Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Perbedaan Parit dan Got


__ADS_3

Aku menoleh ke belakang, memastikan bahwa Tirta sudah pergi, dan ternyata benar, dia memang sudah melajukan motor nya. Seperti nya aku benar-benar membuatnya harus ngebut karena tadi aku bangun kesiangan dan penyebabnya tak lain tak bukan adalah karena jam di dinding kamar ku mati karena baterai nya habis.


Padahal saat aku akan tidur, jam di kamar ku itu masih berfungsi dengan baik. Tapia kenapa begitu pagi menjelang dia berhenti bergerak, membuat ku memejamkan mata lagi ketika aku melihat waktu dimana dia berhenti itu masih sangat pagi.


Mungkin seharusnya aku memang harus lebih percaya pada perasaan ku, karena sebenarnya tadi itu aku sudah bangun karena merasa sudah saatnya aku bangun, tapi aku tertipu oleh pandangan ku terhadap jam dinding ku yang bergambar dan berbentuk Winnie the Pooh itu.


Ketika aku berjalan di koridor menuju ke kelas, beberapa orang melihat ke arah ku sambil tertawa, aku jadi ragu apa rambut ku acak-acakan karena tadi Tirta ngebut. Tapi kan aku pakai helm, kurasa tidak masalah kan. Tapi untuk memastikan aku harus segera ke kelas dan mengambil cermin kecil yang selalu ada di ransel ku. Aku mempercepat langkah ku dan berjalan dengan cepat ke kelas 11 IPS II.


Seperti biasanya aku masuk ke dalam kelas di saat semua teman sekelas ku sudah berada di dalamnya, batu satu langkah kaki ku menginjak ruangan yang sudah selama 209 hari aku masuki setiap pagi untuk menuntut ilmu, menimba pengetahuan dan meraup bekal untuk hidup di masa depan. Kelas yang tidak pernah berubah susunan papan tulisnya, wastafel tempat para guru mencuci tangan saat masuk dan keluar, juga jam dinding berwarna putih dengan pinggiran berwarna biru yang masih setia menemani meski sudah berulang kali di ganti baterai.


Bel masuk sekolah telah berbunyi.


"Fiuhh... untung aja gue gak telat. Tapi mendadak disko nih jantung gue pagi-pagi di ajak ngebut!" gumam ku sambil berjalan ke arah meja ku.


"Sehat lu Ras? ngapain lu komat-kamit pagi-pagi? lagi baca mantra lu?" tanya Marco iseng.


Aku tidak menanggapi apa yang di katakan oleh Marco dan lebih memilih untuk melenggang ke meja ku yang tinggal beberapa langkah lagi.


Begitu aku mendekati arah meja ku, Dewi dan Nina terlihat berdiri dengan cepat dan menghampiri ku.


"Ras, lu apaan sih? gaya rambut model baru apa gimana itu?" seru Dewi sambil menarik beberapa helai rambut ku ke atas.


"Rasti, lu gak mandi apa gimana sih?" tambah Nina yang mengendus-endus rambut dan juga sekitar lengan ku.


Aku merasa semua orang yang ada di dalam kelas ini jadi memperhatikan aku gara-gara kedua teman ku yang absurd ini. Merasa risih, aku menepis tangan mereka dan duduk di kursi ku.


"Ih, coba minggir dulu!" ucap ku sambil duduk dan mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas ku.


Aku melihat kearah cermin itu, dan...


"Oh my... !"


"Wow!" sambung Dewi menyela ucapan ku.


Aku terkesiap, aku langsung mengambil sisir dari dalam tas dan menyisir rambut ku yang acak-acakan, bagian yang tertutup helm aman, tapi bagian bawah, apalagi bagian belakang, itu sudah seperti mie kering yang yang acak-acakan.


Dewi ikut mengeluarkan sisir dari dalam tasnya.


"Gue bantuin ya, sebelum Bu Tari masuk kelas?" tanya nya menawarkan bantuan. Aku dengan senang hati menerima bantuannya dengan menganggukkan kepala ku.


Tentu saja aku senang dia mau membantu, sebab ini adalah jam pelajaran Bu Tari, dan dia paling tidak suka ada yang bercermin di dalam kelas nya, apalagi merapikan rambut seperti yang sedang aku lakukan sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, rambut ku sekarang ini memang sudah seperti rambut singa yang terkena sengatan listrik alias singa kesetrum.


"Augh!" pekik ku ketika Dewi membantu menyisir bagian paling belakang rambut ku.


"Pelan-pelan Wi, gue masih muda, belum punya pacar juga. Ya kalo kepala gue botak, gara-gara lu nyisirin gue pake cara bar-bar gitu!" keluh ku karena Dewi menyisir rambut ku benar-benar seperti sedang sangat mendendam padaku.


"Sorry Ras, tapi ini kusut parah sih!" elak nya beralasan tapi kurasa memang apa yang dia katakan itu benar. Rambut ku memang parah kusut nya.


"Nih, pakai pelembab rambut gue!" ujar Yusita memberikan botol kecil pelembab rambutnya pada Dewi.


"Nah, ini dia solusi tepat nya!" seru Dewi sambil meraih botol itu dari tangan Yusita.


