Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Kedatangan Tante Asti dan Sofie


__ADS_3

Setelah meletakkan tas sekolah ku di atas meja belajar, aku langsung masuk ke dalam kamar mandi. Awalnya hanya ingin cuci muka, tapi kurasa mandi akan lebih membuat pikiran dan juga tubuhku menjadi semakin segar.


Setelah mandi aku melihat ke arah cermin, seperti biasanya aku hanya pakai kaos pendek dan juga celana jeans di atas lutut. Aku melihat ke arah wajahku yang memang terlihat pucat, aku menambahkan sedikit polesan lips glossy ke bibirku. Tapi ketika mengoleskannya aku kembali teringat kejadian di dalam mobil pak Yoga tadi.


Wajahku memerah, aku tersipu sendiri. Itu adalah ciuman pertama ku. Dan pak Yoga adalah orang pertama yang membuatku tidak menolaknya. Perhatian, sikap dewasa pak Yoga membuat ku merasa tenang dan merasa terlindungi, membuatku merasa kalau di dekatnya itu adalah tempat paling nyaman bagiku.


Aku kembali menyentuh bibir ku ketika rasa itu kembali hadir disana. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan.


Aku keluar dari dalam kamar lalu menuruni anak tangga yang menjadi penghubung lantai satu dan dua rumah ayah. Aku segera menuju ke ruang tengah, dan disana kulihat Tirta sudah memasukkan semua kacang telur dalam bungkusan besar ke dalam bungkusan kecil.


"Wah, sudah selesai ya?" tanya ku takjub lalu duduk di sebelah Tirta.


Dia membungkus dengan sangat rapi, ukurannya juga terlihat sama. Aku baru tahu kalau Tirta yang ku anggap urakan selama ini begitu teliti dan perhatian.


"Ngapain aja sih, gue kira lu pingsan!" sahutnya ketus.


"He he, sorry gue tadi mandi dulu! terus gue ngapain?" tanya ku pada Tirta.


"Nih, lu pilih mau pake label yang mana. Gue buat beberapa, abis itu kita gunting terus masukin plastik baru di masuk kin ke produknya!" jelasnya memberitahu apa yang harus aku lakukan.


Aku lagi-lagi takjub dibuatnya. Aku tidak tahu kalau Tirta sampai memikirkan sedetail itu. Tadinya aku pikir akan langsung memasukkan labelnya di bungkusan kacang telur. Ternyata dia memikirkan untuk memasukkan ke dalam plastik kecil agar lebih higienis.


"Eh malah bengong, buruan pilih yang mana?" tanya nya lagi dan aku segera menunjuk ke label yang berwarna biru.


"Yang ini aja, labelnya sama kayak warna proposal gue!" jawab ku sederhana saja.


"Narsis!" celetuk nya.


Aku tidak menghiraukan apa yang dia katakan, tidak seperti biasanya aku akan marah. Karena dia membantuku, jadi aku tidak mempermasalahkan hal ini.


Tok tok tok


Suara ketukan di pintu membuat ku dan Tirta menoleh secara bersama-sama ke arah pintu.


Tok tok tok


Ketukan itu berulang dan makin keras saja. Aku berdiri dari posisi duduk ku, begitu pula dengan Tirta.


"Siapa sih? gak sabaran banget ngetuk pintunya!" gumam Tirta yang berjalan ke arah pintu.


Aku juga jadi penasaran kenapa orang itu mengetuk pintu dengan kencang seperti itu. Aku pun mengikuti langkah Tirta.


Ceklek


"Kalian siapa?" tanya Tirta dengan nada suara tidak senang.


Aku mendekat dan betapa terkejutnya aku melihat dua orang yang berdiri di depan pintu. Salah satu yang berada di belakang nya adalah orang yang baru ku temui tadi siang.


"Tante Asti!" ucap ku terkejut.


Tirta menoleh ke belakang, ke arahku dan bertanya.

__ADS_1


"Lu kenal mereka?" tanya Tirta santai.


Aku menganggukkan kepalaku dengan cepat.


"Iya, itu ibunya pak Yoga!" jawab ku sedikit gugup. Masalahnya Tirta juga tidak tahu hubungan ku dengan pak Yoga kan.


Tirta mundur dan membuka pintu dengan lebar.


"Silahkan masuk Tante!" ucap ku pelan.


Tirta menatap ku dengan penasaran, mungkin saja dia berfikir kenapa ibunya pak Yoga sampai datang ke rumah kami. Ada urusan apa? dan kenapa wajahnya terlihat tidak bersahabat.


Seorang wanita yang sangat cantik yang tadinya berdiri di depan Tante Asti, mundur dan memberikan Tante Asti jalan agar bisa masuk ke dalam rumah.


Tante Asti melangkah maju, dia terus menatap ke arah ku dan sesekali dia melihat ke arah Tirta yang juga melihat Tante Asti dengan tatapan tidak suka.


"Jadi ini rumah mu!" itulah kalimat pertama yang Tante Asti ucapkan setelah masuk ke dalam rumah.


Aku langsung menganggukkan kepala ku.


"Iya Tante, silahkan duduk!" ucap ku mencoba beramah tamah pada Tante Asti.


Tapi sepertinya dia tidak berniat untuk duduk, dia langsung menghampiri ku dan berdiri tepat di depan ku.


"Aku tidak tahu kenapa kamu punya masa lalu yang begitu buruk padahal kamu berasal dari keluarga yang berada..!"


"Nyonya, tolong jangan bicara sembarangan. Walaupun nyonya adalah ibu dari pak Yoga, tapi nyonya tidak berhak bicara seperti itu pada Rasti!" ucap Tirta memprotes ucapan Tante Asti, dia bahkan menyela nya.


