
Keesokan harinya...
Pagi ini aku di antar oleh Tirta ke sekolah, rasanya tidak buruk juga. Bahkan uang jajan ku bisa ku tabung, karena di antar jemput Tirta aku tidak perlu kan naik angkutan umum. Tapi kurasa supir angkutan umum yang sering aku tumpangi pulang pergi ke sekolah itu pasti akan sangat sedih karena aku tidak naik angkutan umum nya lagi.
Kami sudah berada di depan gerbang sekolah. Aku turun dari motor besar Tirta dan melepaskan helm ku lalu kuberikan pada Tirta.
"Konsentrasi ya pas ujian, kasihan tuh pacar lu udah capek-capek ngajarin, capek-capek bikinin contoh soal kalau lu...!"
Belum juga Tirta selesai bicara aku meletakkan jari telunjuk tangan kanan ku di bibirnya.
"Ssstt... kak Tirta, ssstt. Jangan ember deh, gak ada yang tahu gue punya pacar!" ucap ku mendekatinya dan berbisik padanya.
"Biar apa coba, ntar pacar lu di gebet cewek lain baru tahu loh!" ucap Tirta membuat ku tercengang.
Benar juga apa katanya, kalau nanti apa yang di katakan oleh Tirta itu beneran kejadian bagaimana.
"Eh malah bengong, buruan masuk. Baca doa sebelum baca soal!" ucap Tirta memberikan nasihat padaku.
Aku mengangguk mengerti.
"Jangan jajan sembarangan, jaga kesehatan seminggu ini!" ucapnya lagi masih lanjut menasehati ku dan lagi-lagi aku mengangguk paham.
"Gak usah pecicilan, kalau perlu istirahat main ke perpus baca buku biar pinter!" sambungnya lagi dan lagi-lagi aku mengangguk kan kepalaku tanda kalau aku paham dan juga setuju dengan apa yang Tirta katakan.
"Manggut-manggut aja lu kayak burung perkutut, ngerti gak yang gue bilangin! jangan cepet-cepet baca soalnya, pelan-pelan aja, kerjain soal yang bisa langsung di kerjain, yang pake mikir entar dulu aja, lewatin dulu!" ujarnya panjang lebar.
Sepertinya Tirta sedang menceritakan pengalaman pribadi nya saat ujian, dan baru kali ini aku mendapatkan banyak sekali wejangan dari Tirta. Tapi kurasa semua yang dia katakan ini benar, Kak Yoga kemarin juga mengatakan hal yang sama padaku.
"Udah gak usah bengong kayak sapi ompong, buruan masuk. Gue berangkat ke kampus dulu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ku yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.
Aku masih memperhatikan Tirta dan juga motor nya yang melaju dengan kecepatan sedang, setelah sudah tak terlihat lagi aku langsung berbalik dan menuju ke area sekolah.
"Rasti!" sebuah panggilan membuat langkah ku terhenti.
Aku segera mencari ke arah sumber suara. Dan aku lihat Marco berlari menghampiri ku.
"Ngapain lu lari-lari?" tanya ku pada Marco.
__ADS_1
"Nih, makan ini!" ucapnya sambil memberikan aku sebuah benda bulat dengan bungkus warna merah keemasan.
Aku menerima benda yang di berikan oleh Marco dan bertanya.
"Ini apa?" tanya ku sangat penasaran.
Aku sedikit menggenggamnya, dan benda itu terasa lembek.
"Itu coklat keberuntungan, gue punya tiga. Biasanya kalau mau ujian gue makan itu, dan pastinya pikiran gue bakalan lebih fokus!" jawab nya panjang lebar.
Kalau ini benda keberuntungan bagi Marco, kenapa malah dia memberikan nya padaku.
"Kenapa lu kasih ke gue?" tanya ku bingung.
"Gue gak mau kalau gue lulus nanti, lu masih sekolah!" ucapnya lalu segera pergi meninggalkan aku dengan santainya.
