Pak Guru, Love You

Pak Guru, Love You
Masih, Marco Kepo


__ADS_3

Aku dan Marco segera keluar dari ruang kelas Panji. Sepanjang perjalanan aku masih terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Kiki tadi. Alasan Panji memutuskan Kiki karena Panji menyukai aku. Si Panjul itu emang dudul ya. Untung di sekolah, kalau aku pas lagi sendirian di jalan. Bisa bonyok kan.


"Mikirin apa lu?" tanya Marco yang membuat aku menghentikan langkahku dan memutar lutut ku menghadap ke arahnya.


Aku masih penasaran, kok bisa Marco datang disaat yang begitu tepat. Sudah seperti settingan sinetron saja.


"Kok lu tahu gue ke kelas Panji?" tanya ku sambil memicingkan mataku.


Marco terlihat mencekik.


"Hem, ini nih. Udah untung gue dateng tepat waktu, gue telat lima menit aja. Lu pasti dah jadi rempeyek tuh!" ucapnya lagi-lagi menyombongkan diri sendiri.


"Rempeyek, gini-gini gue juga bisa kelees jambak jambakan sama dorong dorongan doang mah!" ucapku membela harga diriku.


"Percuma dong track record gue, satu semester masuk BK tiga kali kalau gak bisa berantem!" lanjut ku lagi.


Aku sendiri tidak habis pikir, kenapa aku begitu bangga mengatakan hal seperti itu. Itu bukannya aib ya. Kok aku bangga sih?


Marco juga terlihat mengernyitkan keningnya. Dan bukan hanya itu, dia dengan santainya menempeleng kepalaku sampai aku miring ke kiri.


"Aduh!" pekik ku kesal.


Aku langsung menepis tangannya yang menempeleng ku dan memukul lengannya dengan kuat.


"Rasti sakit!" pekik Marco memprotes apa yang aku lakukan.


"Sukurin, lagian ngapain lu nempeleng gue? lu tahu gak tiap tahun bokap gue bayar fitrah buat ni kepala!" seru ku dengan nada kesal.


Dan dengan santainya lagi, di hanya mengangkat bahu nya sekilas.


"Gak tahu gue, kita kan beda keyakinan!" jawab nya.


Ucapan Marco membuat ku hanya bisa menghela nafas, karena aku melupakan hal itu tadi.


"Augh ah!" ucap ku lalu berjalan mendahuluinya.


"Rasti!" panggilnya sambil mengejar ku dan mensejajarkan langkahnya dengan ku.


"Loh, tadi kan lu nanya ke gue belum gue jawab, udah mau pergi aja?" tanya nya.


Aku langsung menghentikan langkah ku, aku berfikir sebentar.


'Iya juga, tadi gue kan nanya kenapa dia bisa ada di kelas Panji dan pada saat yang tepat dia bantuin gue. Tapi kenapa dia belum jawab gue udah pergi, aduh beda banget emang yang jenius sama yang IQ nya masih coba merangkak!' keluh ku dalam hati.

__ADS_1


Aku langsung menghela nafas ku panjang. Lalu melihat ke arah Marco dengan serius.


"Iya, kok lu bisa ada disana tadi?" tanya ku dengan nada biasa saja.


"Gue tadi tuh dari toilet, terus gue lihat lu teleponan! lu teleponan sama siapa?" tanya Marco sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah ku.


Aku menghindari Marco.


"Kepo lu!" jawab ku ketus.


"Ye, sama pacar sendiri masih main rahasia-rahasiaan aja!" ucap nya enteng.


Aku langsung meletakkan kedua tangan ku di pinggang, posisi berkacak pinggang.


"Nah, mumpung gue inget. Lu tuh apa-apaan sih? kenapa bilang kita berdua pacaran? lu kan tahu kalau sampai tuh di gerandong.. eh si Tirta tahu, bisa ludes uang jajan gue!" keluh ku panjang lebar pada Marco.


Marco diam sebentar.


"Kita kan bisa backstreet!" ucapnya cengengesan.


