
Kami sudah berada di ruang kesenian, Bu Davina meminta agar Yusita dan Marco yang terlebih dahulu mulai latihan, dan beberapa pemain musik dan penyanyi menentukan lagu apa yang akan mereka bawakan.
Dan menentukan di part part mana saja mereka harus bernyanyi. Sedangkan aku dan pemeran pembantu lainnya hanya memperhatikan dari tempat duduk yang ada di dekat jendela dan di dekat pintu pokoknya di pinggiran ruang kesenian.
Yusita tampak gugup, beberapa kali dia salah mengucapkan dialog untuk adegan yang akan diperankan. Beberapa kali juga Bu Davina menegur dan menghela nafasnya melihat Yusita mengulang 3-4 kali dialog yang sama padahal kata-kata dalam kalimat itu mungkin hanya sekitar 5 sampai 6 kata saja.
Kurasa Yusita benar-benar gugup, tapi semua peran sudah ditentukan. Jadi sudah tak dapat diubah lagi, tatapan Marco terus saja ke arah ku. Tapi dia hanya diam dan tidak bicara apapun.
"Eh, kenapa tuh Yusita?" tanya Dewi padaku.
"Lu nanya sama gue, terus gue harus nanya sama siapa gitu? kan dari tadi juga gue duduk sini bareng sama lu sama Nina!" jawab ku cuek.
"Kalian perhatian nggak sih kalau dari tadi tu yosita ngelihat kita bertiga, terus dia nggak berani ngeliatin mukanya Marco. Apa dia abis di omelin ya sama Marco?" tanya Nina sepertinya terlihat mencemaskan sesuatu hal.
Aku juga jadinya penasaran, kenapa Yusita sepertinya ketakutan. Mungkin alasan dia tidak bisa konsentrasi dan menghafal naskah dengan baik itu karena dia memang ketakutan bukan karena dia tidak mempunyai kemampuan untuk itu.
"Emang tadi sebelum kalian ke sini kalian pisah sama Yusita?" tanyaku pada Nina dan Dewi.
Dewi diam, tapi Nina mengangguk.
__ADS_1
"Iya, tadi kan emang gua keluar duluan tuh bareng Yusita. Karena nungguin si Dewi lama banget. Eh pas kita udah mau jalan di koridor menuju ke ruang kesenian nih, Yusita pamit sama gue mau pergi ke toilet sebentar. Pas balik, dia mukanya sih udah rada aneh gitu cuman pas gua tanya dia jawab dia nggak apa-apa cuman sakit perut aja. Tapi agak lama dari dia keluar tuh dari lorong koridor yang mau ke toilet gua lihat si Marco keluar juga dari sana, cuma gara-gara Dewi datang dan ngajak kita semua buru-buru ke ruang kesenian gue nggak sempat bahas itu sama Yusita!" jelas Nina panjang lebar.
Aku memicingkan mataku pada Marco. Dia tidak mungkin kan melakukan hal itu. Setahu ku dia anak baik. Dan dia juga salah satu anak pengurus yayasan sekolah ini, tapi Yusita juga bukan orang sederhana. Dia juga putri pengusaha beras yang sukses, mereka berdua itu bahkan sama-sama diantar jemput dengan mobil biasanya kalau ke sekolah.
Tidak seperti aku, Nina dan juga Dewi yang terbiasa naik angkutan umum. Dan setelah sampai di depan gang kami pun harus jalan kaki. Lalu, apa ya kira-kira yang dikatakan Marco nggak bisa menekan Yusita hingga menjadi ketakutan seperti itu. Aku jadi dibuat semakin penasaran saja.
"Yusita, ibu akan maklum karena ini adalah latihan pertama kita. Tapi ibu harap pada latihan selanjutnya, kamu tidak lagi seperti ini. Kita hanya mempunyai waktu kurang dari dua minggu untuk latihan. Ibu harap semua bisa berjalan lancar ya!" ucap Bu Davina pada Yusita yang terlihat sangat lelah dan wajahnya menjadi sedikit pucat.
