
Yoga Adrian POV
Awalnya aku sangat tidak sabar untuk mempertemukan ibuku dengan Rasti, aku juga sudah meyakinkan Rasti yang awalnya sempat ragu dan takut bertemu dengan ibuku saat hubungan kami memang masih sangat baru.
Tapi aku akhirnya membuat Rasti yakin dan mau menemaniku bertemu dengan ibuku. Namun ketakutan Rasti kalau ibuku tidak akan menyetujui hubungan kami ternyata terbukti benar. Saat aku dan Rasti datang, ibuku terlihat tidak menyambutnya dengan baik. Tapi aku masih berusaha meyakinkan diriku kalau mungkin saja itu karena Rasti memang masih SMA.
Tapi ternyata tidak seperti itu, setelah Rasti pergi ke kamar pas untuk mencoba gaun yang akan di pakainya dalam resepsi pernikahan kak Yoseph, ibu mulai mengatakan apa yang dia pikirkan tentang Rasti.
"Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang lebih dewasa dari dia?" tanya ibu ku yang benar-benar menunjukkan kalau dia tidak menyetujui Rasti menjadi pacar ku.
"Ibu jangan bicara begitu, aku sangat menyayangi nya! dia itu gadis baik, dia sangat jujur, dia itu apa adanya dan yang lebih penting dia selalu bisa membuat ku bahagia!" jelas ku pada ibuku tentang perasaan ku pada Rasti.
"Tapi lihat dia Yoga, dia sangat kurus seperti gadis tidak terawat. Atau jangan-jangan apa yang dikatakan Sofie itu benar?" tanya ibuku dengan tatapan penuh curiga padaku.
"Apa yang dikatakan Sofie?" aku menyela dengan cepat.
"Dia bukan gadis baik-baik, apa dia memang meminum pil pencegah kehamilan sampai berefek pada tubuhnya seperti itu?" tanya ibu ku.
Aku terkejut, aku bahkan tidak bisa berkata-kata lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku berkali-kali tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh ibuku.
"Apa ibu menilai ku serendah itu? apa mungkin aku menyentuh kekasih ku yang bahkan baru berusia tujuh belas tahun?" tanya ku lirih pada ibuku.
Aku sungguh tidak mempercayai ini, ibu lebih percaya pada Sofie yang bahkan tidak lebih baik dari apa yang dia katakan. Ibu ku bertanya apakah kekasih ku meminum pil pencegah kehamilan, bukankah itu sama saja dengan dia mengatakan aku ini bukan pria baik-baik yang mau menyentuh wanita sebelum kami terikat janji pernikahan.
Mendengar apa yang aku katakan, ibuku langsung merangkul ku dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Bu.. bukan begitu nak. Ibu tidak bicara tentang kamu. Dia mungkin punya mantan pacar dan...!"
"Ibu cukup, akan aku katakan pada ibu. Rasti bukan perempuan seperti itu. Dia gadis baik, dari keluarga baik-baik. Dan aku lah pacar pertama nya, jangan kan melakukan hal yang tidak-tidak Bu, mencium nya saja aku belum berani. Dan dia juga tak akan mengijinkan aku melakukan itu padanya!" jelas ku pada ibuku. Aku ingin ibuku tahu pemikiran nya itu semua tidak benar.
"Tapi Sofie bilang kamu dan dia..!"
"Aku tidak percaya ini, ibu bahkan percaya pada omongan perempuan yang bahkan sebelum menikah sudah mengaku kalau dia tidur dengan kak Yoseph! coba ibu pikir lagi! ibu lebih percaya pada ucapan ku atau pada perempuan seperti itu?" tanya ku membuat ibuku tertunduk dan terdiam.
Aku tidak menyangka kalau selama ini aku pernah jatuh cinta pada perempuan seperti Sofie, perempuan licik yang bahkan dengan mudah memfitnah perempuan lain sekeji ini. Dia bahkan mengatakan gadis polos seperti Rasti adalah perempuan yang seperti tidak punya rasa malu dan harga diri. Aku sungguh akan buat perhitungan dengannya suatu saat nanti.
