
Kak Yoga mengantarku pulang ketika kami sudah selesai belajar dan sudah selesai mengobrol. Seperti biasanya Kak Yoga hanya mengantarkan aku sampai di depan gang perumahan ku.
Aku lalu turun dari mobil Kak Yoga dan melambaikan tangannya setelah mobilnya pergi aku juga berjalan masuk ke dalam gang perumahan.
Baru beberapa langkah aku masuk ke dalam gang, seseorang mengklakson dengan suara yang cukup nyaring dia bahkan melakukannya berulang kali. Aku yang memang sudah berjalan di pinggir lebih berjalan ke pinggir lagi.
Aku mengira kalau orang itu baru belajar menyetir sehingga aku pikir kalau dia membutuhkan jalan yang lebih luas agar dia bisa melajukan mobilnya dengan benar. Tapi anehnya setelah aku minggir pinggir-pinggirnya, mobil yang membunyikan klakson ke arahku tadi malah berhenti di samping aku berjalan.
Kaca mobil bagian belakang terbuka dan menunjukkan seorang wanita yang di sanggul membuka kacamata hitam yang dia pakai.
'Ih, apa lagi sih?' keluh ku dalam hati karena orang yang aku lihat adalah ibunya Kak Yoga yaitu Tante Asti.
Bukannya aku tidak menghormati calon ibu mertuaku ya, tapi aku juga menghormati orang yang hanya menghormati aku. Kalau dia saja bersikap kasar dan seenaknya saja bicara tentang ku seperti waktu itu. Aku benar-benar hilang respect padanya.
"Masuk ke dalam mobil!" perintahnya padaku dengan nada suara yang ketus. Dan ajaibnya lagi, dia mengatakan kalimat itu tanpa menoleh ke arahku. Benar-benar orang yang sangat arogan.
Aku bukan dari kalangan menengah ke bawah, aku juga berasal dari keluarga yang cukup mapan. Ayah ku sering mengajakku makan malam bersama dengan orang-orang kaya dan miliarder yang menjadi partner bisnis perusahaan nya. Tapi sikap mereka melalui lembut dan ramah tidak seperti orang kaya yang satu ini. Aku jadi penasaran deh memangnya berapa sih kekayaannya, apa dia sudah bisa mengalahkan Erick Thohir, kurasa belum. Tapi kenapa dia sombong sekali.
Aku sengaja memalingkan pandanganku kearah depan aku hanya memegangi tali ransel ku sambil terus melangkah maju.
"Nona, nyonya Asti menyuruh anda untuk masuk kedalam mobil kenapa Anda malah jalan?" tanya supir yang keluar dari dalam mobilnya.
Aku langsung terketik sendiri aku bahkan menunjuk diriku sendiri dengan telunjuk kanan ku.
__ADS_1
"Kamu bicara dengan ku pak?" tanyaku pada Pak sopir pria paruh baya itu malah mengernyitkan keningnya mendengar apa yang aku katakan.
"Iya nona, bukankah hanya ada anda di sini? tentu saja nyonya aku berbicara kepada anda!' jelasnya setelah menanyakan kalau memang hanya ada aku di tempat ini.
"Oh, saya kira nyonya itu bicara dengan siapa? habisnya dia tidak menyebut nama dia juga tidak melihat ke arah saya Pak!" jelasku pada supir itu.
Supir itu juga terlihat bingung dia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sepertinya.
"Silahkan masuk ke dalam mobil nona!" pintanya.
"Maaf ya pak, rumah saya tuh tinggal 2 rumah lagi tuh paling tinggal 20 langkah lagi kaki saya ke sana sampai. Lagian ya, saya itu baru pulang sekolah jadi saya tuh capek banget. Jadi bilang sama nyonya bapak sopir ya, saya gak ada waktu!" jawab ku panjang lebar yang intinya adalah menolak untuk masuk ke dalam mobil dan bicara dengan tante Asti.