"Ih ogah gue, gak usah bikin hoax lagi ya. Awas lu!" gertak ku padanya dan langsung meninggal Marco dengan cepat. Aku lalu menyusul ketiga teman ku ke kantin.


***


"Rasti!" teriak Dewi sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


Aku langsung berjalan ke arah mereka, sambil berjalan aku melihat ke arah Nina yang terlihat memprotes apa yang di lakukan oleh Dewi.


"Ketek lu bau!" protes Nina.


Dan Dewi malah sengaja mendekati Nina sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi.


"Ih, Dewi lu jorok banget sih. Jomblo seumur hidup tahu rasa lu!" kesal Nina.


Aku duduk di dekat Yusita, karena memang hanya disana lah bangku yang masih kosong.


"Tas siapa Ras?" tanya Yusita.


"Panji, dia tadi pagi cidera. Sekarang lagi di rumah sakit..!"


"Hah, di rumah sakit?" tanya Dewi cepat


Aku sampai terkesiap karena teriakan Dewi itu memang sangat keras dan mengagetkan ku.

__ADS_1


"Biasa aja Wi, kuping gue gak ada asuransi nya!" protes ku.


"Sorry sorry, gue cuma heran aja. Tadi pagi gue masih lihat dia main basket di lapangan!" jelas Dewi kenapa dia terlihat tidak percaya pada apa yang aku ucapkan.


"Kehantem bola dia!" jawab ku seadanya.


"Dia kan pro! kok bisa?" tanya Yusita.


Mulut ku hampir saja mengatakan apa alasan Panji bisa terkena bola tadi, tapi kalau aku mengatakan hal ini pada yang lain, aku takut mereka akan salah paham. Jadi lebih baik aku bilang tidak tahu sajalah. Aku langsung mengangkat bahu ku sekilas.


"Gak tahu gue!" jawab ku berbohong pada mereka.


Cukup lama kami berada di kantin, hingga bel masuk istirahat pertama pun berbunyi. Tapi aku juga tidak menceritakan tentang Kiki pada mereka bertiga, kalau aku katakan mereka pasti tidak akan terima.


Kami kembali ke kelas, belajar seperti biasanya. Sampai bel pulang berbunyi. Aku segera merapikan tas ku, dan bersiap untuk pulang. Aku yakin pak Yoga sudah berada di depan gerbang saat ini.


"Eh mau kemana buru-buru banget?" tanya Dewi yang menahan tangan ku saat akan berjalan keluar pintu.


"Mau ke rumah sakit, jenguk Panji. Tapi sebelum nya gue mau kerumah Panji dulu kasih tahu bokap nyokap nya!" jawab ku dan kali ini aku terus terang.


Dewi terdiam, tapi dia melepaskan tangan ku. Aku jadi penasaran apa yang sedang dia pikirkan.


"Kenapa lu mau ikut?" tanya ku pada Dewi.


"Kalau langsung ke rumah sakit sih, gue mau ikut. Tapi kalau ke rumahnya dulu. Gak deh, gak siap gue ketemu Bu RT!" jawab nya. Dan menurut ku jawaban nya itu terdengar ambigu.


"Idih, apa hubungannya. Ya udah kalau gak mau ikut,gue duluan ya soalnya gue juga harus cari kacang telur buat proposal gue besok!" jelas ku sambil meninggalkan teman-teman ku.


Tapi lagi-lagi saat aku sedang terburu-buru keluar dari dalam kelas menuju ke luar sekolah, ada seseorang yang lagi-lagi mencekal tangan ku.


"Ish, apaan lagi sih ko?" tanya ku pada Marco.


"Mau kemana? ke rumah sakit kan? yuk bareng gue, gue juga mau ke gereja di sebelah rumah sakit itu!" tawarnya padaku.


"Gak usah, gue mau kerumah Panji dulu. Lagian gue perginya sama pak Yoga kok!" ucap ku beralasan.


Marco malah mengernyitkan dahi nya dan menatap ku penuh curiga.


"Pak Yoga?" tanya nya ambigu.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2