
Aku sungguh terkejut melihat kak Yoga berjalan cepat menghampiri ku dan juga dokter Andika. Aku segera berbalik dan menghampiri kak Yoga.
"Kak Yoga!" sapa ku.
"Jadi ini alasan kenapa seharian ini kamu tidak mengangkat telepon dariku?" tanya kak Yoga dengan wajah yang tidak bersahabat.
Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.
"Bukan begitu kak, ponsel ku ada di kamar, aku lupa bawa. Tadi itu...!"
"Bukankah kamu sudah membuat janji dengan ku. Tidak bisakah sekedar mengabari. Apa kamu tahu betapa paniknya aku memikirkan mu, memikirkan apa yang terjadi padamu?" tanya kak Yoga dengan tatapan kecewa yang terlihat jelas.
Aku tidak bisa untuk tidak menangis. Aku juga sedih, aku juga menyesalkan kenapa aku sampai lupa membawa ponsel tadi. Aku harusnya mengirim pesan padanya semalam tapi itu tidak aku lakukan karena berpikir akan menelponnya pagi-pagi. Tapi aku malah bangun kesiangan, dan akhirnya harus buru-buru pergi dengan dokter Andika.
"Kak Yoga, aku minta maaf. Aku tahu aku salah, seharusnya semalam aku memberitahukan padamu, kalau hari ini aku tidak bisa pergi dengan mu. Maafkan aku!" ucap ku lirih sambil menundukkan kepala ku.
Kak Yoga beberapa detik masih diam, lalu setelah itu dia kembali berkata dengan nada yang lumayan tegas.
"Jadi kamu lebih memilih pergi dengan dokter itu daripada aku?" tanya kak Yoga.
Aku belum menjawab, baru akan membuka mulutku. Tapi dokter Andika tiba-tiba mendekati kami dan menyela ku.
"Memangnya kenapa kalau dia memilih pergi dengan ku, kami juga bulan depan akan segera bertunangan!" ucap dokter Andika membuatku langsung melotot ke arahnya.
Apa-apaan dia, dia bukannya membantuku menjelaskan pada kak Yoga, tapi malah membuat suasana semakin tegang, dia memperkeruh keadaan.
Kak Yoga menatapku penuh kecewa, aku lihat matanya merah dan berkaca-kaca.
Aku segera menggelengkan kepala ku dengan cepat dan berusaha menarik lengannya. Tapi dia langsung menepisnya.
"Bilang padaku kalau apa yang dia katakan itu tidak benar, Rasti!" seru kak Yoga.
Aku bingung harus bagaimana, ayah bahkan sudah setuju dan pernikahan ku sudah di tetapkan tahun depan dengan dokter Andika. Aku harus bagaimana sekarang.
Kak Yoga melihat ke arahku, aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak mau menyakiti kak Yoga, aku juga tidak mau menyinggung dokter Andika karena karir ayah juga sedang di pertaruhkan.
"Oh, jadi seperti ini, aku tidak menyangka ini darimu Rasti. Bukankah kita saling mencintai? Apa ini alasan kamu tidak mau aku mengatakan tentang hubungan kita pada ayah dan keluarga mu?" tanya kak Yoga yang sudah mulai matanya berkaca-kaca.
Aku bahkan sudah terisak. Melihat ku seperti ini, dokter Andika maju dan memegang ke dua pundak ku.
"Jangan menangis Rasti" ucap nya pelan.
"Jangan sentuh kekasih ku!" pekik kak Yoga membuat ku terjingkat ke belakang.
__ADS_1
Aku melihat tatapan matanya berubah tajam, dan menarik tangan dokter Andika yang menyentuh pundak ku itu dan langsung memukulnya dengan keras.
Bhugh
Aku menutup mulutku yang menganga dengan tangan. Aku tak menyangka kalau kak Yoga akan memukul dokter Andika.
Dokter Andika jatuh, tapi dia kemudian bangkit berdiri dengan cepat. Terlihat jelas kalau dia tidak terima di pukul seperti itu oleh kak Yoga. Di mendekati kak Yoga dan memukulnya.
Bhugh
"Kak Yoga!" aku berteriak.
Kak Yoga nyaris terjatuh, dia sudah terhuyung ke belakang. Aku berlari mendekati kak Yoga tapi tangan ku seperti ada yang menahannya dari arah belakang. Aku pun segera menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ketika aku lihat yang memegang tangan ku adalah ayah ku.
"Ayah" lirih ku.
