
"Tapi gue beneran merinding ini, lihat deh buku kuduk gue dah berdiri semua ini!" ucap Nina lagi yang wajahnya semakin pucat.
Nina benar-benar ketakutan, dan Yusita yang sedari tadi hanya diam saja mengikuti dua temannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling juga merasakan angin berhembus di belakang tengkuknya. Yusita melihat ke belakang, tapi tidak ada siapapun disana. Matanya kemudian beralih ke dalam ruangan laboratorium Biologi. Dan Yusita sempat menahan nafas ketika melihat sesosok bayangan bergerak-gerak dari dalam sana. Padahal ini kan jam istirahat. Yusita ingin mengatakan apa yang dia lihat itu pada Dewi dan Nina, tapi suaranya tidak mau keluar dari tenggorokan nya.
"Bulu kuduk doang, bulu yang laen gak berdiri?" tanya Dewi masih bergurau saja.
Yusita yang sudah merasa tidak nyaman segera menarik tangan Dewi dan juga Nina dengan cepat dari tempat itu.
Awalnya Dewi protes tapi karena Yusita terlihat panik Dewi hanya menghentakkan tangan Yusita dan bertanya.
"Lu ngapain tarik-tarik tangan gue sih Yus, perasaan lu gak penakut deh?"
Yusita menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Gue lihat ada bayangan disana, udah deh jangan cari disana. Mungkin gak sih kalau Rasti tuh ada di UKS?" tanya Yusita pada Dewi dan Nina.
Nina langsung menarik dirinya,
"Ih, gak mau ya gue ke UKS. Gue denger dari Marco disana tuh lebih horor dari laboratorium Biologi! gak mau gue. Kita tunggu aja deh sampe bel pulang nanti, kalo masih gak kelihatan kita lapor aja sama wali kelas kita Bu Jamilah, ya.. ya .. pliss!" ucap Nina yang memang sudah lelah sejak tadi berjalan berkeliling taman belakang dan koridor laboratorium.
"Gimana Yus?" tanya Dewi meminta pendapat Yusita.
"Iya deh, gitu aja. Kita dah muter-muter dari tadi gak ketemu!" jawab Yusita.
Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelas mereka, jam istirahat kedua juga sudah berakhir. Dan pelajaran terakhir adalah pelajaran PPKN pak Yoga.
"Temen-temen, pak Yoga gak bisa ngajar. Dia mendadak sakit perut tadi. Jadi kita di suruh ngerjain tugas halaman 203, nanti di kumpul dan gue bakalan bawa ke rumah guru ke mejanya pak Yoga buat di koreksi. Sekian terima kasih!" ucap Marco di depan kelas dan menuliskan tugas yang harus di kerjakan oleh teman-temannya di papan tulis di depan kelas.
"Wah, pak Yoga sakit perut. Abis makan apa dia? jangan-jangan abis makan bekal nya si Rasti!" ucap Dewi iseng.
Tapi ucapan Dewi itu membuat Yusita diam dan berfikir.
__ADS_1
"Eh, apa mungkin itu bener?" tanya Yusita pada Nina dan Dewi.
"Bener apanya?" tanya Nina bingung.
"Itu omongan Dewi barusan!" jelas Yusita.
Dewi malah menunjuk ke arah hidungnya dengan jari telunjuk kanannya.
"Omongan gue, yang mana?" tanya Dewi bingung sendiri.
"Ck... itu loh yang tadi lu bilang pak Yoga makan bekal nya Rasti, apa mungkin Rasti lagi sama pak Yoga?" tanya Yusita menyampaikan spekulasi yang ada di dalam kepalanya yang memiliki IQ di atas rata-rata.
"Masa' sih? setahu gue Rasti tuh pelit kalo soal bekal makanan, gak mungkin dia bagi...!"
"Bukan itu maksud gue!" sela Yusita karena Nina bicara hal yang menurut nya gak nyambung dengan apa yang dia katakan tadi.
