Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Yoga Menjelaskan


__ADS_3

Seperti biasanya, pria tampan yang duduk di depan kelas itu mencuri-curi pandang ke arah ku. Tapi aku berusaha untuk tidak terlalu menanggapi nya, dia bahkan sesekali menunjukkan senyumnya yang mempesona. Tapi aku benar-benar sedang kesal maksimal padanya.


Kan dia bisa menghindar kalau Bu Tari ingin mengobrol dengannya. Ini malah tidak. Bahkan aku sering dengar kalau guru-guru wanita bergosip tentangnya di perpustakaan, kalau dia dan Bu Tari memang sangat dekat juga sangat serasi. Apa-apaan itu? bukankah itu sama artinya dia membiarkan Bu Tari dekat dengannya dengan sengaja.


Saat aku berbicara berdua dengan Marco atau Panji, dia marah dan cemburu. Lihat saja, aku juga akan melakukan hal yang sama padanya. Aku akan marah padanya dan tak mau bicara padanya.


Beberapa waktu kemudian,


"Waktu kalian tersisa lima belas menit lagi! ingat untuk selalu membaca dua sampai tiga kali soal ujian kalian sebelum menjawabnya!" seru kak Yoga.


"Iya pak!" jawab semua orang kecuali aku dan Luthfi.


Aku menghela nafas ku, tak terasa waktu semakin sedikit saja. Aku terlalu memikirkan berasa kesal ku pada kak Yoga dan Bu Tari. Dan sepertinya aku harus menyerah pada ujian kali ini. Dan seperti biasa aku menjawab pilihan ganda yang tersisa dengan 'A' semua.


"Baiklah, waktu kalian habis silahkan keluar dan tinggalkan lembar soal dan lembar jawaban kalian di atas meja!" seru kak Yoga.


Beberapa siswa terlihat menghela nafas lega, beberapa lagi menggaruk kepala mereka karena aku rasa mereka belum selesai mengerjakan soalnya. Dan aku pun segera berdiri hendak keluar, karena sebagian siswa yang duduk di depan bahkan sudah keluar.


"Rasti!" panggilan kak Yoga membuatku melihat ke arahnya dan menghentikan langkah ku.


"Iya pak!" sahut ku.


'Kenapa dia manggil di depan orang banyak, gagal deh pundung sama dia!' omel ku dalam hati.


Aku terpaksa menjawabnya, karena masih banyak orang di sini. Akan sangat tidak sopan kalau aku tidak menjawab panggilan seorang guru bukan?


"Kamu tolong bantu saya ya, tolong kumpulkan lembar soal. Saya akan kumpulkan lembar jawaban!" seru kak Yoga.


Dia memintaku mengumpulkan lembar soal, tapi setahuku kami para siswa di larang menyentuh lembar ujian saat waktu ujian sudah berakhir.

__ADS_1


"Tapi pak, bukannya siswa gak boleh lagi pegang lembar ujian kalau sudah selesai?" tanya ku pada kak Yoga.


"Benar, karena itu saya minta kamu kumpulkan lembar soalnya, bukan lembar jawabannya!" ucap kak Yoga lagi.


Aku hanya mengangguk paham tanpa bicara. Aku juga meletakkan kembali tas ku di tempat semula, di lantai di depan kelas. Lalu aku berjalan ke arah meja paling pojok sebelah kiri ruang kelas dan mengumpulkan lembar soal.


Yah biarkan sajalah, setidaknya aku bisa menghindari si David konyol itu. Tadi dia terlihat menunggu di depan pintu kelas. Entah apalagi yang mau dia katakan. Aku sampai bergidik sendiri saat mengingat ulahnya tadi pagi. Dan gara-gara dia juga aku di hukum oleh pak Sabar.


Ketika aku mengumpulkan lembar soal dari pojok kiri, kak Yoga terlihat mengumpulkan lembar jawaban dari pojok sebelah kanan ruang kelas. Aku sengaja mengumpulkan lembar jawaban dengan cepat agar bisa cepat keluar juga dari sini. Dan pada baris ke dua meja, kak Yoga menghampiri ku sambil terus mengambil lembar jawaban dari atas meja.


"Kamu marah?" tanya nya dan aku berpura-pura tidak mendengarnya lalu melanjutkan apa yang aku kerjakan.


