
Sebelum ke rumah sakit, pak Yoga terlebih dulu menghentikan mobilnya di depan sebuah gereja dekat rumah sakit, Marco memang hanya ikut kami untuk pergi ke gereja itu, bukan mau ke rumah sakit untuk menjenguk Panji yang sedang dirawat disana.
Marco melepaskan sabuk pengaman yang dia pakai.
"Pak saya titip wanita masa depan saya ya pak, kalau bisa jangan sampai lecet ya. Dia sembrono soalnya!" ucap Marco sambil cengengesan.
Aku hanya diam dan melihat reaksi apa yang sedang di perlihatkan oleh pak Yoga. Ketika aku melihatnya, dia hanya mengernyitkan dahinya dan tersenyum kecut.
"Rasti, jangan lupa kacang telornya!" ucap nya pada ku sebelum keluar dan menutup pintu mobil pak Yoga.
Aku membulatkan mataku, aku baru ingat itu saat Marco bilang barusan. Pak Yoga menoleh ke belakang dan aku lihat pandangan nya sedikit berubah.
'Aih, kenapa lihatin gue kayak gitu sih? berasa mau di terkam!' batin ku gelisah.
"Pindah ke depan sayang!" seru pak Yoga setelah kembali melihat ke arah depan.
Aku pun segera menuruti perkataan nya, aku langsung lepas sabuk pengaman dan keluar dari pintu penumpang bagian belakang lalu membuka pintu bagian depan dan duduk di tempat dimana Marco tadi duduk.
"Aku akan hubungi kakak mu dulu, sebentar ya!" ucapnya dan aku langsung menganggukan kepala ku.
Pak Yoga menghubungi Tirta, terdengar nada telepon yang tengah tersambung karena pak Yoga menyalakan speaker ponsel nya.
Tut... Tut..
Beberapa kali nada itu terus terdengar, seperti nya Tirta sedang berada di jalan. Hingga tidak bisa untuk langsung mengangkat telepon nya dan menerima panggilan dari pak Yoga.
Tut... Tut..
"Halo!" jawab Tirta dari seberang sana.
"Selamat siang Tirta, ini pak Yoga!" sahut pak Yoga.
"Iya pak, ada apa?" tanya nya terkesan sedang terburu-buru.
"Saya cuma mau memberitahu kalau saya Rasti sedang bersama saya....!" jelas pak Yoga. Tapi sebelum selesai menjelaskan, Tirta malah memotong ucapan yang akan disampaikan oleh pak Yoga.
"Rasti kenapa pak? dia baik-baik saja kan?" tanyanya dengan cepat dan langsung dua pertanyaan sekaligus.
Aku yang mendengar itu langsung menundukkan wajah ku melihat ke arah sepatu ku.
'Kayaknya gue selama ini udah salah paham deh sama Tirta, dia itu kelihatan perhatian, perduli dan ngejagain gue banget waktu bokap gak ada kayak sekarang, apa emang gue udah salah ya menilai Tirta sama nyokap nya?' tanya ku dalam hati.
Pak Yoga melihat ke arah ku, mungkin dia tahu kalau ekspresi wajah ku mendadak berubah, kurasa dia menyadari nya. Pak Yoga langsung menggenggam tangan ku, jujur saja rasanya sangat hangat seperti mendapatkan perlindungan dan sangat tenang.
"Rasti baik-baik saja, saat ini kami sedang menjenguk Panji. Kamu kenal dia kan?" tanya pak Yoga.
"Iya saya kenal, kenapa anak itu?" tanya Tirta sedikit cuek.
"Dia cidera dan sekarang berada di rumah sakit, karena orang tuanya tidak bisa di hubungi, saya meminta Rasti menemani saya ke rumah Panji untuk memberitahukan keadaan Panji pada keluarganya!" jelas pak Yoga panjang lebar agar Tirta benar-benar mengerti dan tidak salah paham.