"Eh, bentar deh. Gue tanya Marco dulu deh!" ucap Yusita lalu menghampiri Marco di mejanya.
Yusita berjalan ke arah meja Marco, setelah berada di samping Marco, Yusita pun mulai bertanya.
Marco meletakkan pulpennya dan menengadah menatap Yusita yang sedang berdiri di sampingnya.
"Eh iya, tadi pak Yoga kirim pesan ke gue. Dan dia juga bilang kalau pas dia kesakitan tadi, disana gak sengaja ada Rasti. Jadi dia minta tolong sama Rasti buat nganterin pak Yoga ke rumah sakit terdekat. Bentar deh, gue kasih nomer pak Yoga ya ke lu. Supaya lu bisa nelpon Rasti!" jelas Marco dan dia juga memberikan nomer pak Yoga pada Yusita.
Yusita menghela nafasnya lega, ternyata dugaannya benar. Rasti bersama pak Yoga. Sekarang setidaknya Yusita bisa tenang dan mengerjakan tugas dengan baik tanpa khawatir lagi pada Rasti sahabat nya.
"Makasih ya ko!" seru Yusita.
"Eh, Yus. Sekalian bilang sama Rasti ya, suruh dia nyiapin bahan-bahan buat proposal nya. Besok gue mau ajak dia ngerjain tugas bareng di perpus jam istirahat!" kata Marco.
Yusita pun mengangguk kan kepalanya dengan cepat. Yusita kembali ke mejanya, dan kedua temannya yang sedari tadi penasaran sudah tak sabar untuk tahu apa yang berhasil didapatkan Yusita.
__ADS_1
"Gimana, gimana?" tanya Dewi yang langsung menoleh ke belakang ketika Yusita kembali duduk di tempat nya.
"Ternyata bener, Rasti lagi sama pak Yoga. Tadi tuh kata Marco, pak Yoga mendadak sakit perut. Terus Rasti lagi ada disana, dan dia nganterin pak Yoga ke rumah sakit." jelas Yusita.
Dewi dan Nina terlihat melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh Yusita tadi. Mereka menghela nafas mereka dengan lega.
"Huh, sukur lah kalo gitu. Terus terus, gimana nih sama tas nya Rasti. Siapa yang mau bawa pulang? gue atau kalian?" tanya Nina.
"Bentar ya, gue coba telpon pak Yoga!" ucap Yusita yang segera menghubungi nomer pak Yoga.
Cukup lama Yusita menunggu untuk panggilan nya di terima.
"Kok, gak di angkat-angkat ya?" tanya Yusita heran.
"Elah, nomer lu pasti gak di kenal sama pak Yoga. Makanya dia gak mau angkat telepon dari lu!" sela Dewi.
Yusita mengangguk kan kepalanya, dia membenarkan apa yang Dewi katakan.
"Iya juga ya, em... coba deh gue kirim pesan!" ucap Yusita lalu mengetik pesan di ponselnya.
*Maaf pak, ini Yusita. Murid kelas 11 IPS II. Saya mau tanya, apa Rasti masih sama bapak? tadi kata Marco dia sama bapak. Saya cuma mau tanya, Rasti bakalan balik lagi ke sekolah atau tidak? karena tas nya masih di sekolah? terimakasih*
Seperti itulah kalimat yang di tuliskan Yusita. dia tidak menyingkat satu kata pun karena dia tidak mau terkesan tidak sopan pada gurunya.
Ting
Dewi, Nina dan Yusita saling pandang. Seperti nya pak Yoga sudah membalas pesan darinya.
*Maaf saya tidak angkat tadi, saya kira siapa? Dan iya, Rasti masih menemani saya. Tolong titipkan tas nya pada pak Anteng. Nanti saya akan mengantar Rasti untuk mengambilnya. terimakasih*
"Buset guru PPKN bahasanya ya, untung bukan gue yang ngirim pesan tadi. Kalo gak ambyar!" kekeh Dewi.
__ADS_1
***
Bersambung...