Yusita hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab.
"Baik Bu!" ucapnya singkat.
"Oke selanjutnya kita coba cast dulu Rasti sama David ya, ibu mau cast dulu yang pasangan adegannya, biar kita lihat seberapa kalian bisa mendapatkan chemistry dari adegan yang akan kalian mainkan!" jelas Bu Davina.
Aku dan juga David maju. Kali ini David yang terlihat canggung ketika berhadapan denganku, tidak seperti kemarin kemarin yang justru dia yang membuat aku menjadi salah tingkah.
"Oke, kita coba adegan pertama kalian ya, nanti akan diceritakan pertemuan pertama kalian setelah ibu kandung Juliet meninggal dunia, Rasti kamu datang sebagai saudara jauh dari ibu kandungnya Juliet. Dan saat itu kamu bersikap perhatian sekali pada Juliet, hingga ayahnya Juliet terpesona pada kamu ya, yok bisa yok!" ujar Bu Davina panjang lebar.
Di tempat kami melakukan adegan drama juga sudah di-setting beberapa properti. Dan saat ini adegan ku adalah duduk di sebuah kursi panjang, nanti diset sebenarnya adalah kursi taman berwarna putih. Tapi saat latihan ini kami hanya menggunakan bangku yang biasa digunakan untuk duduk di perpustakaan.
__ADS_1
"Senyorita, aku sudah melihat betapa kamu perhatian pada putriku satu-satunya, jika saja belum ada yang mengisi hatimu, bolehkah aku yang menempati nya?" ucap David dengan diplomatis sekali.
Sebenarnya melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh David, rasanya aku tidak tahan untuk tertawa. Tapi karena tidak ingin membuatmu Davina marah lagi karena latihan yang kedua ini gagal, maka dengan susah payah aku menguatkan diriku sendiri agar tidak tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh David, padahal itu adalah ekspresi yang sangat konyol yang pernah aku lihat dari wajah David.
Seperti yang tertulis dalam naskah kalau aku harus tersipu malu dan menutupi wajahku dengan kipas. Tapi karena ini ada latihan aku pun menggunakan buku tulis sebagai pengganti kipas yang harus yang menutupi wajahku.
"Nicholas, betapa mulia hatimu. Sehingga seorang bangsawan kaya raya sepertimu memandangku yang hanya rakyat jelata. Aku juga tidak se jelita ibu kandung dari Juliet, juga tidak mempunyai keahlian seperti beliau. Tidakkah akan menjadi penyesalan di hatimu jikalau engkau meminangku wahai Tuan bangsawan!" ucapku menirukan sama persis yang ada dalam naskah yang harus aku baca.
Bu Davina bahkan langsung bertepuk tangan dia juga sangat senang, dan itu terlihat dari senyuman yang sedari tadi dia tunjukkan sambil bertepuk tangan.
"Luar biasa, Rasti dan David. Kalian sungguh Laura biasa. Ibu harap nanti di pertunjukan yang sebenarnya kalian akan sebagus ini. Ekspresi kalian benar-benar dapat, benar-benar seperti yang seharusnya. Ibu yakin jika kalian sering latihan maka semuanya akan berjalan dengan lancar!" seru Bu Davina yang benar-benar membuatku jadi besar kepala.
Aku yakin perasaan yang sama juga sedang dirasakan oleh David. Kami lalu kembali ke tempat kami masing-masing. Dan ibu Davina kembali cast beberapa pemeran pembantu yang lain. Aku lalu menghampiri teman-temanku.
"Keren banget lu Ras!" puji Nina yang mengangkat tangannya mengajak ku untuk tos.
"Parah parah, gimana lu berdua bisa gitu, padahal tadi pagi lu ngomel-ngomel masalah David!" seru Dewi.
***
__ADS_1
Bersambung...