Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Yusita Pingsan


__ADS_3

Sementara dua temannya sedang berdebat, Yusita terlihat menolehkan kepalanya lagi ke arah belakang.


'Tadi tuh yang gue lihat beneran bayangan orang atau bukan ya? aih kepala gue pusing mikirin itu, mau bilang sama Nina sama Dewi, mereka pasti lebih takut daripada gue, apalagi Dewi, dia pasti heboh, kalo Nina! yang ada dia bisa pipis di celana, eh salah... di rok!' batin Yusita.


"Eh Yus, tuh supir lu udah dateng!" seru Dewi membuat Yusita tersadar dari lamunannya tentang apa sebenarnya yang dia lihat di laboratorium biologi tadi pas jam istirahat kedua ketika mereka bertiga sedang mencari Rasti.


"Eh iya, gue duluan ya. Kalian hati-hati!" ucap Yusita yang langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah Yusita dan mobilnya berlalu, Nina sambil sibuk mengajak Dewi menemaninya membeli camilan untuk di bawa ke rumah Amanda. Karena Nina akan mengerjakan tugasnya hari ini sepulang sekolah nanti.


"Ayo Wi, temenin gue. Ke mini market depan itu tuh!" bujuk Nina pada Dewi yang terkesan ogah dan malas untuk menemani Nina.


"Gue lagi nunggu Abang ojol langganan gue ini!" alasan Dewi, tapi itu memang benar, dia sudah memesan melalui aplikasi dan sebentar lagi ojol favorit nya, yang dia juluki abang gondrong akan segera datang.


"Bentaran doang, ntar gue beliin coklat deh!" bujuk Nina lagi.


"Cobleron ya!" tawar Dewi.


"Ih, jangan yang itu gak cukup duit gue, koki-koki aja ya, ya ya !" ucap Nina sambil mengerlingkan matanya beberapa kali pada Dewi.


Dewi langsung menggedikkan bahu nya.


"Iyuh, kenapa mata lu, cacingan. Gelai amat sih Nin!" protes Dewi yang setelah beberapa kali di bujuk lagi oleh Nina akhirnya mau menemani sahabat nya itu ke mini market di seberang sekolah untuk membeli camilan dan beberapa minuman ringan.


Sementara itu, Yusita mengatakan pada supirnya untuk pergi dulu ke rumah temannya Rasti, sebelum pulang ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, Yusita tiba di depan rumah Rasti. Dan ketika dia mengetuk pintu rumah Rasti. Keluarlah seorang wanita paruh baya dari dalam, wanita itu adalah bibi, asisten rumah tangga di rumah Rasti.


"Eh, non Yusita!" sapa Bibi yang memang sudah mengenal ke empat teman dekat Rasti. Karena jika hari libur mereka sering datang menjemput Rasti untuk sekedar keluar bersama atau menonton film bersama.


"Selamat siang Bi! saya datang kemari mau mengantarkan tas milik Rasti, tadi itu dia mengantarkan seorang guru yang sedang sakit. Dan karena dia belum bisa kembali, dan sekolah sudah tutup. Saya antarkan tas nya, ini bi!" ucap Yusita lalu memberikan tas Rasti pada Bibi.

__ADS_1


Bibi menerima tas itu.


"Terimakasih non Yusita, tidak mau masuk dulu. Minum dulu non?" tanya bibi sopan menawarkan Yusita untuk masuk ke dalam rumah dan minum sebentar.


Namun Yusita dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Gak usah bi, saya langsung pulang ya...!" tapi ketika mengatakan itu. Yusita merasa kalau kepalanya bertambah pusing dan pandangan nya mulai kabur.


Sebenarnya sudah sejak di sekolah tadi dia merasa agak pusing tapi dia membiarkan nya karena mengira itu akibat terlalu memikirkan apa yang dia lihat di sekolah tadi.


Bibi menjadi cemas karena Yusita terus memegangi kepalanya dan tidak melanjutkan apa yang ingin dia sampaikan.


