
Author POV
Asti terlihat semakin penasaran dengan gadis yang di kenalkan oleh yoga sebagai kekasihnya itu, apalagi sahabat baiknya Dona yang adalah seorang psikiater mengenalnya, tapi aneh bagi Asti karena Rasti terlihat tidak mengenal Dona.
Sementara Dona sendiri merasa dirinya telah melakukannya kesalahan, masalahnya adalah dia memang telah menghipnoterapis Rasti untuk melupakan nya dan juga kejadian di masa lalunya. Sekarang tentu saja dia tidak mengenal Dona, dan jika Dona menyapanya dia pasti akan membuat Rasti bingung.
Apalagi Dona melihat reaksi terkejut dari Yoga dan juga Asti temannya, dia merasa dia harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan kecanggungan yang dia buat ini.
Dona menepuk bahu Rasti pelan dan berkata.
"Oh, maaf ya Rasti. Tante tahu kamu gak mungkin inget sama Tante. Tante ini teman ayah kamu, Rudi. Tapi terakhir kita bertemu kamu masih sangat kecil!" ucap Dona mencoba memperbaiki kesalahannya.
Rasti hanya mengangguk dan tersenyum, sementara Asti masih penasaran dengan hal yang sebenarnya.
Yoga dan Rasti berpamitan untuk pulang, karena Yoga juga harus mengantarkan Rasti membeli sesuatu untuk tugas proposal kekasih nya itu.
"Bu, Tante Yoga sama Rasti permisi?" ucap Yoga sopan.
Asti memeluk anaknya lagi, tapi dia lagi-lagi mengacuhkan Rasti. Dan Rasti pun hanya bisa tersenyum ketika calon ibu mertua nya yang entah kapan akan menjadi ibu mertuanya itu bersikap dingin seperti itu.
Tapi Dona malah memeluk Rasti dan terus bersikap baik padanya.
Setelah Rasti dan Yoga pergi, Asti mengajak Dona untuk duduk lagi padahal tadi Dona sudah mau pergi karena urusannya di butik ini sudah selesai.
"Kenapa kamu baik padanya sih? tahu gak dia itu...!" Asti belum selesai dengan perkataan nya ketika Dona menepuk punggung tangan sahabat nya itu dan menyela.
__ADS_1
"Dia hanya korban Asti, dia sebenarnya gadis pintar dan baik. Hanya saja masa lalunya membuatnya harus menderita seperti itu. Dia sangat kasihan! aku senang dia menjadi pacar Yoga, Yoga adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab, aku yakin Rasti akan bahagia dengan Yoga!" jelas Dona sambil terus tersenyum.
Tapi sayangnya apa yang dikatakan oleh Dona itu membuat Asti kembali salah paham, Dona memang tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kalau dia adalah psikiater yang menangani Rasti pada masa-masa terburuk Rasti karena depresi masa lalunya. Dona terikat sumpah pada pekerjaan nya.
Tapi Dona bahkan sudah menyangka kalau yang dikatakan Asti itu juga menyangkut penyakit lama Rasti. Padahal, maksud dari Asti adalah Rasti itu perempuan tidak baik.
Kata 'hanya korban' yang dikatakan oleh Dona semakin meyakinkan Asti kalau putranya telah salah memilih kekasih. Asti makin panik dia mengira Rasti mang sudah pernah terjebak dalam pergaulan bebas dan tidak baik seperti yang dikatakan oleh Sofie padanya. Dan dia sama sekali tidak ingin putranya menyukai apalagi menikah dengan perempuan seperti itu.
Setelah Dona meninggalkan butik, Asti pun segera menghubungi calon menantunya Sofie agar mereka bisa bertemu dan bicara.
***
Sementara itu di dalam perjalanan menuju mini market. Yoga merasa kalau Rasti masih sedih karena sikap ibunya padanya.
"Sayang, aku minta maaf atas sikap ibu ku tadi ya!" ucap Yoga dengan suara yang sangat lembut.
Namun Yoga mengatakan bahwa ibunya sangat baik dan pasti akan setuju dan merestui hubungan mereka. Oleh karena itu, Rasti sedikit mengendurkan persiapan mentalnya. Tapi kenyataannya malah berkata lain. Dengan lugas dan jelas, ibu Asti menunjukkan kalau dia tidak suka pada Rasti. Dan itu membuat hati Rasti sangat sedih.
Yoga menggenggam tangan Rasti dengan tangan kirinya yang tidak memegang setir kemudi.
"Sayang ...!" panggilnya pada Rasti dengan sangat lembut.
Rasti menoleh dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.
"Kak, sebenarnya aku gak masalah sama sikap ibu kamu itu. Aku juga tadinya pikir pasti bakalan kayak gitu. Kak.. aku gak usah dateng aja ya ke acara nikahan kakak kamu!" ucap Rasti yang mulai kacau pikiran nya.
__ADS_1
Rasti merasa akan sangat canggung saja dia disana, di tempat dimana hanya Yoga yang mengenalnya dan menerima keberadaan nya. Meskipun Yoga bilang Yoseph juga senang padanya, tapi dia adalah pengantin nya. Yoseph tidak mungkin akan mengobrol bersama Rasti bukan? dia harus menyapa banyak tamu dan tentu saja dia harus terus berada disisi istrinya.
Sedangkan Yoga, dia juga tidak akan terus-menerus berada di sebelah Rasti kan. Dia pasti juga akan membantu acara pernikahan kakaknya itu, dan tentu saja disana juga akan banyak teman-teman nya nanti. Dan saat itu, Rasti takut dia akan merasa seperti terdampar.
Tapi mendengar semua perkataan Rasti, Yoga kembali teringat apa yang dikatakan oleh ibunya tadi tentang Rasti. Yoga juga tidak mau kalau sampai Rasti mendapatkan perlakuan tidak baik nanti dari ibunya atau dari Sofie. Tapi dia juga tidak ingin mengecewakan kakak kandungnya yang ingin dia datang bersama dengan Rasti. Yoga berfikir, dia akan bicara lagi pada ibunya nanti dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
"Baiklah, sekarang kita ke minimarket mana?" tanya Yoga pada Rasti mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Rasti yang awalnya tidak bersemangat, kini menjadi kembali tertarik dengan pertanyaan Yoga.
"Di depan sana saja kak, yang di sebelahnya ada gerai burger nya!" jawab Rasti sangat bersemangat.
Yoga tersenyum, gadis nya itu senang sekali pada makanan yang bernama burger. Tapi ngomong-ngomong soal burger, sepertinya dia juga teringat akan sesuatu.
"Astaga Rasti, aku tadi juga bilang pada Panji akan membelikan nya burger!" seru pak Yoga yang baru ingat kalau dia juga menawarkan makanan itu pada Panji sebelum membawanya ke rumah sakit.
"Kalau begitu, beli kacang telur, beli burger yang banyak lalu kita makan di rumah sakit!" ucap Rasti penuh semangat.
Yoga hanya tersenyum melihat tingkah polos gadisnya itu, dia bahkan ikut merasakan keceriaan yang Rasti rasakan.
Mereka berdua akhirnya berhenti di sebuah minimarket, disana Rasti mencari kacang telur yang dia butuhkan dan setelah mendapatkan nya, dia segera menghampiri pak Yoga yang berdiri di depan rak pencukur kumis dan jenggot.
"Kak, sudah dapat!" ucapnya lalu memperhatikan arah pandangan Yoga.
"Kak Yoga mau beli alat cukur? kan kak Yoga tidak punya kumis atau jenggot?" tanya Rasti heran.
__ADS_1
***
Bersambung...