Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Membahas Pernikahan


__ADS_3

Saat ini hari semakin sore, tapi kami masih berada di rumah sakit untuk menunggu kedatangan orang tua Panji. Bukan untuk membayar biaya perawatan Panji di rumah sakit. Karena semua itu sudah di selesaikan oleh pak Yoga.


Kami disini untuk menunggu orang tua Panji untuk memastikan mereka datang dan mengetahui keadaan Panji. Setelah Panji sadar tadi para dokter dan perawat kembali memeriksanya, bahkan sampai di Rontgen. Tapi aku sangat bersyukur ternyata memang tidak ada yang parah, dia hanya trauma kepala ringan karena terkejut pada hantaman bola.


Saat ini pemuda itu bahkan sudah bisa bercanda dan makan burger dengan lahapnya. Sebelum kemari tadi pak Yoga benar-benar membelikan aku dan Panji burger sangat banyak, kami bahkan ragu apa kamu bisa menghabiskan nya.


"Makannya pelan-pelan Panji!" seru pak Yoga karena melihat Panji makan dengan buru-buru seperti aku akan merebut makanan nya saja.


"Laper banget pak, sarapan siang tadi pagi. Siang tadi saya pingsan, jadi pas bangun tuh perut nih berada dah ada festival keroncong nya gitu!" jawab nya dengan mulut yang masih penuh dengan potongan burger yang dia gigit.


Pak Yoga hanya tersenyum, dan aku meraih beberapa lembar tissue yang ada di atas meja dan memberikan nya pada Panji.


"Nih, di lap mulut lu belepotan!" ujar ku sambil menyodorkan tissue di tangan ku ke arahnya.


Tapi bukannya mengambil dengan tangannya, Panji malah menyodorkan pipinya padaku.


"Lap-in dong, tangan gue juga kotor nih!" ucap nya tanpa dosa.


Aku lantas memasang raut tidak suka.


"Ih, lap sendiri udah gede kan!" balas ku lagi.


"Gue kan lagi sakit, lu tega bener sih. Kan gue cuma minta tolong lap doang...!" ucapnya seperti seseorang yang teraniaya yang sedang merajuk.


Tapi belum selesai Panji bicara, pak Yoga meraih tissue yang ada di tangan ku dan mengusap noda di pipi Panji.


"Pffttt!" aku benar-benar tak bisa menahan tawaku saat ini.


"Ha ha ha !"


Wajah Panji merengut, dan pak Yoga hanya tersenyum kecil, sangat sangat kecil.


"Sudah, tidak usah berdebat lagi. Lanjutkan makan kalian!" seru pak Yoga setelah membuang tissue bekas pakai tadi ke kotak sampah yang ada di dekat pintu kamar rawat Panji ini.


Suasana pun mendadak hening, karena Panji yang kurasa sangat malu atas kejadian tadi. Dan aku pun merasa kalau oak Yoga sedikit kesal padaku, kalau aku tidak mengambil tissue tadi, pasti adegan seperti itu tidak perlu terjadi. Panji tidak akan merengek bersikap manja padaku, dan pak Yoga tidak perlu berbuat seperti tadi juga.


"Bapak gak makan?" tanya Panji membuka suara. Membuat aku dan pak Yoga langsung menoleh ke arahnya secara bersama.


Aku lalu melihat ke arah pak Yoga, benar juga kenapa pak Yoga tidak makan. Kalau aku ingat lagi, waktu di rumah pak Yoga, meskipun dia membelikan aku makanan ini dia juga tidak makan. Apa dia vegetarian? tapi waktu makan siang yang dia masak waktu itu dia masak daging tumis dan dia makan. Aku jadi penasaran jadinya.


"Iya pak, kenapa bapak tidak ikut makan?" tanya ku ingin tahu.


Pak Yoga lalu melihat ke arah ku dan juga ke arah Panji secara bergantian.


"Saya tidak makan makanan junk food! itu saja alasannya!" jawab pak Yoga menjelaskan pada kami berdua.


Aku dan Panji lalu saling pandang dan membulatkan mulut kami membentuk huruf O. Tapi kemudian Panji mencubit lengan ku.


"Augh! apaan sih!" pekik ku memprotes apa yang di lakukan oleh Panji.


"Ngapain lu ikut-ikut, nyama-nyamain ekspresi gue. Gak kreatif lu!" balas nya.


