
Aku masuk ke dalam, dan tidak menghiraukan apa yang di teriakan oleh Marco. Aku memegang tali ransel ku dan melihat sekeliling kelas. Sunyi sekali, tapi aku tidak takut. Aku tidak suka film horor, tidak pernah menontonnya. Dan aku tidak suka melihat di sosial media hal-hal yang berhubungan dengan itu. Dan itu sukses membuatku tak merasa takut dimana pun aku berada.
Aku melihat ke arah papan tulis putih di depan kelas, dan masih banyak tulisan bekas Bu Tari guru bahasa Indonesia yang merupakan pelajaran terakhir. Aku meraih penghapus papan tulis, dan aku menghapus coretan-coretan itu sambil sesekali membacanya. Ketika aku sedang melakukan itu, aku merasa seseorang telah masuk ke dalam kelas, aku menoleh.
"Pak Yoga!" seru ku senang.
Tapi sepertinya raut wajah pak Yoga tidak menyiratkan hal itu. Dia langsung berjalan ke arah meja guru dan meletakkan selembar kertas di atas meja.
Aku terkejut, aku jelas melihat angka 5,5 bertinta merah di sana. Aku jadi sangat sedih
'Ternyata aku gagal!' batin ku sangat kecewa, tentu saja pada diriku sendiri.
Aku mengangkat kepalaku, melihat ke wajah pak Yoga yang sepertinya juga kecewa dengan hasil ujian harian ku. Aku kembali menundukkan kepala ku dan meraih kertas yang di letakkan oleh pak yoga dia atas meja itu.
"Maaf pak, saya permisi. Dan terimakasih bapak sudah mengajari saya kemarin!" ucap ku dengan suara pelan dan tanpa mengangkat wajahnya melihat ke arah pak Yoga.
Rasanya aku malu sekali, semua soal ini benar-benar persis seperti apa yang telah pak Yoga ajarkan kemarin. Aku memang kelewatan bodoh, sampai tidak bisa mengerjakan nya dengan baik. Dan membuat pak Yoga kecewa.
Aku melangkah di samping pak Yoga, aku mau pulang. Dan mau menangisi kebodohan sampai nanti waktunya makan malam.
Tapi tiba-tiba saja, pergelangan tanganku di pegang oleh seseorang. Dan orang itu adalah pak Yoga, tentu saja dia. Memangnya siapa lagi yang ada di ruangan ini. Aku berbalik dan menoleh ke arahnya. Wajahnya sudah tampak berubah, tak lagi merasa kesal dan kecewa. Kurasa dia terharu dengan ucapan ku barusan. Mungkin dia sekarang malah kasihan padaku.
"Seperti nya memang tidak bisa merubah segalanya dalam sekejap, benar kan Rasti?" tanya nya padaku.
Aku mengangkat kedua alis ku karena aku tak mengerti dengan apa yang di katakan oleh pak Yoga barusan. Aku hanya diam dan seperti nya itu bukanlah reaksi yang pak Yoga harapkan dariku. Dia menghela nafasnya dan melepaskan tangan ku.
"Mulai sekarang, setiap pulang sekolah kamu harus ke rumah saya untuk pelajaran tambahan. Kamu harus lebih baik dari ini Rasti, jika tidak bagaimana kamu akan naik kelas dan bagaimana dengan kelulusan mu di kelas dua belas nanti!" seru pak Yoga.
Aku sampai terbengong di buatnya, dia bahkan memikirkan sampai sejauh itu. Aku saja belum memikirkan aku akan naik kelas atau tidak, dia malah sudah memikirkan tentang kelulusan ku.
__ADS_1
"Ayo! kita pulang!" ajaknya dan berjalan mendahului ku.
Aku masih mematung, aku masih mencerna setiap katanya. Dan kalimat terakhir nya itu, pulang? maksudnya pulang itu apa?
"Rasti!" panggilnya karena aku tak juga melangkahkan kaki ku.