Ayah menggelengkan kepalanya perlahan.
"Ayah, kak Yoga...!"
"Masuk ke dalam!" perintah ayah padaku.
"Tapi ayah, aku mau katakan kalau aku dan yoga, kami saling...!"
Ibu dan kak Tirta yang juga berada di belakang ayah kemudian mendekatiku dan memintaku masuk ke dalam rumah. Aku yang menangis terisak terus melihat ke arah kak Yoga.
Wajahnya terluka, ada lebam di pipi kirinya. Itu pasti sakit sekali.
"Rasti sudahlah, turuti ayah mu. Ayo masuk nak!" ucap ibu berusaha menasehati ku.
Aku menatap kak Tirta, dia lah yang mengetahui betapa aku menyukai dan menyayangi kak Yoga.
"Kak tolong, minta saja kak Yoga pergi. Jangan sampai dia kenapa-napa!" pintaku sambil berbisik pada kak Tirta.
"Maaf Rasti, ayah sudah tahu. Yoga tadi ke rumah. Dan dia mengatakan sendiri semuanya pada ayah. Ayah sudah mengusirnya karena kesal pada perbuatan ibu dan kakak iparnya, tapi Yoga bersikeras menunggu mu!" jelas kak Tirta yang makin membuatku mencemaskan kak Yoga.
Aku menoleh sekali lagi ke belakang, tapi kak Yoga tak terlihat. Terhalang oleh ayah dan dokter Andika.
Aku lalu masuk ke dalam, ibu menutup pintu dan jendela, bahkan tak membiarkan ku mengintip. Aku terus mondar-mandir di belakang pintu berharap kak Yoga baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, ayah dan dokter Andika masuk ke dalam rumah.
"Rasti!" panggil ayah.
__ADS_1
Aku segera berjalan mendekatinya, tapi setelah berada di depan ayah, aku menundukkan kepala. Aku sadar aku salah, karena tidak jujur pada ayah.
"Pria itu sudah pergi, ayah sudah mengatakan padanya kalau hubungan mu dengan nya sudah berakhir!" kata ayah.
Deg
Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah ayah dengan air mata yang kembali menggenang di pipi ku.
"Kita akan pindah ke Surabaya, proyek Dream land akan di lanjutkan disana. Kamu akan selesaikan kelas dua belas mu di Surabaya, setelah itu kamu menikah dengan nak Andika" tegas ayah.
Aku terdiam, terpaku di tempat ku. Kami bahkan akan pindah ke Surabaya.
"Ayah, tolong ijinkan sekali saja aku bertemu dengan kak Yoga, aku mohon!" pintaku sambil terisak.
Ayah melihat ke arah dokter Andika, dan dokter Andika menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa Rasti. Keputusan sudah di buat, kembali ke kamar bereskan barang-barang mu. Besok pagi kita pindah ke Surabaya!" seru ayah lagi.
Aku terduduk lemas di lantai, ibu Rita langsung menghampiri ku dan ikut berjongkok untuk terus berusaha membuat tangis ku berhenti.
"Sayang, sabar nak. Ini semua demi kebaikan mu!" ucap ibu Rita lembut.
"Ibu mu benar, ayah melakukan semua ini demi kebaikan dan kebahagiaan mu nak, Ibu mertua yang sejak awal sudah bersikap seperti itu padamu, selamanya tidak akan pernah kamu bisa bahagia dan langgeng bersama dengan putranya!" sambung ayah.
***
Keesokan harinya, aku sudah berada di bandara. Aku bahkan tidak sempat pamit pada Nina, Dewi dan Yusita.
Air mataku terus mengalir, dan aku terus melihat ke arah pintu masuk bandara. Kalau saja ada keajaiban dan kak Yoga datang. Tapi ternyata tidak.
Sampai aku harus naik dan masuk ke dalam pesawat pun, aku tidak melihat kak Yoga. Aku masih terus menangis, ibu Rita yang duduk di sebelah ku juga terus mengelus pundak dan lengan ku agar aku berhenti menangis.
'Kak Yoga, maafkan aku!' batin ku.
***
...TAMAT...
...Terimakasih banyak buat para readers yang sudah setia mendukung dan membaca karya author Pak Guru, Love You. ...
...Dari awal bikin garis besarnya, emang Rasti sama Yoga Adrian di season ini gak bisa bersatu. Jadi jangan baper ya gaess......
...Terimakasih banyak ❤️❤️❤️...
__ADS_1