Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Ternyata Yusita Alergi


__ADS_3

Tirta POV


Aku masih menggenggam ponsel Rasti, aku sedang memikirkannya. Aku sangat mencemaskan nya. Bibi bilang kalau Yusita teman adik ku yang sedang pingsan ini tadi memberitahukan padaku, kalau Rasti sedang pergi mengantarkan seorang guru yang sedang sakit ke rumah sakit.


Tapi aku tak tahu dia kerumah sakit mana, dan siapa guru yang sakit itu. Sementara sebentar lagi seharusnya dia les tambahan, dan guru nya kemungkinan juga akan datang sebentar lagi.


Tapi bagaimana aku akan bisa menjemput nya kalau aku tidak tahu dia ada dimana, di rumah sakit mana.


Aku merasa cemas karena aku sudah berjanji pada ayah dan ibu akan menjaga Rasti dengan baik. Aku terus memperhatikan gadis yang sedang pingsan ini, tadi aku sempat memeriksa suhu tubuhnya. Dan ku rasa suhu tubuhnya biasa saja. Tapi memang wajahnya kelihatan pucat, apa dia lapar.


"Bi, bibi!" panggil ku pada bibi yang beru saja masuk ke dapur.


"Iya tuan!" jawab bibi sebelum sampai di dekat ku.


"Tolong buatkan bubur ya, takutnya Yusita pingsan karena lapar!" seru ku pada bibi.


Bibi langsung mengangguk kan kepalanya dengan cepat.


"Baik tuan!" jawab nya lalu kembali masuk ke dapur.


Aku masih terus mengolesi telapak tangan Yusita yang terasa dingin dengan minyak angin yang tadi di berikan oleh bibi. Minyak angin ini hanya hangat dan tidak panas, kurasa si oleskan agak banyak tidak masalah kan. Aromanya sedikit menyengat, akhirnya ku pikir untuk mengoleskan nya ke sela hidung dan bibir atas Yusita, agar dia bisa menghirup aroma cengkeh ini dan segera bangun dari pingsannya.


Dan ternyata benar, setelah aku oleskan ke bawah hidungnya, aku melihat dia mengernyitkan matanya dan tak lama, tangannya bergerak. Dia membuka matanya dan aku langsung menutup botol minyak angin ini dan aku letakkan ke atas meja.


"Kamu sudah sadar?" tanya ku padanya.


Dia berusaha untuk duduk rapi terlihat sempoyongan sambil memegangi kepalanya. Aku pun berinisiatif untuk membantunya duduk.


"Kak Tirta!" ucapnya dengan suara yang masih lemah.


"Saya kenapa?" tanya nya bingung sambil melihat ke sekeliling dan ke arah selimut yang dia pakai.


Aku tersenyum padanya agar dia tidak panik.


"Kamu tadi pingsan di depan pintu, pas saya juga baru datang. Saya bawa kamu kesini! kenapa kamu pingsan, kamu sakit?" tanya ku padanya.


Dia menggelengkan kepalanya.


"Seperti nya kadar oksigen di kepala saya hanya berkurang, jadi mungkin karena itu saya pingsan!" jawab nya.

__ADS_1


Aku memang tidak begitu mengenal teman-teman Rasti, tapi dari ketiga nya aku rasa Yusita ini yang paling normal di antara yang lain. Tapi setelah aku mendengar jawaban nya barusan aku rasa pendapat ku tadi salah. Tidak ada satupun dari teman-teman Rasti yang normal.


"Bisakah, gunakan bahasa yang sederhana saja dan mudah untuk ku pahami?" tanya ku dengan suara pelan. Aku tak mau menyinggung nya karena dia baru saja sadar.


"Saya pusing kak, karena itu saya pingsan!" jelasnya.


Dan akhirnya aku paham,


"Oh begitu, tapi terimakasih ya karena kamu telah mengantarkan tas dan ponsel Rasti. Kalau saya boleh tahu dia mengantarkan siapa dan kerumah sakit mana?" tanya ku padanya.


Yusita terlihat masih memijat kepala nya, dan melihat ke arah ku setelahnya.