"Ih, siapa yang nyama-nyamain lu? lu tuh ngikutin gue!" ucap ku tak terima.

__ADS_1


"Gak kreatif lu!" seru Panji.


"Dasar Panjul lu!" balas ku tak mau kalah.


"Dasar cantik lu!" ucapnya cepat.


"..." aku terdiam, aku awalnya ingin mengucapkan kata-kata yang mungkin akan terdengar mengatainya. Tapi saat dia memuji aku bingung harus membalas dengan kata apa dan kalimat yang bagaimana.


Alhasil aku terdiam, tapi kemudian aku lihat pak yoga beranjak dari kursinya dan terlihat memeriksa pintu.


"Orang tua kamu belum datang juga Panji?" tanya pa Yoga setelah dia kembali menghampiri Panji.


Panji hanya menggaruk kepalanya yang mungkin sebenarnya tidak gatal.


"Maaf pak, saya sudah merepotkan bapak. Kalau bapak mau ada keperluan lain, bapak bisa tinggalkan saja saya disini, tidak apa-apa! kan ada Rasti!" ucapnya sambil tersenyum.


Pak Yoga tidak lantas menjawab, dia masih melihat ke arah ku. Dan aku yakin, dia tidak akan meninggalkan aku disini bersama Panji. Melihat kami bercanda saja seperti nya pak Yoga sangat terganggu dan mukanya itu Bete.


"Tidak apa-apa, saya akan temani kalian sebentar lagi. Lagi pula saya tidak pekerjaan yang penting!" ucap Pak Tiga kemudian.


"Kalian sudah lama bersahabat?" tanya pak Yoga sambil menatap ke arah ku.


Aku baru akan membuka mulutku untuk mengeluarkan jawaban atas pertanyaan pak Yoga. Tapi Panji malah menyela.


"Sudah pak, dari kecil lah. Kami kan tetangga, TK kami satu sekolah, SD kami satu sekolah, SMP juga satu sekolah, bahkan SMA kami masih juga satu sekolah tapi anehnya kami tuh gak pernah gitu satu kelas yang sama!" jelas Panji panjang lebar menjawab pertanyaan pak Yoga.


Aku kira pak Yoga akan marah karena jelas-jelas dia bertanya padaku. Tapi ternyata tidak, dia malah terlihat makin penasaran.


"Benarkah? kenap bisa begitu?" tanya pak Tiga yang kini mengarahkan pertanyaan itu pada Panji karena dia melihat ke arah Panji saat mengeluarkan pertanyaan itu dari mulut nya.


"Tidak tahu pak, mungkin takdir. Apapun yang kami suka itu tidak pernah sama, apa yang kami inginkan juga tidak pernah sama. Hobi, film kesukaan kami...!" Panji menundukkan kepalanya sekilas dan menatap lirih ke arah ku.


Melihat dia menatap ku dan bicara dengan nada sedih seperti itu sebenarnya membuat ku merasa ikut sedih.


Tapi kemudian dia tersenyum padaku dan memegang tangan ku secara tiba-tiba.


"Tapi soal makanan kami selalu menyukai sesuatu yang sama, dia suka bakso saya juga suka, dia suka burger saya apalagi, dan milkshake itu adalah minuman kesukaan kami. Iya kan Ras?" tanya nya padaku sambil masih menggenggam tangan ku.


Aku berusaha melepaskan tangan ku dari Panji tapi dia malah menggenggam nya semakin erat.


"Iya kan Ras?" tanya nya lagi karena pertanyaan yang sebelumnya belum aku jawab.


Aku langsung mengangguk kan kepala ku dengan cepat.


"I... iya. Tapi lepasin dulu tangan gue Panjul, sakit tahu!" keluh ku dan akhirnya dia melepaskan tangannya dari tangan ku.


Aku melihat raut wajah pak Yoga makin Bete. Aku jadi bingung mau bicara apa. Tapi kemudian kedua orang tua Panji datang. Mereka terlihat sangat panik dan langsung memeriksa keadaan Panji.


Aku tahu meskipun mereka sibuk, tapi mereka sangat menyayangi Panji. Mereka akan meninggal kan semua pekerjaan mereka dan datang pada putra nya yang tengah mengalami kesulitan.