Yusita yang sedari tadi masih sibuk membaca buku paket di hadapannya ikut berdiri dan mendekati ku.


"Emang gimana ceritanya Ras, rambut ku bisa kusut gitu?" tanya Yusita sambil melepaskan kacamata bacanya.


"Abis balapan MotoGP gue tadi pagi!" sahut ku asal. Tapi memang benar kan, kalau aku habis di ajak ngebut oleh Tirta.


Aku sempat melihat ekspresi Yusita sekilas yang sepertinya agak bingung.

__ADS_1


"Seriusan Ras, emang lu bisa naik motor? bukanya lu bilang waktu lu belajar motor waktu lu masih SMP, lu nyungsep di got kan?" tanya Nina yang masih mengingat apa yang waktu itu aku ceritakan padanya.


Nina terkekeh bersama Dewi dan Yusita.


"Iya bener, gak elit banget lu Ras. Nyungsep di got!" sambung Dewi sambil mengoleskan pelembab rambut milik Yusita pada rambut ku agar rambut ku ini mudah disisir.


"Eh gue gak pernah bilang nyungsep di got ya!" bantah ku karena seingat ku aku tidak mengatakan kata got waktu itu.


"Iyakah?" tanya Yusita yang seperti nya berfikir dan mengingat-ingat lagi apa yang aku katakan waktu itu.


"Coba deh kalian bertiga inget lagi, gue tuh gak pernah bilang kalau gue nyungsep di got, gue bilang gue nyungsep di parit depan rumah Pak RT!" jelas ku pada mereka.


Plakk


"Augh!" pekik ku karena Dewi memukul lengan ku.


"Eh dudul, gue tanya sama lu ya? apa bedanya parit sama got?" tanya Dewi memprotes apa yang aku katakan.


"Yusita, lu jelasin deh sama temen dudul lu yang satu ini!" seru Dewi lagi. Seperti ya dia tidak terima hanya masalah perbedaan parit dan got saja.


Nina yang sejak tadi memperhatikan seperti nya juga gatal ingin ikut menyela.


"Ih apaan sih kalian ini. Pagi-pagi ribut masalah parit sama got. Nina yang gak pinter-pinter amat ini juga ngerti kali, kalo parit, got, selokan comberan itu tuh sama!" jelasnya.


Aku dan Dewi bahkan sudah berhenti sejenak dari aktivitas kami menyisir rambut ku yang acak-acakan.


"Sama-sama bau!" lanjut Nina dan membuat kami bersorak bersama ke arah nya.


"Hu!" sorak kami bertiga. Tapi kurasa suara Dewi yang paling kencang.


"Gue kira lu tahu jawaban yang bener, kalau soal bau doang mah anak TK juga tahu kali!" protes Dewi lagi.


"Nah masih di bahas!" keluh Dewi lagi.


"Lu tadi yang nyuruh Yusita ngejelasin kan dudul, udah di jelasin ngapa lu malah protes!" aku ikut bersuara lagi.


Dan perdebatan kami mengenai got dan juga parit, harus berhenti sampai disini karena Bu Tari sudah masuk ke dalam kelas.


Dengan cepat aku memasukkan sisir dan cermin ku ke dalam tas, jika tidak Bu Tari tidak hanya akan mengambilnya. Tapi juga akan menghukum ku, dan untuk guru killer sekelas Bu Tari. Maka hukuman paling ringan adalah membersihkan toilet putra. Iyuh, itu adalah hal yang paling siswa-siswi disini hindari. Karena toilet putra itu Iyuh banget pokoknya. Aku sih belum pernah masuk ya kesana, dan aku tidak pernah ingin masuk kesana.


Seperti biasa nya Marco menyiapkan kami semua, dan kami pun memberi salam pada Bu Tari. Kami memulai pelajaran hari ini dengan pelajaran Bahasan Indonesia.


"Baiklah anak-anak, kita akan langsung saja pada materi kita hari ini, yaitu mengenai Proposal. Ada yang tahu apa itu proposal?" tanya Bu Tari pada kami semua.


Dan seperti biasanya, Tri Murti versi kelas sebelas IPS II lah yang akan mengacungkan tangan mereka. Aku sih cukup jadi penonton dan penyimak setia saja, mana di antara mereka bertiga yang akan terlebih dahulu mengangkat tangan.


Dan ternyata Dodo yang lebih dulu,


"Iya Dodo! silahkan!" seru Bu Tari.


Dan ketika Dodo berdiri untuk menjelaskan, aku menoleh ke belakang. Yusita terlihat melepaskan kacamata bacanya. Seperti nya dia tidak senang di dahului oleh Dodo.


"Proposal merupakan rancangan kegiatan yang dituliskan dalam bentuk rancangan kerja yang akan dilaksanakan. Dengan kata lain, isi yang tertulis dalam proposal bukanlah sesuatu yang basa-basi, namun sesuatu yang serius. Dalam artian, ditulis untuk digunakan. Maka dari itu, pembuatannya juga harus jelas dan rinci agar mudah dijalankan!" itulah penjelasan Dodo.


