
Aku masih berada di dalam mobil dengan dokter Andika, aku juga heran kenapa tidak sampai-sampai. Memangnya lokasi proyek pembangunan perusahaan yang baru itu ada di mana sih. Aku jadi penasaran karena sudah hampir 60 menit kami belum juga sampai ke tempat tujuan.
"Dokter!" panggil ku kepada dokter Andika.
"Iya Rasti!" jawab dokter Andika dengan cepat.
"Ini masih jauh ya tempatnya perasaan udah lama banget berada dalam mobil kok nggak nyampe-nyampe sih?" tanya ku.
Mendengar pertanyaanku dokter Andika malah terkekeh pelan.
"Kamu lapar ya?" tanya dokter Andika.
Ternyata dia tahu loh kalau aku saat ini memang sangat indah pada segala karena tadi pagi aku belum sempat sarapan. Setelah bangun karena pintunya digedor-gedor oleh Ibu Rita, aku lagi main di berganti pakaian lalu turun menghampiri dokter Andika dan pergi bersamanya bahkan aku belum minum segelas pun setelah bangun tidur.
Tapi masak aku bilang iya kalau aku lapar. Apa pendapat nya tentang hal itu nanti. Aku masih diam, ketika dia mulai membuka suaranya.
"Di depan sana, ada restoran. Kita mampir sebentar untuk sarapan!" ucap dokter Andika selanjutnya.
Aku mengangguk paham, dan beberapa menit kemudian. Dokter Andika segera melajukan kendaraannya menuju ke arah area parkir restoran.
Dokter Andika membukakan pintu mobil untuk ku, aku berjalan keluar dari dalam mobil mengikuti langkah kaki dokter Andika. Ini adalah daerah yang lumayan jauh dari pemukiman. Aku jadi makin penasaran, pabrik apa yang akan di bangun oleh ayah dan dokter Andika di tepat ini.
"Dokter, ini kan jauh sekali dari pemukiman. Memang dokter mau membangun pabrik apa?" tanya ku pada dokter Andika.
Dokter Andika lalu sedikit melambatkan langkahnya. Dan kemudian, mensejajarkan langkahnya dengan ku.
"Memang tidak ada pemukiman, tapi begitu pabrik itu di bangun, maka para developer pasti akan membangun banyak perumahan dan juga fasilitas lain di tempat ini. Ini yang disebut strategi bisnis!" jawabnya panjang lebar.
Aku hanya bisa mengernyitkan kening ku saja. Karena penjelasan dokter Andika yang panjang lebar itu, tak bisa masuk di otakku yang mungil ini. Tapi kalau dia mengatakan dengan penuh percaya diri seperti itu, aku rasa apa yang di katakan oleh ibu Rita itu benar. Kalau kerjasama dengan dokter Andika ini, pasti akan membuat ayah sampai kembali pada kejayaan nya.
Dan dengan seperti itu, maka ibu pasti menyesal telah meninggalkan ayah dan juga aku.
Kami pun duduk di kursi kayu berwarna putih yang sangat bersih.
__ADS_1
"Restoran ini juga baru di buka, kamu bisa pesan makanan apa saja!" ucap dokter Andika.
Jujur saja sih, apa yang di katakan oleh dokter Andika itu sangat membuatku senang. Masalahnya aku bingung pilih menunya. Semua adalah makanan yang aku suka.
Aku lalu menunjuk burger, kentang goreng, lalu fish and chips juga ada chicken burito. Lalu minumnya aku pesan milkshake dengan extra topping. Aku sudah tidak sabar menunggu makanan yang aku pesan datang.
Setelah memesan makanan, aku langsung melihat ke arah dokter Andika yang tengah menatapku heran. Aku lalu tersenyum canggung, apakah aku terlalu banyak memesan ya. Apa dia tidak bawa uang cash sebanyak itu.
"Makan mu banyak juga ya? kalau di lihat dari badan mu, ku kira kamu sangat pemilih makanan!" ucap dokter Andika.
"Begitu ya, aku kira apa! aku memang makan itu banyak sekali, tapi aku juga tidak tahu, kenapa sebanyak apapun aku makan, berat badan ku ya segini-gini aja!" aku mengatakan itu pada dokter Andika sambil mengangkat bahu ku sekilas.