"Oh, iya pak. Saya baru akan jemput Rasti! apa sekarang pak Yoga dan Rasti sudah di rumah?" tanya Tirta lagi memastikan.
__ADS_1
"Sekarang saya antar Rasti sedang di rumah sakit, menemani Panji sampai orang tuanya datang!" jelas pak Yoga lagi memberikan alasan.
"Oh begitu, baiklah. Kalau sudah mau pulang, tolong katakan pada Rasti untuk menghubungi saya ya pak! saya akan jemput dia di rumah sakit!" seru Tirta lagi memastikan.
"Bagaimana kalau nanti saya yang antarkan Rasti pulang saja?" tanya Pak Yoga sedikit berhati-hati pada Tirta agar tidak membuatnya curiga.
"Apa tidak merepotkan bapak?" tanya Tirta balik.
Pak yoga tersenyum, dan mengeratkan genggaman nya di tangan ku.
"Sama sekali tidak, kalau begitu saya tutup telepon nya ya. Selamat siang!" ucap pak Yoga.
"Siang pak!" jawab Tirta.
Pak Yoga lalu menutup panggilan teleponnya dengan Tirta dan meletakkan kembali ponselnya di sakunya.
"Rasti, aku sudah memberitahu perawat kalau keluarga Panji datang atau kalau ada yang mencarinya, aku minta agar perawat itu menghubungi ku. Jadi, apa sekarang aku bisa menculik mu?" tanya pak Yoga membuat bulu kuduk ku merinding.
"Ih kak Yoga ngomong apaan sih, aku jadi merinding ini. Aku tuh baru tujuh belas tahun, kak Yoga mau culik aku kemana? ke KUA lagi ya? kan aku dah bilang kalau KTP aja baru diurus tuh dan belom jadi!" jelas ku panjang lebar menutupi kegugupan ku sebenarnya.
Pak Yoga malah tersenyum dan melepaskan tangannya dari genggaman ku, dia menyalakan mesin mobil dan bersiap-siap untuk mengemudi.
"Bukan ke KUA, tapi bertemu calon mertua!" ucapnya dan langsung melajukan mobilnya meninggalkan area jalanan itu.
Aku bahkan lebih merinding lagi dari sebelumnya.
'Apa katanya? bertemu dengan calon mertua!' batin ku sambil menggidikkan bahu ku.
Setidaknya aku harus mengganti seragam ku dulu kan, agar terlihat lebih sopan.
"Kak, apa tidak sebaiknya aku ganti baju dulu ya?" tanya ku pada pak Yoga.
"Buat apa di ganti, nanti juga kan sama saja disana di lepas...!"
"Apa??" pekik ku berteriak kaget.
Tapi reaksi pak Yoga biasa saja.
"Di lepas, kak Yoga gak mau aneh-aneh kan? beneran ya, Rasti gak suka pacaran gaya orang dewasa, apalagi gaya orang luar negeri tuh yang main...!"
"Kamu ngomong apa sih Rasti? makanya jadi orang jangan negatif thinking, kalau ada orang yang ngomong juga, biasakan untuk mendengarkan orang itu bicara sampai selesai jangan main menyelanya saja!" ucap pak Yoga yang terkesan sedang memarahi ku, dia mengomel.
Aku masih memasang ekspresi tidak senang.
"Lah, tadi kakak bilang main di lepas aja? apa coba yang di lepas kalau bukan baju?" tanya ku tak mau kalah.
"Iya memang baju, memang baju kamu...!"
"Tuh kan!" pekik ku lagi kembali menyela ucapan pak Yoga.
"Pokoknya Rasti mau pulang aja! gak mau ikut? anterin Rasti pulang!" seru ku tapi kenapa malah terdengar seperti rengekan ya.
__ADS_1
"Rasti kamu salah paham, kita akan bertemu ibu ku di butik. Untuk feeting baju couple kita!" jelas pak Yoga yang berhasil membuatku langsung terdiam mematung di tempat ku duduk.