Tapi ketika aku masih memikirkan itu, perempuan yang datang bersama dengan Tante Asti malah mendekati Tirta dan menatapnya dengan kesal.


"Jaga bicara mu, yang sopan kalau bicara dengan calon ibu mertua ku!" serunya tak kalah tinggi nada suaranya seperti Tirta tadi.


Aku melihat ke arah perempuan itu, aku mulai mengerti, rupanya dia itu Sofie. Calon istri kak Yoseph dan juga mantan kekasih pak Yoga.


"Kalian yang datang dengan tidak sopan dan bicara dengan tidak sopan...!"


Tirta mulai terbawa emosi, nada suaranya benar-benar meninggi. Aku tidak mau dia bertengkar dengan Tante Asti. Aku menarik tangannya yang sedang maju dan akan menghampiri Tante Asti.


Tirta menoleh ke arahku, dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku agar Tirta tidak maju dan bicara kasar pada Tante Asti.


Sofie terlihat menggandeng lengan Tante Asti dan berbisik padanya. Aku tidak bisa mendengarnya, aku rasa Tirta juga sama. Tapi setelah itu, Tante Asti mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya, dia mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dan tebal, dan meletakkan amplop itu di atas meja.


Tirta juga terlihat bingung, dia melihat ke arah ku dan ke arah amplop itu bergantian.


"Aku tidak akan berbasa-basi dengan kalian, akan aku katakan untuk pertama dan terakhir kalinya. Kamu Rasti, jauhi putraku Yoga. Putuskan hubungan mu dengannya, aku tidak mau menerima perempuan dengan masa lalu memalukan seperti mu menjadi anggota keluarga ku!" tegas Tante Asti dengan mata yang melotot padaku.


"Diam kamu!" bentak Tirta.


Aku sudah tidak tahu lagi harus bicara apa dan berbuat apa, kaki ku lemas. Seluruh tubuh ku terasa sakit saat mendengar Tante Asti mengatakan aku harus menjauhi pak yoga juga harus memutuskan hubungan ku dengannya. Aku tidak tahu apa salah ku, masa lalu apa yang dia bicarakan saja aku tidak tahu.


"Kamu yang diam!" bentak Sofie.

__ADS_1


"Siapa kamu ikut bicara, ini adalah masalah Rasti dengan calon ibu mertua ku?" tanya Sofie meremehkan Tirta.


"Lu yang siapa, gue kakak nya Rasti!" tegas Tirta tanpa rasa takut.


"Nah bagus sekali, kamu kakaknya kan. Maka ajari adik kamu ini dengan benar, dia masih sekolah tapi sudah melakukan hal-hal yang memalukan, apa kamu tahu dia bahkan sudah tidur dengan Yoga?" tanya Sofie membuat ku dan Tirta membulatkan mata kami tak percaya.


Tirta langsung melihat ke arahku, dan aku segera menggelengkan kepalaku dengan cepat. Aku tidak pernah melakukan itu, itu tidak benar.


"Tante, tapi itu tidak benar. Aku dan pak Yoga tidak pernah ..!"


Namun baru aku akan membela diri, Sofie itu dengan cepat berjalan ke arah ku dan mendorong ku.


"Hah, mana ada maling mau ngaku...! kalau bukan dengan Yoga, dengan siapa lagi kamu tidur?"


"Diam lu!" bentak Tirta lalu mendorong Sofie hingga jatuh ke lantai.


Aku terkejut dengan semua kejadian ini. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, tangan dan kaki ku gemetaran.


"Kalian kenal dengan dokter Dona Resmalia kan?" tanya Tante Asti dan membuat Tirta menoleh ke arah nya.


Aku melihat ke arah Tante Asti dan Tirta, aku tidak familiar dengan nama itu. Tau dari ekspresi Tirta. Kurasa dia mengenal nama itu.


"Dari wajah mu aku tahu, kamu mengenal nya! dia sudah menceritakan semua nya padaku. Aku akan diam dan tidak menyebar kan aib adik mu, tapi kamu harus pastikan kalau adik mu itu menjauhi putraku Yoga Adrian untuk selamanya, mengerti!" tegas Tante Asti pada Tirta.


Tirta yang awalnya begitu menggebu-gebu emosi, kini hanya diam dan menatap lirih ke arah ku.


Tante Asti lalu kembali mendekati ku.


"Jauhi putraku, dia terlalu berharga untuk sampah seperti mu!" bisik nya di telingaku.


Jeger


Bak petir disiang bolong, aku tak percaya kata itu keluar dari seorang yang telah melahirkan lelaki yang paling aku cinta di dunia ini.


"Anggap saja uang itu sebagai ganti rugi karena putraku sudah bermain-main dengan mu!" ucap Tante Asti sambil melangkah menuju pintu.


Aku masih berdiri di tempat ku, mataku hanya menatap ke satu arah, dan itu adalah lantai. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku, tapi enggan untuk tumpah.


Tirta berjalan dengan cepat, meraih amplop di atas meja dan melemparkannya ke luar pintu.


"Ambil itu, aku juga tidak akan membiarkan adikku mempunyai hubungan dengan keluarga miskin akhlak seperti kalian... pergi!" ucap Tirta yang mendorong Sofie dan Tante Asti keluar dari pintu dan menutupnya, lalu menguncinya dengan cepat.


Blam


Suara pintu yang tertutup dengan kasar. Dan bersamaan dengan suara pintu itu aku merasa kepala terasa sangat sakit, mataku gabur dan berkunang-kunang.


Brukk


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2