Aku mendengus kesal, itu sama saja dengan dia mau bilang kalau aku tidak makan coklat ini maka aku tidak akan berhasil dengan ujian ku dan aku tidak akan naik kelas. Kenapa dia begitu meremehkan aku, apa dia tidak tahu kalau sekarang otak ku sudah lebih baik.
Meski kesal, aku membuka bungkusan coklat itu. Dan memasukkan nya ke dalam mulut ku dalam sekali hap.
Aku mencari dimana kelas yang harus aku masuki, setiap kali ujian memang kami selalu di rombak secara acak, itu agar kami tidak saling bantu membantu atau bahasa ajaibnya mencontek.
Aku sudah menemukan kelas ku, yang ternyata adalah kelas 11IPS V. Cukup jauh dari kelas ku yang sebenarnya. Dan di dalamnya aku melihat kalau tidak ada teman sekelas ku yang juga satu ruangan dengan ku sekarang.
'Astaga, ini beneran gue terdampar sendirian nih di kelas ini?' tanya ku dalam hati.
Bukannya aku tidak mengenal yang lainnya, tapi mereka benar-benar berasal dari kelas yang berbeda.
"Rasti, berapa nomer bangku lu?" tanya Faisal anak kelas 11 IPS III.
"109" jawab ku singkat.
"Oh, tuh di sebelah Luthfi!" jawab nya dengan cepat.
Aku melebarkan mataku, aku lumayan terkejut. Dari tadi aku malah tidak menyadari kalau Lutfi satu ruangan dengan ku.
Baru saja aku akan berjalan mendekati mejaku, seseorang menepuk bahu ku dengan lumayan keras.
__ADS_1
"Woi, Rasti. Lu disini juga?" tanya seseorang yang suara aku kenal.
Aku menoleh ke belakang sambil mengusap bagiku yang terasa panas.
"David!" geram ku.
"Sakit tahu, kalau gue geger otak lu mau tanggung jawab?" tanya ku kesal pada David dan menatap tajam padanya.
"Eh Rasti, yang gue toel tuh pundak elu, bukan kepala elu. Dudul!" elak David.
"Lu bilang toel, yang namanya noel tuh gini nih!" ucap ku sambil mencubit pinggang David membuatnya mengaduh kesakitan sampai sedikit berjingkat.
Aku tertawa puas melihat David seperti itu.
"Astaga! dua orang aja rame bener kayak pasar!" celetuk seseorang dari arah pintu kelas.
Aku dan juga David menoleh bersamaan ke arah sumber suara, ternyata itu Friska n the gengs. Friska itu asli murid kelas ini, dan aku heran kenapa dia bersama dengan kelima temannya itu.
"Emang ya, kalau bisa kelihatan dengan jelas gitu, mana siswa yang mutu sama yang enggak, mana yang ngandelin otak sama yang cuma ngandelin dengkul...!"
Seorang teman Friska yang agak melambai, namanya Dino membuat David sepertinya tersulut emosi. Hingga belum selesai Dino mengatakan kalimatnya, David sudah melempar sebuah buku yang ada di atas meja yang entah milik siapa itu ke arah Dino.
Dan seperti nya tidak puas karena buku itu hanya mengenai pinggang Dino karena dia mengelak tadi, David masih ingin maju. Tapi aku menahannya.
"David... David... stop!" ucap ku sambil menarik lengan David.
"Jangan halangin gue Ras, ni orang gak jelas bentuk dan rupanya banyak gaya bener ngomongnya. Eh Dini, ngapain lu pakai celana, harusnya lu tuh pakai rok, Rasti pinjemin rok lu buat dia!" ucap David terdengar sangat kasar.
Bukan hanya Dino yang membelalakkan matanya, tapi semua teman-teman Dino terlihat kesal dan marah.
"Eh, mulut lu disekolahin ya...!" teriak Dino tak terima.
"Gak ada bangku buat mulut sekolah be*go!" sela David tak mau kalah.
***
Bersambung...
__ADS_1