Dan aku hanya bisa menelan saliva ku dengan kepayahan.


'Haduh, proposal. Gak jauh-jauh nih, pasti nanti tugasnya bikin proposal juga nih. Ribet amat sih!' keluh ku dalam hati.


Bu Tari tersenyum, ketika Dodo duduk kembali ke kursinya.

__ADS_1


"Bagus, tapi apakah selain dari Dodo, Yusita atau Marco. Di kelas ini tidak ada yang membaca materi sebelum guru yang bersangkutan menerangkan, tidak kah kalian merasa iri pada pada teman kalian yang tiga orang ini?" tanya Bu Tari.


Kalau aku boleh lantang berbicara tentu saja aku akan mengatakan kalau aku juga iri pada mereka. Tapi apa daya, kapasitas otakku memang hanya segini, mau bagaimana lagi.


"Sekarang ibu tanyakan lagi pada kalian, selain Dodo, Yusita dan Marco ya. Ada tidak yang bisa mengemukakan pendapat kalian tentang proposal?" tanya Bu Tari.


Dan kali ini tatapannya menuju ke arah David, cowok paling tengil di kelas ini. Aku juga jadi penasaran apa yang akan dia jawab.


"David, apa itu proposal?" tanya Bu Tari.


"Proposal? proposal itu dari kata propose kan? artinya lamaran. Karena kita masih SMA mungkin bisa di artikan proposal itu sama kayak kalau saya nembak cewek gitu!" jelas David yang langsung mendapat kan sorakan dari seisi kelas.


Aku bahkan ikut bersorak, bagaimana bisa dia menjawab dengan kalimat seperti itu pada Bu Tari.


"Parah ni anak! gak gitu juga kali konsep nya!" celetuk Dewi.


Nina bahkan menoleh ke belakang dan berbisik padaku juga Dewi.


"Wah, bocor tuh si David. Siap-siap dia marathon keliling lapangan!" bisik Nina lalu berbalik ke depan lagi.


Bu Tari menggelengkan kepalanya, cukup lama dia terdiam dengan tatapan kesal pada David.


"David, silahkan keluar dari ruangan ini!" tegas Bu Tari sambil menggebrak meja.


David tersentak dan langsung berlari keluar, seketika suasana kelas menjadi begitu hening.


"Masih ada yang ingin menjawab pertanyaan saya dengan candaan seperti David?" tanya Bu Tari dengan mistar kayu di tangannya.


'Ya ampun, mimpi apa gue semalem. Pagi-pagi spot jantung begini gue. Lagian dudul amat sih si David, udah bagus Dodo bikin Bu Tari senyum, dia malah bikin tanduk Bu Tari keluar!' keluh ku dalam hati.


Kenapa aku mengeluh? tentu saja karena setelah ini Bu Tari pasti akan lebih tegas lagi pada kami dan tugas yang akan dia berikan pasti juga tidak main-main.


Kalau Bu Tari marah, yang awalnya tugas hanya 2 halaman, bisa mendadak berubah menjadi 12 halaman, itulah kenapa Bu Tari mendapatkan predikat guru killer dari senior sebelum kami.


Bu Tari mulai menjelaskan panjang lebar, aku mencatat nya meskipun banyak yang ketinggalan.


"Dewi, jelaskan apa itu Proposal Penelitian?" tanya Bu Tari pada Dewi.


Aku yang kebetulan duduk di depan Yusita mendapatkan kode dari Yusita untuk membuka halaman 107 yang dia tuliskan dengan tangannya di punggung ku. Aku segera membalik halaman itu dan menemukan jawaban dari pertanyaan Bu Tari. aku menyenggol lengan Dewi dan menunjuk pengertian proposal penelitian yang Bu Tari tanyakan pada Dewi.


Dewi membacanya,


"Proposal penelitian adalah proposal yang dirancang dan disusun untuk mempersiapkan suatu rencana penelitian Bu!" jawab Dewi terbata-bata seperti nya dia sangat gugup.


Bu Tari menganggukkan kepalanya perlahan.


"Bagus, Dewi saja bisa menjawab nya. Artinya kalian pasti mengerti semua kan?" tanya Bu Tari.


Aku mengernyitkan dahi ku,


'Apa maksud perkataan Bu Tari ini? apa dia mau mengatakan jika Dewi ini adalah murid dengan prestasi paling tidak baik, haduh... Bu Tari ini benar-benar ya!' batin ku lagi merasa tidak senang dengan apa yang Bu Tari katakan.


Tapi kemudian aku menoleh ke arah Dewi, seperti nya dia masih bersikap biasa saja. Apa dia sebenarnya tidak mengerti maksud dari Bu Tari yang menyindirnya tadi.


"Sekarang ibu akan berikan kalian tugas untuk membuat proposal secara berkelompok, satu kelompok terdiri dari dua orang, dan siapa yang mampu menyebutkan 4 jenis proposal, maka dia berhak menentukan setiap kelompok beranggotakan siapa saja!" jelas Bu Tari.


Aku sih berharap nya Yusita yang angkat tangan, tapi ternyata dugaan ku salah. Si ketua kelas yang nyebelin itu lebih dulu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2