Rasanya malu sekali, aku sudah salah paham padanya bahkan susah merengek tak karuan padanya. Aku sudah berfikiran macam-macam, padahal niatnya hanya ingin membawaku ke butik dan bertemu dengan ibunya.
'Lain kali gue gak bakal nyela omongan orang lagi!' batin ku.
Dan suasana kembali hening setelah perdebatan kecil kami, karena kesalahpahaman dariku yang otaknya lemot binti loading nya lama ini.
Aku yang awalnya gugup menjadi semakin gugup saja.
"Kamu gugup?" tanya pak Yoga memulai obrolan kami.
Aku menghela nafas ku panjang.
"Tentu saja, lihat baju ku? apa ibu kamu tidak akan memprotes kamu pacaran sama anak SMA. Mana anak SMA nya ceroboh, sembrono, gak pinter dan gak punya bakat sama sekali selain bikin obat kayak aku!" ucap ku mendeskripsikan tentang diriku sendiri di depan pak Yoga.
Memang seperti inilah aku, aku rasa hanya pria-pria khilaf saja yang akan menyukai ku.
Pak Yoga terdiam sejenak, dia masih fokus mengemudikan mobil nya dengan benar karena kondisi jalanan yang lumayan ramai saat ini.
"Aku mau tanya dulu, apa kalau aku bukan seorang guru, dan aku tidak punya mobil, tidak punya rumah, kamu masih menyukai ku?" tanya pak Yoga padaku dengan suara yang berat, khas suaranya.
Aku langsung menoleh kearah nya.
"Tidak tahu, karena saat kita bertemu kamu sudah seperti ini!" jawab ku jujur.
Terus terang saja aku menjawab itu dengan jujur dari dasar hatiku yang terdalam.
"Itulah Rasti, aku juga seperti itu. Aku tidak tahu apakah jika kamu bukan Rasti yang ceroboh aku akan menyukai mu atau tidak, jika kamu bukan Rasti yang sembrono, aku akan tertarik padamu atau tidak!" jelasnya sambil sesekali melihat ke arah ku.
"Aku menyukai mu karena seperti itulah dirimu! dan aku akan memberitahu mu sesuatu. Ibu ku sangat menyayangi ku, dan selama tiga puluh tahun aku hidup, dia belum pernah menolak satu pun permintaan ku!" jelas pak Yoga yang membuat ku mulai berbesar hati.
"Tidak pernah sekali pun?" tanya ku memastikan.
Jujur saja aku sangat takjub, ibu yang seperti apa dia yang tidak pernah menolak sekalipun permintaan anaknya, pasti dia sangat menyayangi pak Yoga.
"Bahkan ketika semua orang tidak setuju aku menjadi guru, dia menyetujui nya!" ucapnya menambah kepercayaan diriku.
"Saat semua orang tidak memperbolehkan aku hidup mandiri dan tinggal sendiri, dia menentang semua orang dan mendukung ku! percaya lah Rasti, dia pasti akan menerima mu!" lanjut pak Yoga membuat hatiku makin yakin dan percaya diri lagi.
Aku mulai yakin dengan setiap ucapan pak Yoga, aku berharap semua yang dikatakan pak Yoga itu benar. Dan aku percaya, dia benar.
Setelah beberapa lama perjalanan, kami akhirnya sampai di sebuah butik yang ku dengar ini adalah butik terbaik di kota ini. Butik paling terkenal, hingga yang bisa masuk ke dalamnya hanya yang sudah reservasi dari jauh-jauh hari, atau memang orang yang cukup terpandang dan terkenal.
Pak Yoga membukakan untuk mobil, dan aku pun keluar dari dalam mobil. Aku melihat banyak mobil mewah berjejer rapi di luar gedung.
"Waw, ini butik atau mall?" tanya ku sedikit bergumam. Namun kurasa masih bisa terdengar oleh pak Yoga.
***
Bersambung...
__ADS_1