"Non, non Yusita baik-baik saja?" tanya bibi.


Tapi belum sempat Yusita bicara


Brukk


Yusita jatuh ke lantai, bibi dengan cepat menahan kepala nya agar tidak membentur lantai, setelah lutut nya membentur lantai. Bibi panik dan ingin berteriak meminta tolong, tapi disaat yang bersamaan ternyata Tirta pulang dengan mengendarai motor nya.


"Bi, ini kenapa?" tanya Tirta ikut panik.


Tirta memperhatikan gadis yang sedang di pangku kepala nya oleh bibi itu. Dan dia merasa dia mengenal gadis itu.


"Bi, inginkan Yusita, temannya Rasti." seru Tirta membantu mengangkat tubuh Yusita, Tirta menggendongnya dan meminta bibi membuka pintu dengan lebar.


Tirta merebahkan tubuh Yusita di sofa ruang tengah, karena sofa ruang tamu tidak selebar dan sepanjang sofa ruang tengah.


"Ambil minta angin atau apa gitu bi, yang bisa bikin orang pingsan sadar!" perintah Tirta.


Dan bibi pun segera berlari ke belakang mengambilkan minyak angin untuk Yusita. Bibi yang sudah mendapatkan minyak angin itu lalu kembali berlari ke ruang tengah dan memberikan minyak itu pada Tirta.

__ADS_1


"Ini gimana ceritanya bi?" tanya Tirta yang mengoleskan minyak itu di sekitar leher dan pelipis Yusita.


"Tadi itu bibi lagi di dalam, beresin dapur. Nah ada yang ketuk pintu, ternyata non Yusita. Dia bilang non Rasti sedang mengantar seorang guru yang sakit ke rumah sakit dan karena sekolah sudah di tutup, non Yusita mengantarkan tas non Rasti. Tapi tiba-tiba non Yusita memegangi kepalanya dan ketika bibi tanya, dia malah pingsan. Untung bibi sempat nahan kepalanya supaya gak ke bentur lantai!" jelas bibi panjang lebar menceritakan kejadian sebenarnya pad Tirta.


Tirta menganggukkan kepalanya setelah mendengarkan cerita bibi.


"Dia datang sama siapa bi?" tanya Tirta lagi.


"Kayak nya sendiri tuan muda Tirta!" jawab bibi lagi.


"Coba bibi buatkan teh manis panas, kalau dia sudah sadar dia bisa langsung minum itu!" seru Tirta.


Dan bibi pun mengangguk paham lalu pergi lagi ke dapur membuatkan apa yang tadi Tirta perintah kan padanya. Sementara itu Tirta masih tetap mengoleskan minyak angin ke telapak tangan Yusita, bahkan ke telapak kakinya. Tirta melepas sepatu dan kaos kaki Yusita. Dia bahkan pergi ke kamarnya, dan mengambil kan selimut untuk menutupi bagian kaki Yusita, karena dia memakai rok di atas lutut.


Bibi juga sudah datang membawa teh manis dan meletakkan nya di atas meja.


"Tuan muda mau bibi buatkan minum juga, atau mau bibi siapkan makan siang?" tanya bibi sopan.


Tirta menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah bi, saya mau telepon Rasti dulu. Bibi tolong jaga dia sebentar ya!" seru Tirta yang langsung berjalan ke arah ruang tamu dan menghubungi nomer ponsel Rasti.


Tersambung, tapi bunyi ponsel itu terdengar dari arah tas Rasti. Bibi lalu memanggil Tirta.


"Tuan, seperti nya ponsel non Rasti ada di dalam tas nya tuan!" seru bibi.


Dan Tirta segera berjalan ke ruang tengah lagi, meraih tas Rasti dan memeriksa ke dalamnya. Dan ternyata benar, ponsel Rasti memang ada di dalamnya.


'Mungkin karena ini, Yusita sampai harus mengantar nya kemari!' batin Tirta.


Author POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2