Aku sungguh berharap, ibu tidak mengatakan semua ini pada Rasti. Aku tahu dia akan sangat terluka mendengar semua ini. Aku juga akan sedih kalau dia sedih. Ibu masih terus diam, ketika pelayan butik yang pergi bersama Rasti tadi datang dan menyapa ku.
__ADS_1
"Maaf tuan Yoga, nona Rasti memanggil anda, dia seperti nya mengalami sedikit kesulitan..!"
Aku tidak perlu menunggu pelayan bernama Prita itu selesai bicara, aku langsung berdiri dan mendekatinya.
"Tolong tunjukkan jalannya!" ucap ku
Prita langsung berjalan dan aku mengikuti nya ke sebuah ruangan lain tak jauh dari tempat dimana ibuku berada. Aku melihat Rasti mengintip dari pintu kamar pas. Aku pun mendekatinya dan bertanya.
"Kamu sedang apa?"
Dia perlahan keluar dari balik pintu, dan ketika dia keluar baju yang dia pakai terlihat sangat kebesaran dan menenggelamkan tubuhnya yang kecil itu.
"Lihat lah, aku kelelep dalam baju ini!" protesnya.
"Pffttt!" aku tidak bisa untuk tidak tertawa. Dan saat aku tertawa aku melihatnya sangat kesal dan cemberut.
"Tuh kan di ketawain, gak mau ah pakai baju ini!" keluhnya lebih seperti merengek.
"Maaf sayang, tapi kamu memang harus memakai nya. Atau kita bisa rubah saja modelnya!" ucap ku.
"Bisa kan?" tanya ku
Prita dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Bisa, nona mau di rumah bagaimana. Saya akan catat!" ucapnya sambil mengambil note kecil dan sebuah pena dari saku nya.
"Mau dipotong aja, jangan sepanjang ini. Segini nih!" ucapnya sambil meletakkan tangannya di atas lutut.
"Jangan, tolong selutut saja atau sedikit di bawah lutut!" sela ku cepat. Aku tidak mau dia pakai gaun di atas lutut.
Meski sedikit mencebikkan bibirnya, dia akhirnya setuju.
"Ya udah, terus belakangnya kasih pita ya, biar cantik!" ucap Rasti lagi.
Aku hanya terkekeh mendengar apa yang dia katakan. Ku lihat pelayan itu selesai mencatat.
"Baik nona, saya akan katakan ini pada nyonya Asti dulu!" ucapnya lalu pergi.
__ADS_1
"Aku ganti dulu ya!" ucap Rasti lalu masuk ke dalam kamar pas lagi.
Saat dia berbalik, aku menahan tangannya.
"Mau aku bantu?" tanya ku menggodanya.
Tapi dengan cepat dia langsung menarik tangannya.
"Eh, ngomong apa? gak malu tuh sama titel! awas ya jangan ngintip!" ucapnya sedikit mengancam.
Aku hanya tersenyum melihat nya masuk ke kamar pas. Aku menundukkan kepalaku, rasanya aku tidak tahu harus bagaimana menjelaskan pendapat ibuku pada Rasti tentang dirinya. Aku harap dia tidak bertanya, karena jika dia bertanya. Aku mungkin harus berbohong padanya.
"Tuan, nyonya Asti setuju!" ucap Prita yang mengejutkan aku.
"Oh baiklah, ibu masih disana?" tanya ku pada Prita.
"Masih, dia bersama dengan nyonya Dona! permisi tuan!" ucap Prita lalu pergi.
Ceklek
Rasti membuka pintu dan dia sudah kembali memakai seragam sekolahnya.
"Sudah selesai kan?" tanya nya dan aku langsung mengangguk dengan cepat.
"Sudah, kita temui ibu dulu. Nanti kita baru ke supermarket cari kacang telur!" ucap ku dan itu membuat Rasti tersenyum.
Kami menghampiri ibu ku yang sedang mengobrol dengan Tante Dona, seorang psikiater terkenal di kota ini.
"Rasti!" panggil Tante Dona.
Aku sangat terkejut, bagaimana Tante Dona bisa mengenal Rasti. Tapi anehnya Rasti malah bingung, seperti tidak mengenal Tante Dona.
Yoga Adrian POV end
***
Bersambung...
__ADS_1