Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Tamu tak di Undang


__ADS_3

Aku dan Tirta baru saja selesai makan malam, ketika bel rumah berbunyi. Bibi yang sedang membersihkan meja makan menghentikan aktivitas nya karena akan membukakan pintu untuk tamu yang datang.


"Bibi, biar Rasti aja yang bukain pintunya!" seru ku dan bibi langsung mengangguk paham.


Aku segera berjalan menuju ke pintu utama rumah, aku juga penasaran siapa yang datang pada jam segini, tapi ketika aku hendak membukakan pintu. Tangan ku yang sudah memegang handle pintu aku tarik lagi ke arah dadaku.


"Wah, ini kan malem jum-at. Siapa yang dateng, mana cuma bunyiin bel doang! gak ada suaranya, buka enggak ya?" gumam ku masih bimbang antara membuka pintu atau tidak.


Masalahnya sejak tadi tamunya hanya membunyikan bel, biasanya kan ada juga yang mengetuk pintu, tapi ini tidak. Biasanya juga sambil membunyikan bel itu dari luar bersuara, memanggil ada orang atau tidak, dan ini pun juga gak ada suaranya.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah.


"Ah gak usah di buka deh!" gumam ku lagi lalu berbalik.


"Aghkk!" pekik ku kaget.


"Apaan sih?" tanya Tirta dengan kesal.


Aku berteriak karena ketika aku berbalik tadi, Tirta ada di hadapan ku. Aku terkejut sekali, aku kaget, sejak kapan dia berdiri di belakang ku.


"Ih, lu tuh ya, bener-bener kayak gerandong tahu gak! tahu-tahu nongol aja. Kaget gue!" protes ku pada Tirta.


"Lagian lu mau buka pintu aja lama bener pake drama segala lagi, buka enggak buka enggak! kenapa lu?" tanya nya dan langsung melangkah mendekati pintu.


Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku takut kan, bisa tengsin aku sama nih gerandong satu.


"Itu.. bel nya udah gak bunyi! mungkin orangnya udah pulang. Jadi ngapain gue buka pintunya!" ucap ku beralasan.


Dan ketika aku baru saja menyelesaikan kalimat itu, bel nya berbunyi lagi.


Ting tong


'Aih, kenapa juga bel nya mesti bunyi lagi!' keluh ku dalam hati.


"Nah, masih bunyi, berarti orangnya masih ada di luar kan?" tanya Tirta padaku.


Tirta mulai memegang anak kunci dan memutar nya, tangan satunya lagi bersiap untuk membuka pintu. Aku memperhatikan Tirta dari belakang, mendadak suasana kenapa jadi horor begini ya. Mungkin karena tadi aku bertemu dengan Lutfhi di sekolah, dia kan rajanya horor.


"Malam kak!" sapa seseorang yang aku tahu benar suaranya.

__ADS_1


"Marco!" pekik ku tak percaya.


Tirta menoleh.


"Bisa biasa aja gak ngomongnya, pengang nih kuping gue!" protes Tirta.


"Ini jam delapan malam loh, ngapain kamu kesini?" tanya Tirta yang terdengar seperti sedang menjadi seorang kakak yang posesif pada adiknya.


Dan baru kali ini rasanya aku setuju pada sikap Tirta, aku memang tidak suka melihat Marco malam ini. Dan apapun keperluan nya dengan ku, itu pasti akan sangat merepotkan aku.


"Begini kak, saya dan Rasti kan satu kelompok. Nah tugas nya itu kan bikin proposal bisnis, dan tugas itu harus di kumpulkan paling lambat lusa. Artinya kami harus mengerjakan nya besok kan? tapi... kebetulan besok saya dan ayah saya ada acara di gereja. Jadi tidak bisa mengerjakan tugas! saya pikir...!"


"Stop.. stop... stop... panjang banget ya penjelasan lu, gak bisa langsung intinya aja gitu?" tanya Tirta dan aku jadi terkekeh di belakangnya.