"Maksud nya bagaimana ya pak? kita pulang kemana?" tanya ku terus terang karena aku masih tidak mengerti. Mungkin saja jika Dodo atau Marco ada disini, mereka akan menertawakan penyakit telmi alias telat mikir yang aku idap sejak lahir ini.
"Ke rumah saya!" jawab nya lalu kembali berjalan bahkan keluar dari ruang kelas.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah.
'Ke rumah nya lagi?' batin ku.
Perlahan aku mengikuti langkah pak Yoga, dia berjalan menuju ke arah parkiran mobil. Suasana di sekolah dan sekitarnya sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa motor siswa dan juga guru yang kemungkinan sedang ekskul.
"Pak, saya harus duduk di samping bapak?" tanya ku perlahan, berhati-hati.
"Kalau kamu duduk di belakang, saya akan merasa seperti supir kamu!" sahutnya cepat dan perkataan nya itu membuat ku terkekeh.
Aku menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
"Eh iya ya pak, maaf ya!" ucap ku kikuk lalu masuk ke dalam mobil.
Pak Yoga menutup pintu mobil dengan perlahan, dan berjalan memutar lewat depan mobil menuju ke kursi pengemudi. Aku memperhatikan bagian dalam mobil pak Yoga, bersih dan wangi. Itulah kesan pertama ku pada mobil pria tampan yang adalah guru ku ini. Aku juga melihat ke arah belakang semua bersih dan rapi. Aku mengingat lagi kondisi rumah pak Yoga, seperti nya memang beliau ini pria yang sangat menyukai kebersihan dan kerapihan.
Pak Yoga sudah duduk di kursi pengemudi, tapi perlahan dia mendekati ku.
Deg... deg... deg...
__ADS_1
Detak jantung ku benar-benar tak menentu. Apa ini akan seperti di drama drama Korea yang aku tonton. Apakah pak Yoga benar-benar tertarik padaku yang kurus dan otak nya telmi ini? Aku masih menatap ke arahnya yang juga sedang menatap ku, tapi...
"Saya pasangkan sabuk pengaman kamu ya, bahaya kalau berkendara tanpa sabuk pengaman!" ucap nya lalu memasangkan sabuk pengaman untukku.
Blush!
Aku yakin wajah ku kali ini sudah merona karena malu, aku yakin Nina dan juga Dewi akan tertawa sampai mengeluarkan air mata kalau tahu apa yang baru saja ku pikir dan melihat sendiri apa yang sudah terjadi.
Aku melihat pak Yoga terkekeh pelan.
"Wajah kamu memerah Rasti, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya pak Yoga.
Astaga, kenapa juga dia bertanya seperti itu. Aku langsung memalingkan wajahku ke arah lain. Agar dia tidak melihatnya.
"Em, itu pak... agak panas ya cuacanya hari ini!" ucap ku memberi alasan.
Pak Yoga malah melihat ke arah atas langit dari kaca mobil bagian depan.
"Ini mendung Rasti, mobil saya juga ada AC nya, serius kamu kepanasan?" tanya nya lagi.
Aku tidak tahu bagaimana wajahnya ketika mengatakan itu, karena aku memalingkan wajah ku darinya. Aku sungguh sangat malu. Apalagi yang bisa ku katakan sebagai alasan padanya, kalau memang tadi aku sempat berfikir dia akan... dia akan.. ah bodoh nya aku!
Aku masih memalingkan wajah dan terdiam membuat pak Yoga segera melajukan mobilnya. Sepanjang jalan aku sama sekali tidak berani menoleh ke arah pak Yoga. Rasanya malu dan canggung sekali. Tapi tiba-tiba saja,
"Kamu punya hubungan apa sama Marco? kalian pacaran ya?" tanya pak Yoga tiba-tiba hingga membuat ku menoleh ke arahnya.
***
Bersambung...
__ADS_1