
Saat ujian berlangsung, otakku terus saja memikirkan tentang beberapa preman yang berdiri di seberang jalan tadi pagi. Bagaimana pun aku berusaha untuk tetap tenang berfikir positif bahkan berusaha untuk memikirkan hal lain, tapi tetap saja konsentrasiku terbagi menjadi dua.
Aku masih khawatir memikirkan nasibku selanjutnya, di satu sisi ujian kenaikan kelas jika aku tidak mengerjakannya dengan benar maka aku tidak akan naik kelas. Sedangkan saat ini ujiannya adalah bahasa Indonesia, mata pelajaran yang selalu aku dapatkan nilai yang lebih buruk daripada pelajaran bahasa Inggris dan matematika.
Dan di sisi lain aku masih memikirkan kecemasanku, Meskipun aku berusaha meyakinkan diriku bahwa Tuhan akan selalu melindungiku, tapi dari cerita-cerita di novel yang sering aku baca, juga kisah-kisah di film-film yang sering aku tonton bersama dengan teman-temanku. Sebelum orang baik itu mendapatkan pertolongan pasti akan ada ujian dulu sebelumnya.
Aku terus menggigit ujung pensil yang aku gunakan untuk mengisi lembar jawaban.
"Lu laper ya? belum sarapan?" tanya sebuah suara yang terdengar serak dan berat.
Suara itu berasal dari orang yang sepertinya berada di sebelah kananku. Saat aku menoleh, benar saja orang itu sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit untuk ku artikan.
Orang itu adalah Luthfi, manusia yang memiliki kelebihan dalam dirinya. Yang beberapa kali pernah mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan padaku.
Ting
Tiba-tiba ide brilian muncul di otakku yang mungil ini. Jika selama ini Luthfi bisa penyebab beberapa kejadian akan terjadi di masa depan dengan benar. Kenapa aku tidak coba untuk bertanya kepadanya, apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
"Eh Luthfi, gue mau nanya dong. Lu kan bisa melihat masa depan ya..." aku baru saja akan bertanya tapi guru pengawas yang sudah berdiri di depan kelihatan mengawasiku.
"Rasti!" panggil guru pengawas itu.
Aku secepat kilat langsung menoleh kearah guru yang memanggil. Aku meletakkan bensin yang kupegang ke atas kertas lembar jawaban.
"Iya Bu!" sahut ku dengan cepat juga agak gugup.
"Sedang apa kamu, saat ini kamu sedang ujian. Jangan malah sibuk ngobrol seperti itu!" tegur Bu Utami. Guru kimia.
Aku langsung mengangguk kan kepala ku dan meminta maaf pada Bu Utami.
"Maaf Bu!" ucapku singkat.
Semua mata yang tadinya fokus pada ujian mereka pun, menoleh ke arah ku. Aku jadi sangat canggung. Tapi di antara beberapa pasang mata itu, ada sebuah kilatan dari mata seseorang yang tengah menatapku dengan tajam. Friska, siswi yang kemarin dikeluarkan dari dalam kelas itu terlihat tersenyum miring melihat ke arahku. Tatapan nya terkesan remeh.
__ADS_1
Aku segera memalingkan pandangan ku ke arah lain. Dan kemudian lanjut mengerjakan soal ujian lagi. Rasanya sedikit tidak puas, karena apa yang ingin kutanyakan pada Luthfi tidak bisa ku tanyakan sekarang.
Beberapa waktu berlalu, aku masih mengerjakan beberapa soal yang belum aku temukan jawabannya. Sampai Bu Utami, berkata.
"Waktu habis, silahkan keluar sekarang dan tinggalkan lembar soal dan juga lembar jawaban kalian di atas meja!" seru Bu Utami dengan nada tegasnya.
Di sekolah ini memang semua guru guru terkesan seperti guru yang sangat garang. Hanya ada beberapa guru saja yang bisa diajak bercanda oleh murid-muridnya, dan itu pun tidak lebih dari hitungan jari. Padahal jumlah guru di sekolah ini ada puluhan orang.
Aku keluar sambil memakai tas ransel ku, saat aku berjalan di koridor menuju ke perpustakaan, seseorang menepuk pundak ku dari arah belakang.
Deg
Jantung ku rasanya benar-benar mau copot. Tapi setelah itu terdengar cukup suara yang cukup familiar di telingaku.
"Woi, bengong aja dari tadi! kenapa lu?" tanya David.
Aku langsung menepis tangannya dan berbalik, aku mengelus dadaku dengan perlahan berkali-kali.
"Astaga, David. Jantung gue nyaris lepas tahu gak!" keluh ku pada pemuda yang malah dengan tampang tidak berdosa nya sedang cengengesan di depan ku.
"Tapi elu tuh, lihatin nya kesini!" dia lagi-lagi bicara sambil mempraktekkan kalau aku malah melihat ke sisi kiri.
Aku tak menyangka kalau ternyata David memperhatikan sampai sedetail itu, tapi kurasa akan lebih baik jika dia tidak tahu dan tidak terlibat dalam hal ini.
"Ck... ya gue lihat lembar jawaban gue lah!" ucapku beralasan. Padahal apa yang dikatakan David itu benar, aku memang sedang tidak fokus.
"Galau lu ya, gak sekelas sama Marco!" tuduhnya sembarangan bicara.
Aku langsung membelalakkan mataku heran.
"Idih, apa urusannya sama tuh anak!" protes ku.
Saat aku mengatakan hal itu, David malah terkekeh.
__ADS_1
"Elah, pakai ngotak segala lu. Kalian berdua kan udah jadian kan?" tanya David nyaris membuat rahang ku terjatuh.
"Lu ngomong apa barusan?" tanya ku penasaran pada David.
Masalahnya hoax tentang hal itu harusnya sudah tidak ada lagi, karena aku sudah minta Marco membersihkan berita tidak benar itu. Sekarang malah David masih bicara omong kosong ini lagi.
Aku menghela nafasku berat, kenapa sih saat ujian di sekolah, kehidupan ku juga banyak sekali ujiannya. Berasa buy one get three gitu masalahnya. Aku tidak ingin David salah paham, aku mencoba untuk menjelaskan pada David.
"Please dengerin gue ya Vid, gue sama Marco gak pernah jadian dan gak bakalan pernah jadian. Oke!" ucapku dengan sangat jelas. Aku rasa.
David terdiam sejenak.
"Kenapa?" tanya nya bingung.
Aku mengernyitkan dahi ku.
"Kenapa gimana? kenapa apanya?" tanya ku pada David.
"Kenapa lu yakin banget gak bakalan jadian sama Marco, dia itu ganteng meskipun gak seganteng gue, dia pinter, dia kaya, anak milyarder loh!" jelas David.
Aku bahkan merasa kalau dari perkataan David tentang Marco ini, dia seperti sedang memuji Marco.
"Ya gak bakalan lah, perbedaan kita tuh banyak..."
"Perbedaan keyakinan?" tanya David menyela.
Aku mulai serius dengan pembicaraan ini, masalah keyakinan itu bukan hal yang mudah untuk di singgung. Aku memang memiliki keyakinan yang berbeda dengan Marco dan David. Tapi aku sangat menghormati keyakinan mereka itu.
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Gue gak naif juga sih Vid, semua yang lu bilang tentang Marco itu emang benar. Tapi ini tuh masalah nya tuh masalah hati, gue gak klik sama Marco, jadi gue rasa gue gak bakalan bisa sama dia!" jelas ku membuat David manggut-manggut. Entah itu tandanya dia mengerti atau hanya sekedar action-nya saja.
***
__ADS_1
Bersambung...