
Aku masih ragu untuk benar-benar ikut dengan pak Yoga atau tidak. Aku bahkan berfikir kalau otak ku ini sudah tidak waras, bagaimana bisa aku mengatakan semuanya pada pak Yoga tadi.
Dia bahkan memelukku dua kali tadi, aku menutup wajah ku dengan kedua tanganku. Aku duduk berjongkok di belakang ruangan kesenian. Ruangan yang bersebelahan langsung dengan tembok pembatas antara sekolah dan jalan raya.
"Gue rasa gue benar-benar udah gak waras kalo sampe gue terus jalan ke luar gerbang dan nemuin pak Yoga, fix gue bucin berarti. Dan itu gak akan pernah gue lakuin!" gumam ku lalu berdiri dan berbalik arah.
Aku melangkah menuju kembali ke kelas ku, tapi kemudian aku menghentikan langkahku mengingat pak Yoga yang memelukku dari belakang dan mengatakan kalau dia memang tidak mau menikah dengan model itu.
"Aduh!" aku kembali memegang kepalaku dan berjongkok.
Aku tidak bisa berfikir dengan jernih, aku juga ingin tahu apa kebenaran nya. Aku juga ingin melihat bukti apa yang akan di tunjukkan oleh pak Yoga.
Di tengah kebingungan ku, aku merasa ada sebuah tangan yang menyentuh pundak ku. Aku terkejut bukan main, aku sampai jatuh ke lantai karena terkejut.
"Huh, ngagetin aja lu Luthfi!" pekik ku kesal ketika melihat pemilik tangan yang mengageti aku tadi adalah Luthfi.
Aku benar-benar terkejut karena dari tadi aku memang tidak melihat siapa pun di tempat ini. Dia tiba-tiba muncul dari arah belakang ku. Siapa juga yang tidak akan terkejut dengan hal ini.
"Ih, lu beneran ya udah kayak Miss K aja tahu gak! perasaan tadi tuh disini gak ada siapa-siapa, nongol darimana lu?" tanya ku padanya yang terlihat memiringkan kepalanya dan menatap ke arah ku dengan dalam.
Aku jadi bergidik ngeri karenanya.
"Eh Luthfi, sehat lu?" tanya ku lagi karena merasa kelakuan nya aneh.
Siswa laki-laki yang beda kelas dan beda jurusan dengan ku ini memang adalah manusia dengan sebuah kelebihan dan karunia besar di dalam dirinya yang dia bawa sejak lahir. Luthfi ini indigo, dia lebih sensitif dari siapapun di sekolah ini. Dia bahkan di sebut-sebut punya kemampuan berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata. Aku percaya, tapi aku tidak terlalu mengerti tentang hal itu. Tapi aku tak pernah menganggapnya berbeda.
"Ada yang lagi nungguin lu, dia ngarep banget lu dateng. Dia percaya lu bakal dateng, kalo lu gak nyamperin dia sekarang, lu bakal kehilangan dia buat selamanya!" ucap Luthfi dengan nada aneh dan langsung melewati ku begitu saja.
Dia berjalan santai dan tak menoleh sama sekali ke belakang. Aku mengerjapkan mataku dengan perlahan beberapa kali sambil terus melihat punggung nya yang menjauh dari pandangan ku.
"Dia bilang apa tadi?" tanya ku pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Hah, darimana dia tahu kalau pak Yoga lagi nungguin gue, terus dia bilang apa tadi, kalo gue gak nemuin dia sekarang, maka gue bakalan...!"
Aku begitu panik, aku tidak sanggup lagi melanjutkan apa yang ingin aku katakan, aku berlari sekencang yang aku bisa menuju ke arah gerbang yang masih terbuka, karena masih jam istirahat.
Ketika aku sudah berada di luar gerbang, aku melihat mobil pak Yoga ada di depan halte, dengan tergopoh-gopoh aku langsung berlari ke arah mobil itu. Dan bisa melihat pak Yoga juga keluar dari dalam mobil, dengan wajah bingung dia menghampiri ku.
