian dia kembali mengingat apa yang sudah Sofie katakan padanya, dan juga apa yang dikatakan oleh sahabat nya Dona.


"Pokoknya ibu gak setuju yah, ayah tahu gak badannya tuh kurus banget yah, anaknya sih lumayan cantik lah ya, tapi kalau masa lalunya buruk buat apa yah, ibu gak perduli kalau dia dari keluarga kelas menengah atau bahkan kelas bawah asal dia dari keluarga yang baik dan anak baik-baik!" seru Asti lagi.


"Maksud ibu gimana sih? dia bukan anak baik-baik?" tanya Yanuar penasaran.


"Iya yah, kata Sofie mantu kita. Dia bahkan udah pernah tidur di rumah Yoga, terus pakai baju Yoga, ibu gak tahu deh Yoga itu pacar pertama nya atau bukan, bahkan Sofie bilang, kemungkinan fisik yang kayak Rasti itu pengguna obat, mungkin aja itu obat-obatan keras untuk menunda kehamilan, itu yah pil KB. Artinya dia bukan perempuan baik-baik kan?" tanya Asti yang kini meminta pendapat dari suaminya setelah mengatakan apa yang dia dengar dari Sofie.


"Jadi Sofie yang bilang? memang Sofie kenal sama Rasti?" tanya Yanuar.


"Ya enggak sih yah, kan dari apa yang dia lihat dan dia dengar saja...!"


"Kalau begitu jangan percaya dengan hal semacam itu, kita bisa membuat Yoga tersinggung kalau begitu caranya!" jelas Yanuar dan apa yang dikatakan Yanuar itu memang benar. Yoga memang sangat kesal saat ibunya mengatakan hal buruk tentang Rasti.


"Tapi yah, tadi itu ibu ketemu sama Dona. Dia ternyata kenal sama Rasti, dan bilang kalau Rasti itu korban, haduh yah... ibu gak ngerti lagi harus gimana ini. Ibu gak mau punya menantu yang masa lalu nya kek gitu. Meskipun dia korban tapi itu kan juga aib yah!" jelas Asti.


"Seperti nya ini serius Bu, sebaiknya kita bicara di rumah. Kalau perlu kita minta pendapat Yoga dan Yoseph! ayah tutup dulu telepon nya ya. Ibu jangan bertindak gegabah, ini menyangkut anak-anak, jangan sampai ibu melakukan sesuatu karena emosi semata!" ucap Yanuar memperingatkan istrinya sebelum memutuskan panggilan telepon.


Asti kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas, dia kembali memikirkan apa yang harus dia lakukan. Dia sungguh tidak ingin putra bungsu dan putra kesayangannya itu jatuh pada perempuan yang pergaulan nya bebas seperti Rasti, dia juga tidak tahu seperti apa keluarga nya. Putri yang bisa seperti itu pastilah putri dari keluarga yang tidak baik bukan, pasti dari keluarga yang berantakan atau mungkin bahkan broken home. Asti terus menggelengkan kepalanya karena memikirkan semua hal itu.


"Selamat siang Tante, sudah lama ya?" tanya Sofie pada calon ibu mertua nya dan langsung duduk di kursi yang ada di depan Asti.


Asti yang terkejut dari pemikiran nya langsung tersenyum pada Sofie.


"Iya sayang, Tante sudah menunggu lumayan lama. Apa kamu sedang sibuk? bukankah kamu sudah cuti dari pekerjaan mu?" tanya Asti ingin tahu apa yang membuat Sofie begitu lama baru bisa menjumpainya.

__ADS_1


"Benar tante, aku sudah cuti dari pekerjaan ku. Tapi tadi aku baru saja dari kantor mas Yoseph, dan aku membawakan makan siang untuknya. Pekerjaan nya masih menumpuk, padahal dia hari lagi kami akan menikah!" jelas Sofie yang terkesan memberi protes pada calon ayah mertuanya yang masih saja memberikan begitu banyak pekerjaan pada Yoseph.


"Mungkin karena Yoseph ingin menyelesaikan semua pekerjaan nya sebelum mengambil cuti bulan madu selama sebulan untuk kalian!" jas Asti.


Sofie hanya tersenyum, dan itu adalah sebuah senyuman palsu. Dalam hatinya Sofie tidak pernah ingin menghabiskan waktu selama itu berdua saja dengan Yoseph. Dia bahkan tak bisa membayangkan jika harus selama itu berpisah dan tidak bisa bertemu atau bicara dengan Yoga. Dia sungguh tidak menginginkan bulan madu itu.


"Oh ya, Tante terlihat sedang bingung? ada apa?" tanya Sofie menunjukkan perhatian nya pada Asti.


Selain cantik dan berbakat, keunggulan Sofie memang adalah mulut manisnya. Dia bisa dengan mudah merebut hati dan kepercayaan Asti dan juga Yanuar dengan sikap palsu dan mulut manisnya itu. Dia bahkan rela bersusah-susah mengurus Asti saat dia sakit sampai tidak tidur demi mendapatkan perhatian dari calon ibu mertua nya itu. Meski di belakang dia mengumpat dan mengomel tapi dia selalu tersenyum dan bersikap manis di depan kedua orang tua Yoseph itu.


Asti menghela nafas nya sebelum menjawab pertanyaan Sofie.


"Tante bertemu dengan Rasti!" jawab Asti sangat tidak suka.


Dan Sofie bisa melihat raut wajah tidak suka yang di tunjukkan oleh calon ibu mertua nya itu.