Dari itikad nya saja sudah terlihat kalau dia memang tidak datang untuk berbicara dengan baik. Kalau dia datang dengan niat yang baik dia pasti akan turun dari mobil ada mengajakku masuk kedalam mobilnya. Tapi ini tidak, dia bahkan bicara tanpa menoleh ke arahku. Aku rasa dia hanya ingin aku menjauhi Kak Yoga saja, dan aku pastikan aku tidak akan pernah menuruti kemauan yang satu itu.
Aku langsung lanjut berjalan maju menuju ke arah rumahku.
Aku diam sejenak, lalu melihat ke arah Tante Asti yang bicara masih belum melihat ke arahku dan hanya fokus melihat ke arah depan saja.
"Bukan urusan Tante!" jawab ku lalu kembali melangkah.
"Baik, sepertinya kita memang tidak bisa bicara baik-baik. Jadi jangan salahkan aku kalau aku memberitahukan kepada ayahmu tentang hubunganmu dengan anakku. Aku juga akan meminta ayahmu untuk menjauhkan mu dari Yoga, keluarga kalian tidak pantas...!"
"Cukup Tante! saya selama ini hanya diam dan menerima semua penghinaan tante. Tapi kalau Tanti sampai membawa-bawa kedua orang tua saya, saya tidak akan terima, saya tidak akan diam saja. Kalaupun sekarang tante kehilangan kasih sayang dari putra tante, itu semua bukan kesalahan saya. Harusnya tante mencari tahu dulu kebenarannya sebelum menuduh seseorang dan menghinanya seperti yang tante lakukan kepada saya!" ucap ku panjang lebar.
__ADS_1
Aku bisa melihat rahang tante arti mengeras itu tandanya dia sedang kesal.
"Banyak bicara, aku bahkan mendengar nilai akademik saja nihil. Berani bicara tidak sopan seperti itu kepadaku!" ucapnya yang terkesan masih sangat arogan dan sombong.
'Ih, apa sih yang dia sombongin. Heran! udah keriput juga. Masih cantikan juga Ibu Rita daripada dia!' aku mengomel dalam hati.
Aku sungguh sangat kesal dengan sikap sombong dan arogan dari ibunya Kak Yoga ini. Kalau saja aku tidak memandang Kak Yoga, sudah kutinggalkan sejak tadi wanita ini.
"Aduh, Rasti jadi serba bingung deh ngadepin tante Asti. Rasti diam salah, Rasti ngomong juga tetep aja di mata tante Asti, aku ini salah. Jadi Tante Asti maunya gimana?" tanya ku yang mulai jengah menghadapi sikap sombong dari calon mertuaku di masa depan ini.
"Bicara pada Yoga agar dia mau pulang ke rumah!" ucap Tante Asti yang terkesan sangat yakin kalau aku akan menuruti kemauannya ini.
Oh, aku rasa bukan sepertinya dia sedang memerintah aku.
"Maaf ya Tante Asti yang terhormat, kalau masalah itu sih saya tidak bisa bantu. Karena kak Yoga bilang, dia tidak mau tinggal dirumah orang yang tidak percaya kepadanya, dan orang yang tidak bisa menghargai keputusan nya! jadi Tante Asti yang terhormat, sekali lagi saya minta maaf ya saya nggak bisa bantu!" ucapku ya langsung berjalan menuju ke rumahku.
"Jalan pak supir!" aku mendengar tante Asti bicara sambil membentak sopirnya.
'Uh, kasihan banget deh tuh pak sopir. Pasti dia tuh yang bakalan kena getahnya nanti. Padahal dia mah gak tahu apa-apa, Ck...!' keluh ku dalam hati.
Aku terus berjalan ke arah rumah tanpa memperhatikan lagi mobil yang dikendarai oleh sopir tante Asti dan tante Asti sendiri. Tapi aku benar-benar terkejut ketika mobil itu malah berhenti di depan rumah ayah ku.
'Eh, loh kok malah berhenti di situ?' tanya ku dalam hati. Dan segera berlari menuju rumah.
__ADS_1
***
Bersambung...