Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Bertukar Peran


__ADS_3

Latihan peran untuk drama musikal telah berakhir, kami berempat berjalan bersama keluar gerbang. Suasana sudah tampak sepi di sekolah, tentu saja karena mungkin kelas kami yang terakhir pulang. Diantara anak-anak ekskul yang lainnya.


Nina dan Dewi sudah pulang naik angkutan umum. Meninggalkan aku dan Yusita yang masih menunggu jemputan kami.


Kami berdua menunggu sambil berdiri di depan pintu gerbang sekolah.


"Lu udah telepon supir ku?" tanya ku pada Yusita.


"Udah, bentar lagi di susul kok!" jawabnya.


Aku mengangguk paham. Aku ingin bertanya pada Yusita tentang Marco, tapi baru akan membuka mulut ku untuk mengeluarkan suara, Yusita sudah mendengus lelah.


"Gue tuh tadi gak konsen banget deh! gimana nasib pertunjukan nya ya kalau gini?" tanya Yusita melihat ke arah ku.


Dan apa yang dia katakan itu berhasil membuat ku mengerutkan dahi karena sepertinya dia ingin menceritakan sesuatu.


"Maksudnya?" tanya ku singkat.


"Iya, gue rasa gue gak bisa deh jadi Juliet. Tapi gimana ya cara bilang nya ke Bu Tari?" tanya Yusita lagi.


Aku makin mengernyitkan dahi ku, yang benar saja. Memang apa yang kurang dari Yusita buat jadi Juliet di drama musikal ini.


"Gue heran deh, kok lu ngomong gitu sih Yus? udah jelas-jelas tuh ya. Improvisasi puisi nilai lu paling gede, udah jelas juga senam lantai nilai ku paling gede...!"


"Apa hubungan nya sama senam lantai Ras?" tanya Yusita menyela ucapan ku.


"Ya maksud gue itu, gue rasa gak akan ada yang sebagus lu sama Marco buat Merangin Romeo dan Juliet di drama musikal ini!" tegas ku pada Yusita yang terlihat kebingungan mengenai sesuatu.


Aku menggenggam tangan Yusita dan menepuk-nepuk nya perlahan.

__ADS_1


"Yakin aja sama diri lu sendiri Yus, gue tahu kok lu pasti bisa. Gak akan ada yang bisa Merangin Juliet sebaik lu!" ucap ku berusaha untuk menasehati teman baikku ini.


Tapi dari matanya aku bisa melihat masih ada yang mengganjal di hatinya. Aku harap itu bukan seperti yang di perkirakan oleh Nina saat di ruang kesenian tadi. Karena aku pikir Marco itu adalah pemuda yang baik. Tidak mungkin dia menggertak atau mengancam seseorang demi kepentingan nya pribadi.


"Atau lu gak suka kalau yang jadi Romeo nya Marco?" tanya ku dan aku merasakan reaksi tangan Yusita yang tiba-tiba terasa dingin.


Dari situ aku mulai yakin sepertinya memang Marco alasannya.


"Yusita, kita kan besti tuh ya. Lu bisa kok cerita apa aja ke gue. Di jamin gak akan bocor, bahkan ke Nina dan Dewi!" ucapku padanya berusaha membuatnya percaya kalau lebih baik untuk menceritakan masalah pada orang yang dekat dengannya daripada memendamnya sendirian.


Setelah aku mengatakan kalimat itu, Yusita tampak berpikir sejenak.


"Bokap nyokap gue itu banyak banget hutang Budi sama bokap nyokap nya Marco! dulu gue pernah sakit parah, itu juga yang bikin gue alergi sama sesuatu yang beraroma dan berbau tajam. Dan waktu itu gue di bawa ke rumah sakit yang ketua yayasan nya orang tuanya Marco!" Yusita mulai mau bercerita.


Dan aku pun menyimak apa yang dia katakan dengan seksama.


Sebenarnya aku sudah pernah mendengar cerita tentang hal itu dulu. Tapi kenapa dia malah menceritakan masalah itu juga sekarang. Aku masih mendengarkan.


"Emang bokap nyokap Marco tuh tulus banget, Marco juga gitu. Tapi tadi dia bilang, dia gak mau jadi Romeo di pementasan!" tutur Yusita dan dia mendengus lelah lagi setelah mengatakan semua itu padaku.


Aku mengangguk paham, rupanya ini masalahnya. Marco sama sekali tidak menggertak atau mengancam Yusita, tapi hanya mengatakan pada Yusita kalau dia tidak mau jadi Romeo di pementasan. Tapi kenapa dia mengatakan hal itu pada Yusita? kenapa tidak pada Bu Davina saja? itulah pertanyaan sesungguhnya.


"Tapi kenapa dia bilang nya sama lu, bukan Bu Davina?" tanya ku pada Yusita.


Teman ku itu malah tersenyum, aku tidak mengerti cara pikir orang-orang yang IQ nya di atas rata-rata.


"Karena dia gak mungkin nolak peran yang sudah dia ambil sendiri kan. Begitu pula gue, tapi Rasti, misalnya kita bertukar peran. Lu mau gak?" tanya Yusita dengan pandangan mata penuh dengan harapan.


Aku jadi tidak tega melihatnya. Tapi mau bagaimana ya, aku sudah dapat sekali itu chemistry dengan David jadi nyonya rakyat jelata dan tuan bangsawan kaya.

__ADS_1


Yusita menepuk tangan ku yang tadi menggenggam tangannya untuk memberi semangat padanya.


"Gak apa-apa kok Ras lalu lu gak mau. Gue tahu lu udah nyaman banget sama peren lu sama David. Sorry ya gue malah berkeluh kesah sama lu!" ucapnya terdengar sedih.


Aku jadi ikut sedih melihat Yusita seperti ini. Tapi masalah ini juga aku harus bicarakan pada David dulu. Dan tentunya kak Yoga, biar hanya peran dalam sandiwara, kontak fisik walaupun hanya sekedar berpegangan tangan juga akan terjadi di drama musikal ini. Apalagi, kak Yoga nanti akan melihat secara langsung.


"Bukan gue gak mau Yus...!"


"Gue serius kok Ras, gak papa. Gue bakal coba konsentrasi aja nanti lebih baik!" ucapnya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Aku semakin tak enak hati jadinya pada Yusita.


"Em, gini aja. Gue ngomong dulu ya sama David. Kalau dia gak masalah...!"


"Lu serius?" tanya Yusita.


Bahkan aku belum menyelesaikan kalimat yang akan aku katakan, Yusita sudah benar-benar tampak antusias. Aku jadi semakin tidak enak padanya. Akhirnya aku mengangguk kan kepalaku berkali-kali dengan cepat di depannya.


"Thanks banget ya Ras, lu baik banget sih!" ucapnya sambil merangkul ku.


Aku juga senang karena sepertinya Yusita sudah sangat merasa lega, seperti sebuah beban berat terangkat dari pundak nya. Kini dia bisa tersenyum dan pandangan matanya tak lagi menyiratkan perasaan gusar.


Tapi masalahnya adalah, beban yang ada di pundaknya itu berpindah padaku. Aku yang sekarang bingung harus menjelaskan pada kak Yoga. Tapi kurasa dia juga tidak akan mempermasalahkan semua ini. Aku akan cerita dari awal sampai akhir alasan aku bertukar peran dengan Yusita.


Tinggal pikirkan masalah kostum nanti, ada tidak kostum Juliet yang badannya tipis seperti ku di penyewaan kostum.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2