Aku berhenti ketika berada tepat di depannya. Dengan nafas terengah-engah aku melihat ke arah wajahnya, rasanya aku ingin menangis saat melihat wajah itu. Ucapan Luthfi tadi benar-benar menggangguku. Aku tidak sanggup kalau tidak bisa melihat nya lagi.
"Pak, saya mau tanya... hosh.. hosh..." ucap ku terbata-bata karena nafas ku masih tidak teratur.
Pak Yoga terlihat memperhatikan.
"Kalau seandainya, saya tidak datang, huh.. apa yang akan bapak lakukan?" tanya ku pada nya.
"Saya tidak tahu, tapi mungkin saya akan pergi sejauh-jauhnya...!"
Aku tidak mau lagi mendengarkan ucapannya, aku memilih melangkah dengan cepat membuka pintu mobil bagian penumpang di depan, dan menutupnya dengan kuat.
Jika aku tidak menemui pak Yoga, pak Yoga akan pergi dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku sampai harus menggelengkan kepala ku berkali-kali untuk mengusir ingatan ku tentang ucapan Luthfi tadi.
Pak Yoga yang baru masuk ke dalam mobil lantas bertanya padaku, karena mungkin menurut nya kelakuan ku ini agak aneh.
"Kamu kenapa?" tanya nya pelan.
Aku menggeleng kan kepala ku dengan cepat.
"Tidak, oh ya. Bapak mau bawa saya kemana?" tanya ku mengalihkan perhatian pak Yoga.
"Ke KUA!" jawab nya cepat.
Aku terkesiap, aku membelalakkan mata ku tak percaya dengan apa yang ku dengar.
__ADS_1
"Bapak jangan becanda ya, saya bahkan belum punya KTP, lagi di proses tuh sama Abah nya Panji!" seru ku dengan wajah dan nada galak.
Pak Yoga malah terkekeh, dia tidak langsung bicara tapi malah mendekati ku.
"Eh, bapak mau apa? bukti aja dulu, baru...!"
Ucapan ku terhenti karena lagi-lagi aku salah paham, dia tidak mau macam-macam padaku, dia hanya memasang kan sabuk pengaman untuk ku.
"Baru apa?" tanya nya setelah menjauh dan memegang setir kemudi.
Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat.
"Enggak, ayo jalan!" seru ku lalu memalingkan wajah ku dari pak Yoga.
'Ih, dudul banget gue. Pikiran gue langsung otewe ke 17 tahun ke atas terus nih kalo deket sama nih orang!' batin ku merutuki kebodohan ku lagi.
Aku terus memalingkan wajah ku dari pak Yoga, aku takut kalau aku melihat ke arahnya aku malah jadi salah tingkah. Dia juga tidak banyak bicara, sepanjang perjalanan kami hanya diam.
Beberapa menit kemudian kami tiba di sebuah tempat, pak Yoga mengarahkan mobilnya ke area parkir dan aku membaca papan besar di depan gedung itu.
"Kantor urusan Agama, bapak beneran bawa saya kesini. Bapak jangan aneh-aneh ya, saya bilang kan saya minta bukti, bukan minta di nikahin sama bapak!" seru ku panjang lebar pada pak Yoga yang terlihat masih tenang sampai dia memarkirkan mobilnya.
Aku membuka pintu mobil dengan cepat, aku mau pergi saja dari sini. Aku benar-benar merasa di permainkan. Tapi pak Yoga segera menangkap pergelangan tangan ku.
"Mau bukti kan, saya akan perlihatkan buktinya di dalam!" seru nya.
"Maksudnya?" tanya ku.
"Saya akan menunjukkan pada kamu, kalau yang terdaftar menikah kurang dari sepuluh hari lagi itu kakak saya dengan Sofie bukan saya!" jelas nya.
***
__ADS_1
Bersambung...