"Terimakasih pak guru, bapak baik sekali. Bapak sampai mengantarkan Panji ke rumah sakit, datang kerumah untuk memberitahu kami dan juga menunggui Panji sampai kami datang. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan pak guru!" ucap Ayah Panji berterima kasih dan mendoakan segala kebaikan pada pak Yoga.


Pak Yoga hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya beberapa kali. Dia memang terlihat sangat tulus, bukan hanya terlihat, dia memang lah sangat tulus.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, pak Yoga pun mengajak ku untuk pulang. Aku pamit pada Bu RT yang juga adalah ibu Panji.


"Rasti sayang, makasih banyak ya. Ibu janji deh KTP kamu besok pasti udah jadi!" ucapnya padaku.


Aku mengangguk senang.


"Makasih Bu RT!" sahut ku.


"Ih Rasti, ibu yang makasih. Kamu tuh selalu baik sama Panji. Kenapa kalian gak pacaran aja sih, kalian tuh kan temenan dari kecil, gak bosen temenan terus...!"


Ucapan Bu RT itu terhenti karena sang suami menyenggol lengan nya.


"Bu, disini juga ada guru mereka. Ibu ngomongin itu ntar aja!" gumam Pak RT.


Ibu Panji hanya tersenyum canggung pada pak Yoga yang wajahnya sedikit suram, sepertinya dia kesal.


"Saya permisi dulu, bapak dan ibu, Panji bapak pulang dulu. Jaga diri kamu baik-baik ya!" seru pak Yoga sebelum mengajak ku keluar dari ruangan rawat Panji.


Sepanjang perjalanan menuju ke mobil, pak Yoga masih diam dan aku hanya berjalan mengikuti nya dari belakang. Aku tidak akan bertanya, karena aku sudah tahu apa yang membuatnya kesal.


Kami berdua sudah masuk ke dalam mobil, tapi sejak lima menit yang lalu belum ada tanda-tanda kalau pak Yoga akan menyalakan mesin mobilnya. Aku rasa dia sedang berfikir dan belum menemukan jawaban nya. Aku rasa dia takut kalau pikiran nya masih semrawut, dia tidak akan bisa fokus mengemudikan mobilnya.


"Rasti!" panggil pak Yoga padaku.


Aku menoleh, setelah sekian lama hening. Akhirnya aku mendengar pak Yoga bersuara


"Iya kak!" sahut ku dengan lembut.


"Apakah kalau aku ingin menikahi mu setelah kamu lulus nanti, kamu akan bersedia?" tanya nya lagi dan kali ini dia menatap ku dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku tidak tahu harus menjawab apa, bukan karena aku ingin kuliah dan menjadi apalah, karena aku juga tidak ingat cita-cita ku apa. Dan untuk saat ini aku memang hanya ingin lulus saja. Selebihnya akan aku lihat nanti, tapi menikah?


Aku masih diam, sebenarnya aku tidak suka mendengar kata itu. Pernikahan! itu membuat ku kesal, pernikahan ayah dan ibu ku berakhir dengan tidak bahagia, aku benar-benar tidak suka kata itu di tujukan padaku.


"Kamu tidak mau menikah dengan ku?" tanya pak Yoga lagi.


"Kak, aku bahkan belum punya KTP loh!" jawab ku memberikan alasan yang logis.


Dia tersenyum kecut.


"Kamu tidak dengar atau pura-pura tidak dengar Rasti? yang aku tanyakan adalah setelah kamu lulus sekolah....!"


Aku langsung merangkul lengan pak Yoga, membuatnya berhenti bertanya.


"Kak, kenapa harus memikirkan hal yang masih belum terjadi. Kakak tahu kan otakku ini minimalis, tidak tahu juga tahun depan bisa lulus atau tidak. Aku tidak mau memberi harapan pada kak Yoga. Tapi aku akan berusaha!" jelas ku panjang lebar.


Pak Yoga terlihat mengulas senyum.


"Baiklah kalau begitu, ada aku kan yang akan mengajari ku dengan baik. Aku yakin kamu akan lulus! Sekarang aku antar kamu pulang!" ucapnya dan aku mengangguk kan kepala ku dengan cepat.


Pak Yoga pun segera menyalakan mesin mobilnya, dengan aku yang masih bersandar di lengannya. Aku tidak mau dia membahas masalah pernikahan lagi, karena aku sangat tidak suka mendengar nya. Entahlah sampai kapan, tapi sekarang aku benar-benar membenci kata itu tertuju padaku.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2