Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Mengambil Tas Panji


__ADS_3

Bagaimana ya? bukannya aku tidak mau pergi ke rumah Panji. Lagipula aku memang tetangganya kan. Jadi kurasa bukan sebuah hal aneh kalau aku yang mengantarkan tas Panji ke rumah nya. Tapi yang menjadi pertimbangan ku adalah, yang jadi masalah nya itu adalah aku datang bersama dengan pak Yoga.


Kalau seperti itu apa orang-orang tidak akan menaruh kecurigaan. Astaga, mungkin mereka akan bergosip tentang ku setelah itu.


Aku cukup lama terdiam aku sedang memikirkan apa alasan yang tepat untuk memberikan alasan agar aku bisa datang sendiri ke rumah Panji.


"Rasti, sayang! kamu dengar aku kan?" tanya pak Yoga yang terdengar cemas. Mungkin karena aku lama diam dan tidak menyahutinya.


"Iya, aku masih disini. Tapi kak, apa tidak akan memancing kecurigaan orang kalau seorang guru dan siswa datang bersama dalam satu mobil...!"


Dan belum aku selesai dengan kalimat yang ingin aku katakan. Pak Yoga sudah menyela ku dengan tawanya.


"Ha ha ha, sayang! apa yang kamu pikirkan. Aku adalah guru kalian? aku yang mengantarkan Panji ke rumah sakit. Kamu adalah teman sekolah Panji, kamu juga adalah tetangganya, kamu yang tahu dimana Panji tinggal, apa yang akan membuat orang lain curiga mengenai itu semua?" tanya pak Yoga setelah menjelaskan panjang lebar.


Aku baru menyadarinya, kenapa aku ini lemot sekali. Benar apa yang dikatakan oleh pak Yoga, dia kan guru kami, dan aku tetangganya. Tentu saja harus kami yang datang ke rumah nya dan mengabari kedua orang tuanya.


Aku tersenyum canggung, tapi ku yakin meskipun pak Yoga tidak bisa melihatnya dia sudah tahu apa reaksiku.


"Tidak apa-apa sayang, jangan menyalahkan kepolosan mu! tidak masalah kamu masih muda, masih banyak waktu untuk belajar agar daya tangkap dan respon mu lebih cepat, dan tajam!" ucap nya.


Aku tidak tahu ya, sebenarnya dia itu sedang menghibur ku atau sedang mengejek daya tangkap ku yang lambat dan insting ku yang tidak tajam, kupikir seharusnya aku menyebut nya tumpul. Apa daya ku, seperti inilah aku.


"Sayang, ada yang harus aku urus. Tunggu aku di gerbang saat pulang sekolah nanti ya!" ucapnya setelah aku mendengar suara seseorang bicara padanya, suaranya suara seorang wanita yang membicarakan masalah administrasi. Mungkin itu seorang suster di klinik tempat Panji di rawat sekarang.


"Iya!" jawab ku singkat.


"Belajar yang baik ya, kita akan bahas masalah kompensasi saat bertemu nanti!" itulah kalimat terakhir dari pak Yoga sebelum aku mendengar nada telepon yang telah terputus panggilan nya.


Tut Tut tut

__ADS_1


Aku melihat layar ponsel yang sudah kembali ke menu utama, dengan gambar ku dan ketiga teman baik ku. Aku memikirkan apa saja yang tadi di katakan oleh pak Yoga mengenai kondisi Panji, tapi malah semua itu menghilang ketika aku ingat tentang kata kompensasi.


"Hah, apa ya kira-kira kompensasi nya, kalau bukan uang lalu apa?" tanya ku bingung sambil terus bergumam berjalan meninggalkan ruang UKS karena tujuan ku kesana kan melihat Panji, sedangkan Panji sudah berada di rumah sakit bersama pak Yoga.


Awalnya aku ingin menyusul teman-teman ku ke kantin sekolah. Tapi aku ingat lagi, kalau pak Yoga memintaku membawakan tas Panji. Jadi aku langsung merubah arah haluan ku, aku berjalan menuju ke kelas Panji.


