
Dan disini lah aku sekarang, di toilet yang berada di belakang laboratorium kimia. Tempat yang jarang di kunjungi oleh siapapun.
Bagusnya tadi pak sabar masih memperbolehkan aku memilih toilet mana yang mau aku bersihkan. Dan aku memilih toilet yang memang jarang ada siswa ataupun guru yang akan memasukinya kecuali untuk ganti pakaian seragam dengan pakaian olahraga ataupun sebaliknya, karena aku juga sering berganti pakaian olahraga di toilet ini.
"Ini tuh gara-gara si David, awas aja tuh anak entar kalau ketemu!" omel ku sambil terus membersihkan lantai dan dinding toilet.
Tapi setelah mengingat kejadian tadi, aku langsung berubah pikiran dan menggidikkan bahu ku.
"Iyuh, gak jadi deh. Mendingan gak usah ketemu ma tuh orang yang otaknya udah gesrek!" gumam ku lagi.
Sudah hampir semua bagian aku bersihkan, setelah itu aku mencuci tangan ku dengan sabun cair yang tersedia di tepi wastafel yang ada dalam toilet, tidak hanya satu kali, aku bahkan mencuci tangan ku berkali-kali sampai ke siku.
"Beres, hah... anggep aja amal deh!" gumam ku lalu keluar dari toilet.
Menghirup udara segar di luar toilet yang merupakan taman belakang sekolah. Aku tidak beranjak dan malah duduk di pembatas jalan yang ada di area itu. Masalahnya pak Sabar belum datang, aku harus menunggunya datang dulu baru pergi dari tempat ini.
Sambil menunggu, aku meraih ponsel yang berada di dalam tas ku. Aku melihat panggilan tak terjawab yang begitu banyak dari kak Yoga juga Yusita dan yang lain. Beberapa pesan dari kak Yoga juga ada, tapi aku tidak memperdulikan nya.
Aku masih kesal padanya, kenapa dia begitu dekat dengan Bu Tari. Bahkan mereka terlihat sangat akrab. Ku dengar mereka juga akan bernyanyi duet nanti untuk acara perpisahan kelas dua belas.
Aku malah mendengar hal itu dari Jessica, ketua OSIS. Sejak semalam dia mengirim banyak pesan dan juga menelpon, tapi tidak aku angkat. Dan pesannya juga tidak aku baca.
📱Rasti lu dimana? gue sama yang lain di kantin
Seperti itulah pesan yang dikirim oleh Yusita. Aku langsung membalas pesan itu.
📱Gue lagi bersihin toilet, di hukum sama pak sabar gara-gara nabrak dia. Gue gak ke sana
Begitulah balasan ku, tapi baru aku akan simpan ponsel ku ke dalam tas, ponsel ku berbunyi lagi.
📱Di toilet mana, kita ke sana ya?
📱Gak usah, udah kelar kok. Lagi nunggu pak Sabar.
__ADS_1
📱Kita bawain Boba ya, tunggu bentar. Tapi di toilet mana?
Aku membaca pesan Yusita itu sambil tersenyum, ketiga teman ku itu memang sangat baik.
📱Maacih banyak ya, gue di depan toilet yang ada di belakang laboratorium kimia.
📱Oke, kita otewe.
Setelah itu aku langsung menyimpan kembali ponsel ku ke dalam tas. Tak lama setelah itu pak Sabar datang, dan aku segera bangkit berdiri lalu berjalan ke arahnya.
"Siang pak, saya sudah selesai bersihin toilet nya!" ucap ku dengan sopan.
Pak sabar hanya manggut-manggut saat memeriksa ke dalam toilet. Lalu dia segera keluar dan berkata,
"Bagus, kamu bisa kembali ke kelas kamu. Sebentar lagi jam istirahat berakhir, lain kali jangan lari-lari kalau bukan saat jam olahraga!" ucap pak Sabar.
Aku mengangguk mengerti, dan pak Sabar pun akhirnya pergi dari tempat itu. Aku kembali duduk di tempat ku tadi menunggu Yusita dan yang lain. Tapi tiba-tiba saja aku merasa mendengar suara dari sisi lain laboratorium kimia.
Tapi saat aku sedang serius memperhatikan tingkah Lutfi, pundak ku terasa berat. Aku hampir terjingkat, untung saja tidak terjengkang karena kaget.
"Rasti, lu ngapain?" suara itu terdengar sedetik setelah aku berjingkat karena kaget.
Aku langsung menoleh dan menarik tangan orang itu yang ternyata adalah Yusita.
"Sini, cepat!" ajak ku pada Yusita menjauh dari tempat ku tadi.
"Kenapa lu Ras?" tanya Dewi.
"Nih Boba lu?" ucap Nina lalu menyodorkan segelas Boba padaku.
Aku langsung meraih Boba itu lalu menusuk penutup nya dengan sedotan besar yang juga ada di tangan Nina tadi. Aku meminumnya dan hampir habis setengah gelas.
"Haus banget lu!" seru Dewi.
__ADS_1
Aku langsung duduk, karena lutut ku sangat lemas. Bahkan kali ini aku merasa dahi ku berkeringat, padahal saat membersihkan toilet tadi aku tidak berkeringat.
"Lu kenapa sih, kayak abis lihat...!"
"Ssstt!" sebelum Dewi selesai dengan apa yang ingin dia katakan aku menghentikan nya dengan meletakkan jari telunjuk ku di depan bibirnya.
"Apaan sih Ras! mau sok romantis lu. Aneh!" ujarnya sambil menggidikkan bahunya.
"Bukannya gitu, tapi jangan sebut yang aneh-aneh disini. Yuk lah balik ke kelas masing-masing!" ucapku mengajak mereka pergi dari tempat itu setelah aku merasa lutut ku sudah tidak lemas lagi.
Kami pun meninggalkan tempat itu, tanpa berbalik dan tanpa membahas apapun tentang apa yang aku lihat tadi.
Aku memang sering dengar kelakuan Lutfi yang seperti itu, tapi aku yakin selama aku tidak mengganggu siapapun, siapapun dan apapun juga tidak akan pernah mengganggu ku.
Aku sudah tiba di ruang kelas dan aku segera duduk di bangku ku. Tapi aku lagi-lagi dibuat terkejut, saat melihat Luthfi sudah ada di bangkunya yang berada di sebelah ku.
Aku perlahan melihat ke arah Luthfi yang sedang tiduran dengan menjadikan kedua tangannya yang dilipat di atas meja sebagai bantal.
"Eh Luthfi, lu sejak kapan ada disini?" tanya ku perlahan.
Orang yang sedang ku tanya itu lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ku.
"Gue dari tadi gak kemana-mana! gue dari tadi disini aja. Tapi jangan takut, benar apa yang lu pikirin kalau lu gak ganggu, maka mereka juga gak akan ganggu. Pura-pura aja gak lihat apa-apa!" ucap Lutfhi lalu kembali menundukkan kepalanya seperti semula.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, tapi setidaknya apa yang dikatakan Luthfi membuat ku sedikit merasa tenang.
"Selamat siang semuanya!" sapa sebuah suara yang aku sangat familiar dan membuat ku langsung menoleh ke arah sumber suara itu.
"Kak Yoga!" gumam ku pelan bahkan nyaris tak terdengar.
***
Bersambung...
__ADS_1