Baru kali ini aku bisa terkekeh karena ucapan Tirta, mungkin memang peribahasa itu benar adanya kalau musuh dari musuh kita itu artinya adalah teman. Jadi karena aku merasa Marco itu menyebalkan, dan Tirta juga merasakan hal yang sama, maka aku bisa sependapat dengan Tirta.


Marco tersenyum canggung.


"Maksud kedatangan saya, saya mau ajak Rasti kerja kelompok malam ini. Satu setengah jam saja, saya yakin cukup! bagaimana kak, apakah boleh?" tanya Marco dengan wajah yang terlihat polos dan lugu.


'Idih, bisa-bisanya dia pasang muka polos begitu. Kemaren aja gue minta di ajarin di tolak mentah-mentah. Sekarang dia dateng ke rumah minta belajar bareng! salah minum obat nih orang!' pikir ku masih tak percaya dengan tingkah Marco.


"Baiklah, tapi cuma satu setengah jam aja. Gue juga bakalan awasin kalian berdua!" tegasnya.


Dan aku menghela nafas berat, Marco tersenyum. Aku menyipitkan mataku padanya tapi dia malah segera masuk dan menutup pintu.


"Wah, sopan sekali anda!" sindir ku karena dia sudah bersikap seperti tuan rumah saja.


"Terimakasih!" sahutnya dan langsung membawa tasnya menuju ke ruang tamu.


Aku membulatkan mataku dan membentuk mulut ku menyerupai huruf O. Si Marco itu duduk dengan santainya di atas karpet dan mengeluarkan semua isi di dalam tas nya ke atas meja.


Aku menghampiri nya, dan ketika aku menghampiri nya, dia malah berkata.


"Jangan buatkan minuman yang manis ya, buatin aja gue teh tawar hangat!" serunya.


"Hah, maksud lu?" tanya ku tak percaya.


"Kalau ada keripik kentang juga boleh!" sambungnya lagi.

__ADS_1


Aku berdecak kesal, apa-apaan dia ini. Dia pikir aku pelayan nya apa? tuh kan bener, belum-belum saja aku sudah di suruh bikin minum dan ambilkan dia camilan, di rumah ku sendiri lagi.


"Buruan Rasti, ini mau selesai satu setengah jam gak?" tanya nya dengan nada mendesak.


Kalau saja Bu Tari itu tidak terkenal killer, dan suka menghukum siswanya yang tidak mengerjakan tugas dengan hukuman harus membersihkan toilet cowok. Aku akan menarik keluar kompeni satu ini.


Aku melangkah ke dapur, meminta bibi membuatkan teh tawar hangat dan camilan.


"Baik non, tapi keripik kentang nya gak ada non. Ada juga keripik singkong buatan bibi tadi siang nih, mau gak non?" tanya bibi padaku.


Dan aku langsung mengangguk.


"Boleh bi, itu aja tolong keluarin ya tuh buat si kompeni!" ucap ku pada bibi.


"Kompeni non?" tanya bibi bingung.


Aku hanya tersenyum kikuk, lalu meninggalkan bibi yang masih terlihat bingung dengan apa yang aku katakan barusan.


Aku menghampiri Marco, dan ikut duduk di atas karpet bersebelahan dengannya. Dia sedang mengetik sesuatu di laptop nya.


"Eh Rasti di rumah lu ada printer gak?" tanya nya padaku.


Dan seingat ku ayah juga ada di rumah kerjanya, tapi ruangan itu di kunci ayah. Tapi seingat ku lagi, Tirta juga punya.


"Ada, kenapa?" tanya ku.


"Bawa sini, buat ngeprint tugas kita nanti!" serunya.


"Ih, kan bisa nanti, di kerjain juga belum tugasnya udah mau di print aja!" keluh ku.


"Ck... udah buruan ambil, kalau udah lengkap semua peralatannya disini kan enak!" elaknya.


Meskipun kesal tapi aku berdiri dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Tirta.


"Tuh kan bener, kalo gue satu kelompok bareng tuh anak, gue bakalan di jajah begini nih, di suruh-suruh terus dari tadi. Nyebelin!" keluh ku sambil terus menaiki anak tangga menuju lantai atas.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2