Dokter Andika terlihat memperhatikan aku lagi dengan seksama. Tapi kali ini aku lihat dia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi enggan mengatakan begitu.
"Rasti, bagaimana kalau kita merubah sedikit pola makan dan gaya hidup mu?" tanya dokter Andika.
Aku langsung mendengarkan dengan seksama apa yang akan disampaikan oleh dokter Andika.
Aku tidak menyangka bisa juga seperti itu. Tapi aku sih percaya saja. Karena dokter Andika kan seorang dokter. Jadi dia pasti lebih tahu tentang gaya hidup sehat daripada aku.
Aku hanya tersenyum, bukan tersenyum sih lebih tepatnya nyengir kuda begitu di depannya.
"Ha ha iya dokter, nanti akan aku coba perbaiki!" jawab ku santai.
Tapi dokter Andika terlihat menggelengkan kepalanya.
"Tidak, kalau kamu memang mau merubah gaya hidup mu, bukan nanti tapi harus dari sekarang, karena...!"
"Dokter, tolong lah. Nanti saja ya. Sekarang aku benar-benar ingin makan burger dan kentang goreng, please!" ucapku dengan mata memelas pada dokter Andika.
Melihat aku seperti itu, dokter Andika lantas tersenyum.
"Baiklah, mulai besok kalau begitu! tapi aku akan mengawasi mu!"
__ADS_1
"Uhukk!" pernyataan dokter Andika barusan membuat ku tersedak angin.
"Dokter bilang apa? mengawasi? apa maksudnya mengawasi. Dokter akan sering-sering ke rumah dan melihat ku sudah melakukan gaya hidup sehat atau belum begitu?" tanya ku memastikan apa yang ada di pikiran ku itu benar.
Meskipun otakku sangat mungil, tapi untuk mengerti kata mengawasi seperti nya aku paham. Dan benar saja dokter Andika mengangguk kan kepalanya. Itu tandanya dia memang ingin melakukan apa yang aku katakan tadi. Terdengar menyeramkan, kenapa ya?
"Iya, aku akan sering-sering mengecek mu di rumah!" jawabnya kemudian.
"Memangnya dokter gak ada kerjaan!" pekik ku.
Aku menyadari kalau apa yang ku katakan sepertinya terdengar tidak sopan. Aku pun segera meralat kembali kalimat ku tadi.
"Em, maksud ku. Dokter Andika pasti banyak kerjaan kan, belum lagi di rumah sakit. Belum lagi di Perusahaan. Untuk apa masih mengurusi aku?" tanya ku merasa aneh.
"Karena kamu adalah masa depan ku!" gumam nya.
"Apa?" pekik ku terkejut.
"Benar Rasti, aku sudah bicara dengan kedua orang tua ku dan juga kedua orang tuamu. Mereka setuju saat aku mengatakan ingin serius dengan mu. Minggu depan kita akan bertunangan, dan setelah kamu lulus sekolah kita akan menikah!" seru dokter Andika.
Aku terdiam, masih mencerna kata-kata dokter Andika barusan. Kalau dia mau nge-prank ini bukan hari ulang tahun ku, atau April mop tapi ini bukan bulan April.
"Ha ha ha, dokter bercanda nih. Ya kali dokter becanda nya sampai kayak gitu. Gak lucu aja!" protes ku.
"Aku tidak bercanda Rasti, jika kamu tidak percaya. Nanti pulang dari sini kita bisa bicara pada ayah dan ibu mu!" tegas dokter Andika lagi.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Apa-apaan ini, katanya gak boleh pacaran, tapi main tunangan aja. Terus gimana sama kak Yoga coba? mana udah jatuh hati banget sama kak Yoga. Huh...
Makanan yang aku pesan datang, tapi kenapa saat di kunyah rasanya mendadak aneh ya. Saat aku makan kentang goreng rasanya seperti mengunyah sesuatu yang susah ku telan. Dan burger daging ini rasanya seperti lobak.
***
Bersambung...
__ADS_1