"Rasti, kamu marah karena kemarin Bu Tari...!"


"Bisa gak gak usah bahas itu!" pekik ku menyela apa yang ingin di katakan oleh kak Yoga.


Darah ku langsung mendidih rasanya setelah kak Yoga menyebutkan nama Bu Tari, aku rasanya jadi sangat kesal.


"Rasti, tapi sebenarnya tidak seperti yang kamu pikirkan!" jelas kak Yoga.


"Memang kamu tahu apa yang aku pikirkan?" tanya ku masih dengan ketus pada kak Yoga.


Kak Yoga tidak langsung menjawab, dia melembutkan tatapannya padaku dan mendekatiku, dia menyentuh lengan ku tapi aku langsung mundur menghindari nya.


"Baiklah, kamu duduk dulu. Aku akan kumpulkan semua ini dulu, lalu kita bicara baik-baik ya!" ucapnya dengan suara dan tatapan yang lembut.


"Gak perlu, aku akan kumpulkan semua ini dan segera pergi dari sini!" ucapku sambil terus mengumpulkan lembar soal dari meja ke meja.


"Rasti kita perlu bicara, jangan bertingkah seperti ini...!"

__ADS_1


"Seperti apa?" tanya ku menyela ucapan kak Yoga.


"Kenapa diam, aku bertingkah seperti apa memang? kekanak-kanakan? seperti anak remaja yang labil?" tanya ku dengan ekspresi yang kurasa sangat jelek saat ini. Tapi aku tidak perduli, aku terus mengoceh sambil terus mengumpulkan lembar soal agar cepat selesai dan cepat keluar dari ruangan ini.


"Pak Yoga Adrian, yang anda pacari ini memang remaja yang labil, jadi jangan berharap aku bertingkah dewasa seperti Bu Tari. Kalau memang suka dengan wanita dewasa ya jangan pacaran sama anak SMA seperti...empt!" ucapan ku terhenti karena ketika aku mengomel sambil mengumpulkan lembar soal, aku tidak tahu sejak kapan kak Yoga berada di belakang ku dan ketika aku mengomel dia membalikkan badan ku dan langsung membungkam omelan ku dengan bibirnya.


Aku berusaha mendorong nya, tapi sepertinya percuma. Dia bahkan tidak bergeser satu inchi pun dari tempatnya.


Satu detik, dua detik, tiga detik... akhirnya dia melepaskan aku. Aku menatap nya kesal tapi dia menatap ku dengan lembut.


"Maafkan aku, jika sikap baik ku pada wanita lain membuat mu kesal. Maka aku tidak akan bersikap baik lagi pada wanita lain. Aku tidak menyukai wanita dewasa, aku hanya menyukai satu wanita saja, tidak perduli apakah dia masih remaja labil atau anak SMA, tapi hatiku ini sudah menjadi miliknya!" ucap kak Yoga membuat tatapan kesal ku padanya perlahan melembut.


Awalnya aku sangat kesal, dan bertambah kesal lagi karena dia mencium ku. Tapi mendengar perkataan nya, seperti nya aku luluh dan meleleh.


"Kamu duduk dulu ya, aku akan telepon Tirta agar tidak perlu menjemput mu!" ucapnya lagi sambil menuntun ku untuk duduk di salah satu kursi.


"Kenapa? aku mau pulang saja!" ucapku lalu kembali berdiri.


"Ini kunci mobil ku, tunggu aku di mobil. Setelah menyerahkan semua ini pada panitia pelaksana ujian, aku akan menyusul mu ke sana. Rasti kita perlu bicara, akan aku jelaskan tentang duet di acara perpisahan kelas dua belas itu, itu kan yang membuat mu kesal?" tanya kak Yoga.


Aku mengernyitkan dahi ku,


'Darimana dia tahu itu yang membuat ku kesal?' tanya ku dalam hati.


Kak Yoga memberikan kunci mobilnya lalu, membelai rambut ku dengan lembut.


"Tunggulah sebentar di mobil ya, kita akan bicara di rumah sambil makan burger kesukaan mu!" ucapnya sambil tersenyum.


Aku tidak menjawab, tapi aku langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi dari ruang kelas.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2