'Sepertinya Tante Asti tidak menyukai Rasti, ini bagus!' serunya dalam hati.


"Kenapa Tante malah tampak sedih, Tante sudah bertemu dengan kekasih Yoga bukan, Tante pasti menyukai pilihan Yoga?" tanya Sofie berbasa-basi.


"Bagaimana ini Sofie, kamu benar!" ucap Asti dan membuat Sofie terlihat melebarkan matanya dan juga mengangkat sedikit salah satu sudut bibirnya.


"Maksud Tante?" tanya Sofie yang masih berpura-pura tidak tahu.


"Kamu benar, dia memang punya masa lalu yang buruk, Ck... apa yang harus Tante lakukan sekarang?" tanya Asti mulai memperlihatkan raut kepanikan yang ada di wajahnya dengan jelas.


'Bagus sekali, padahal aku hanya mengatakan kebohongan pada Tante Asti agar dia membenci Rasti, tapi ternyata semua itu benar? hah aku tidak menyangka Yoga akan jatuh pada wanita seperti itu, padahal dulu saja saat aku menyentuhnya dia selalu menghindar. Ck... kenapa malah dia menyukai wanita seperti itu!' keluh Sofie dalam hatinya.


Kali ini Sofie sudah salah sangka, dia mengira kalau Yoga benar-benar berhubungan yang tidak-tidak dengan Rasti. Dan dia mengira kalau Rasti itu benar-benar seperti yang dia katakan pada Tante Asti. Mereka berdua, Asti dan juga Sofie telah salah mengerti maksud dari perkataan Dona.


Namun dalam sudut hatinya, Sofie juga merasa kesal. Berpacaran dengan Yoga dalam waktu yang lumayan lama, tapi mereka tidak pernah melakukan lebih dari sekedar ciuman saja, dan itupun hanya di kening atau di pipi. Sofie malah semakin merasa dengki saja pada Rasti karena bisa membuat Yoga menyentuh nya.


Tiba-tiba saja niat jahat lain muncul di benak Sofie. Dengan kenyataan seperti itu, tidak mungkin perempuan yang bernama Rasti itu akan menjadi salah satu anggota keluarga Adrian kan?.


"Lalu apakah Tante akan menentang hubungan mereka?" tanya Sofie berhati-hati.

__ADS_1


"Tentu saja Sofie, Tante tidak ingin wanita itu sampai bisa masuk ke dalam keluarga kita. Apa yang akan kita jelaskan jika ada yang bertanya dan mengenalinya. Pikirkan sesuatu Sofie, beritahu Tante, apa yang harus Tante lakukan?" tanya Asti yang sepertinya sudah sangat percaya sekali pada Sofie.


"Tidak akan mudah membujuk Yoga Tante, kita tidak akan bisa membujuk Yoga untuk meninggalkan perempuan itu!" seru Sofie mulai melancarkan siasat nya.


Asti bertambah bingung, memang benar sekali apa yang calon menantu di hadapan nya itu katakan. Yoga itu sangat teguh pendirian nya, sekali dia mengambil keputusan maka tidak mudah untuk merubahnya. Meskipun orang yang meminta hal itu adalah kedua orang tuanya.


"Lalu kita harus bagaimana Sofie, Tante benar-benar tidak bisa berfikir dengan jernih. Tante masih tidak menduga, bagaimana perempuan seperti itu bisa menjerat Yoga?" tanya Asti lagi.


Melihat betapa khawatir dan cemasnya calon ibu mertuanya itu. Sofie yakin apapun yang akan dia katakan pada Asti, calon ibu mertua nya itu akan mendengarkannya.


"Kalau begitu Tante, kita harus menemui perempuan itu, kita harus memintanya untuk menjauhi Yoga!" ucap Sofie dengan serius.


Asti pun tak kalah serius mendengarkan apa yang Sofie katakan. Tapi sebenarnya dia tidak yakin kalau Rasti juga akan menuruti apa yang mereka katakan.


"Kalau perempuan itu tidak mau, bagaimana?" tanya Asti lagi pada Sofie.


"Tante maaf, mungkin ini terkesan tidak baik. Tapi Tante harus tegas. Tante tidak mau kan kalau Yoga sampai berhubungan dengan perempuan seperti itu lebih jauh. Tante harus tegas dan...!" Sofie menjeda kalimat nya.


"Dan?" tanya Asti semakin penasaran.


"Harus sedikit mempermalukan nya!" lanjut Sofie yang membuat Asti tertegun.


"Mempermalukan nya?" tanya Asti yang sangat ragu jika harus melakukan hal semacam itu.


Sofie menggenggam tangan Asti, lalu kembali meyakinkan calon ibu mertua nya itu.


"Tante, Tante harus melakukan nya. Jika tidak perempuan itu akan terus mempengaruhi Yoga. Apa Tante mau Yoga jadi rusak dan tak baradab seperti dia?" tanya Sofie dan Asti langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Setelah meyakinkan Asti untuk mempermalukan Rasti. Sofie kemudian meminta kepada Yoseph untuk menanyakan alamat Rasti pada Yoga, dengan alasan mau mengantarkan undangan Yoseph melakukan apa yang diperintahkan oleh Sofie.


Dan Yoga pun mengirimkan alamat Rasti pada Yoseph. Setelah mendapatkan alamatnya, Sofie dan Asti segera menuju ke rumah Rasti.


Author POV end


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2