Beruntung nya, hubungan antara IPA dan IPS di kelas ini sangat baik. Jadi ketika aku lewat di antara anak-anak IPA, mereka menyapaku dengan ramah meskipun beberapa diantara mereka terasa asing, terlihat asing bagiku. Karena memang kelas kami dipisahkan oleh lapangan basket, dan kami memang jarang ke area anak-anak IPA. Kecuali laboratorium Biologi, kami sering lewat di belakang laboratorium itu saat akan kabur dari sekolah untuk membolos. Tapi hal itu sudah sangat lama, kami sudah jadi anak baik.


Kami selalu jadi anak baik, saat akan ujian seperti ini. Aku masuk ke kelas Panji, karena ini jam istirahat aku tidak perlu mengetuk pintu, aku langsung masuk dan disana terlihat teman sekelas Panji yang juga adalah mantan pacarnya.


"Hai Ki!" sapa ku pada Kiki yang duduk di atas meja sambil mengobrol bersama dua temannya yang lain.


Dia terlihat tidak senang saat melihat ku. Begitu pula dengan kedua temannya.


'Idih, kenapa nih anak?' tanya ku dalam hati.


Meski merasa kalau tatapan yang di tujukan oleh Kiki padaku itu tidak bersahabat. Tapi aku memang ada keperluan di tempat ini, jadi aku harus menyelesaikan masalah ini.


"Ngapain lu?" tanya nya dengan kasar.


Aku menghentikan langkah ku dengan cepat


"Wuh, sabar! slow! woles!" ucap ku sambil mengangkat tangan ku di depan dada seperti sedang memberi instruksi agar gadis di depan ku ini mengatur nafasnya dengan baik. Menarik dalam-dalam udara dan menghembuskan nya perlahan.


Bukannya mengikuti gerakan tangan ku, dia malah menepis tangan ku cukup kencang.


"Eh!" pekik ku terkejut.


Karena apa yang telah teman Kiki ini lakukan, beberapa temannya yang lain yang ada di dalam kelas ini pun terlihat menoleh ke arah ku, yang duduk jadi berdiri, yang sudah berdiri pun ikut mendekat.

__ADS_1


"Eh, tenang dulu! gue kesini bukan mau ngajak berantem ya, ya kali gue dateng sendirian ngajak ribut, bisa bonyok kan gue!" ucap ku panjang lebar membuat mereka melihat ke arah ku dengan berfikir.


Aku merasa mereka sudah mendengarkan apa yang aku katakan karena mereka mulai berhenti di tempat mereka masing-masing.


Kiki yang tadinya duduk di atas meja langsung melompat turun perlahan dan menyenggol bahu temannya yang tadi bersikap begitu kasar padaku, dan menghampiri ku.


"Lu mau apa kesini? pelakor!" ucapnya penuh penekanan.


Aku langsung terkejut, bola mata ku nyaris keluar dan rahang ku nyaris jatuh.


'Apa dia bilang? pelakor? siapa yang pelakor?" tanya ku dalam hati.


Aku sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kiki. Apakah kata pelakor itu dia tujukan padaku, tapi kenapa? apa aku merebut suaminya, kan dia belum menikah?


"Siapa yang pelakor?" tanya ku bingung.


Mendengar pertanyaan ku, Kiki malah terkekeh.


"Heh, emang di rumah lu gak ada kaca ya? setahu gue bokap lu lumayan tajir kan? masa' sih gak bisa beli tuh barang murah?" tanya nya yang membuat aku semakin tidak mengerti.


"Lu ngomong apaan sih? gue gak mau cari ribut ya sama lu. Gue cuma mau tanya, dimana meja Panji, gue mau ambil tas nya?" tanya ku dan menjelaskan maksud kedatangan ku ke kelas ini.


Tapi bukannya menjawab pertanyaan dariku, Kiki malah terlihat lebih marah dari sebelumnya. Dia bahkan mendorong ku hingga aku nyaris terjatuh, untung saja seseorang di belakang ku menahan ku.


Aku menoleh ke belakang dan ternyata seseorang yang telah membantu ku itu, aku mengenalnya.


"Marco!" ucap ku pelan.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2