"Pak Yoga tiba-tiba sakit perut, dan Rasti mengantarkannya ke rumah sakit, karena kebetulan Rasti ada di sana waktu itu. Tapi kerumah sakit mana saya juga tidak tahu, pak Yoga bilang setelah dia membaik, dia akan mengantar kan Rasti pulang!" jelas Yusita panjang lebar.


"Non, ini buburnya!" seru bibi yang sudah datang dengan membawa semangkuk bubur dan meletakkan nya di atas meja.


"Terimakasih bi!" ucap ku


Dan aku lihat Yusita bingung lagi.


"Maaf ya kak, saya malah merepotkan!" ucap nya kemudian.


Yusita terlihat berusaha untuk merubah posisinya menjadi posisi duduk. Dan mencoba meraih mangkuk bubur itu, tapi sepertinya dia masih gemetar. Aku berinisiatif untuk mengangkat mangkuk itu untuknya.


"Aku bantu ya?" tanya ku menawarkan bantuan.


Tapi ketika aku mengatakan itu, Yusita malah mengerjapkan matanya pelan dan memandang ku dengan seksama.


"Yusita!" panggil ku


"Ah, iya kak. Terima kasih!" ucap nya dan aku lihat pipinya memerah.


Aku jadi ingin tertawa melihatnya, wajah gadis ini oriental dan ketika tersipu seperti itu pipinya jadi makin chubby meskipun sebenarnya dia ini termasuk kategori kurus walau tidak sekurus Rasti.


Aku menyuapi Yusita, dan selama aku menyuapinya hingga isi mangkuk ini habis, dia hanya menunduk dan tidak berani melihat kearah ku, kurasa bukan tidak berani, tapi dia malu.


'Kurasa dia memang pingsan karena lapar!' batin ku


Aku meletakkan mangkuk kosong di atas meja, dan memberikan nya obat. Tapi ketika melihat wajahnya aku terkejut. Yang merah bukan hanya pipinya saja, tapi pelipisnya, di bawah hidungnya dan dahinya juga memerah.

__ADS_1


"Yusita apa kamu baik-baik saja?" tanya ku padanya.


Dia malah terlihat bingung dengan pertanyaan ku.


Dia kemudian meraih cermin dari dalam tas nya dan bercermin.


"Aghkk!" pekik Yusita membuat ku ikut panik.


"Aroma apa ini?" tanya nya kemudian mengendus telapak tangannya yang juga sudah memerah.


"Kak Tirta, gak kasih saya minyak cengkeh kan?" tanya nya panik.


Aku jadi ikut panik, karena yang aku oleskan padanya itu memang adalah minyak cengkeh. Aku lalu menunjuk ke arah meja, ke arah botol yang jelas terdapat label minyak cengkeh.


"Maaf Yusita, saya tidak tahu. Apa kamu alergi dengan minyak itu?" tanya ku dan gadis yang terlihat sangat sedih itu mengangguk kan kepalanya.


Aku langsung meminta bibi mengambilkan kain dan air hangat, aku bermaksud untuk membersihkan minyak yang melekat pada kulit Yusita.


"Saya akan bersihkan!" seru ku merasa sangat bersalah.


Yusita menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah kak, saya pikir ini sudah terlanjur. Saya pulang saja, di rumah ada obat alergi yang biasa saya minum." serunya sambil memakai kaos kaki.


Aku jadi semakin bersalah, karena aku melihat kakinya yang sangat putih itu juga memerah, dan merahnya itu seperti ruam ruam yang sangat lebar dan besar.


"Saya pulang kak, permisi!" ucapnya berpamitan.


"Yusita, saya antar ya. Saya akan jelaskan pada kedua orang tua kamu tentang ruam di kulit mu itu!" seru ku yang sungguh tidak enak hati.


"Saya ada supir kak!" sahutnya.


"Tidak apa-apa, saya akan mengikuti kamu dari belakang, saya akan jelaskan pada orang tua kamu!" seru ku kemudian mengikuti langkah Yusita keluar dari rumah ayah Rudi.


Tirta POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2